Lhok Samawi

Abidah El Khalieqy
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

TENTANG cinta? Aha! Telah berapa windu aku hidup di alam asing di sebuah negeri tanpa matahari berkota melompong tak ada telinga tak ada mata tak ada hati tempat kita merasa sebagai manusia. Dan kau bilang mau datang ke rumahku? Di mana? Coba katakan! Adakah rumah tanpa alamat nirkampung nirkota?

“Aku mau ke kamu. Di mana saja,” kau bilang.

Tapi aku tak di mana-mana. Pemburu sunyi cuma. Aku sedang mendengarnya; alastu birabbik qultu balaa? Sunyi adalah sehamparan bening tempat aku mencari wajahku. Kau tahu aku amnesia. Bertahun sudah aku lupa namaku, bentuk wajahku, koleksi baju dan kaset langka yang dulu bikin cemburu. Juga film-filmku. Pun puisi-puisiku. Siapa mereka? Aku pikuni semua-mua tak ada sisa.

“Masih ada kamu. Kuingin itu,” katamu.

Aku? Akukah itu yang berambut gondrong dan lupa nyisir selalu. Berjalan tanpa halte. Berlayar tanpa dermaga. Aku melayang di luar atmosfer bumi, Sayang! Jangan cari aku.

“Kau melihat tanpa mata. Mendengar tanpa telinga. Kau berjalan tanpa kaki. Aku ingin ketemu kamu.”

Ah! Lupakan aku. Lebih cepat lebih bagus. Aku tak seperti yang kauduga. Cuma rerubuhan berlumpur jelaga. Ini tubuh hanyalah dokumen mimpi buruk berpuluh tahun dikibul pesulap kondang. Tak ada madu. Tak ada legen. Tinggal ampas dan sepah yang dibuang, Sayang! Pandang aku dari jalan ini. Dan kau akan lari. Melambaikan tangan dan goodbye.

“Aku akan berlari mengejarmu!”

Percuma! Aku tak ke mana-mana. Ini zaman boleh ngebut namun dingin aspal tetaplah tampangku. Karena buta. Aku tak mampu melihat apa pun. Juga kecantikanmu yang sohor itu. Mereka bilang matamu seperti bintang kejora. Pengarung laut merinduimu untuk hitungan peruntungan yang besar. Para pujangga melafalmu dengan bibir gemetar. Teman-temanmu, sahabat dan pengagummu menderap pepujian akbar. Namun aku hanyalah sesosok terkapar! Yang sial dan nanar!

Aku berjalan tertatih bak siput sakaratul maut. Lalu kancil-kancil menertawaiku. Berpuluh kali mereka mendahuluiku. Beratus kali meninggalkanku tergenang dalam masa lalu. Mungkin telah ribuan kali menertawakan jogging-ku yang tak usai-usai. Tak ada jalan lari, Sayang! Mereka mengepungku. Kancil-kancil berubah menjadi kampret yang mengerat inci per inci hutanku. Dicucup pula laut dan tambang minyakku. Juga perawan-perawanku. Aku sekarat persis di seberang lumbung bumiku yang kemilau. Inilah kisah Teluk Samawi. Jantung negeri petrogas yang kolaps diisap para zombie. Compang-camping segitu menekan. Bahkan tak ada di dunia, pengemis berjajar di bandara. Hanyalah di sini, Sayang! Di negeri penghasil minyak bumi dari lima terbesar di dunia.

“Beri aku kesempatan menatapmu.”

Kau tak akan kuat. Aku tak ingin mengucur-deraikan air matamu. Cukuplah di sini berhujan tangis. Kota yang disesak kebodohan. Bikin tugu dan Freeport sepenuh kota lalu kunci dengan bedil. Maka, mati itu lebih nyaman. Hidup yang tercerabut dari akar. Anak-anak bermain dedaun gugur. Kerontang. Gunung-gunung menangis. Ladang kami sesenggukan. Burung-burung tak punya jalan pulang. Dan peta yang digulung ombak hitam.

“Biarkan aku menjamahmu.”

Barangkali tidak sekarang. Barangkali ada bandul jam yang mengabarkan persuaan. Barangkali dari masa silam atau kurun mendatang, entah di mana kita bakal berjumpa. Barangkali di negeri atas angin tak berbatas awan. Barangkali saja.

“Baiklah! Aku berangkat menujumu!”

Jangan sia-siakan usia oleh mimpi keras kepala, Kekasih! Aku tak ada. Bagaimanakah cara menjumpai -yang tak ada? Sudah lama aku hilang. Klandestine. Bersama hilang para gigiku, hilang pula wajahku dari halaman buku. Tak ada sesiapa di sini. Kosong. Ini kota mati. Hanyalah tubuh-tubuh yang bergerak ke sana kemari, tanpa kepala. Beratus purnama kami raib. Dihalau taring-taring dicakar para anjing. Anjing-anjing yang mengaing.

Pesakitan yang abadi puasa ini, tak kuat muncul dan melawan. Tak mampu aku berteriak. Karena pita suara sudah dipotong oleh mereka empunya anjing loreng. Jika sesekali kami mendesah, desahan itu bakal teredam gelegar meriam. Kalah oleh amunisi yang mendesis bagai ular kobra. Bak dalam kardus pengap, kotak pandora, napas kami megap-megap oleh lubang kecil yang juga penuh mata raksasa. Lidahku putus oleh klakson yang tak terfatwa hukumnya. Klakson rimba.

“Paling tidak. Aku bisa mendengar napasmu!”

“Atau menatap sendumu.”

“Sungguh! Di manakah nyaringmu yang bul-bul itu? Segitu kangennya aku…”

Nyaringku pada masa lalu. Dulu sekali, kala seribu mentari nancap tombak jingga di kota ini. Rencong agung yang tersemat di pinggang. Ayat-ayat ditebarkan. Bumi yang hijau dan panen raya. Gadis-gadis bercindai panjang. Bulan penuh di malam-malam mendaras ilmu. Para tua berhikayat dan kami menyimak penuh hikmat. Meunasah berkibar menyibak langit. Kami melenggang dalam kemegahan. Kini segalanya menyilam. Sebentuk kenangan cuma.

Tak ada lagi suara kini. Ini musim tak ada cerita. Matahari tidur. Awan hitam berarak di ubun-ubun. Ayat-ayat menjadi iklan para pejabat kapitalis. Bumi yang merah oleh leleran darah. Amis!. Kami panen tangis dan tadarus luka. Para gadis cacat jiwa. Para yatim dingin dan lapar mengetuk pintu langit, menggedor Arsy Istawa. Di ujung sana mereka berpesta. Kami mendelong depan pintu barak. Plonga-plongo kehabisan frasa.

Maka lupakan aku, sayang!

?Lupa? Bahkan andai kau tak pernah ada, aku akan mencari yang sepertimu. Begitu abadi dukamu. Jibril pun gemetar oleh tangismu. Biarkan aku merengkuhmu?

Ah! Kamu masih seperti yang dulu. Tekad tinggi dan kepala batu. Andainya kita boleh berandai. Misalkan kita boleh bermisal. Kalau saja, sayang! Kalau saja aku ini pangeran bermahkota. Dan jari-jariku punya kuasa. Lidahku kuat dan fasih menembus pesta rimba yang tuli. Seperti penyair yang mengajari raksasa bahasa manusia. Akan kusulap rimba raya menjadi negeri yang indah penuh ampunan-Nya. Tak ada anjing tak ada buaya. Apalagi longisquama. Tak ada clurut yang mengerat perbendaharaan negara dan melarikan diri ke negeri tetangga lalu bersangkar di sana dengan rakusnya membetot separoh dari lumbung tuan rumah.

Tak ada lain, sayang! Palu-palu menjadi tumpul di gedung pengadilan. Sudah lama para clurut mengembara seantero rimba dan Semar mesem membiaknya kian raksasa. Sekalipun ia suka pergi jumatan ke Istiqlal, ia bukanlah Abid tapi Brutus mendhem ora sudi mikul. Ia ternakkan clurut secara massal dan sistemik, persis di halaman tengah istananya. Lalu para clurut ditebarnya menyeluruh, dari pucuk syaraf sampai pelosok kaki. Pesta raya yang tak ada dua di jagat bumi. Lihat betapa tambunnya mereka, mengantongi 600 trilyun dalam lambungnya. Bahkan Karun tak sampai seperseratusnya.

Lalu rakyat kebagian gempa, sayang! Puting beliung dan banjir bandang. Sejuta asap mengepul dan lumpur panas memburai. Udara sumuk dan gerah menjarah nafasmu. Tak tahan. Kau lari ke puncak gunung dan dilempar pijaran lava. Rakyat panik mencari samudra. Tapi ombak hitam bangkit dari tidur lautnya. Tegak tiga tombak. Laju gulung keruk. Satu kilometer permenit. Laut mencium darat, menggulung peta berikut peradabannya. Meninggalkan sunyi maha ngungun semesta.

Dan aku bisu!

Rontok gigi lidah kelu.

Aha! Jangan berandai lagi pada pangeran dan mahkota. Ini zaman buruk bagi imaji. Bahkan mimpi pun pakai disensor. Tigapuluh tahun disesak perang adalah musim seulanga gugur di perut Hawa. Namun tak gugur jua. Adakah waktu bagi cinta?

“Tak ada lain. Cinta bakal memberimu tangga naik. Kenakan sayapnya dan mari terbang bersama!?

Ah masa? Aku tak punya strategi mendatanginya. Tak kumiliki perangkat dan aku….ku kalah, Kekasih!

“Cinta itu serupa kemenangan. Ia datang dan pergi apa adanya. Tak acuh pada kalah atau menang. Begitu sederhana. Namun ia perkasa. Tak tumbang-tumbang ia oleh gempuran masa.”

Jika begitu.

“Bukan jika, tapi nyata!”

Alangkah pahit kenyataan ini. Sayapku patah mustahil tumbuh sesudahnya. Meski kau paket lagi cinta, aku tak kuat menyambutnya. Maka biarkan ia mengabadi dalam sumur keindahan mata Yusuf. Biarkan para musafir menimbanya, mencecap segar dari kucuran airmata. Aku permisi. Maaf! Kubawa serta namamu menuju Ashabul Kahfi.

“Memangnya ada apa di situ, Cintaku?”

Ada Rahasia.

Salamu’alaik!

Yogyakarta, 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *