Mata Air dan Kitab Kearifan

Mustofa W Hasyim*
http://www.suaramerdeka.com/

SUATU hari, masih pada zaman Orde Baru, saya bersama seorang teman berburu naskah ke Salatiga. Ketemu dengan para pendekar pemikir bebas seperti Arief Budiman, Ariel Heryanto, dan George Yunus Adicondro yang waktu itu kaca rumahnya baru saja ditembak orang sehingga pecah berantakan. Seharian bertemu dengan tiga tokoh itu, ngobrol dan mencari kemungkinan-kemungkinan masa depan Indonesia yang makin menyesakkan nafas. Waktu itu saya mencoba mengetes bagaimana persepsi atau kesan tiga tokoh Salatiga itu terhadap pribadi Pak Kuntowijoyo. Kami bilang, karya beliau juga telah kami terbitkan. Reaksi ketiga pakar hampir sama. Semua langsung khusyuk, hormat, kehilangan sifat ”badungnya”, begitu mendengar nama beliau disebut.

Waktu-waktu berikutnya, ketika masih menjadi wartawan harian, saya sering melakukan percobaan yang sama. Semua tokoh, baik dari yang termasuk sayap kiri, kanan, NU, Muhamadiyah, kelompok ekstrem tengah pun, begitu mendengar nama beliau rata-rata langsung hormat, menyatakan kekaguman atas kejernihan pikiran, juga kearifan sikap-sikapnya. Termasuk Mas Darmanto Jatman yang ahli slengekan pun langsung menjadi serius dan tertib kalau membicarakan beliau.

Memang, beliau yang kemarin meninggal dalam usia 62 tahun dan hari ini dimakamkan, sungguh merupakan mata air kearifan yang senantiasa mampu menjaga kejernihan pikiran, ucapan dan tindakannya. Menghadapi siapa pun selalu biasa, ramah dan terbuka. Terhadap wartawan atau sastrawan yang masih hijau dan grusa-grusu beliau tidak marah. Bahkan waktu masih sehat, selalu mau mendatangi semua undangan pentas drama, baca puisi, sarasehan, walau yang mengundang anak muda atau kelompok kampung yang tidak punya nama.

Pengalaman berkali-kali wawancara, menyunting banyak buku hasil tulisan beliau, membaca karya-karyanya, menyaksikan pentas drama dan pembacaan puisi dan cerpennya saya selalu menjumpai satu hal yang sama. Kejernihan dan kesegaran. Selalu ada hal yang baru yang sebelumnya tak terbayangkan. Uraian atau tafsir-tafsirnya terhadap kehidupan, juga ajaran dan momentum keagamaan juga selalu segar, dan memudahkan wartawan untuk mencari lead dan judul beritanya.

Yang mengagumkan, sepanjang saya bergaul dengan beliau, tidak pernah sekali pun Pak Kunto menasihati atau menggurui orang. Apalagi menyakiti hati. Seluruh pikiran, sikap, tindakan, dan ucapan, juga humor-humor ”alternatif” yang dilontarkan sudah lebih dari sebuah nasihat, bagi yang mampu menangkap kandungannya.

Jadi bergaul dengan beliau, menurut istilah Mas Darmanto Jatman, selalu enak kepenak, sarwo nengesemake penggalih. Bahkan ketika sakit dan baru sembuh saya menjenguk beliau, numpang shalat magrib di rumahnya suasananya tetap segar. Dalam kondisi yang sulit berkomunikasi pun beliau berusaha menyenangkan tamu, melontarkan humor, yang diterjemahkabn oleh Bu Kuntowijoyo. Ingatannya masih tajam, semua tempat yang pernah diteliti, nyaris tak terlupakan. Ketika saya menyebut sebuah desa di Klaten atau di Kebumen, langsung ingat apa yang pernah terjadi di sana. Demikian juga kalau menyebut Madura, lokasi penelitian untuk penulisan disertasinya yang kemudian diterbitkan menjadi buku. Sebagai peneliti sosial, beliau adalah orang yang serius dan piawai.

Mendidih
Dengan basis kemampuan meneliti masyarakat, dan manusia ini maka beliau memiliki kekayaan pengetahuan dan pengalaman yang kemudian dapat diolah menjadi karya kreatif berupa puisi, naskah drama, novel, cerpen misalnya.

Apalagi semangat berkarya yang mendidih dalam dada sering tak mungkin ditunda-tunda. Baru sembuh dari sakit, masih dalam perawatan dokter dan masih dalam proses pemulihan diri, beliau dengan susah payah waktu itu mampu menulis dua cerpen, dan ini mengawali cerpen dan tulisan lain yang sepertinya kemudian membanjir, lahir dari tangannya.

Dari pengalaman bergaul dengan beliau, muncul banyak kenangan melegenda. Waktu beliau masih tinggal di selatan Bioskop Mataram, misalnya, tidak pernah menolak wawancara, meski waktu itu sedang sibuk menulis.

Kabarnya, kemampuan beliau untuk berkonsentrasi dan melakukan konsentrasi ulang luar biasa. Meski diinterupsi dengan kedatangan tamu, dengan tugas-tugas rumah tangga, mengasuh anak atau lainnya, kalau sudah berniat menulis maka begitu ganguan lewat Pak Kunto mampu melanjutkan tulisan itu dengan mood dan konsentrasi yang sama.

Dengan penguasaan ilmu sejarah sosial dilengkapi dengan kepekaan intuisinya, maka kemampuan beliau memosisikan sesuatu dan masalah secara proposional jarang ada tandingnya. Sesuatu yang bagi orang lain rumit dapat dijelaskan secara sederhana. Novel Mantra Penjinak Ular yang ditulis kemudian, sama jernihnya dengan novel Pasar dan Khutbah di atas Bukit yang ditulis pada puluhan tahun sebelumnya. Demikian juga esai-esai, dan buku-buku nonfiksi yang terbit kemudian maupun pada zaman dulu.

Inilah yang menyebabkan saya selalu ingat sebuah ruang di Fakultas Sastra Jurusan Sejarah UGM. Tempat ketika dengan suara lirih ia selalu menerima saya untuk wawancara atau sekadar ngobrol memperbincangkan kehidupan, karya, sastra dan masyarakat. Demikian juga ruang tamu di rumahnya yang sangat sederhana. Hanya dihias dengan patung pohon kelapa gading kuning di sudut kamar. Di situlah saya merasa teguyur oleh mata air kearifan, atau kadang suasana itu berubah. Saya menjadi murid kecil yang sedang membaca sebuah kitab kearifan yang seantiasa terbuka. Sampai hari ini.

Demikianlah, semoga Pak Kuntowojoyo, manusia yang sangat arif segera bertemu dengan Tuhan yang Mahaarif di surga, dengan perjumpaan yang penuh kearifan yang menyemesta. Amin.

*) Aktivis sastra di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *