Pencemooh Sepanjang Jalan

Irfan Budiman
http://majalah.tempointeraktif.com/

A.A. Navis tidak hanya melahirkan karya, tapi juga penulis sastra.
Peristiwa yang terjadi 25 tahun lalu itu tak mudah dilupakan Harris Effendi Thahar. Kala itu, bersama Wisran Hadi dan Darman Moenir, Harris yang masih terbilang yunior dalam percaturan sastra mendapat undangan untuk menghadiri acara pemberian penghargaan sastra dari Dewan Kesenian Jakarta. Sayang, cuma dua rekannya itu yang beroleh gelar. Dia sendiri nihil penghargaan.

Harris tak menduga persoalan gelar ini menjadi masalah yang serius. Saat mereka makan bersama Ali Akbar Navis, dedengkot sastra Minang, di sebuah rumah makan di Taman Ismail Marzuki, tiba-tiba Navis berucap sesuatu yang menyentak. “Saat ini yang berhak duduk bersama saya hanyalah Wisran dan Darman,” ujar Navis dengan nada datar.

Sontak harga diri Harris terkoyak. Kata-kata Navis itu seolah membenamkannya dalam kubangan ketiadaan. Ia marah besar karena merasa tidak dianggap oleh suhu para penulis asal Padang itu. Sejak itu pula ia ogah berteguran, dan memendam dendam. Suatu saat dia akan menunjukkan siapa dirinya. Hasilnya, empat tahun kemudian beberapa cerpennya muncul di harian Kompas. “Baru tahun 1983 Navis kembali menegur setelah saya berhasil,” ucap Harris.

Kuping merah dan hati mendidih sejatinya tak dialami Harris semata. Beberapa penulis pernah merasakan dicabik-cabik oleh lidah panjang Navis. Karena itulah kalangan sastrawan asal Sumatera Barat menjulukinya sebagai tukang cime’eh alias pencemooh. Tapi Navis punya dalih. “Itu namanya shock therapy. Mereka sebetulnya berbakat dan berpotensi, tapi tidak menggunakan bakat dan potensi itu,” ujarnya.

Kini cemooh yang pedas di kuping berubah menjadi kenangan nan manis. Akhir pekan silam, A.A. Navis meninggal dunia pada pukul 05.30 WIB di Rumah Sakit Yos Sudarso, Padang. Selepas menjalani operasi bypass lima tahun silam, Navis memang menderita sakit asma dan infeksi paru-paru. Sebulan lalu ia dirawat selama dua minggu, tapi diperbolehkan pulang.

Namun, Jumat malam itu jiwanya tak bisa diselamatkan. Selama dua jam, dia sempat mengalami koma. “Sebulan terakhir kesehatan Papi betul-betul menurun dan lebih banyak berbaring di tempat tidur,” ujar Dedi Andika, 42 tahun, anak ketiganya. Navis meninggalkan seorang istri dan tujuh orang anak. Di rumahnya, tampak di antara pelayat sejumlah sastrawan, seniman, budayawan, dan pejabat.

Ali Akbar Navis lahir di Kampung Jawa, Padang Panjang, 17 November 1924. Anak sulung pasangan Navis Sutan Marajo dan Sawiyah yang hanya memperoleh pendidikan di Indische Nasional School (INS) Kayu Tanam pada 1930-an ini memang memiliki hobi membaca. Ia melahap buku dalam perjalanan kereta api dari Padang Panjang ke Kayu Tanam.

Pergaulannya dengan buku-buku membuatnya tertarik pada sastra. Navis menulis cerpen sejak 1950. Kala itu ia sering mengirimkan naskah cerpennya ke majalah Mimbar Indonesia, tapi selalu ditolak H.B. Jassin, redakturnya. Robohnya Surau Kami, yang kisahnya menjungkirbalikkan logika awam tentang orang alim, merupakan cerpennya yang pertama kali dimuat dan langsung menggaet hadiah uang Rp 200. Nilai itu hampir sama dengan gaji Navis sebulan sebagai Kepala Jawatan Kebudayaan, yang Rp 250. Cerpen yang menjadi satu dari tiga cerpen terbaik majalah sastra Kisah pada 1955 ini menjulangkan namanya.

Dia pun makin produktif. Selama 50 tahun, Navis telah menulis 23 buku, di luar lima antologi bersama sastrawan lainnya, dan delapan antologi luar negeri. Puluhan karya itulah yang mengantarkan beragam penghargaan.

Sesungguhnya Navis tak hanya pandai menulis. Dia juga mahir memainkan alat musik. Namun, dia memutuskan menjadi penulis. Di dalam buku Yang Berjalan Sepanjang Jalan, kumpulan karangan pilihannya, Navis menjelaskan alasannya. “Dengan menulis, saya dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan yang mengendap selama ini dan hasilnya dapat diketahui oleh orang lain.”

Bagi Navis, menulis merupakan napas hidupnya. Beberapa hari sebelum meninggal, ia masih memikirkan soal itu. Saat itu dia menyuruh putrinya, Gemala Ranti, agar menulis surat yang mengabarkan ketidakhadirannya dalam Kongres Budaya Padang, di Bali, Mei nanti. “Satu lagi, surat balasan kepada Balai Pustaka. Papi bersedia mencetak cerpen terakhirnya di sana,” kata Ranti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *