Puisi-Puisi Adi Toha

http://nasional.kompas.com/
Kereta Bergerbong Tiga Setengah

rel kereta api yang melingkar-lingkar di tubuhku
berujung di sebuah stasiun tua di pinggiran kota
tempat para penggali kubur berpesta pora
menyatap hidangan sisa anjing-anjing liar
bersama para pelacur yang dari tubuhnya
meluncur kereta-kereta bergerbong tiga setengah

kereta-kereta itu berebut melintasi rel
menjelajahi setiap lembah dan terowongan di tubuhku

gerbong pertama :
kepala naga bersunggut enam belas ribu sebelas
bola api membara meluncur dari mulutnya
seperti dalam lukisan yang dipajang ayah
di dinding belakang rumah
ada makam kecil di balik salah satu ubin di bawahnya

gerbong kedua :
gedung tua bertingkat dua puluh enam ribu sembilan
di setiap jendela kamarnya ada foto tua lanskap kota
tergantung miring tanpa pigura

gerbong ketiga:
gurita bertentakel dua puluh satu ribu tujuh belas
dengan cincin mutiara di hanya sepuluh ribu tujuh tentakelnya
ujung-ujungnya memasuki setiap lubang di tubuhku
entah apa yang dicarinya

gerbong ketiga setengah:
malaikat bersayap lima ribu empat puluh satu
terbaring sekarat
di dadanya sebuah lubang kecil berlendir
tempat ia memelihara kecoa tak berkepala

di sudut peron, aku bercanda dengan Tuhan

Jatinangor, Januari 2009

Kereta Surga

melilit di sekujur tubuhku bermil-mil kabel
serupa kafan putih menyelimuti daging tak bernyawa
peti mati pun meronta
liang-liang kubur berlari menjauh

kaukah itu yang terselip di antara jemari tak berdaya
ruas-ruas jari tanpa gerak menghitung doa-doa
mata menengadah memandang jauh ke dasar bumi
tempatku kembali

di luar, kereta waktu bergegas menuju muara
menjemput para penumpang di peron maut
ke samudera entah mereka hendak berkunjung
dosa berlarian di atas rel tak berujung

Jatinangor, Januari 2009

Kereta Tak Bergerbong

kereta-kereta melayang di langit-langit kamar
selimut terbang menjadi jubah malam
seperti darah menggumpal di pelupuk mata
wajah itu!
ya, wajah itu!
wajah yang memeram amarah duka!
dalam cermin ia meronta

dalam cermin ia meringkuk
beringsut-ingsut mengkerut kusut
meleleh menjadi lendir-lendir
merayap di tiang-tiang hujan menuju surga

kereta-kereta menembus tubuhku
berjejalan di terowongan nadi
berkejaran di atas rel-rel arteri
di peron jantung mereka meledak
menggenangi seisi kamar dengar air mata

wajahku…
tak cukupkah lebar rongga mata yang kurobek
hingga bola mata selalu jatuh terkulai
kupasang lagi terkulai lagi
tak ada yang tersisa tak ada yang terbaca
selain dengung kereta-kereta itu

daun telinga yang pekak
hujan menembus langit-langit kamar
menjelma milyaran kereta yang terus berjejalan
melindas tubuhku menggilas dagingku
musnah!
menjadi partikel-partikel kecil tak berjumlah

ada namaMu di setiap inti atomnya.

Jatinangor, Januari 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *