Ritual Tetaken

David Eka Kuncara
http://jurnalnasional.com/

Dalam ritual ini, sang juru kunci Gunung Lima turun gunung.
ADA ritual yang rutin digelar setiap tanggal 15 Suro di kaki Gunung Lima, tepatnya di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur: ritual tetaken. Ritual ini merupakan upacara ?bersih desa? yang kini dijadikan agenda tahunan wisata budaya di daerah ini.

Dalam ritual ini, sang juru kunci Gunung Lima, Somo Sogimun, turun gunung. Bersama 16 anak buahnya, yang sekaligus murid-muridnya. Mereka baru selesai menjalani tapa di puncak gunung dan akan kembali ke tengah masyarakat.

Tetaken adalah tradisi khas masyarakat kaki Gunung Lima yang masih terpelihara sampai sekarang. Tetaken berasal dari bahasa Sansekerta: teteki. Artinya: pertapaan. Tak heran, suasana religius yang kental namun sederhana menandai rangkaian ritual ini.

Namun, tetaken adalah acara pembuka rangkaian acara berikutnya. Sebab, tak lama setelah itu, iring-iringan besar warga muncul, memasuki areal upacara. Mereka mengenakan pakaian adat Jawa. Barisan paling depan adalah pembawa panji dan pusaka Tunggul Wulung: dua keris, satu tombak, dan Kotang Ontokusumo.

Selain membawa berbagai hasil bumi dan keperluan ritual (tumpeng dan ingkung, misalnya), di baris terakhir beberapa orang tampak membawa bumbung (wadah air dari bambu) berisi legen atau nira.

Bagaimana tradisi tetaken ini bermula? Alkisah, Tunggul Wulung adalah sosok seorang sakti mandraguna. Bersama Mbah Brayat, ia mengembara. Tujuan, melakukan pengabdian: menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa setelah bertapa di Gunung Lawu.

Namun, dalam perjalanan selanjutnya, kakak-beradik ini berpisah. Mbah Brayat memilih tinggal di Sidomulyo, sementara Kiai Tunggul Wulung memilih lokasi yang sepi di puncak Gunung Lima.

Dikisahkan pula, Kyai Tunggul Wulung adalah orang pertama yang melakukan babat alas di kawasan Gunung Lima. Kelak, bekas hutan yang dibabat itu disebut Desa Mantren.

Tiba di tengah lokasi prosesi, secara bergilir para pembawa legen menuangkan isi bumbungnya ke dalam sebuah gentong. Air legen itu diyakini bertuah. Tak hanya buat kesehatan. Bagi orang yang punya kedudukan, tuah legen konon bisa melanggengkannya.

Setelah semua penunjang ritual lengkap, acara inti pun segera dimulai. Sebagai tanda kelulusan, ikat kepala para murid itu dilepas. Murid-murid itu satu persatu diberi minum air legen yang sudah diisi mantra.

Kemudian, secara bergilir, mereka menghadapi tes mental. Ada tes penguasaan ilmu bela diri. Ada juga yang harus menerima cambukan berkali-kali.

Prosesi ini menyiratkan makna bahwa tantangan bagi pembawa ajaran kebajikan tidaklah ringan. Bahkan, murid-murid itu harus menghadapi ujian dan rintangan yang berat. Namun semua akhirnya dapat diatasi. Puncaknya, kebaikan mampu mengalahkan kejahatan.

Di akhir acara, semua warga ramai-ramai menari bersama Langen Bekso. Berpasang-pasangan. Tua muda. Laki-laki dan perempuan larut dalam kegembiraan. Gending-gending Jawa mengiringi setiap gerak langkah mereka. Kegembiraan bertambah. Sebab hasil panen di bumi Desa Mantren tahun ini melimpah.

Bagi masyarakat Kabupaten Pacitan, Gunung Lima merupakan simbol kekuatan dan nilai spiritual. Di gunung itu ada sebuah tempat pertapaan yang acap disinggahi orang. Bukan saja oleh warga setempat, tapi juga oleh orang-orang luar. Di tempat ini orang-orang biasa melakukan samadi.

Untuk tiba di tempat pertapaan, orang harus melewati lorong yang disebut Selo Metangkep?batu yang bisa menutup sendiri. Lorong itu tak begitu besar. Hanya seukuran tubuh orang dewasa.

Ada mitos, barangsiapa datang dengan niat tidak baik, lorong itu akan menyempit dengan sendirinya. Sebaliknya, jika orang datang membawa niat tulus, untuk mendekatkan diri pada Sang Penguasa Alam Semesta, lorong yang sempit itu tetap bisa dilewati.

Kutipan:
Tetaken berasal dari bahasa Sansekerta: teteki. Artinya: pertapaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *