Sajak-Sajak Hasan Aspahani

Di Pasar Buah
http://cetak.kompas.com/

anggur. seperti menggigit merah butir-butir darah, mengalir-menjalar-merambat ke batang lidah. seperti hijau butir-butir tasbih, bila sebuah tersentuh, maka sekali nama itu tersebut, adakah nama itu juga mengalir-menjalar-merambat ke batang lidah?

jeruk. kepal tangan petinju kecil, memeram permen manis-masam dalam genggam, ada yang mencair tumpah ketika dihantamkan pukulan ke lidah, aku ingin jadi kanak-kanak lagi, berlari-menari- melompat-memanjat, di kebun, dari pohon ke pohon berbuah lebat, kubayangkan sebuah ring, di sana mulut berlidah kering, menyembunyikan taring.

pisang. menyisir lapar lidah, melepas kelat getah, selengkung panjang, mengenang tabah batang, pada kuning yang terang kudengar lagu petani, berdendang tentang kelelawar sepasang yang terpaksa terbang saat rumpun itu ditebang.

mangga. kutimbang juga seberapa panjang penantian, petani yang menjaga pohon itu sejak menggali lubang, lalu ia harus patuh pada musimmu, lalu ia sabar menunggu mekar bunga-bunga kecilmu, lalu ia girang saat kau mengisi seserat demi seserat manis dagingmu, setetes demi setetes segar sarimu.

Luka Mata

AKU akan jadi tua tebu terunduk,
seseruas batang memanjang,
sebelum datang seorang penebang, dengan parang tak berlidah, tak kenal manis atau hambar sepah.
Pada mata luka di ruas usia ada kusimpan sesisa nanah dan bau segenggam tanah seperti rekening di bank syariah, umur akan selesai kucicil, setoran tak berbunga.
Siapa itu menyelumur
bagai lepas daun tebu, mengering tanpa mengerang
jatuh tanpa teraduh-aduh
lalu batal niat-gatal si tepung-pupur jamur?

YA, aku akan jadi tua duduk, tunduk, mengenang pokok tebu seruas dulu kutanam jadi serumpun kini memagar lingkar sumur.
Lalu lepas sesarang lebah, kudengar dengung ramai bagai seregu barongsai, mencuri nektar dari malai.
Manis. Madu. Menangis. Merdu.
Manis. Madu. Menangis. Merdu.
Manis. Madu. Menangis. Merdu.
Lagu tabah ratu lebahkah sampai pada dengarku?

AKU akan jadi tua dan menggali sendiri lubang panjang membujur, yang bukan sumur.
Ketika itu lidahku seperti akar tebu mampu sudah mengecap manis dari sesisa air yang mengalir
dari tipis pelipis
dari alur alis
dari damai dahi
dan tepi pipi.
Dari luka mata. Mataku sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *