Sajak-Sajak Jimmy Maruli Alfian

http://kompas-cetak/
Tablo 5 Babak

1
akhirnya subuh pun melenguh
malam dan badar pun sama-sama runtuh
seorang lelaki dengan wewangian
menggedor rumah kekasih dengan kasmaran
rumah yang sarat ukir kayu
juga tikar pandan tanpa lelampu
lalu rambut kabut terus tergerai ke bukit
selendang matahari merupa selampai
membelit di leher lelaki
seperti mengajak teler dalam semadi
sudah tiga ratus pagi habis
ia belum juga ceguk dan menangis

2
sebuah ruang tunggu
menyebut nama seseorang
untuk siap berangkat ke negeri baru
tanpa ingatan yang dikenang
ia merapatkan diri di ujung kursi
keringatnya menyusuri jari-jari
karena jalan yang akan ditempuh
tak bisa lagi ditunda meski riuh
matahari pun sinau menggerayang
kakinya henti mengetuk lantai pualam
berganti risau dengan lekuk jarum jam
ia gemetar menatap menara di seberang
kawanan angin berlagak lalai
terus menabrak rambutnya yang masai
ia cuma menarik nafas panjang
melumuri tanah di batang kembang
kursi-kursi pun telah lama kosong
ia terus menunggu sesuatu yang lowong

3
ia berlari melintasi jembatan
mulut sungai dengan liurnya yang hitam
menyipratkan wajahnya tanpa perasaan
tapi apalah makna pitam?
kalau ia dapat menangkap lanskap:
ternyata senja berdendang
saat matahari disulang di pembaringan
sore pun tunai
ia sempatkan ke pasar
membeli ikan, udang kecil,
brokoli, juga wortel
tak lupa garam dan lengkuas
agar tak hambar seluruh cemas

4
ia memasak tanpa berkata-kata
wajahnya berkobar takut neraka
percakapan hanyalah rentak sutil
menoreh luka di dada kuali
di luar, badar pun datang lagi
dengan pasukan bintang si biti-biti
di dalam, seorang lelaki telanjang
terus memasak dengan gasang

5
karena ranjang itu tak lapuk
ia genapkan lagi niat suluk
demikianlah, malam tinggal sisa
suara hujan sama paraunya
tetapi ia mulai memanggil namamu
sampai megap-megap minta dicumbu
ia gagal untuk diam dan tak bertanya
“duhai, kapan aku boleh berceloteh
tentang sakit yang kuperoleh?”

2007

Menonton Wayang

sudah lama tak naik kereta api bersama kamu
menyisir lengkung gunung
mengekalkan dengkurmu
di antara orang-orang yang merenung
saat peluit memekik sedih
dan pintu yang cekatan menutup diri
maka kamu pun memahami
harus ada perasaan yang disisih
ram jendela dengan bening kaca
digoda menor paras kota
juga penumpang yang kesepian
selalu mengkhatamkan pertanyaan:
“mau pergi ke mana?
banyak sekali koper dan timbelnya”
pergi?
“kami mau pulang,
mau bersama menonton wayang”
waktu itu, malam baru sepertiga
cengkerik masih bertakhta jumawa
tetapi saat gerbong dikulum lidah matahari
dengan gigis, kamu bertutur silsilah tragis:
“sebenarnya kita sudah lama tiba di kurusetra
tetapi asmara membuatku tolol saat terluka ”
akhirnya kamu pun turun di stasiun kecil,
lalu mengawai tanpa memanggil
sampai kereta berteriak lagi
memaki kopermu yang merah hati
ah, dalang! dari gunungan lancip
dan cahaya yang simpuh menyisip
mbok ya aku diberi nukilan
lakon apa yang dimainkan!

2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *