Sastra Jawa Belum Kiamat

Drs Dhanu Priyo Prabowo MHum*
www.kr.co.id/

Antara tahun 1966-1970-an, sastra Jawa mengalami masa kritis, khususnya setelah terjadinya pembredelan buku sastra Jawa oleh Komres Surakarta (Operasi Tertib Remaja II Sala) pada tahun 1967. Tamsir As (1991:4) menyebut peristiwa pembredelan itu suatu petaka bagi sastra Jawa.

Sementera itu, majalah Mekar Sari, 1 Februari 1967, X, No 23, membeberkan judul buku yang dilarang (dibeslah), yaitu: (1) Asmara Tanpa Weweka, (2) Cahyaning Asmara, (3) Godhane Prawan Indo, (4) Jeng Any Prawan, (5) Aboting Kecanthel Kenya Sala, (6) Asmara ing Warung Lotis, (7) Pangurbanan, (8) Kabuncanging Sepi, (9) Nyaiku, (10) Tape Ayu, (11) Tumetesing Luh, (12) Sih Katresnan Jati, (13) Wanita Methakil, (14) Ketangkep Teles, (15) Gerombolan Gagak Mataram, (16) Peteng Lelimengan, (17) Rebutan Putri Semarang, (18) Lara Branta, (19) Macan Tutul, (20) Lagune Putri Kasmaran, dan (21) Gara-Gara Rok Mepet Rambut Sasak. Pengarang yang mempunyai kekuatan pena di masa-masa setelah kejadian itu mulai berkurang, misalnya Poerwadhie Atmodihardjo, Sri Hadidjojo, Any Asmara, Widi Widayat, Esmiet, dan beberapa orang penulis lain yang sesekali muncul kemudian tenggelam tidak ada kabar beritanya.

Namun, tidak bagi Suparto Brata. Ia berusaha mematahkan pendapat bahwa dunia sastra Jawa belum (tidak akan) kiamat walaupun berbagai kendala menghalangi perjalanan sastra daerah itu. Pada dekade 1980-an sampai menjelang akhir dekade 1990-an pertumbuhan sastra dan pengarang Jawa sangat pesat lewat tulisan di berbagai media massa berbahasa Jawa yang masih bertahan hidup (Panjebar Semangat, Jaya Baya, Djaka Lodang, Mekar Sari, Jawa Anyar, Panakawan, Pustaka Candra, dsb) maupun lewat penerbitan-penerbitan buku sastra Jawa oleh penerbit di luar Balai Pustaka.

Karya sastra Jawa yang diterbitkan dalam bentuk buku, meliputi jenis prosa (gancaran) yang berbentuk novel, kumpulan cerita pendek, dan drama, serta yang berjenis puisi (geguritan). Akan tetapi, kenyataan itu tidak diimbangi dengan terbitnya buku sastra Jawa secara proporsional (jika dibandingkan tahun 1960-an).

Oleh karena itu, keadaan sastra Jawa lebih bertumpu pada majalah dari pada buku. Keadaan ini tidak sehat. Beberapa orang, baik secara sendirian maupun berkelompok, kemudian menerbit sendiri buku-bukunya. Mereka tidak lagi dapat berharap pada peran pemerintah, karena sastra daerah di Indonesia (termasuk Jawa) sudah menjadi ?anak tiri?. Jika pun ada pernyataan itu lebih sebatas sebuah wacana retoris yang jauh untuk direalisasikan dalam sebuah tindakan nyata.

Di tengah situasi suram seperti itu, kehidupan sastra Jawa dalam bentuk buku ternyata tetap diusahakan tetap bertahan oleh beberapa orang yang peduli dengan keadaan tersebut. Peristiwa inilah yang membuat dunia sastra Jawa menjadi menarik dan menantang bagi sebagian kecil pengarang Jawa, sebagaimana yang dilakukan oleh Suparto Brata ketika menerbitkan Trem (2000). Pada tahun itu, dengan merogoh kantongnya sendiri, ia dapat menerbitkan kumpulan cerkak-nya.

Langkah ini, jika tidak dilakukannya, pasti ia tidak akan dapat mempublikasikan bukunya itu. Peristiwa yang sama diulanginya lagi ketika ia menerbitkan Donyane Wong Culika (2004), Si Lan Man (2005), Dom Sumurup ing Banyu (2006), Jaring Kalamangga (2007), Emprit Abuntut Bedhug (2007), dan Suparto Brata Omnibus (2007), Ia berusaha untuk tidak tenggelam dalam dunia penerbitan buku sastra Jawa walaupun para penerbit buku sudah ?enggan bersahabat? dengan sastra Jawa.

Tujuan Suparto Brata ketika menerbitkan buku-bukunya, bukan karena uang atau hadiah, tetapi keinginannya untuk mewujudkan sastra Jawa sebagai sastra buku dan sastra dunia. Suatu langkah berani Suparto Brata melawan arus zaman yang tidak memihak kepada sastra Jawa di era kapitalisme. Keadaan ini sudah mulai tampak di sekitar akhir tahun 1980-an, ketika Balai Pustaka sudah tidak lagi terlibat aktif penerbitan buku-buku sastra daerah. Beberapa orang, baik secara sendirian maupun berkelompok, kemudian menerbit sendiri buku-bukunya.

Sebagai pengarang sastra Jawa, Suparto Brata menampakkan kekhasannya. Karya-karyanya selalu menekankan pada perjuangan hidup secara realistis melalui penggambaran tokoh-tokohnya. Dalam setiap karyanya, Suparto Brata jarang menampilkan sosok hitam putih. Artinya, tokohnya tidak selalu menggambarkan sosok hero, gagah, dan selalu menang. Cara penggambaran tentang masalah ini didasari oleh pemahaman bahwa dalam mencipta karya sastra tokohnya tidak selalu harus menang.

Kenyataan ini diwujudkan pula dalam semangatnya untuk melawan dunia penerbitan buku yang dikuasai oleh ?kapitalisme? dan kurang memihak terhadap keberadaan sastra daerah (Jawa). Walaupun ia ?lemah? dalam kapital, tetapi si penguasa kapital belum tentu benar ketika menjalankan policy-nya tatkala berhadapan dengan kebudayaan daerah. Suparto Brata ingin membuktikannya dengan perbuatan, bukan hanya sekadar dengan wacana seperti yang selama ini terjadi.

Di usianya yang semakin renta (76 tahun), Suparto Brata di Surabaya membaktikan hidupnya untuk sastra Jawa. Bukan hanya untuk dirinya saja, tetapi untuk pengarang lain yang pe- duli terhadap sastra Jawa: membiayai penerbitan buku-buku sastra Jawa para pengarang yang lain!

*) Pencinta sastra dan kebudayaan Jawa. Tinggal di Kulonprogo Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *