Tuan dan Nona Kosong, Novel Filosofis yang Bising

Kurniawan
http://www.ruangbaca.com/

Ada beberapa hal yang perlu saya ungkap dahulu sebelum saya mengurai pengalaman saya membaca novel pertama Hudan Hidayat dan ariana Amiruddin ini. Pertama, Hudan mengutip ?komentar? saya dalam pengantar bukunya bahwa saya ?sambil bergurau mengomentari novel ini sebagai epistemologi kloset?. Sebenarnya istilah itu bukan milik saya pribadi. Itu saya pinjam secara tak tepat dari judul buku terkenal Eve Kosofsky Sedgwick, Epistemology of the Closet, yang beberapa tahun lalu saya baca.

Buku itu merupakan pembacaan-dekat Sedgwick atas sejumlah teks sastra klasik Amerika dan Eropa yang mengungkapkan bagaimana homoseksualitas mengalami tekanan. Jadi, sangat tak sesuai bila dipakai untuk mengomentari novel Hudan-Mariana ini (tapi, sebagai gurauan saya kira tak mengapa, bukan?). Kedua, sebagai lelaki, saya terganggu (baca: menikmati) dengan deskripsi seksualitasnya yang relatif vulgar.

Tapi, karena sekarang masalah pornografi menjadi sangat sensitif, ada baiknya perbincangan soal ini kita lakukan di lain waktu saja. Ketiga, novel ini karya dua orang. Hudan adalah sastrawan yang lebih banyak berkubang di dalam cerita pendek. Sedangkan Mariana adalah cerpenis yang lebih banyak berkubang di dunia filsafat, terutama feminisme, dan redaktur pelaksana Jurnal Perempuan. Agak sukar membayangkan bagaimana proses penulisan novel dengan karya kolaboratif semacam ini, tapi ini akan menjadi tulisan lain, terutama soal proses kreatif mereka yang tentu mengasyikkan.

Novel ini hadir di depan saya seperti bingar musik disko dari salon angkutan kota tepat di tengah malam. Ia menteror Anda, tapi Anda tak punya kuasa untuk membungkamnya. Membaca buku ini saya seperti diceburkan di tengah kebisingan. Secara visual hal ini terlihat dari ilustrasi yang berserakan di halaman-halaman buku, pemilihan jenis huruf dan permainan teks dan tata letaknya.

Dengan cara ini, saya kira, novel ini menjadi satu-satunya novel?sepanjang yang saya tahu?yang merayakan grafik, meski hasilnya tak begitu bagus. Secara tekstual, kebisingan itu tercermin pada dialog tanpa putus dan tanpa lelah antara tokoh Hudan dan tokoh Mariana. Dengan kebisingan semacam itu, jelas ini bukan buku yang tepat untuk mengantar tidur Anda.

Novel ini agak ganjil bila dibandingkan dengan novel Indonesia pada umumnya. Tak ada plot yang lazim membangun sebuah novel. Satu-satunya plot, saya kira, adalah upaya dua orang tokoh untuk menyelami tema seksualitas dan ketuhanan dengan memetakan macam apakah ?tuan dan nyonya kosong? yang ditulis oleh ayah sang tokoh Hudan. Kemudian, mahluk macam apa sih novel ini sebenarnya?

Beberapa aspek novel ini telah banyak dibahas oleh sejumlah pengritik sastra, di antaranya Rocky Gerung, dosen filsafat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dan Afrizal Malna, sastrawan yang mennyumbang sebuah esai sebagai pengantar novel ini berjudul ?Tuhan Kekosongan dari Pemburuan atas Tubuh Subyektif?. Saya hanya ingin membawa novel ini melangkah memasuki kawasan ?novel filosofis?.

Susan Sontag, kritikus sastra Amerika Serikat, dalam sebuah esainya di The New York Times berjudul ?A Report on the Journey?, memaparkan bahwa, ?Sebuah novel filosofis umumnya dimulai dengan menyusun sebuah pertengkaran dengan mengungkap pokok soalnya dalam penemuan novelistik.? Sontag mengatakan, satu perangkat umum yang dipakai adalah menyajikan fiksi sebagai sebuah dokumen, sesuatu yang ditemukan atau diperoleh, seringkali setelah kematian atau raibnya pengarangnya.

Dia bisa berupa penelitian atau tulisan dalam manuskrip, catatan harian, atau surat. Novel Hudan-Mariana dibuka dengan kenangan tokoh Hudan atas kehidupan ganjil keluarganya yang melakukan incest secara terbuka: Hudan bercinta dengan ibunya. Kehidupan ganjil ini mendatangkan keberangan dari para tetangganya dan orang kampung pun membakar rumah keluarga tak senonoh itu.

Hudan lolos dari amuk massa itu dan berlari dengan membawa trauma dan deritanya, juga sebuah novel tak selesai karya ayahnya. Novel itu berjudul Tuan dan Nona Kosong. Ada beberapa patokan yang ditebar Sontag tentang sebuah novel filosofis, tapi yang paling penting saya kira adalah soal unsur ketakutan dan bahaya.

Menurut dia, novel filosofis dan novel fantasi dapat samasama mengisahkan sebuah perjalanan, tapi dalam novel filosofis unsur ketakutan itu minimal. Pertanyaan pentingnya bukanlah bagaimana seseorang dapat selamat tapi bagaimana dia dapat tahu, dan dapatkah orang mengetahui segalanya. ?Memang, kondisi mendalam dari mengetahui menjadi subyek perenungan,? tulis Sontag. Dalam konteks semacam ini, novel Hudan-Mariana adalah sebuah penjelajahan filosofis dengan upaya mati-matian mengejar kekosongan.

Secara epistemologis, novel ini jelas mencoba memakai metode ontologis Descartes: meragukan segala yang ada lapis demi lapis hingga menemukan satu-satunya yang ada yang harus dan dipercaya ada. Tapi, kemudian Hudan-Mariana melakukan manuver dengan meragukan segalanya sehingga yang tinggal adalah kekosongan.

Problemnya, bagaimana kekosongan itu ada? Novel ini kemudian memperkenalkan konsep tuan dan nyonya kosong sebagai jawabannya. Sang nyonya kosong, misalkan, dibayangkan sebagai manusia yang sejak lahir telah melepas segala atributnya, menjadi telanjang dalam pengertian paling dasar: ?Ia tak punya jenis-jenis perasaan manusia: harapan, lelaki idaman, bahkan keinginan disentuh dan kehangatan? (halaman 214).

Namun, kekosongan itu tak sepenuhnya hampa, karena ?Perempuan kosong ternyata ciptaan Tuhan? (halaman 217). Ada hal yang mengganggu di sini, karena ia meloncat begitu saja: tiba-tiba, tanpa permisi. Ini membuat novel ini sebagai ?novel filosofis? menjadi goyah. Fondasi yang telah dibangunnya itu lantas diruntuhkannya sendiri. Barangkali, novel ini mencoba mencapai pengertian yang dimaksud Milan Kundera.

Dalam sebuah wawancara yang dimuat dalam The Review of Contemporary Fiction, Kundera menyatakan bahwa novel filosofis yang bagus tidaklah melayani filsafat tapi, sebaliknya, mencoba ?memasuki wilayah yang… filsafat telah genggam untuk dirinya sendiri?. Bagi Kundera, ada masalahmasalah metafisik, masalah eksistensi manusia, yang filsafat tak pernah tahu bagaimana menangkap semua kekongkretannya dan yang hanya dapat ditangkap oleh novel.

Itulah tugas novel filosofis dan Hudan- Mariana terkesan terengah- engah saat mengarungi lautan metafisika ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *