Tubuh yang Terpasung

Indrian Koto
http://www.suaramerdeka.com/

SETENGAH tak percaya aku mendengar kabar tentangmu. Bagaimana mungkin kau, orang yang terbiasa menerima banyak kesulitan dengan kesabaran tanpa ampun, tiba-tiba menjadi orang paling lemah sedunia. Kesakitan serupa apa yang mengungkungmu hingga tak bisa kau lepaskan diri darinya?

Aku mendengar cerita tentangmu sepotong-sepotong. Tak ada alamat tetap, juga tak ada yang tahu persis keberadaanmu. Kamu seperti menghilang oleh banyak hal. Sampai seorang teman meneleponku malam-malam, mengabarkan berita buruk itu dengan ketenangan yang tak terduga.

?Sudah beberapa bulan ini,? katanya.

Celakanya aku tak kunjung sempat pulang. Pekerjaan dan kota yang jauh telah menyeretku pada kesibukan yang tak masuk akal. Dan cerita tentangmu, kuanggap kekonyolan yang dilemparkan seorang kawan untuk berbagi kisah lama.

Kau yang dulu kukenal hampir serupa diri sendiri kini nyaris tak bisa kukenali. Jika karena jarak, bukankah tidak hanya sekali ini kita beranjak? Kau tersuruk di sudut ruang yang kecil dan pengap. Kau dipasung. Sebelah kakimu digelang. Matamu cekung dan kosong. Tubuhmu kurus kering. Kusam tak terawat. Kemana kegembiraanmu yang dulu, gurauan-gurauan nakal di lepau kopi? Kemana keceriaanmu dulu yang serupa tak habis-habis? Mengapa kau tak bisa matang justru ketika kesulitan-kesulitan itu mulai bisa kau kuasai?

Telah lama aku mendengar gumaman-gmaman buruk tentangmu. Orang-orang menceritakanmu dengan sedikit kesabaran yang bersisa. Aku ingin segala kesulitan, kepedihan, kemarahan, kemuraman keluar dari mulutmu. Seperti dulu, saat kau menangisi bapakmu, menyesali ibumu. Kamu mengumpat dengan bahasa orang dewasa. Kulihat kilatan dendam dari matamu yang serupa bara. Setelah itu, ketika sore selesai, kau bangkit dari dudukmu dan kembali terlihat keceriaan masa kanak pada wajahmu. Di mataku, kau terlalu cepat dewasa dan memahami banyak hal.
***

KAU diam saat kusapa. Ketampananmu tersuruk pada balutan tipis kulitmu yang pasi tak tersentuh matahari. Dulu kau lelaki rapi ?menambahkan sedikit minyak pada rambutmu dan membulir pakaian dengan aroma sengit? kini kusam dan berantakan. Persetubuhanmu dengan ruang, tempat kau makan, minum, buang tahi sekaligus kencing membuat aromamu terasa apak dan bacin. Tentu, sudah lama sekali kau tak tersentuh air. Kukumu panjang tak terawat, rambut menutupi sebagian wajahmu, jenggot dan kumis berebut tumbuh dengan semena-mena. Ingin menangis saja aku oleh kepiluan yang kian menjadi-jadi ini. Tapi, seperti katamu dulu ?pada petang terakhir kau habiskan air mata, ?Ia ?tangis itu? tak pernah bisa menyelesaikan banyak hal, hanya menambah-nambah kepedihan. Setiap menangis, makin kental saja rasanya bahwa aku tak memiliki siapa-siapa, ? katamu.

?Tapi aku merasa memilikimu,? kataku.

Aku kembali menyapamu. Kau menjawab dengan lenguhan-lenguhan tak jelas. Ungkapan-ungkapan asing menggeliat dari bibirmu yang kering dan pucat. Kau betul-betul tak mengenalku lagi. Ke mana jiwamu pergi sehingga segalanya menjadi alpa?

Aku tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang dirumuskan orang-orang tentang kamu; keluargamu berantakan, hubungan cintamu tak terselesaikan, dan hidup yang luluh lantak, lalu kau gila karenanya. Enak aja. Aku menduga ada hal lain yang tersembunyi jauh di dasar hatimu. Jika saja kegilaan ini hanya pura-pura akan kupukul kamu dengan kemarahan yang dibikin-bikin. Aku akan menyediakan seluruh waktuku untuk mendengar kau berkisah seperti dulu. Bahkan, untuk seluruh hidupku.

Aku mencoba meraba hal-hal rahasia padamu, bahwa kau tak kunjung bisa menata hidupmu yang berkeping, menyusun bagian-bagian paling manis dalam hidupmu. Kau selalu gagal. Kau habis kesabaran. Sementara tak ada orang yang bisa kau percayai.

Aku lebih mempercayai dugaanku sendiri ke