?Chairil dan Kota?

Chairil Berkisar dalam Jakarta

Mila Novita
http://www.sinarharapan.co.id/

Chairil ada di antara kehidupan kota. Di usia 19 tahun, ketika ibu, Saleha, dan ayahnya, Toeloes, bercerai, ia memilih tinggal di Jakarta bersama dengan ibunya.

Di Ibu Kota inilah ia berkenalan dengan sastra, bergaul dengan orang-orang dari kalangan sastra, dan banyak mendapat inspirasi dari kehidupan Jakarta.

Chairil dan Kota Jakarta begitu akrabnya hingga Dewan Kesenian Jakarta mengadakan diskusi khusus ?Chairil dan Kota? pada peringatan ulang tahun ke-481 Kota Jakarta sekaligus 69 tahun wafatnya sastrawan yang bersama dengan Rivai Apin dan Asrul Sani menjadi pelopor angkatan 1945 itu, pada 26?29 Juni, di Taman Ismail Marzuki.

Chairil dengan sajak-sajaknya yang berkaitan dengan Kota Jakarta dibahas oleh Goenawan Mohamad, Arif Bagus Prasetyo, dan Marco Kusumawijaya pada Kamis (26/6), sedangkan tentang Chairil yang menginspirasi kalangan nonsastra dikemukakan Rizal Mallarangeng, Robertus Robet, dan Ihsan Ali-Fauzi, Jumat (27/6). Puncaknya berlangsung Sabtu (28/6), dengan pembacaan puisi oleh Rendra, Putu Wijaya, Niniek L Karim, Iman Saleh, Andi Mallarangeng, dan Anies Baswedan di Teater Studio.
Arif Bagus Prasetyo, penulis dan kurator, memulai pembahasannya dengan sebuah puisi Chairil yang ?sangat Jakarta?, ?Aku Berkisar Antara Mereka?.

?Dalam khazanah karya Chairil, ?Aku Berkisar Antara Mereka? adalah puisi yang paling eksplisit merefleksikan visi Chairil tentang kota, khususnya Jakarta yang menjadi basis kreatif sekaligus tempat tinggal sang penyair hingga tutup usia pada dekade 1940-an.?

Tengok tanda-tanda kemodernan Jakarta ketika itu, bioskop Capitol, daerah ?Kota?, tempat dansa, trem, tiang listrik, sifilis, bom atom, seperti yang dikutip Arif dari esai Goenawan Mohamad ?Dengan Flaneur dan Pelacur?.

Kota
Seperti melukis Jakarta di masanya, begitu Chairil dalam puisi itu. Tapi, seperti apakah kota, khususnya Jakarta, dalam sejarahnya? Goenawan Mohamad mencatat, sejarah kota di Indonesia berbeda dengan sejarah kota di daratan China atau Eropa. Di sana, kota berasosiasi dengan ?dinding? atau ?pagar?, dan seorang penulis sejarah tentang kota, Lewis Munford, seperti yang dikutip Goenawan, menyebutkan bahwa dinding telah terus-menerus jadi salah satu corak kota yang paling penting.

Tapi, dalam puisi Chairil itu, tidak ada dinding karena sejarah kota di Indonesia tidak terpaut dengan dinding. ?Saya pernah baca sebuah penelitian arkeologi yang menyimpulkan bahwa Jawa lama ada sebuah bentangan demografis ?tanpa kota?. Kalaupun ada batas, mungkin samar-samar,? ujar Goenawan ketika membacakan makalahnya, ?Dari ?Mooie Indie? ke Gambir?.

Ciri khas Kota Jakarta ada pada Jalan Thamrin dan Sudirman, idealnya mungkin seperti itu. Tapi masih ada bagian lain yang sering kali ingin kita sembunyikan, orang miskin, pelacur, penganggur, rumah-rumah kardus. Dan bagian yang ingin disembunyikan itu lekat dengan kehidupan Chairil. Ia memotret kota dari sana.

Andai Chairil masih ada saat ini, bisakah ia bertahan berada di Jakarta? Ihsan Ali-Fauzi, salah seorang redaktur majalah Madina yang juga Direktur Program Yayasan Wakaf Paramadina, mengatakan Chairil mungkin tidak sanggup.

?Jakarta berkembang dengan kafe-kafe, salon-salon. Seandainya Chairil masih ada, saya tidak yakin Chairil bisa masuk ke situ karena kantongnya tidak cukup. Dia tidak akan suka ke kafe karena teman-temannya juga kere, kafe-kafe sekarang banyak didatangi oleh para politisi untuk bertukar. Mungkin Chairil hanya akan dimarahi mertua, mungkin ia juga tidak akan bisa beli tiket busway.?

Chairil memang tidak perlu hadir di antara kita, orang-orang Jakarta, saat ini. Bukan karena ia tidak sanggup, tapi lebih karena fungsinya. Cukup karyanya saja yang dihapal anak-anak sekolah dasar, dideklamasikan pada hari kematiannya yang diajukan sebagai Hari Sastra Indonesia pada 28 April 1949, atau cukup menjadi pemersatu karakter Cinta dan Rangga dalam film Indonesia modern, Ada Apa dengan Cinta?, yang skenarionya ditulis Rako Prijanto, Jujur Prananto, Prima Rusdi, Riri Riza, dan Mira Lesmana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *