Akhirnya, Kuntowijoyo Berjalan di Atas Mega

Yuyuk Sugarman
sinarharapan.co.id

“Sebagai hadiah, Malaikat menanyakan apakah aku ingin berjalan di atas mega dan aku menolak karena kakiku masih di bumi sampai kejahatan terakhir dimusnahkan sampai dhuafa dan mustadhafin diangkat Tuhan dari penderitaan”
(Dipetik dari kumpulan puisi Daun Makrifat, Makrifat Daun, yang ditulis Kuntowijoyo pada 1995).
***

Kini Dr. Kuntowijoyo, sejarawan, tak bisa menolak lagi ajakan Malaikat. Ia harus berjalan di atas mega untuk menghadap Sang Khalik. Kunto? begitu sapaan akrabnya, meninggal dunia pada hari Selasa (22/2) sekitar pukul 16.00 di RS Sardjito Yogyakarta, setelah dirawat sejak Senin dini hari lalu. “Mas Kunto kami bawa ke rumah sakit setelah mengalami kejang-kejang yang lantas diikuti diare dan sesak nafas. Beliau mulai gelisah pukul 01.00 dini hari,” ujar Ny. Eni Wijayanti, adik kandung isteri Kuntowijoyo.

Menurut Eni, Kunto adalah sosok yang luar biasa. Ia tak pernah mengeluh sedikit pun meski di mata seorang awam dirasa begitu berat. Bahkan ketika disarankan untuk berdoa meminta kesembuhan, Kunto menjawab secara diplomatis. “Nabi Ayub saja yang sakit bertahun-tahun tak pernah mengeluh, kok saya yang hanya sakit begini mengeluh,” ungkap Kunto.

Sejak 7 Januari 1992, ia diserang radang selaput otak kecil atau meningo encephalitis. Akibat penyakit yang dideritanya itu banyak aktivitas fisik yang tak bisa dilakukan lagi. Toh begitu, hal ini tak mengurangi kemauannya yang keras untuk terus-menerus menulis, menulis dan menulis di layar komputer meski lamban karena hanya memakai satu jari kanan dan satu jari kiri. Di hari-hari terakhir ini, Kunto sedianya masih mau menulis tentang Muhammadiyah. “Tapi hal ini belum terlaksana,” ujar Eni.

Kunto dipandang sebagai sosok yang mampu membawa perubahan di kalangan Muhammadiyah. Komentar itu disampaikan Prof. Dr. Syafii Maarif, Ketua PP Muhammadiyah, yang Selasa (22/2) siang sempat menengok Kunto di RS Sardjito bersama budayawan Emha Ainun Nadjib.

“Kunto menjabarkan Islam hendaknya jangan berkutat dalam fiqih dan hadist saja. Masih ada ilmu sosial yang mampu memperkaya keislaman,” ujarnya ketika dihubungi wartawan.

Tak hanya itu saja Syafii memuji Kunto. Menurut Syafi’i, Kunto adalah seorang tokoh yang mampu memadukan ilmu dan kenyataan dan dituangkan dalam karya-karyanya. “Khotbah di Atas Bukit adalah karyanya yang mencerminkan kondisi masyarakat kita,” tambahnya.

Kepiawaian Kunto dalam menulis dimulai sejak dirinya masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah di sebuah desa di Klaten, Jawa Tengah (1950-1956). Dirinya mengaku semua ini berkat bimbingan gurunya, Sariamsi Arifin, yang dikenal sebagai penyair.

Masih ada satu lagi yang dianggap sebagai pembimbing, yakni Yusmanam, juga dari Klaten, yang dikenal pula sebagai pengarang. Hasil bimbingan kedua orang itu, Kunto mampu membuat sebuah novel yang berjudul Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari. Novel ini dimuat di Harian Jihad sebagai cerita bersambung.

Berangkat dari itulah, karya-karya Kunto lantas mengalir begitu saja. Tak jarang karyanya memenangkan penghargaan. Rumput-Rumput Danau Bento (1968) dan Topeng Kayu (1973), misalnya, mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta.

Tak hanya di bidang sastra, di bidang ilmu pun karyanya banyak dilahirkan, sebut saja Demokrasi dan Budaya (1994), Pengantar Ilmu Sejarah (1995), Metodologi Sejarah (1994), dan Radikalisme Petani (1993).

Bahkan ketika dirinya sakit, dia sempat pula menghasilkan sebuah buku yang berjudul Identitas Politik Umat Islam, yang diterbitkan Mizan, Bandung, 1997. Buku ini banyak mengundang pujian kalangan intelektual. Selain itu, ada pula bukunya yang menjadi pegangan umat Islam di Indonesia, yakni Paradigma Islam: “Kedua buku ini banyak dipuji di kalangan Islam,” ujar Chairil Anwar, Direktur Pelaksana Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan UGM.

Banyak orang iri sekaligus hormat terhadap Kunto, mengingat kondisi fisiknya tak memungkinkan toh masih tetap mampu melahirkan karya besar. “Ini yang membuat kami iri dan malu, kok yang muda-muda seperti saya kalah produktif,” tutur Eni.

Kunto, kelahiran Sorobayan, Sanden, Bantul, 18 September 1943 itu telah tiada. Dosen pada Fakultas Ilmu Budaya UGM ini meninggalkan seorang istri, Susilaningsih, yang begitu setia mendampingi dan merawat dengan kasih sayang. Perkawinannya dengan Susilaningsih yang disunting pada 8 November 1969 itu dikaruniai 2 anak, yakni Punang Amaripuja dan Alun Paradipta.

Rabu siang ini, jenazah Kuntowijoyo dimakamkan di makam keluarga Universitas Gadjah Mada. Sebelumnya, jenazah disemayamkan di Balairung Gedung Pusat UGM. Kunto meraih gelar doktor di Universitas Columbia, AS, dengan disertasi “Social Change in an Agrarian Society: Madura 1850-1940.” Selamat Jalan Mas Kunto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*