Anak Wali Kota

Yonathan Rahardjo
http://www.suarakarya-online.com/

Ketika malam turun, mentari lari dari wajah belahan bumi. Udara mencekam dalam dingin, sapuan angin mengusir debu jalanan. Bahkan bis kota pun ketakutan, mereka masuk gubuk reyot, ada yang masuk kelambu merah. Bajai terseok-seok menyuruk kali, becak terbang ke bui. Tentu saja asap knalpot terbirit-birit dihembus udara lancang.
“Tidurlah malam hari, dengan jendela terbuka, agar angin malam membisikkan kenangan indah bagimu,” katanya.
“Namun, jangan sampai yang membisik adalah laba-laba merah yang bisa bikin tidur penuh tungging,” sahutku.
“Malam indah dan bersih. Makanya bulan tersenyum, dan bulu kudukmu berkata: dingin,” ucapnya.

“Udaranya lebih nyaman, dibanding saat sang raja siang dengan jalang menyarangkan pukulan keras ke rahang, yang tak lagi bulat telur. Kepanasan. Penuh debu, asap dan oli bekas. Dan roda bising,” celotehku.
“Tapi.., mungkinkah ibukota negara yang sumpek ini ditempati udara bersih?” kini ia bertanya.

“Ibukota negara ini masih bisa ditempati udara sangat bersih, tapi hanya pada malam hari. Sesudah seharian disapu dengan asap knalpot dan debu jalang di jalanan, ibukota negara bisa menjadi kota sangat bersih, dengan turunnya malam pekat yang menyelimuti kota sumpek ini.”
“Kenapa malam jadi lebih bersih?” ia bertanya lagi.
“Ya karena itu, partikel asam dan debu lari. Karbondioksida disedot pohon manis, hijaunya daun telah menghitam, ia kenyang karbon. Makanya, hijaunya daun jadi seperti rumah hantu, bahkan beringin partai politik tak lagi hijau muda, tapi hijau tua penuh beban.”
“Lalu…?”

“Dijamin, saat bangun pagi dengan membuka jendela rumah masing-masing, ibukota negara ini sudah menjadi kota bersih udara lagi. Namun, akan menjadi kota paling kotor lagi selama hari berikutnya lagi. Dan, kembali bersih malam hari-pagi hari lagi.”

“Artinya, untung ada siang dan ada malam? Kalau tidak ada siang dan malam, semua akan selalu tersapu oleh udara yang tidak lagi bersahabat? Haruskah, kalau begitu, hidup di ibukota negara hanya pada malam hari? Lalu kalau pagi-siang pergi ke ‘puncak’ terutama puncak yang masih bersih dari serbuan debu jalang?”

Pembicaraan kami diiringi irama dangdut, di sebuah kafe di area monumen nasional. Penyanyi masa lalu yang telah meninggal dunia, hidup lagi. Udara malam membangunkannya, ia tidak ingin para penyanyi dangdut dan tamu macam aku kedinginan. Hmmm. Rokok mengepul menyebabkan ruang kafe sumpek, tapi kami puas, penyanyi dangdut itu pun, puas.

Penyanyi dangdut itu mengaku berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya tukang becak. Ibunya ibu rumah tangga. Setelah lulus SMP, ia tidak bisa melanjutkan sekolahnya, karena orang tuanya yang tidak mampu.

Sang ayah ternyata bersikap keras kepadanya, membuat ia tidak betah tinggal di rumah. Mau mencari pekerjaan bagaimana, pendidikan cuma lulus SMP. Maka, “Kegiatanku cuma jalan-jalan ke sana ke mari, dengan pakaian seksi dan make up yang menor, mengundang birahi lelaki,” ceritanya.

“Dulu, rambutku ikal tergerai sepanjang sampai punggung,” lanjutnya. Ia mengaku suka memegang rokok ketika bermain di depan sekolah, tempat sebelumnya ia bersekolah, dan mempunyai beberapa teman akrab.

Dua temannya merupakan gadis-gadis berambut lurus, masih bersifat kekanak-kanakan. Beruntung mereka, dua gadis ini. Latar belakang mereka agak berbeda dengannya, sehingga mampu membayar uang sekolah yang pada jaman itu terbilang mahal.

“Aku suka menunggu teman-temanku itu, di depan pintu gerbang sekolah. Begitu mereka keluar, kuajak mereka pergi berjalan-jalan, mencari tempat-tempat yang bisa menghibur. Misalnya permainan ketangkasan di kota atau restoran.”

“Aduh, bagaimana, uangku sudah habis. Ayo pulang. Ayo pulang, sudah malam. Kakakku menunggu,” katanya menirukan salah satu temannya.

Penyanyi dangdut itu bercerita, ia dan temannya yang satu masih asyik bermain ketangkasan. “Kami sangat penasaran bisa memenangkan pertempuran di monitor. Temanku yang ingin pulang tidak tahan untuk sabar guna menunggu kami menyelesaikan pertandingan. Ia mengganggu kami. Direbut dan dipeganginya mouse-ku. Sikat!”

“Dikalahkannya permainanku, karena kami tak bisa mengendalikan permainan lagi. Akhirnya kami kalah. Namun kami melanjutkan pertandingan itu dan ia ingin main lagi supaya bisa menang. Meski, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.”
“Perjalanan seharian kami ke sana ke mari bersama-sama membuat kondisi tubuh kami lelah. Capek.”

Tentu saja dalam capek itu membutuhkan energi untuk mengembalikan. Mereka haus sekaligus lapar. Ketiganya berjalan dengan langkah gontai keluar dari tempat permainan adu ketangkasan. Menyusuri trotoar dari pelataran parkir, dua gadis dengan pakaian seragam sekolah bersama seorang gadis yang berpakaian ketat seksi dengan sepatu hak tinggi.

Mereka melewati sebuah warung kecil pedagang kaki lima penjual nasi dan mi goreng. Hari sudah malam. Penjual nasi goreng masih melayani tamu pembeli. Seorang pemuda datang. Ditanyalah penjual nasi goreng olehnya, “Apakah nasi gorengnya masih?”
“Sudah habis.” “Kalau mi goreng?
“Masih Bang.. Silahkan.”
Si pemuda menghadapi mi goreng. Makannya dilayani oleh sepasang lelaki dan perempuan.

“Kami, tiga gadis, melihat lelaki itu begitu lahap menikmati hidangan, sampai kami mengucurkan air liur. Sekalipun, makanan di pinggir jalan disapu oleh asap knalpot kendaraan yang lalu lalang dan debu-debu beterbangan.”

“Apa hendak dikata, kami bertiga memang capek. Pemuda itu memperhatikan kami bertiga. Ia taruh piring yang dipegangnya. Lantas ia bertanya kepada kami yang berdiri tidak dari tempat itu, ‘Mau makan Dik?’.”

“Singkat cerita, kami bertiga pun makan ditaktir oleh pemuda yang ternyata adalah anak Walikota Jakarta yang baru saja terpilih dengan kontroversi.”

“Kepulangannya dari warung itu, anak walikota itu masuk ke pelataran parkir bioskop dan membuka pintu mobil Baby Benz. Yang baru dari kesendirian pemuda itu, adalah, ia bersama tiga orang gadis. Satu berpakaian menor dan yang dua berpakaian anak sekolah. Hihihi… anak wali kota itu bersama kami!!!” cara bercerita penyanyi dangdut itu makin seru.

Menurut penyanyi dangdut itu, anak wali kota bersama mereka segera beranjak dari tempat itu menuju Jalan Thamrin yang letaknya tidak jauh dari situ. Mereka melewati Jalan Diponegoro dengan disaksikan oleh saksi-saksi sejarah yang sepi. Jalanan di daerah itu memang penuh dengan dengan saksi sejarah kisah masa lampau ketika partai banteng diserbu kantornya oleh pasukan yang tak dikenal.

“Obrolan kami tiga gadis membicarakan banyak hal, namun rupanya si anak Wali Kota Jakarta tertarik pada si gadis menor. Aku!! Hihihi…”
“Aku ditanya kerjaku apa, kegiatanku sehari-hari apa.”
“Apa jawabmu..?” aku yang sedari tadi mendengarkan cerita penyanyi dangdut itu pun bertanya.

“Mmmm… Aku tidak berani mengungkapkan kondisi yang sebenarnya. Aku mengaku datang dari keluarga kaya. Tinggal di sebuah Taman Pesona dan ayahku dokter. Ibuku pun dokter. Memang kesukaanku mencoba mode-mode pakaian terbaru dalam keseharian selepas sekolah bersama teman-temanku.”
“Apa tanggap anak walikota itu?”

“Dia tidak merasa curiga sama sekali dengan ceritaku. Apalagi ketika ia mengantar kami bertiga pulang, kami menuju ke rumah mewah yang besar di Kompleks tidak jauh dari tempat kami bercerita itu. Tepatnya di rumah temanku yang berpakaian sekolah yang memang anak orang berada.”
“Lalu…?” “Kami bertiga turun dan anak walikota menawarkan jasa untuk mengantar sampai masuk rumah.”
“Lalu kalian diantarnya sampai rumah?”

“Tidak. Kami menjawab, ‘Terimakasih. Cukup sampai di sini aja. Sampai pintu depan saja.’ Mobilnya berlalu. Kami bertiga pun berpisah.” “Lalu..?”
“Temanku yang kaya masuk rumah besar. Temanku yang satunya masuk perumahan lain yang agak kelas menengah sosialnya.”
“Dan kamu…?”

“Aku pertama berjalan pada lorong yang sempit yang ujungnya menembus gerbang kecil. Di balik gerbang itu adalah perkampungan kumuh rumahku yang berdempet-dempetan dan letaknya di pinggir kali.”

Aku bisa membayangkan kelanjutan cerita penyanyi dangdut itu, sesudah mereka masing-masing pulang, malam menjerat alam. Kelelahan masing-masing ditumpahkan dalam peristirahatan. Si anak walikota dengan mobil Baby Benz sampai rumah dan masuk rumah megah. Ia istirahat di kelam malam membayangkan si penyanyi dangdut yang berpakaian seksi, bukan membayangkan dua temannya yang berpakaian sekolah.

Padahal, saat tidur di rumahnya, penyanyi dangdut muda yang berpakaian menor itu beralaskan kasur pegas yang sudah dilumuri dengan keringat dan air liur. Tempat tidurnya dikelilingi tembok-tembok tripleks dengan barang-barang yang menempel rapat satu sama lain. Poster-poster menempel di dinding tripleks ini, menutup celah dan cat dan jamur yang sudah menandai betapa kondisi dinding darurat.

Sementara itu kedua temannya yang berpakaian sekolah, badan rumahnya jauh lebih dari cukup. Yang mempertemukan ketiga gadis itu, malam itu, adalah alam pikiran masing-masing, sama-sama liar membayangkan betapa berkesannya pertemuan mereka. Tiga gadis muda telah bertemu tanpa sengaja dengan seorang pemuda kaya dan tampan, dan anak wali kota.

Impian masing-masing melayang menembus kegelapan malam. Melayang dan mengangkasa bertemu dengan bulan yang mulai mengintip di balik mega yang makin terusir. Gelapnya malam dapat disapu dengan sinar rembulan yang semakin tampak bundar utuh.

Bulan itu ternyata bulan purnama. Pohon duduk termenung. Dia membisu, bersandingan dengan bulan-bulan yang duduk tepat di atas ranting yang paling pucuk. Angan si anak wali kota bertemu dengan angan anak penarik becak, yang masih sebagai gadis berpakaian seksi di matanya.

Mereka masing-masing tidur disaksikan cahaya rembulan yang mampu menerobos atap-atap rumah mereka. Sebagaimana angan anak walikota dan angan anak penarik becak mampu menyaput segenap rintangan dan benda penghalang. “Bang…. kok diam?” jemari lentik mencolek lengan kananku yang menahan tubuhku lunglai bersandar pada sofa kafe dangdut di pojok.

Tidak jauh dari kafe itu, indikator udara bersih di pojok silang monumen nasional ibukota negara mulai beringsut membaik ketika malam menusuk kulit. Penunjuk mutu udara itu mampu menilai bagaimana mutu udara kotor sebagai tak layak. Beranjak malam, indikator udara menjadi sedang. Dan, di atas pukul 24.00, indikator udara menjadi bersih.

Menjelang subuh, pejoging dan pelari pagi bermunculan ketika pelayan kafe, penyanyi dangdut, dan para tamu termasuk aku, pulang pagi.
“Udara pagi lebih bersih kan?” tanya penyanyi dangdut itu kepadaku.
Aku cuma tersenyum. Kami lihat seorang nenek tua memakai jarit terbirit-birit dikejar anjing. Ia lari pagi.

“Sebab udara segar dan bersih,” katanya, “Polusi masih tidur bersama polisi. Lain bila bemo sudah berkokok, dan kereta rel listrik ibukota negara-kota pegunungan melindas rel besi, yang masih mengantuk.

“Nikmati udara ibukota negara paling bersih pada pagi hari, setelah malam membenamkan kotoran masuk jaket butut,” ujarku.

“Jadi, kita menikmati udara bersih, pada malam atau pagi hari?” penyanyi dangdut itu bertanya lagi. “Pada malam hari.” “Mengapa?”

“Sebab pada malam hari-lah, kamu bertemu dengan anak wali kota itu. Padahal dia itu sebetulnya, aku, yang kini menjadi body guard-mu,” jawabku sambil mencopot kumis di atas bibirku. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *