Dari “Kado Istimewa” Sampai “Dua Tengkorak Kepala”

Dari Cerpen “Topikal”, Reduksi Realitas Sampai Masa Depan Cerpen Kita

Agus Noor
http://www2.kompas.com/

LIMA tahun terakhir, boleh dibilang adalah “masa keemasan” cerpen Indonesia. Sebuah periode yang tidak semata ditandai dengan begitu melimpahnya cerpen, tetapi juga mulai diterimanya cerpen sebagai sebuah genre sastra yang mandiri; pun mulai dihargai melalui pemberian penghargaan terhadap cerpen-cerpen yang dianggap “terbaik” seperti dilakukan Kompas dan Dewan Kesenian Jakarta di tahun 1999 lalu. Pada lima tahun terakhir itu pula, puluhan buku kumpulan cerpen terbit-dan konon cukup mendapat apresiasi dari pembaca. Minimal bila ditilik dari eksemplar yang terjual. Kumpulan cerpen Derabat, sebagaimana diakui Kompas, sudah cetak ulang keempat pada tahun pertama terbitnya. Tentu, ini bisa jadi kasus khusus, yang tak bisa digeneralisir begitu saja. Tetapi, bila menilik pengakuan beberapa penerbit, buku kumpulan cerpen memang relatif laku-lebih-lebih bila dibanding buku puisi. Dongeng untuk Seorang Wanita (Bre Redana), Iblis tak Pernah Mati (Seno Gumira Ajidarma) Kastil Angin Menderu (Joni Ariadinata), Memorabilia (Agus Noor) termasuk yang cukup banyak diburu pembaca. Cerpen memang mengalami kejayaan di era industri media, tulis Seno Gumira suatu ketika. Dan karena “kependekannya” itulah, dalam “konteks iklim industri, cerpen secara teknis mendapatkan faktor pendukung, yang meski tidak prinsip, toh menemukan eksistensinya”.

Namun, di lima tahun terakhir ini pula, “gugatan-gugatan” seputar cerpen Indonesia mulai kentara dan mengeras. Boleh jadi, itu adalah proses dialektis antara pertumbuhan karya dan kritik sastra. Suatu dialektika yang memang dibutuhkan untuk apresiasi sekaligus pematangan pertumbuhan sastra. Hanya, ketika “gugatan” itu kian meruyak kuat, rasanya ada sesuatu yang mesti dikaji kembali: adakah yang salah dengan pertumbuhan cerpen kita belakangan ini? Nirwan Dewanto menilai, betapa kebanyakan cerpen semata-mata bersandar pada cerita, bahkan menggunakan bahasa semata-mata sebagai kendaraan cerita. Budi Darma menganggap kebanyakan cerpen hanya bergerak dipermukaan, kurang pendalaman, sementara sering “isi dan cara pengungkapan isinya banyak dikondisikan media massa”. Sementara Sapardi Djoko Darmono menengarai keterikatan antara cerita dan berita pada cerpen-cerpen yang muncul di koran. Sedang Budiarto Danujaya, yang sempat berpengharapan pada tumbuhnya genre “satra koran” belakangan menjadi sangat cemas dengan begitu meluahnya cerpen-cerpen yang bersifat sangat “aktual” dan yang mengutamakan plot secara agak berlebihan serta terjebak pada “realitas koran”. Satu gejala yang oleh Goenawan Mohamad dikatakan sebagai reduksi “realitas” yang menyebabkan cerita pendek menjadi “tipis tokoh”. dan itulah, yang kemudian disebutnya, cerpen menjadi sangat “topikal”: ditulis dengan niat untuk ikut bicara dalam soal-soal sosial yang sedang hangat, didorong “oleh kehendak mengemukakan satu atau dua “topik”, tak berikhtiar untuk jadi kisah yang punya kehidupan sendiri”.
***

ITULAH kritik-kritik yang mengemuka, dan sekali lagi kita bertanya, adakah yang salah dengan itu semua? Bukan benar-salah perkaranya, tetapi adanya “bahaya” keseragaman pada cerpen-cerpen kita, sehingga kita tak lagi memperoleh pengayaan namun penjenuhan bentuk maupun tema. Dan keseragaman bentuk dan tema itulah yang kini menghinggapi cerpen-cerpen kita. Seakan-akan “tema bersama” yang hidup dalam kepala para penulis cerpen kita untuk menuturkan kegetiran dan haru-biru masyarakat yang tengah berbenah, masyarakat yang tengah berubah dari dunia agraris kemodernis, dengan segala risiko dan konsekuensi sosiologis dan psikologis yang mesti ditanggungnya. Seakan-akan ada tugas dan tanggung jawab yang tertanam dan mesti ditanggungkan oleh cerpen; seakan ada keharusan sastra menyuarakan keperihan sosial. Kecenderungan itulah yang dalam banyak tulisan kerap saya sebut sebagai “tendensi sosiologis” yang menjadi mainsteam penulisan cerpen-cerpen kita hari ini,yang membuat cerpen seakan-akan “terjebak” dalam tema-tema sosiologis dengan faktualitas dan aktualitas sebagai setting peristiwa yang membayang dalam cerita.

Dan itu, rupanya tak semata-mata berkait dengan koran. Karena pada cerpen-cerpen yang terbit di majalah khusus sastra, bahkan yang “berbentuk” buku, tendensi sosiologis itu tetap kental dan kentara. Sepertinya ada “ketaksadaran” yang terus ngendon dalam pikiran dan bawah sadar pengarang kita, yang kemudian memerangkap mereka ke dalam kerangka wacana pengisahan tertentu: Dimana cerita jadi berkehendak untuk mendedahkan tema-tema sosiologis. Seakan ada raison d’etre, yang menjadi kerangka tema dalam cerita, yakni tema seputar perubahan sosial-politik yang tengah berlangsung kini. Begitu kuatnya tendensi sosiologis dalam cerpen-cerpen Indonesia hari ini, sehingga sebuah cerita seakan-akan ditulis dengan dorongan untuk “merumuskan” problem, persoalan dan konflik sosial yang berlangsung dalam masyarakat secara implisit ke dalam struktur cerita. Adakah ini memang “ketaksadaran” atau lebih merupakan conditioning yang dibentuk oleh sejarah dan sosiologi sastra kita.

Kita bisa melacaknya pada tradisi “sastra bertenden” yang sejak awal pertumbuhan sastra kita berpretensi untuk ikut terlibat membangun dan mempengaruhi perkembangan masyarakat. Itulah tendensi yang kemudian mendesakkan “realisme”. Di sini, realisme tak semata-mata berarti cerita-cerita itu realis, tetapi lebih pada wacana pengisahan yang percaya bahwa satra sanggup menghadirkan kembali kenyataan, menghidupkannya dalam cerita, dimana “fakta-fakta sosial” dalam cerita itu dapat dikenali kembali, sehingga pembaca tidak teralienasi dari lingkungan sosialnya. Tak mengherankan, apabila sebuah cerpen yang memakai gaya penceritaan surealis atau pun absurd, menyediakan juga indikasi-indikasi sosiologis yang membuat pembaca akan tetap mengenali “peristiwa sosial” yang tengah berlangsung diseputar mereka. Kecenderungan realisme itulah yang berpretensi besar untuk memerikan kembali kenyataan secara akurat mungkin-meski yang terjadi kemudian, sebagaimana dinyatakan Goenawan, adalah “reduksi realitas”; atau dalam bahasa Budiarto “menjadi realitas tunggal yang ‘umum’, mengulang-ulang stereotipe yang klise, membuatnya menjadi sekadar sebuah realitas ‘teranalisis'”.

Faktor lain yang ikut mengkonstruksi “cerita bertenden” datang dari kiritik sastra kita yang juga cenderung mengkaitkan teks-sastra dengan faktor-faktor sosial yang (dianggap) membentuk makna yang disiratkan karya sastra. Menempatkan sastra sebagai “produk realisme”, dimana cerita menyangga fungsi utama sebagai cermin kenyataan, di mana masyarakat bisa berkaca dan mengenali kerut-merut persoalannya. Sastra adalah mimesis. Tak heran, bila Toeti Heraty, menempatkan cerpen-cerpen dalam kumpulan Derabat, misalnya, semata-mata sebagai cermin realitas. Ketika memperbincangkan cerpen-cerpen dalam Kado Istimewa, Subagio Sastrowardoyo juga memakai kenyataan faktual sebagai parameter “keberhasilan” sebuah cerpen: bagaimana cerpen mampu merekam dan menggambarkan realitas sedekat dan sepersis mungkin. Karena itu Subagio terganggu dengan pelukisan wong cilik dalam Mata yang Enak Dipandang Ahmad Tohari, karena dianggap “tak sesuai” dengan realitas sosial seorang pengemis yang diceritakannya. Dan bukankah para pengkaji sastra Indonesia (“Indonesianis”) lebih memakai karya sastra sebagai “artefak sosial”: sastra dikaji untuk membaca kondisi sosial-politik yang berlangsung, bukan karena pertama-tama “prestasi literer” yang dicapainya.

Semua itu, sudah barang tentu, pada akhirnya ikut membentuk persepsi masyarakat mengenai sastra. Hingga, apa mau dikata, kebanyakan pembaca (umum) pun akhirnya juga memperlakukan cerita sebagai sarana untuk memahami realitas sosialnya. Tak heran, apabila cerita-cerita yang bermuatan sosial adalah cerita-cerita yang hidup dalam ingatan pembaca (umum). Senyampang dengan itu kebanyakan pengarang kita pun tergoda untuk memenuhi hasrat para pembaca. Suatu hasrat untuk mendedahkan “nilai” dan “moral” yang dikandung sebuah cerita, dimana keberfaedahan dapat ditemukan dan oleh karenanya “menyenangkan”. Karena ketika kenyataan sudah sedemikian hibuk dan buruk, sastra dapat merekatkan kembali “nilai” dan “moral” yang terpuruk. Di sinilah kita bisa faham, kenapa buku-buku kumpulan cerpen (yang memang cenderung punya muatan nilai dan moral sosial) laku dan diburu.
***

ADA baiknya, terbitnya kumpulan cerpen Dua Tengkorak Kepala, yang merupakan sehimpun cerpen pilihan Kompas 2000, dijadikan titik pihak untuk merenungkan pertumbuhan cerpen (di masa-masa mendatang).

Pertama, karena bersamaan dengan terbitnya buku ini, muncul kritik bernada cemas seputar “tendensi sosiologis” dalam cerpen-cerpen kita. Meski, barangkali, itu semua hanyalah kecemasan segelintir kritisi, sementara pembaca (umum) tak terlalu peduli. Karena justru (!) cerpen-cerpen yang bermuatan sosial macam itulah yang disukai pembaca (umum), dan karena itulah buku kumpulan cerpen jadi laku. Tetapi bila kita memaknai kritik sastra sebagai obor yang mampu menerangi masa depan pertumbuhan sastra, kritik yang dilontarkan Goenawan atau Budiarto tentu saja menjadi pertanda yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena bahaya “keseragaman” akan membuat cerpen menjadi kehilangan pesona; dan sebagai genre sastra ia kehilangan keunikan dan kekhasan yang dimilikinya sebagai satu wacana cerita-sebagai sebuah kisah, istilah Goenawan.

Kedua, tradisi penerbitan kumpulan cerpen pilihan yang dilakukan oleh Kompas, bagaimana pun sudah menjadi “institusi nilai” yang ikut membentuk dan mengarahkan kecenderungan pertumbuhan cerpen Indonesia. Bahkan, diakui atau tidak, penobatan cerpen terbaik Kompas sudah dijadikan indikasi dan parameter pencapaian-pencapaian estetis cerpen yang ditulis. Pada tingkat ini, tak bisa dielakkan, banyak penulis cerpen kita-sebagaimana pernah dinyatakan Putu Wijaya-mengarahkan daya upaya kreatifnya untuk “masuk” cerpen pilihan Kompas. Ini yang kemudian membuat Kompas-meski tentu saja ia tak hendak melakukannya-menjadi institusi yang ikut bertanggungjawab atas pertumbuhan cerpen Indonesia.

Jangan-jangan, banyak cerpen ditulis dengan maksud untuk menjadi “terbaik”, dan karenanya ia ditulis dengan itikad memenuhi kecenderungan “selera” dan “kriteria” Kompas. Memang, berkali-kali Kompas menyatakan tak punya kriteria penilaian baku untuk menentukan pilihan sebuah cerpen. Tetapi, bila kita menyimak cerpen-cerpen yang terhimpun dalam delapan kumpulan cerpen pilihan Kompas, dari Kado Istimewa sampai Dua Tengkorak Kepala, akan terasa adanya “standar” cerita-cerita tertentu yang mendominasi pilihan. Sebuah “standar” yang mungkin bukan merupakan pilihan sadar redaksi Kompas, tetapi toh tetap membayangkan orientasi estetis: dimana cerita mengandung keberpihakan terhadap moralitas yang kuat. Keberpihakan moral yang kerap berupa kritik sosial yang menandai keterlibatan cerita dalam “topik” persoalan tertentu yang tengah berlangsung di masyarakat.

Tentu tidak semua cerpen pilihan Kompas ditulis dengan tendensi sosiologis semacam itu. Kita tetap juga menemukan cerita yang penuh makna dalam dirinya, seperti Sepotong Senja untuk Pacarku Seno Gumira Ajidarma, Gauhati Budi Darma, Usaha Membuat Telinga Afrizal Malna, Sentimentalisme Calon Mayat Sony Karsono, Dua Telinga Saya, Rasanya Cukup… Yanusa Nugroho. Tapi, memang, nyaris 90% cerpen dalam delapan kumpulan cerpen pilihan Kompas mengandung tendensi sosiologis yang amat kental.

Meski begitu, sebagai pembaca cerpen, saya memang tetap berpengharapan, betapa suatu saat Kompas akan lebih banyak memunculkan cerpen-cerpen yang menyandarkan kekuatannya pada cerita, bukan pada tema atau berita. Cerpen-cerpen yang tidak semata-mata menyajikan kenyataan, tetapi mengolahnya menjadi “kenyataan literer”, sehingga cerita menjadi medan pemaknaan yang kaya. Cerita bergerak tidak dengan memaparkan sederet fakta sosial semata, tetapi terlebih berusaha membangun serangkaian kode-kode estetik-bahasa, semacam permainan imajinasi yang dengan sadar abai pada keharusan untuk menerangjelaskan situasi sosial; cerita yang justru terasa penuh dan eksis dalam hubungan antarelemen cerita itu sendiri, tidak pada keterkaitannya dengan faktor eksternal cerita. Adakah, sebagai pembaca, saya berharap berlebihan? Di tengah melimpahnya “cerpen sosial”, saya justru terkenang pada cerpen Daun Seno Gumira Ajidarma, sebuah cerita yang liris dan imajis, remeh tetapi tetap menakjubkan setiapkali saya membacanya kembali.

Boleh jadi Kompas sendiri ingin menampilkan cerpen-yang katakanlah “liris dan imajis” seperti itu. Namun, seperti diakui Kompas, meski seminggu masuk 50-100 cerpen ke meja redaksi, tetapi tetap saja kesulitan mendapat naskah “yang berada di atas standar rata-rata”. Saya tak tahu, apa yang dimaksud dengan “di atas standar rata-rata” itu. Kalau boleh menduga, mungkin sebuah cerpen yang tak cuma menyuarakan tema-tema sosiologis, namun juga utuh dan matang dalam pencapaian estetis. Kalau memang begitu, seperti saya nyatakan di depan, jangan-jangan sumber “keseragaman” cerita itu memang berasal dari dalam kepala para pengarang sendiri?!

Dan ini, seperti sinyalemen Goenawan, jangan-jangan karena memang terjadi proses “de-artikulasi”: pudarnya “kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan bahasa”. Bahasa dalam cerpen-cerpen kita, pada akhirnya jadi mengisyaratkan adanya kerutinan (cara) berbahasa, yang membuat sebuah cerita sering kehilangan ambiguitasnya sebagai wacana kesusastraan, kehilangan kemungkinan-kemungkinan pemaknaan dan suara (polifoni) dalam dirinya. Bahkan lebih parah lagi, cerita kemudian jadi semata-mata daur ulang peristiwa-peristiwa sosial, yang bahkan kehilangan kompleksitas persoalan ketika dirangkaikan ke dalam cerita. Dan karenanya cerita tidak lagi menyediakan kelimpahan tafsir, hingga sebuah cerita selesai sebagai cerita begitu rampung dibaca.

Dari sinilah “kebangkrutan” cerpen bisa datang: ia melimpah, tetapi murah. Inikah, yang membuat selama ini, dibanding puisi, cerpen tidak merangsang kajian-kajian puitik, karena cerpen kita memang tidak menjanjikan “tamasya bahasa”.

Apabila sebagai sebuah genre, cerpen ingin memiliki “martabat kesusastraan”, saya kira, ia mesti mulai mempercayai betapa makna sebuah karya sastra, tidak semata-mata diukur dari muatan-muatan sosial yang bisa direngkuhnya, tetapi terutama dari sejauh mana sebuah cerita menyediakan kelimpahan makna yang bisa dihayati dan maknai. Cerita menjelma metafora, entitas bahasa yang kaya. Di mana dengan itu pembaca akan menemukan “sebuah dunia cerita” yang meluahkan kekayaan makna. Sebuah dunia cerita yang tak akan membuat ktia bosan ketika berusaha untuk terus-menerus menafsir dan mencoba merebut makna yang tersedia di dalamnya.

Apabila kita mempercayai alur sejarah, rasanya harapan semacam itu tidak terlalu berlebihan. Bukankah setelah hiruk-pikuk realisme sosial di tahun 60-an, kita kemudian menemukan cerpen Adam Ma’rifat dan Godlob Danarto, Kwantin tentang Sebuah Poci Goenawan Mohamad, Perahu Kertas Sapardi Djoko Damono, lukisan perahu-perahu Rusli dan kucing-kucing Popo Iskandar, juga drama minikata Rendra. Dan kini setelah sepanjang 80-90-an menggejala sastra kontektual, panggung-panggung teater yang provokatif, kanvas-kanvas dan seni instalasi yang penuh kritik sosial, boleh jadi sejarah akan berulang. Karenanya, masa depan cerpen kita, saya menduga akan bertaruh dengan eksplorasi bercerita dan berbahasa. Cerita-cerita yang tak semata berkehendak menaklukkan realitas, mengangkat topik dan tema, tetapi cerita yang mempertaruhkan bahasa sebagai kekuatan ekspresinya. Saya harap memang begitu.

*) Cerpenis, tinggal di Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *