Jadilah Bunga Wangi, Bukan Onak Berduri

Muhyidin*
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/

Maulana Wahiduddin Khan (diterjemahkan oleh Samson Rahman), Islam Anti Kekerasan, Pustaka Al-Kautsar, Maret 2000, 180 halaman

MAULANA Ashraf ‘Ali Thanawi, seorang sufi yang sangat terkenal di India, suatu saat bangun dan akan mengambil wudhu. Seorang muridnya membawakan kepadanya seember air.

Ia kemudian duduk di suatu tempat dan mulai akan mengambil air wudhu, namun ia bangkit kembali dan pergi ke tempat lain sambil menjinjing ember berisi air. Ketika ia mulai akan mengambil wudhu, ia bangkit dan pindah lagi. Baru pada tempat ketiga ia mengambil wudhunya.

Muridnya merasa heran terhadap tingkah-laku sang guru, lalu dengan sangat hati-hati bertanya, “Guru, engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan, ini aneh. Dua kali engkau duduk di tempat berbeda untuk mengambil air wudhu, namun kemudian engkau bangkit dari kedua tempat itu dan ke tempat lain, hingga akhirnya engkau mengambil wudhu di tempat ketiga. Ada apakah gerangan wahai guru?”

Maulana Thanawi menjawab, bahwa pada tempat pertama dan kedua, ketika hendak mengambil wudhu ia melihat semut-semut sedang berjalan beriringan di lantai. Ia berpikir, jika ia tuangkan air wudhu di atasnya, maka binatang-binatang itu akan berada dalam kesulitan besar. Maka ia pun berpindah ke tempat ketiga yang tidak ada semutnya dan mengambil air wudhu di sana.

Ceritera tersebut dengan tepat memberi gambaran tentang realitas kehidupan seorang sufi yang menyiratkan sosok berkekuatan spiritual. Ceritera itu sekaligus memberi pelajaran bahwa tidak seharusnya kita menyiksa binatang sekecil apa pun, apalagi menyakiti manusia.

Memang, kita harus hidup di dunia ini tanpa menyakiti orang lain dan tidak membuat mereka sakit hati. Manakala seseorang telah mencapai tingkatan spiritual seperti itu, ia akan mendapatkan esensi agama (Islam) yang sebenarnya. Artinya, ia tidak akan berpikir untuk berbuat jahat dan menyakiti makhluk Allah.

Mereka yang memahami benar-benar agama (Islam), akan memberikan hidup dan manfaat kepada orang lain. Ia hidup laksana bunga, bukan onak dan duri. Ia menaburkan bau harum semerbak, tidak malah menyebarkan bau busuk.

Tujuan spiritual yang hendak dicapai dalam Islam adalah kondisi di mana jiwa mencapai rasa damai (nafs muthmainnah)-dan ini menjadi esensi yang sebenarnya dari Islam. Kedamaian jiwa yang menjadi target spiritual dalam Islam ini, jiwa wujud dalam diri seseorang, dengan sendirinya akan membawanya kepada sikap yang menjadi citra diri Islam, yaitu Agama Kedamaian.
***

BUKU Islam Anti Kekerasan karya ulama sekaligus cendekiawan India ini amat bermakna bagi dunia masa kini di mana pertikaian dan permusuhan muncul di mana-mana. Buku ini mengingatkan saudara-saudara seiman yang masih mengedepankan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuannya, sedangkan sesungguhnya, agama melarang tindak kekerasan.

Bagi bangsa Indonesia yang sedang mudah sekali tersundut marahnya, buku ini diharapkan bisa memberi kecerahan batin sehingga dapat mengendalikan emosi dan nafsu amarahnya, kemudian mendekatkan diri pada kesalehan dan kebajikan.

Tujuan lainnya, buku ini hadir juga untuk menjawab tudingan-tudingan miring yang selalu saja diarahkan ke wajah suci Islam, seakan-akan agama ini membolehkan kekerasan. Padahal, kekerasan yang terjadi umumnya dilakukan justru oleh pemeluk yang tidak benar-benar memahami agama Islam, dan mereka itu memang perlu pencerahan.

Buku ini menunjukkan bukti-bukti akurat disertai dengan argumen yang kuat bahwa Islam adalah agama kedamaian, antikekerasan. Hal mana bisa ditengok dari sejarah penyebaran Islam pada zaman Rasulallah SAW. Sepanjang perjalanan dakwah, beliau tidak pernah menggunakan kekerasan untuk memperoleh tujuannya. Maka kalau sekarang, untuk tujuan itu masih ada yang menggunakan kekerasan, tentunya tak sesuai dengan contoh yang diberikan oleh Nabi.

Kalau harus menggunakan kekerasan (perang), itu hanya untuk membela diri. Itu pun sedapat mungkin dihindarinya. Inisiatif untuk membuka front permusuhan sama sekali tidak diperkenankan.

Pada awal dakwah Islam di Makkah, Nabi Muhammad menerima perlakuan yang sangat menyakitkan. Beliau dicaci, difitnah, diintimidasi, bahkan disakiti secara fisik.

Begitu pula ketika beliau pergi ke Thaif untuk berdakwah. Namun beliau tidak pernah membalasnya dengan kutukan, cacian, apalagi tindak kekerasan. Yang beliau lakukan hanyalah berdoa: Allahummahdi qaumi, fainnahum la ya’lamun (Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaum ini, mereka memperlakukan seperti ini karena mereka tidak tahu).

Cara-cara damai dan sikap antikekerasan inilah yang menghantarkan Islam menuju puncak kejayaannya. Philip K Hitty, seorang sejarawan terkemuka, mengatakan bahwa Islam berhasil menaklukkan musuh-musuhnya ketika kekuatan senjata mereka (umat Islam) gagal melakukannya. Bangsa Mongol yang bengis justru ditaklukkan kaum muslimin ketika pedang mereka sudah tidak sanggup menghadapinya; kaum musyrikin Makkah justru takluk di bawah kekuatan damai kaum muslimin.

Kata Islam sendiri merupakan kata jadian bahasa Arab salama yang berarti menjadi tenteram, menjadi tenang, betul-betul damai. Kata benda yang diturun dari kata ini bermakna kedamaian, keselamatan, keamanan, dan penyelamatan. Maka sangat tidak benar pandangan sementara orang yang menyatakan bahwa Islam disebarkan dengan “Qur’an di tangan kanan dan pedang di tangan kiri”.

Adapun untuk tujuan kedua, Maulana Khan mengedepankan prinsip kesamaan derajat manusia di hadapan sesama. Bagi Khan, seorang muslim tidak punya hak untuk memanggil seseorang sebagai “kafir”, hanya karena seseorang itu berbeda. Memanggil seseorang “kafir” hanya karena orang itu tidak menyatakan dirinya sebagai muslim adalah sangat bertentangan dengan perintah Allah (hal 150).

Kafir, menurut bahasa berarti mungkir, orang yang menolak dan mengingkari kebenaran. Jika misi Islam belum pernah kita sampaikan kepada seseorang, tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa orang itu kafir. Karena itu, semua orang di dunia ini harus kita anggap sebagai manusia yang juga potensial untuk dijadikan dan diperlakukan sebagai teman.

Al-Qur’an menyebut orang-orang yang mungkir sebagai kafir. Dan, yang memanggil mereka kafir adalah Allah, karena hanya Allah yang tahu apakah seseorang benar-benar mungkir atau tidak, bukan manusia, bukan kita. Tugas kita sebagai muslim hanyalah terus melakukan dakwah.

Sikap positive thinking (husnu zhan) Khan ini juga membias dalam sikapnya terhadap peradaban Barat. Ia memandang bahwa budaya Barat secara umum kondusif bagi perkembangan Islam. Maka ketika orang (muslim) mengatakan bahwa budaya Barat adalah manifestasi dari dajjal, ia malah mengajukan ”tantangan”: “Kalau begitu kita sangat membutuhkan dajjal lebih banyak lagi.”

Khan berpendapat, budaya Baratlah yang mengajarkan kebebasan beragama, mengajarkan untuk mengutuk penyiksaan di mana-mana, dan budaya Barat pulalah yang telah menemukan berbagai macam teknologi dan sains yang telah membantu menyingkap ayat-ayat Allah yang tersembunyi di alam semesta (hal 149). Buku The Bible, The Qur’an and Science, misalnya, bisa lahir setelah budaya Barat menyingkap ayat-ayat Allah di alam semesta.

Kritik Khan terhadap fenomena kaum muslimin dewasa ini adalah bahwa mereka kebanyakan hanya melihat budaya Barat dari sisi-sisi negatif yang mereka anggap merendahkan dan antitesa dari Islam. Padahal, mestinya mereka juga melihat hal-hal produktif, intelektual, dan hal-hal yang konstruktif, serta moralnya.

Khan juga mengkritik cara pandang kaum muslimin yang menyebut pihak nonmuslim sebagai ‘mereka’, di mana tampak di sana sebuah dikotomisasi antara muslim-nonmuslim, kita-mereka, baik-jelek, benar-salah-sebuah sikap yang akan membawa kepada kecenderungan untuk melakukan aksi kekerasan.

Khan menengarai ketidakmampuan kaum muslimin mengikuti mainstream peradaban modern (sehingga menempatkan mereka pada posisi second line) terutama disebabkan oleh aksi kekerasan yang mereka lakukan. Masyarakat muslim seringkali mudah terpancing provokasi-provokasi yang dilancarkan oleh pihak-pihak tertentu.

Dan, menurut Khan, yang paling bertanggung jawab terhadap aksi-aksi kekerasan ini adalah mereka, yang membangkit-bangkitkan semangat jihad dalam makna yang sempit yakni qital (perang). Satu-satunya jalan menghapus citra masyarakat luar tentang Islam-bahwa Islam itu identik dengan kekerasan, bahwa orang Islam itu sangar-sangar-adalah membawa kembali umat Islam kepada mainstream ajaran Islam yang antikekerasan (hal 176); menanamkan kepada mereka tradisi tertinggi dari tingkatan spiritual sufistik yang enggan menyakiti sesama, yang hanya mau menjadi bunga yang semerbak mewangi, bukan menjadi onak-duri yang menyakiti.
***

BUKU ini telah dengan tepat menjelaskan kepada mereka yang memiliki citra buruk tentang Islam, juga mereka yang berusaha memberi citra jelek kepada Islam. Dari situ, Khan ingin agar agama Islam ditempatkan pada posisinya secara proporsional.

Dengan dua sasaran yang dibidik-yakni kaum muslim dan nonmuslim-buku ini menjadi penting untuk dibaca oleh siapa saja, baik oleh umat Islam maupun umat agama lain. Atau juga siapa saja yang memimpikan tercapainya perdamaian dunia, karena buku ini mengajak kepada perdamaian antaragama.

*) Mahasiswa Sastra Arab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *