Abdul Wachid B.S.
http://www.kr.co.id

MEMBACA buku cerpen Mahar karya Evi Idawati, ada hal yang menjadi perhatian saya. Dari gaya penceritaan, ekspresi bahasa secara umum, cerpen Evi tidak menunjukkan kebaruan. Tidak serevolusioner cerpen Joni Ariadinata yang mendobrak struktur kalimat menjadi frase-frase demi merebut ekspresi dan aksentuasi pikiran dan peristiwa agar selaras dengan emosi peristiwa yang dibangun. Memang, kelebihan cerpen Joni membangun miniatur ‘dunia’ dengan cara memilih peristiwa paling penting saja. Hal itu, tak ubahnya penyair melakukan pemadatan kata-kata, sedangkan cerpenis melakukan pemadatan peristiwa. Dalam cerpen Evi, saya tidak mendapatkan hal itu. Cerpen Evi tak berpretensi melakukan pembaruan ekspresi kebahasaan, ia ‘hanya’ pencerita yang komunikatif dan ‘sederhana.’

Namun, syarat sebagai prosa yang baik sudah meng-ada dalam cerpennya, selaras ungkapan Satyagraha Hoerip, yang terpenting dalam prosa adalah berkisah atau ceritanya, yang lain nomor dua. Cerpen Evi memang demikian, mengalir perahu pikirannya, membawa pembaca ke seberang, mungkin daerah baru, barangkali desa imajinasi, barangkali sesuatu terindah dalam hidup manusia kita.

Mengapa Evi tak menggunakan kemampuan kepenyairannya secara penuh untuk seluruh cerpennya? Dalam prosa umumnya, hal yang disebut ‘puisi’ memang perlu ada. ‘Puisi’ itu ekspresi seni yang menyisakan ruang-kosong bagi penikmatnya agar dapat memberi makna, karenanya tiap pemaknaan mengalami perkembangan sesuai kejiwaan si Pembaca. Memaknai puisi ‘Doa’ Chairil Anwar di saat SD, tentu berbeda dengan di saat menjadi mahasiswa Fakultas Sastra, akan sejajar dengan bertambahnya wawasan pembacaan. ?Puisi? dalam prosa itu mewujud melalui ekspresi kebahasaan seperti halnya Saman karya Ayu Utami, atau Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah el-Khalieqy. Namun hal itu bisa juga meruang-mewaktu di dalam peristiwa, mendekonstruksi pikiran-pikiran umum seperti halnya Khutbah di Atas Bukit karya Kuntowijoyo.

Dalam hal ini, kekecewaan saya agak terobati. Pada cerpen Evi, yang ‘puisi’ itu dari bangunan peristiwa dan pikiran yang dekonstruktif seperti cerpen ‘Pernikahan Malikha’ (pernah di Kedaulatan Rakyat). Dalam cerpen itu, Evi mampu mengemas dramatisnya peristiwa, keadaan batin Malikha sebagai tokoh utama, gadis berusia 12 tahun sebab ketaatan kepada orangtua dan tradisi harus menerima pernikahan dini. Percakapan batin Malikha, percakapan Malikha dengan Kakak, ekspresi Malikha menghadapi nasib di hadapan orangtuanya, kebingungan Malikha mencari kawan ‘curhat’, akhirnya membawa pada dunia kanak-kanaknya, berperahu ke sunyi pantai, bersembunyi di rumah bakau. Di situ, Evi mampu menciptakan suasana, peristiwa, konflik batin, penyelesaian cerita, semua itu dikemas bagai ‘puisi’ yang mengharubiru, dan unik. Dalam ‘Pernikahan Malikha’, Evi tak sekadar menguapkan asap tanpa api, tapi api itu ada dan mengirim gelombang panasnya airmata kepada pembaca.

Pada hemat saya, jika menjawab tanya, di mana letak ‘api’ dari cerpen Evi dalam Mahar ini? Jawabnya, di cover Mahar. Seorang wanita rambutnya panjang terurai, di hadapannya api menyala-nyala, di atas api ada tulisan menjadi judul ‘Mahar’, juga nama ‘Evi Idawati’ dengan huruf-huruf merah metalik, inilah ‘api’ pertama yang nyala dari dalam buku Mahar.

‘Api’ selanjutnya, wanita di depan api itu apakah semacam Siti Fatimah RA putri Nabi Muhammad SAW, yang menjawab tanya, bagaimana jika Sayidina Ali RA (suaminya) menikah lagi? Dijawabnya, kalau saja telor ditaruh di atas tungku hatiku, maka akan matang… Barangkali cover Mahar terinspirasi riwayat itu sehingga wanita di situ dihadapkan pada ‘api’? Namun ternyata, membaca cerpen ‘Mahar’ dan ‘Titik Balik’, dua cerpen yang paling problematis di buku ini, pembaca justru tidak memperoleh gambaran panasnya api poligami yang membakar perempuan. Sebaliknya, api itu, perempuan sendirilah yang memantinya, bukan untuk membakar diri, melainkan lambang kehidupan yang tercerahkan (Bukankah unsur yang mengharmonikan kehidupan adalah air, tanah, udara, dan api?)
***

CERPEN ‘Titik Balik’ lebih syariat, tokoh Ibu tidak melakoni kehidupan asketik (zuhud), kehidupannya biasa saja sebagai umumnya wanita mencintai lelaki yang dicintainya. Namun, dalam pikiran anaknya, mengapa Ibu bisa menerima diperlakukan Ayah sebagai istri kedua tanpa tuntutan neko-neko? Di cerpen itu Evi tidak sedang berdakwah, ia membangun peristiwa kesadaran tokoh Ibu; bukankah logis sebagai orang yang datang nomor dua tidak begitu banyak tuntutan? Apalagi tokoh Ibu berposisi dilematis, di satu sisi ia sadar telah ‘merebut’ kebahagiaan wanita lain, di segi lain ia tak kuasa oleh kuasa cinta yang mengharubiru, yang ditumbuhkan Tuhan di taman hatinya. Cinta, memang, tak perlu didramatisir, namun cinta kerap menjadi misteri sekalipun tiap cinta-sejati selalu hakikatnya jiwa-yang-tenang (nafs al-muthmainnah), selalu dalam hubungannya dengan Tuhan, bahkan dalam percintaan profan sekalipun. Jika cinta-sejati diteruskan perawatannya hingga benar-benar sampai pada Cinta-Sejati, karenanya tak sebatas soal kelon. Yang semula hanya arti (meaning) sebab pukau megahnya tubuh, dari situ cinta-sejati akan meningkat pada makna (significance) megahnya tubuh.

Tokoh Ibu dalam ‘Titik Balik’ tidak mengalami married by accident (MBA), tidak pula selingkuh (?hubungan-gelap? yang didahului zina), melainkan ‘hubungan-gelap-yang-terang’. Ini takdir yang tak kuasa ditolaknya, tokoh Ibu menyikapi dengan sumarah dan transendental. Justru, tokoh ‘Aku’ (anak) tak mau mengerti selama 29 tahun, sampai akhirnya ia sendiri merasakan cinta yang sama, mencintai lelaki yang sudah beristri.

APAKAH cinta-sejati ada dalam poligami? Cinta-sejati dalam poligami hanya bisa dirasakan dan diterima oleh orang yang memiliki pengalaman sama, yang lain menganggapnya nonsens, syukur-syukur tak mengatainya, ‘Aaah, ngrebut suami orang!’ Atau, ‘Perempuan matre!’. Bahkan, ‘Sundal!’ Di situlah simalakama, di satu sisi cinta itu meng-ada melalui kuasa upaya, di segi lain cinta meng-ada melalui karunia langsung dari ‘Yang di Atas Sana’ (Transenden). Dua fenomena itu selalu hadir di tengah jutaan hubungan lelaki-perempuan, dengan begitu, definisi, ukuran, dan cara pencapaiannya juga tidak sama. Mengapalah diharuskan sama? Katanya mengagungkan Hak Asasi Manusia?

Dari situ, ada pembenaran tersirat, poligami bukan suatu anjuran (oleh Islam), namun menyediakan ruang bagi keadaan darurat dari realitas kehidupan manusia semacam Unit Gawat Darurat (UGD) sehingga tatkala orang dihadapkan pada kondisi tersebut (pilihan-sadar atau malu-malu), maka hubungan lelaki-perempuan tidak perlu melanggar hati nurani dan nilai-nilai yang disepakati sesama manusia.

Cinta (mahabbah) dipahami dalam prespektif ?Jalan?-nya (tarekat), ada yang melalui upaya-upaya konkret manusia (maqamat), dan ada yang bahkan tanpa upaya campur tangan manusia berupa keadaan mental yang mencenderungi cinta (hal). Barangkali ada yang menanyakan, bukankah perspektif demikian hanya berlaku dalam kehidupan sufisme? Boleh balik bertanya, bukankah ?upaya? dan ?anugerah? juga terjadi pada siapapun? Dalam perspektif ini, cerpen ?Titik Balik?, merepresentasikan cinta sebagai upaya-upaya (maqamat) perjuangan dan pengetahuan sekaligus keadaan mental (hal) yang dikaruniai Allah; dan, hal tidak memandang siapa orang yang akan ketiban ndaru cinta, dan alamat cinta pun tidak pandang apa orang yang dicintai sudah memiliki istri atau belum (kita tidak bicara hal sebaliknya, seorang istri memiliki lima suami Pandawa, yang mendapat legalisasi adat sebagaimana di Tibet!). Hanya ?orang yang cinta? saja yang dapat merasakan cinta dan Cinta, karenanya di saat supralogis cinta itu niban ndaru kepada tokoh ?Aku? (anak), barulah ia dapat menghayati, dan mengetahui makna cinta, selanjutnya memperjuangkan cinta.
***

DALAM cerpen ‘Mahar’, Maya mempersepsi dan memposisikan cinta lebih pada perspektif mahabbah, yang datangnya secara hal, yang sebab kuasa Tuhan sehingga memiliki kekuatan mengubah seseorang secara tiba-tiba. Wanita yang melakoni hidup pernikahannya 13 tahun ketiban ndaru mahabbah. Tokoh istri, Maya, di satu sisi telah merasakan nikmatnya limpahan cinta suami, ia ingin berbalas budi dengan memberinya kebahagiaan biologis. Namun, saat mengevaluasi hidupnya dengan mendekatkan pada Allah, ia mengalami nikmat cinta dari Yang Mahakekasih. Hal ini menimbulkan kesadaran baru, bagaimanapun secara syariat ia seorang istri, yang mengharuskan antar-keduanya saling memberi nafkah lahir-batin. Dilema ini dijawab dengan kesadaran syariat Maya, agama memberi alternatif dengan poligami. Kesadaran poligami ini didasarkan pada adanya kesepakatan antar-pelaku yang akan melakoninya, jika tidak, maka bukan poligami, melainkan selingkuh. Dari itu sepertinya Evi mengetahui (semoga juga menghayati) perjalanan maqamat cinta: tatkala mabuk-mabuknya cinta kepada Allah, seseorang melupakan semuanya kecuali Allah (fase ‘kemabukan’); setelah tersingkap hijab-Nya, seseorang itu akan kembali pada pelaksanaan seluruh syariat tanpa terkecuali (fase ?ketakmabukan dalam kemabukan?); kemudian ia meng-Esa-kan tauhid, tiada suatu realitas pun jika tidak dimaknakan kaitannya dengan Allah (laailaha illallaah), maka fana.

Di sinilah ‘api’ cerpen ‘Mahar’, ia memposisikan nilai hubungan lelaki-perempuan didasarkan pada realitas manusia, dan maqamat kemanusiaannya. Tak perlu apriori terhadap poligami, tak perlu emosional mengklaim sebagai hal yang tak beradab dan dampak buruk dari budaya patriarkhal, tapi juga tak perlu mengadakan ‘Poligami Award’. Nilai hubungan lelaki-perempuan bukan pada kuantitasnya, melainkan kualitasnya; dan kebutuhan, kemampuan, cara masing-masing orang tentulah tidak sama dalam memaknai kebahagiaan.

Dengan demikian, dalam cerpen Mahar (juga lainnya), cinta lelaki-perempuan bukanlah ‘kepemilikan’ mutlak wadag sebab cinta suatu proses yang ‘menjadi’, proses belajar-mengajar tiada habisnya. Pada proses ‘menjadi’-kan cinta inilah berlangsung sekaligus ‘kepemilikan’ kreatif dari jati diri yang dicintai. Karenanya, cinta dimaknai dan ditempatkan di antara tingkatan (maqamat) dan keadaan mental dicerahi Cinta Allah (hal). Jadi bukannya ‘asap tanpa api’ sebab nilai ‘api’ orang per orang juga tidak sama tingkatannya. Kalau Evi bahagia dipoligami, ‘Lha mbok biarin aja’.
***

Categories: Esai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*