Maut

Wilson Nadeak
http://www2.kompas.com/

USIR burung itu!” terdengar suara agak keras dari kamar. WWW WIstriku dan aku sedang mendengar warta berita terakhir malam itu. Untuk kedua kalinya terdengar lagi seruan itu. Mungkin istriku menyangka itu bagian dari berita atau barangkali ia terkejut menyangka ada sesuatu yang terjadi karena ia menyaksikan televisi antara sebentar mengantuk sebentar terbangun. Ia memandang padaku.

“Kau dengar suara burung itu?” tanyaku.

“Ya. Kukira tadi suara dari televisi,” jawabnya.

“Itulah! Kau suka membuat televisi sendiri dalam pikiranmu,” kataku, “dan suara yang lain?”

“Suara apa?”

Sekali lagi terdengar suara dari kamar.

“Tim, mengapa kau tidak mengusir burung itu?”

Istriku beranjak dari kursi. Dengan sigap ia berjalan menuju kamar dan membuka pintu. “Ada apa, Ma?”

Aku berdiri di belakangnya.

“Usir burung itu! Kau tidak dengar bunyinya? Suara itu! Aku tidak suka!” katanya sambil menarik bantal dan menaruhnya di bagian belakang punggungnya. Sebagian tubuhnya bersandar ke dinding. Tubuh yang semakin kurus karena dimakan usia tua.

“Mama bermimpi, ya?” kata istriku.

“Tidak, Tim. Pendengaranku masih jelas. Coba dengar, burung itu bersuara lagi, bukan?”

Masih terdengar burung malam itu berbunyi, malah semakin nyaring. Mungkin burung itu hinggap di pohon dekat rumah.

“Kalian usirlah! Aku tidak suka mendengarnya!”

Kumatikan televisi hitam-putih mama yang masih menyala. “Ya, ya, saya akan mengusirnya,” kataku. “Baiknya Mama tidur.”

Sementara istriku duduk di tepi ranjang sambil mengurut-urut kaki ibunya, aku keluar. Aku memandang ke pohon nangka di depan rumah, tapi tiada tampak burung di sana. Sinar-sinar lampu halaman menerangi dahan-dahannya. Tiba-tiba aku mendengar suara burung itu, di ujung gang. Kini suaranya sayup-sayup. Makin lama makin jauh. Barangkali ia menyongsong langit tanpa bintang. Mungkin memberi warta kepada manusia yang sedang tidur. Memang sekitar rumahku kehidupan seolah-olah lenyap dari permukaan bumi, sunyi.

Beberapa bulan yang lalu, kakek di sebelah rumah meninggal dunia dalam usia 78 tahun. Sebulan kemudian seorang nenek tua meninggal dunia juga. Kukira ada tujuh orang yang sudah berusia lanjut di lingkungan RT kami dan umumnya mereka itu sakit-sakitan, tidak bisa jalan keluar rumah, sudah uzur. Seminggu kemudian, seorang kakek juga menyusul. Kerapkali ibu mertuaku menghubung-hubungkan burung malam itu dengan kedatangan maut. Sedikitnya sebagai pertanda. Atau juga semacam “panggilan”. Kata dia, kakek di kampung juga berkata begitu. Kakek katanya sangat disegani dahulu karena ia mempunyai “ilmu”. Tapi entahlah. Setahuku, kubur kakek, ayah dari ibu mertuaku, di belakang rumah, berjejer dengan kubur Nenek dan kerabat lainnya.

Tidak seorang pun dari turunannya yang mewarisi ilmu kakek. Sering memang mertuaku menceriterakan kehebatannya, kesaktiannya, ilmu kebal yang membuat ia disegani. Kukira itu kisah-kisah masa lampau yang sukar dilupakan orang yang masih hidup sekalipun amat sulit membuktikannya. Tetapi siapa tahu, masa itu mereka amat akrab dengan alam, dengan dunia mistis, ramu-ramuan alami, terutama mereka yang suka menjelajahi permukaan laut dari petang hingga subuh. Kakek bolehlah disebut anak laut pada musim tidak angin, dan menjadi anak gunung pada musim petik cengkeh atau petik pala, atau panjat kelapa. Seorang anaknya dipanggil “Pak Itam” karena kulitnya menjadi hitam disunglap angin malam di laut. Aku pernah bertemu dengannya dan terkejut atas keramahannya. Ia kenalkan aku kepada anak-anaknya, kerabat dekat lainnya. Ia jamu aku dengan ikan cakalang, ubi, dan sambal khas orang pantai. Saudara-saudara ibu mertuaku berkumpul semua dan kami bercakap-cakap dengan ramah, seolah-olah sudah saling kenal sejak lama. Mereka bertanya tentang ibu mertuaku yang memang sejak menikah dengan putrinya, istriku, tinggal dengan kami. Yang pasti aku mengetahui, selain menjadi petani dan pelaut, saudara-saudara mertuaku tidak ada yang menjadi orang yang disegani masyarakat sekitar karena ilmu kekebalannya.

Agama baru memang telah mengubahnya. Kakek, sebelum meninggal dunia, harus bertengkar dan bermusuhan lebih dahulu dengan anak-anaknya, yang dengan diam-diam membakar segala “warisan” ilmu dari orang tua mereka. Sebelum menghembuskan napas terakhir, kakek “menyerah” dan memanggil semua anaknya, berkumpul, damai dengan mereka.

Adakah hubungan burung malam itu dengan burung malam kakek, nun jauh di seberang laut sana? Yang ribuan kilo meter jauhnya dan dibatasi kurun zaman yang berbeda? Entahlah.

Aku masuk rumah. Pintu kukuncikan.

Warta berita dunia sudah selesai. Kumatikan televisi, lalu aku tidur. Pagi-pagi sekali aku bangun. Sebelum jalan terlalu ramai, aku harus berangkat mengajar ke luar kota. Kalau saja berangkat lewat dari pukul enam, jalan sudah macet. Alamat terlambat tiba di kampus. Sepanjang jalan aku berpikir tentang burung malam, benarkah burung peduli nasib manusia? Benarkah burung malam berbunyi karena membawa berita? Bukankah burung itu bernyanyi karena ia sudah kenyang makan lalu mengeluarkan suaranya? Bukankah itu pertanda sukacita baginya? Apa bedanya dengan burung-burung siang hari yang berbunyi dengan aneka ragam nada?

Ada sesuatu hal yang mengagumkan dari hal mama, ibu mertuaku. Mama tidak bisa diam. Dari subuh sampai petang ia tidak berhenti bekerja. Kebanyakan waktunya dihabiskan di dapur. Ia memang tukang masak yang paling mahir yang pernah kukenal. Tidak seorang pun dari anak-anakku dan orang yang tinggal di rumah yang mau makan di luar rumah, karena rasa masakannya tidak ada tandingannya, masakan restoran sekalipun tidak bisa menandinginya. Selain itu, mama suka sekali menjamu orang. Bila ada tamu, pertanyaannya yang pertama ialah, “Sudah makan?”

Kalau aku mengatakan supaya makanan tidak usah bermacam-macam, ia malah menjawab, “Apakah kita sudah menjadi miskin?” Karena agak jengkel aku kerapkali menjawab, “Sejak kapan kita pernah menjadi kaya?”

Tetapi ia tidak tersinggung. Istriku mendengarnya, dan tersenyum.

Ia amat peduli dengan semua orang. Ia selalu ingin menyenangkan semua orang yang datang ke rumah. Bahkan sekali waktu, ada orang yang meminta surat kendaraan, itupun diberikannya tanpa merasa curiga. Aku jadi kerepotan karenanya. Semua keperluan sehari-hari cucunya disediakannya. Karena rajinnya, ia bekerja sendiri. Pembantu tidak boleh campur.

Dua tahun belakangan ini kesehatan tubuhnya semakin merosot. Berjalan sudah membungkuk, dan sakit-sakitan. Ia tidak bisa lagi ke pasar, tidak bisa mengangkat yang berat dan tidak mampu lagi melakukan pekerjaan yang amat disukainya. Kulihat ia amat terpukul ketika tidak bisa melakukan sesuatu apa-apa. Ia hanya duduk berjemur sebentar di luar, lalu masuk kamar dan tidur.

Meja kerjaku di bagian depan kamarnya. Jika aku mengetik suara mesin tik jelas terdengar ke kamarnya. Kadang-kadang sampai jauh malam aku mengetik. Bukan ia yang terganggu, malah aku yang terganggu karena setiap lima menit ia membuka tutup lemarinya. Denyit pintu lemari menjadi mengganggu konsentrasiku. Kukatakan kepada istriku tentang itu. Istriku memperhatikannya dan memberitahukan kepadaku, bahwa ia sibuk menghitung uangnya yang diselipkan di bawah pakaiannya di lemari.

Bolak-balik ia masuk rumah sakit, satu dua minggu, dan akhirnya dokter mengatakan sebaiknya ia tinggal di rumah saja. Waktu ibuku datang menjenguk besannya, ibuku mengatakan kepadanya supaya sabar dalam masa tua. “Usia kita tidak lama lagi. Paling-paling satu dua tahun lagi, kita mungkin sudah meninggal dunia,” kata ibuku.

Mama marah sekali. Sebuah reaksi yang tidak pernah disangka ibuku. “Aku tidak mau mati. Situ saja lebih dahulu mati!”

Aku lupa mengatakan kepada ibuku bahwa mama sama sekali tidak suka mendengar kata “mati”. Mendengar berita kematian saja pun ia alergi. Pernah sekali istriku menceriterakan kematian seorang kenalan, mama terus pergi. Ia tidak mau mendengar cerita seperti itu. Kalau ada berita orang mati di televisi, ia segera mematikannya. Tetapi aku kadang-kadang heran, ketika sama-sama melihat adegan di televisi, kalau ada tokoh penjahat, ia nyeletuk, “Eh, tembak saja orang jahat itu, biar mampus!” Aku pura-pura tidak mendengar.

Sepulangku dari Australia, istriku bercerita.

“Mama menanyakanmu tiap hari,” katanya.

“Jawabmu?” tanyaku.

“Kukatakan sedang pergi kerja. Tetapi ia tidak percaya. Katanya, pasti pergi jauh.”

Aku memang tidak memberitahukan kepergianku, karena mama paling takut ditinggalkan.

“Buktinya, tidak ada terdengar bunyi mesin tik!” kata mama.

Tengah-tengah malam kadang-kadang ia berteriak, “Jangan! Jangan! Aku belum mau pulang!”

Kubangunkan istriku. “Dengar, mama di sebelah berbicara sendiri.”

Istriku bangun dan membuka pintunya, “Ada apa, Ma?”

“Itu, papa dan mamaku datang tadi. Mereka memanggil-manggilku.”

“Ah, Mama bermimpi,” sahut istriku. “Tidurlah.”

Keesokan harinya, hari masih siang, terdengar jeritan mama dari kamar. Entah apa yang diteriakannya.

“Ada apa, Ma?” tanyaku.

“Tadi ada ibu yang membawa anak ke mari. Anak siapa itu?” katanya.

“Di sini tidak ada anak kecil,” jawabku.

“Tadi ada di situ!”

Aku membukakan pintu agar udara masuk. Mama kemudian berbaring dengan selimut menutupi tubuhnya yang tinggal kulit pembalut tulang.

Dua minggu belakangan ini makannya semakin sedikit dan seleranya semakin hilang. Mama mengalami gangguan pernapasan, terpaksa kami membeli oksigen. Setiap tiga hari sebuah tabung oksigen kami ganti. Belakangan satu tabung besar habis sekali dua hari. Kadang-kadang ia berontak ingin melepaskan slang, terpaksa ia ditemani dari jam ke jam.

Orang-orang yang datang berkunjung masih dikenalinya. Ia masih bisa berbicara dengan jelas. Kalau ada tamu yang menyinggung soal kematian, ia seperti terhenyak dan mulutnya terkatup, matanya tertutup. Ia tampaknya tidak mau mendengar nasihat seperti itu.

Pada suatu siang ia memanggil-manggil istriku. “Tim, Tim, coba lihat oksigen ini. Mama rasa ada yang tidak beres!”

Istriku memperhatikan oksigen yang masih beriak-riak. “Tidak apa-apa, Ma.”

Posisi tubuhnya diluruskan karena terlalu lama tidur miring.

“Mengapa Mama tidak sembuh-sembuh, ya?” katanya pelahan.

“Mama harus pasrah,” jawab istriku.

“Mama tidak pernah sakit separah ini,” katanya sambil menatap langit-langit. “Kapan ya, sembuhnya?”

Istriku tidak mampu mengatakan yang lain. Ia hanya mengusap-usap tangannya dan kakinya, dan sesekali memperhatikan oksigen yang beriak. Ia mengajak mama berdoa. Setelah itu, mama berkata, “Kapan sembuh, ya?”

“Tidurlah dulu, Ma. Jangan terlalu banyak bicara, nanti sesak napas,” sahut istriku.

Setelah mama tidur, istriku keluar dari kamar. Sesekali aku masuk kamar dan memperhatikan tabung oksigen.

Menjelang pukul empat petang, mama memanggil-manggil. Aku dan istriku masuk ke dalam kamar. Kulihat mama sukar bernapas sekalipun oksigen berjalan dengan normal.

“Tabah, Ma. Sabar. Sabar,” kata istriku.

“Aku mau duduk, tolong taruh bantal di punggungku…” pintanya.

Aku mengangkatnya dan menyandarkannya. Istriku memeluk pinggangnya. Ia ingin melepas slang oksigen, kucegah.

Ia menarik napas panjang, berat sekali tampaknya. “Sudah terlambat. Terlambat,” katanya.

Ia muntah. Matanya tertutup. Tubuhnya terkulai.

“Ma! Maaaa,” kata istriku, “bagaimana ini?”

Aku mengambil tisu dan membersihkan muntahnya. Kubaringkan tubuh yang kecil itu. Kusingkirkan bantal dan berkata, “Ia sudah tiada.”

Kami berdua terpaku melihat tubuh yang sama sekali tidak bergerak. Riak oksigen semakin mengecil dan padam.

Bandung, 30 Juni 2000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *