Mengusir Kejenuhan, Melawan Tirani

Buku : Mengusir Matahari. Fabel-Fabel Politik
Pengarang : Kuntowijoyo
Penerbit : Pustaka Hidayah, Bandung
Tebal : 301 halaman
Peresensi : Odhy`s
http://arsip.pontianakpost.com/

Mengusir matahari adalah nama buku kumpulan fabel-fabel politik Kuntowijoyo yang sebelumnya pernah muncul saban minggu di majalah Ummat. Dalam definisi yang umum –misalnya yang tertulis pada Kamus Istilah Sastra karya Panuti Sudjiman– fabel atau cerita binatang adalah merupakan cerita yang pendek dan sederhana, biasanya dengan tokoh binatang atau benda yang berkelakuan seperti manusia, serta mengandung suatu ibarat, hikmah atau ajaran budi pekerti.

Delapan puluh sembilan kisah pendek dalam buku ini sangat menarik lantaran dengan “lucu” para binatang ikut memanusiakan diri (bahkan ada jenis binatang tertentu yang berkesan lebih manusiawi?). Bagai yang biasa terjadi di kalangan masyarakat Melayu dan Jawa, para binatang itu memang tak sekedar makhluk yang bodoh dan tak kreatif. Namun sesungguhnya dengan sangat karakteristik mereka tengah memainkan peran yang mendinamiskan dunia. Inilah menariknya.

Kuntowijoyo yang selama ini terkenal sebagai sastrawan besar mampu memberikan karakter yang pas kepada binatang-binatang tersebut. Gaya fiksi yang dijadikan latar cerita cukup membuat kita betah untuk membacanya berlama-lama. Tak hanya itu, bahkan kata Kunto buku ini berisi kebijakan dan sindiran politik. Seperti diketahui, pada waktu fabel-fabel ini dibuat masalah politiklah yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat (hlm.9) Jadi, buku ini juga dapat disebut sebagai karya yang kontekstual!

Alhasil, persis maksud definisi di atas, “Mengusir Matahari” tak sekedar memuat cerita cekakak-cekikik (lantaran lucunya), ia juga mengandung muatan moral atau ajaran budi pekerti dengan berkendaraan tamsil, ibarat dan hikmah. Konon inilah tanggungjawab pengarangnya dalam menyikapi huru-hara politik di negeri ini ; dengan tak mau berpangku-tangan dan membiarkan kelaliman berjoget leluasa di pentas republik yang telah berubah jadi korban politik statusquo, Kunto ikut menggempur dengan pisau bahasa dan sastra yang –malah terasa– lebih tajam menghunjam ke sasaran.

Sasaran Kunto dalam kisah-kisah ini –antara lain– adalah jantung pemerintahan otoriter yang disebutnya sebagai kekuasaan Orde Baru yang sudah puas “membakar hutan” selama 32 tahun (Hlm.10). Buku inipun merupakan satu bukti nyata bahwa era reformasi membuat semua pihak ingin terlibat ; tak hanya mahasiswa, politisi, preman dan provokator saja. Dan pengarang –seperti Kunto– ingin menggempur serta mengukir sejarah lewat kepiawaian menulis.

Hasilnya adalah sejumlah ide yang termanifestasi ke dalam bentuk fabel yang ditulis selama rentang waktu dua tahun ; yang coba menyoroti perjalanan politik bangsa mulai sejak Pemilu 1997 hingga peristiwa lengsernya rezim berkuasa. Setidaknya ada dua level yang ingin dicapai oleh fabel-fabel ini, aku Kunto, yaitu Pertama, ia dapat ditangkap sebagai dongeng semata. Orang tak perlu bersusah payah mencari-cari makna, tetapi cukuplah dengan menganggapnya sebagai dongeng pelipur lara.

Kedua, bagi mereka yang suka membuang waktu untuk mencari makna di balik cerita, disediakan ruang untuk merenungkan kebijakan atau sentuhan politiknya, (sebab) sehabis setiap cerita selalu ada simpulan, hikmah, atau ibarat apa yang bisa dipetik. Inilah nilai plus yang ditawarkan Kunto. Kalimat ringkas yang dicetak tebal pada bagian akhir setiap kisah merupakan renungan yang dicuplik dari Kitab Suci, Omongan bijak para tokoh klasik maupun modern yang berasal dari berbagai belahan dunia, pitutur nenek-moyang, kata-kata sastrawi, serta referensi yang amat berguna bagi kehidupan manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *