Nurhayati, ?Penyelam? Sastra ?La Galigo?

Suriani
http://www.sinarharapan.co.id/

MAKASSAR – Nurhayati, perempuan yang lahir di tanah Bugis, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) 29 Desember 1958 silam, telah menghabiskan separuh hidupnya untuk ?menyelami? sastra Bugis La Galigo yang merupakan sastra terpanjang di dunia, melebihi karya sastra Mahabaratha di India dan karya sastra lainnya.

Tak heran jika ketekunan ibu satu anak ini membawanya meraih gelar doktor, yang merupakan gelar untuk perempuan pertama di Indonesia bahkan di dunia, yang mampu merangkum dan merunut karya sastra La Galigo dari kumpulan dokumen. Rangkuman itu dari kumpulan dokumen, baik yang masih dimiliki masyarakat Bugis di Sulsel maupun daerah lain seperti Buton, Jawa, dan Maluku, bahkan dokumen tertulis yang banyak terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

?Karya sastra La Galigo banyak diteliti dan dipelajari orang asing, khususnya Belanda. Bahkan konsep navigasi tokoh sentral La Galigo, yakni Sawerigading, telah diadopsi oleh sistem pelayaran internasional,? ungkap Nurhayati.

Dari fenomena itu, ia merasa terpanggil untuk menggeluti karya sastra Bugis guna melestarikan karya leluhur sekaligus menyelami filosofi yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, untuk meraih gelar sarjana S1 Sastra Daerah di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tahun 1983, ia merelakan didahului teman-teman seangkatannya yang sudah wisuda terlebih dulu, hanya untuk merampungkan skripsinya yang tergolong sulit dengan mengambil salah satu episode sastra La Galigo, yakni transformasi La Galigo dalam Islam.

Dalam penggalan karya sastra itu diceritakan, masyarakat Bugis Makassar yang telah memiliki keyakinan menyembah dewata sewwae, Tuhan dalam kitab suci La Galigo, kemudian tersinergi dengan pendekatan ulama atau penyebar Islam yang menggunakan pendekatan kultural, termasuk sastra dalam menyebarkan Agama Islam di daerah ini.

Disertasi ?Meong Palo BolongE?
Kecintaannya menyelami sastra La Galigo, memotivasi Nurhayati memilih topik disertasi ?Meong Palo BolongE? yang juga masih terkait dengan karya Sastra La Galigo untuk menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Filologi Universitas Padjajaran, Bandung tahun 1990.

Selanjutnya, Nurhayati pada promosi doktornya di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1998 berhasil mempertahankan disertasinya tentang Pelayaran Sawerigading?yang merupakan tokoh sentral dalam sastra La Galigo?ke Negeri China.

Untuk merampungkan disertasi itu, Nurhayati harus mempelajari dokumen kuno La Galigo dan dokumen terkait lainnya yang tersebar di beberapa negara di antaranya di Thailand, China, dan Belanda.

?Setahun lebih saya harus berpisah dengan keluarga untuk berburu dokumen yang semua bertuliskan aksara Lontara (aksara tradisonal Bugis/Makassar-red),? jelas guru besar Fakultas Sastra Unhas ini. Namun ia bersyukur karena pengorbanannya itu membuahkan hasil yang memuaskan dengan prestasi cum laude yang diberikan para promotornya dari dalam dan luar negeri, di antaranya, Prof Dr Okke KS Zaimar (co-promotor dari UI) dan Prof Dr Van Zoest (pakar semiotika dari Belanda).

Untuk memudahkan memahami dokumen kuno itu, Nurhayati harus mengetahui perbandingan aksara Bugis menurut cetakan orang Eropa seperti Raffles 1817, Thomsen 1832, Matthes 1858, dan Matthes 1875.

Menanggapi keunikan La Galigo yang merupakan karya sastra terpanjang di dunia, perempuan paruh baya ini mengungkapkan, La Galigo adalah epik mitologis orang Bugis yang juga ditemui pada serpihan-serpihan episodenya di luar Tanah Bugis yang memperlihatkan dua kemampuan kanonik, yakni kemampuan membuat manusia merasa asing di tengah lingkungannya sendiri, atau sebaliknya membuat orang merasa betah dan akrab di tengah dunia asing.

?Kedua kemampuan itu dimiliki La Galigo, sehingga Idapat ditempatkan sebagai kanon sastra dunia,? ujarnya. Selain itu, juga menggambarkan bahwa Orang Bugis mempunyai pandangan yang berorientasi ke depan dengan bentuk budaya yang sangat terbuka. Hal itu terpapar dalam 21 naskah terjemahan La Galigo di berbagai daerah dan negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *