Paradigma Sosiologi Sastra hingga ”Jero Ketut”

Dari Diskusi Bedah Buku di Balai Bahasa Denpasar 2003

Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

BUKU sosiologi sastra di Indonesia bisa dipastikan saat ini masih sangat terbatas. Begitu pula para tokoh yang punya minat dan kemampuan menulis buku tersebut masih sangat sedikit, bahkan boleh dibilang masih langka. Sekadar untuk menyebut diantara orang yang telah menulis atau menghasilkan buku sosiologi sastra di Indonesia itu misalnya Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Dr. Umar Junus, dan Dr. Faruk HT, yang karyanya bukunya sudah beredar cukup lama. Kehadiran penulis lainnya jelas masih diperlukan dan sangat ditunggu-tunggu, untuk menambah jumlah dan memperkaya khazanah literatur kajian sastra Indonesia yang selama ini masih “miskin” dan terbekalang dalam dunia kesusastraan.

Oleh karenanya, terbitnya buku sosiologi sastra yang berjudul “Paradigma Sosiologi Sastra” karya Dr. I Nyoman Kutha Ratna, dosen Faksas Universitas Udayana, baru-baru ini, sungguh menggembirakan banyak pihak, khususnya kalangan sastra dan akademisi di Bali. Buku tersebut tentu akan menambah deretan buku-teks-teori sosiologi sastra Indonesia, dan penulisnya yang putra Bali tersebut juga akan menambah jumlah penulis buku teori (sosiologi) sastra negeri ini yang selama ini masih bisa dihitung dengan jari.

Sambutan gembira atas terbitnya buku tersebut tercermin dalam acara “Diskusi Bedah Buku Sastra” yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Denpasar bekerja sama dengan Program S-2 Kajian Budaya Unud, di Balai Bahasa Denpasar, Rabu (16/7) lalu. Bedah buku menampilkan pemakalah Dr. I Nyoman Darma Putra, dosen Faksas Unud, dan Drs. I Nyoman Suarjana, M.Hum, dengan pemandu Drs. I Ketut Mandala Putra, dari Balai Bahasa Denpasar, tersebut juga dihadiri oleh berbagai kalangan sastra mulai dari para praktisi sastra, akademisi, hingga guru Bahasa dan Sastra dari beberapa sekolah di Bali.

Dr. I Nyoman Darma Putra yang menjadi nara sumber pembedah buku “Paradigma Sosiologi Sastra” karya Dr. I Nyoman Kutha Ratna, tampil dengan makalah berjudul “Buku ‘Paradigma Sosiologi Sastra’ Tanpa Paradigma”. Sedangkan Drs. I Nyoman Suarjana, M.Hum membedah novel “Topeng Jero Ketut” karya Sunaryono Basuki Ks, dengan makalah berjudul “Novel Topeng Jero Ketut: Mencari Hama Mengusir Jati Diri”.

Tanpa Paradigma
Terbitnya buku “Paradigma Sosiologi Sastra” karya Nyoman Kutha Ratna tersebut, tak bisa dipungkiri, memang menggembirakan banyak pihak. Prof. Dr. Ngurah Bagus dalam sambutan pengantar diskusi bahkan sempat memuji dan mengaku bangga melihat stafnya di Faksas Unud bisa melahirkan karya yang terpublikasi luas dan bisa memberi manfaat untuk keilmuan, serta dapat mewarnai kebudayaan Indonesia yang multikultural. Buku-buku kajian-teori sastra maupun karya sastra yang ditulis para penulis yang tinggal di daerah tersebut diharapkan bisa ikut meramaikan arena dan merayakan pesta kebudayaan yang tak hanya berpusat di ibukota tetapi juga di daerah seperti Bali sebagai bagian dari Indonesia yang multikultural.

Darma Putra di awal makalahnya juga mengaku gembira dan memperkirakan buku karya dosen yang pernah mengajarnya di Faksas Unud itu bakal sangat luas distribusinya. Apalagi buku tersebut diterbitkan oleh penerbit (Pustaka Pelajar) yang memiliki jaringan pemasaran nasional. Setidaknya, menurut Darma Putra, buku ini akan dicari oleh mahasiswa atau kalangan akademisi untuk menjadi acuan karya skripsi, tesis, atau desertasi, serta kalangan ilmiah yang meneliti sastra secara sosiologis. Khususnya, bagi mereka yang berpendapat bahwa teori hanya bisa dipelajari lewat buku-teks-teori, tentu juga akan menyambut buku yang menawarkan diri sebagai buku-teks-teori ini.

Darma Putra juga memperkirakan nama pengarangnya, yang putra Bali itu, akan segera disebut-sebut dalam khazanah kajian sastra di Indonesia. Hanya saja, dia belum bisa memastikan, apakah sambutan terhadap buku dan pengarangnya itu bersifat menerima atau menolak. “Kita masih akan menunggu apakah karya buku ini akan disambut dengan pujian atau dikritik? Apakah akan dijadikan titik-tolak untuk kajian lebih produktif, atau dijadikan titik yang ditolak,” ujar Darma Putra. Namun, Darma Putra juga mengkritisi. Ia melihat buku tersebut masih mengandung beberapa kelemahan yang membuat buku ini jadi “kurang membumi” dan kurang akurat untuk dijadikan acuan yang memadai sebagai kajian teori sosiologi sastra.

Buku yang ditulis Kutha Ratna pada 1998, yang pada proses awal penulisannya — untuk memahami konsep sosiologi sastra — menulis disertasi berjudul “Layar Terkembang dan Belenggu: Analiss Struktural” yang membawa penulisnya meraih gelar Doktor pada 1998 itu bahkan dikritik cukup tajam oleh Darma Putra. Buku tersebut dikritik mulai dari bahasanya, data-data dan sumber acuan ilmiah yang diambil/dipakai dan disajikan, hingga analisis penulisnya yang dinilai lemah dan kurang memadai. “Kritik pertama saya tentang buku ini adalah bahasanya yang sangat sulit dipahami. Membaca buku yang dimaksudkan sebagai teori sosiologi sastra ini seperti membaca buku filsafat. Gagasan, konsep, dan teori yang bersifat abstrak itu selalu diuraikan dengan bahasa yang abstrak pula, sehingga tidak mudah dipahami,” papar Darma Putra.

Selain itu, Darma Putra juga melihat banyak uraian yang tidak cuma tidak ringkas, tetapi juga hanya bersifat permukaan serta tidak dijelaskan secara memadai. “Ketika membahas masalah sejarah sosiologi, misalnya, Kutha Ratna justru memilih menyampaikan materi sebatas data daripada menafsirkan atau mendiskusikanya sebagai fenomena yang berkembang dalam periode waktu yang luas,” paparnya.

Yang lebih “ganjil” lagi di mata Darma Putra, tak ditemukannya paradigma atau model sosiologi sastra berbagai ahli atau perbedaan antara paradigma mereka — hal yang menjadi tema utama, bahkan menjadi judul — dalam buku ini. “Mengapa Kutha Ratna tidak mencoba membahas paradigma sosiologi sastra yang berkembang selama ini, di luar atau di Indonesia. Pembicaraan mengenai paradigma tidak mendapat perhatian dalam buku ini. Kutha Ratna juga tidak berusaha untuk menawarkan paradigma baru. Sehingga buku ini boleh dibilang mengingkari judulnya sendiri, paradigma sosiologi sastra tanpa paradigma,” tandas Darma Putra.

Jadi, menurut Darma Putra, buku Kutha Ratna itu gagal membumikan teori sosiologi sastra ke dunia sastra Indonesia. Kutha Ratna juga dikatakan telah mengulangi kekeliruan Sapardi Djoko Damono dan Faruk HT yang masing-masing menulis buku sosiologi sastra dengan sumber-sumber asing tanpa mengaitkannya dengan eksistensi sastra Indonesia. Buku tersebut juga dinilai mengabaikan fakta historis yang menunjukkan betapa eratnya kaitan antara sastra dan sejarah, sosial, politik, dan ideologi. Ketegangan dalam polemik tentang sastra sebagai seni dan sastra untuk masyarakat, konflik Lekra dan Manikebu, debat sastra kontektual, pelarangan buku Pramudya dan pencekalan pementasan Rendra, Riantiarno, Emha Ainun Nadjib, debat sastra pedalaman, sastra feminisme; yang pernah terjadi adalah capter atau bab penting dalam sejarah sastra Indonesia yang potensial dibahas dengan sosiologi sastra.

Atas diskusi ini, peserta pun tertarik. Menariknya, selain karena kritik Darma Putra yang cukup tajam dengan ungkapan langsung. Berkenaan dengan kritik Darma Putra tersebut, ada tanggapan positif dari Kutha Ratna sendiri yang hadir saat itu. Dia mengaku memang sudah menyiapkan diri untuk mendapat kritik dan analisis dari orang lain, sebab bagi dia sendiri tentu sangat susah mencari “lobang-lobang” yang harus ditambal tanpa bantuan orang lain. Kutha bahkan melihat masih banyak kelemahan yang lain dalam bukunya tersebut yang belum dilihat dan dikritisi Darma Putra.

“Darma Putra masih kurang cermat betul melihat kelemahan buku saya. Masih banyak sekali lubang-lubangnya yang belum terlihat beliau,” timpalnya. Dia juga mengakui bahwa buku karyanya itu memang belum bisa memberikan pemecahan atas segala hal yang terkait dengan sosiologi sastra. Juga belum bisa memberikan teori sastra yang memadai, lantaran keterbatasan materi — khususnya literatur dan kajian yang lengkap dan dalam. Menurut Kutha, buku tersebut diterbitkan untuk memberikan penghormatan dan mengantar purnabakti Prof. Ngurah Bagus, Guru Besar dan atasannya di Faksas Unud, sehingga buru-buru diterbitkan sekarang sebelum disempurnakan.

Diskusi bedah buku untuk novel “Topeng Jero Ketut” karya Sunaryono Basuki Ks juga tak kalah menarik. Bahkan boleh dibilang lebih seru perbincangannya, karena novel karangan sastrawan senior yang juga Guru Besar IKIP Negeri Singaraja tersebut sudah terbit tahun 2001, yang tentu sudah dibaca oleh sebagian besar peserta. Novel tersebut juga dihadirkan di tempat diskusi bedah buku. Sehingga tak ayal lagi, dalam diskusi tersebut bahkan terjadi adu penafsiran atau juga adu konsep, saling mengadu ketajaman “pisau bedah” antara pemakalah dengan peserta atau peserta sesama peserta. Terutama yang banyak diperdebatkan adalah makna “jero ketut”, misi dan pesan dari novel tersebut, yang masing-masing orang tentu punya penafsiran sendiri.

Nyoman Suarjana sendiri sebagai pemakalah (pembedah utama) atas novel terbitan Indonesia Tera tersebut, tidak banyak menampilkan analisa pembedahannya. Pegawai Balai Bahasa Denpasar tersebut hanya menceritakan kembali atau memaparkan ulang cerita dalam novel tersebut dengan sedikit memberikan ilustrasi tentangnya.

Menurut Suarjana, “Topeng Jero Ketut” adalah novel yang karaketristik dan ironis, karena menonjolkan perjuangan tokoh-tokohnya untuk memenuhi ambisinya. Ambisi yang tak terpenuhi karena melanggar dunia realitas bahkan dunia imajinatif. Keinginan atau harapan yang mereka hadapi ternyata sangat berbeda dengan kenyatan, sehingga membawa tokoh-tokohnya pada dunia alienasi, dunia wong samar. Novel tersebut sangat futuristik karena menyangkut historitas atas peristiwa-peristiwa yang terjadi di tanah air pada zaman ini, walaupun terjadi perbedaan.

“Novel Topeng Jero Ketut adalah sebuah metafora kehidupan. Fakta-fakta real diangkat dalam dunia artistik dan estetis. Novel ini juga mengingatkan kita bahwa insting-insting hewani telah muncul ke permukaan dan mengalahkan spiritualitas kita. Jadi, novel itu mengajak kita untuk selalu mewaspadai situasi lingkungan kita. Jangan lagi ada calon-calon pemakai topeng jero ketut itu,” demikian Drs. I Nyoman Suarjana, M.Hum memberikan kesimpulan.

Penafsiran atas novel tersebut memang beragam atau multitafsir. Novel ini sendiri menawarkan sesuatu yang memungkinkan untuk dimultitafsirkan, memberikan kesan yang tak sama, menyeret dan menggoda pembacanya ke ruang imajinasi baru yang menimbulkan interpretasi masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *