Paradoks Amang Rahman Jubair

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

Amang Rahman Jubair (lahir 21 November 1931), sang pelukis itu, meninggal 15 Januari 2000. Agak mengejutkan meski setiap orang siap melepas lelaki sepuh itu. Yang selalu bersungguh-sungguh dan ngungun, meski yang selalu hadir menyapa berkomunikasi justru lelucon-leluconnya.

Agak mengejutkan juga ketika seniman sahabat orang banyak itu ditinggalkan banyak orang saat diselenggarakan “Pameran Lukisan 70 Tahun” dan diskusi buku Ambang Cakrawala: Monografi Seni Lukis Amang Rahman. Acara di Museum Nasional Jakarta, 2001, hanya dihadiri sedikit pengunjung. Kontras dengan pameran-pameran yang diselenggerakan ketika ia masih hidup. Lantas mengapa acara “Mengenang Amang Rahman Jubair”, yang diselenggarakan di Balai Pemuda, Surabaya, 28 November – 3 Desember 2005 lalu juga mengalami hal yang sama?

Tulisan ini tidak ingin mempermasalahkan tragedi itu. Tulisan ini hanya usaha mengenang teman dan guru dengan kehangatan berteman – sangat subyektif.
* * *

Mengenangkan Amang Rahman Jubair adalah mengenang sebuah kafe terbuka, dengan meja dan kursi di teras, yang berhubungan langsung dengan kesibukan dan lalu lintas kota. Di mana kita berkumpul dan berbicara sambil memesan segelas kopi, sepiring bakmi atau nasi goreng, dan dengan ditemani sebungkus rokok. Berjam jam bicara, tak peduli pesanan habis, dan karenanya terpaksa memesan lagi – karena obrolan tak ada habisnya, dan keceriaan terus-terusan berhamburan.

Mungkin juga hanya warung lesehan. Di mana tikar khusus digelar di tempat yang agak jauh dari warung, tempat para pembeli datang dan pergi. Sementara seorang Amang Rahman Jubair terus berbicara dan terus menghamburkan cerita lucunya. Momen di mana waktu seperti berhenti menggelar kesulitan ekonomi, problem politik, dan utamanya tantangan kreatif penciptaan.

Tapi waktu tidak berhenti meski seperti alpa menggelar kenyataan ketika kita bertemu dan berkumpul dengan Amang Rahman Jubair – yang ke luar dari studio dan jadi si manusia yang melupakan tantangan kreatif dan mungkin juga kesulitan ekonomi. Aspek ini yang terkadang melekat dan teringat oleh siapa pun yang pernah bertemu dan berbicara dengannya. Semesta alpa yang menyenangkan di tengah tantangan berkesenian yang kejam – bahkan tak peduli, karena saat itu boom lukisan dihargai mahal belum terbentuk.
* * *

Amang Raham Jubair berbeda, misalnya, dengan Mohamad Ali, dengan Gatut Kusumo, atau Krisna Mustajab, dan OH Supono yang juga suka melucu dan nyele-tuk gaya Suruboyoan. Dan sangat jauh berbeda dengan seorang Budi Darma, seo-rang intelektual, sastrawan dan akademisi yang serius dan sangat bersungguh-sung-guh. Yang pada puncak pencapaian kreatifnya sebagai seorang sastrawan berimpitan dengan puncak karier profesionalnya sebagai dosen – seperti yang diungkapkannya dalam esei “Laki-laki Putih”.

Dalam esei lain – yang tak bisa saya ingat judulnya – ia melukiskan situasi simalakarma itu dengan mengutip sebuah cerpen yang tak lagi saya ingat judulnya. Cerpen yang menceritakan seorang pelukis yang berkonsentrasi melukis dan berhasil membuat lukisan-lukisan fenomenal. Sehingga rumah dan studionya yang sunyi tak diperhatikan orang jadi jujugan pelukis muda yang berkonsultasi dan berdiskusi. Hal itu membuat si pelukis merasa tersanjung dan sekaligus merasa tergangu karena tak lagi sempat bersunyi dan konsentrasi melukis. Cerpen itu diakhiri dengan klimak yang tragik-dramatik. Si pelukis bunuh diri di depan kanvas kosong, yang hanya berisi coretan satu kata, yang mungkin bermakna solider dan bisa jadi soliter. Semacam kebingungan dan kebimbangan: Apakah menjadi pelukis itu tidak cukup hanya kreatif melukis, dan masyarakat mengakui kualitas dari lukisannya dengan tak perlu dibebani tugas-tugas sosial di luar keahliannya? Atau harus melayani kehendak masyarakat dengan tugas ini-itu di luar minat kreatifnya?
* * *

Pertanyaan mendasarnya: Apakah seorang seniman itu, selama 24 jam dalam seminggu harus berkonsentrasi penuh kepada kerja kreatifnya? Atau selama 24 jam dalam 7 hari dari seluruh sisa hidupnya terperangkap di dalam obsesi kreatif dan ilusi-ilusi kreatif yang memancar dari hal keseharian yang ada di sekeliling? Seperti yang diungkapkan oleh seoang sastrawan Mesir, Abdul-Hamid as-Sahar, dalam cerpen, “Seniman”.

Tidak mengherankan kalau seorang seorang Umar Khayam harus ada di LN untuk menulis cerpen-cerpen yang dikumpulnan dalam buku Seribu Kunang-kunang di Manhattan atau Sri Sumarah dan Bawuk. Atau seorang Budi Darma yang menulis cerpen-cerpen yang kemudian dikumpulkan dalam buku Orang-Orang Bloomington – atau novel Olenka dan Nyonya Talis. Dan Darmanto Jt yang menulis pui-si-puisi fenomenalnya ketika berada di London dan Hawaii. Ketika mereka terlepas dari kesibukan rutin sebagai pakar, dosen, penulis, penyaji makalah, dan seterusnya.

Bagi Amang Rachman Jubair berkesenian adalah masalah pilihan dan karenanya ia berkonsentrasi kepada obsesi tematik dan masalah estetik ekspresi simbolik lukisannya. Dan kita menemukan corak lukisan yang khas, panorama semesta yang dibuat berlapis dan bertingkat-tingkat sehingga suasana sunyi dan mistis jadi dominan, dengan satu atau beberapa figur ditinggalkan sendiri dalam kesepian dan siksaan rindu di tengah keluasaan kosong, dan satu matahari atau bulan yang menjadi sumber dari keberadan – karena segalanya jadi tampak ada karena diterangi.

Ada keterpencilan di sana. Ada perasaan ngungun karena ditinggalkan di sana – ditinggalkan di tengah segala yang tak bermakna dan tak substansial karena semua itu hanya menggejala karena disinari Yang Tunggal. Dan karenanya ada sikap tawakal menerima segala yang digariskan. Ada sikap takwa dan tawadhu dari sese-orang yang percaya, mengakui, dan berserah diri dalam menjalani segalanya – de-ngan usaha yang bertumpu pada mencari ridha-Nya. Pencapaian mistis yang diungkapkan dengan tehnik yang khas.

Tehnik yang matang meski tidak akademis karena dibangun dari kemauan belajar seorang otodidak – dan kerja keras tidak kenal lelah. Tapi hal itu jadi lumer kalau kita bertemu dengan Amang Rahman Jubair di luar studio dan kesuntukannya sebagai pelukis yang gigih dan pantang mundur. Yang bersiteguh mencari ciri khas sehingga lukisannya jadi ikon lukisan Amang Rahman Jubair yang langsung merujuk ke diri seorang Amang Rahman Jubair doang.
* * *

Di luar itu ia adalah warung lesehan, dengan segelas kopi, sebungkus rokok, dan tertawa panjang yang membuat waktu surut dan tidak berani menunjukkan realitas keseharian yang penuh dengan kesultan ekonomi, problema politik dan ter-utama tantangan kreatif penciptaan. Tapi waktu itu tak benar-benar abai dan alpa, karena ia tetap teringat pada kewajiban pokok: Menghadirkan manusia dan menghilangkan manusia dari kehadiran nyata berserentakan di dunia.

Amang Rahman Jubair pun memenuhi panggilan itu – mungkin juga pembe-basan dari keberadaan dalam semesta keterasingan, yang ada akibat pancaran terang dari Yang Mengadakan, dan karenanya ia akan diserap atau terserap lagi ke dalam Yang Utama. Persis seperti puisi “Kepastian”, ditulis 1975, yang berbunyi: Dalam hidup ini / ada satu yang pasti/mati. Sebuah puisi yang menolak simbol, imaji, dan reka bunga bahasa. Sebuah kerja kreatif yang menolak kehadiran yang semu penuh gincu dan hiasan estetik, dan melulu menghadirkan yang substansial, yang inti.

Jadi satu bongkah aphorisma, rumusan yang dengan tajam menandai yang inti dari dunia, sejarah dan hidup: Waktu. Rentangan tanpa batas yang membuhul titik lahir dan mati seorang manusia secara horisontal antar generasi dan vertikal berserentakan satu generasi. Di mana hal itu mungkin melahirkan kemarahan keterhukuman dari seseorang yang terusir, kesunyian keterkutukan eksistensial dari seseo-rang yang tak punya pilihan dan tak bisa sama dengan yang lain, atau kristalisasi kesabaran dari yang bisa menerima cobaan dari reka goda dunia sebelum dibebaskan dan kembali kepada yang substansial.

Dan sebelum hal itu sampai: Yang ada adalah kerja keras kreatif, penuntasan kewajiban seorang suami dan ayah, serta waktu luang untuk mentertawakan segala hal yang semu dan tidak substansial. Dan karenanya, mengikuti simbolisasi sebuah “Sajak Ibunda” Rendra: Amang Rahman Jubair itu warung lesehan dengan segelas kopi, sebungkus rokok, dan obrolan intim yang penuh kegembiraan. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *