Penantian Abadi*

Rengget Dyaloka
http://renggetdyaloka.com/

Jikalau sempat dan itulah kesempatan yang benar-benar sempat. Kita pasti bertemu, jangan kuatir.

Dinda, kamulah persemayamanku, jikalau sempat.

Tapi jangan kuatir, kalau toh sandungan-sandungan ini hanya akan mewarnai kisah kita. Tawakal, ya, Dinda.

Jangan lupa panjatkan doa.

Kalau benar-benar sempat, aku pasti tiba, Dinda. Jangan kau bergundah rasa, ya..

Salam Selalu,

Ario

*

Dengan ketenangan yang dicipta malam, Dinda membeku sesaat memandangi langit sembari membaca-baca lagi surat dari kekasihnya, Ario. Pilunya merebak seakan memberhentikan sistem pernafasannya. Tenggorokkannya tiba-tiba tersekat. Erat. Ia sudah tidak bisa, atau memang enggan untuk menghela nafas, melepaskan seluruh emosi dan karbondioksida yang menbendung- berjejer, mengantri untuk segera dikeluarkan.

Dinda menghayati sesuatu yang membanjiri pembuluh darahnya, memenuhi segala momoar di otakknya. Tentang Ario, tentang semuanya.

Tentang segala hal yang mengaitkan episode-episode tentang mereka.

Tentang cinta.

Hanya Dinda yang tahu persis.

Tentang kebiasaan Ario yang suka menanggalkan kemeja sepulang dari kantor.

Tentang kebiasaan Ario yang suka mengaduk-lagi kopi yang sudah dihidangkan.

Senyumnya. Lembut bibirnya.

Tiba-tiba Dinda merasakan ada rembetan hangat mengalir pelan hingga membasahi pelupuk dan pipinya. Semakin lama, rembetan itu membanjir. Meledak. Mengguncang-guncangkan tubuh kecil yang ingin segera dipeluk itu. Terutama oleh kekasihnya, Ario. Yah, hanya dia saja yang kemungkinan besar layak untuk menghibur Dinda, yang memang merana karenanya.

Ditelungkupkan tangan mungilnya itu menutupi seluruh parasnya. Paras itu. Mungkin Dinda malu, atau memang tidak ingin langit dan sekawannya melihatnya bergundah rasa, takut kalau-kalau mereka memberitahu Ario tentangnya. Maka ia menelungkupkan tangannya menutupi kepiluan yang ada.

*

Dari bayang-semu cermin ia berkaca. Gadis itu mematut-matutkan diri, berangan kalau-kalau ada orang selainnya. Bayangannya. Itu saja sudah cukup menguatkan bahwa ia tidak sendirian menjalani bermalam-malam penantian.

Diam..Diam?Diam?

Hanya itu yang diinginkan, itu yang dilakukan.

Satu kali saja, ia berharap bisa bertemu dengan kekasihnya. Bahkan di neraka sekalipun, Dinda tidak keberatan. Kalau memang penantian bisa diakhiri dan tidak terus berlanjut hingga saat ini, sampai nanti, sampai langit pun enggan menemuinya kembali. Dinda telah bergundah. Malam sudah tahu itu.

Jakarta, 22 Maret 2009
*) Untuk kepiluan yang tercipta, untuk asa yang tak pernah tiada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *