Sastra Eksil, Adakah?

Soeprijadi Tomodihardjo
http://www.sinarharapan.co.id/

Dalam penalaran selintas yang tiba-tiba mengundang keraguan menghadapi masa depan, ada sejenis penyakit kronis yang selama ini diderita kaum eksil Indonesia, yakni home sick: rindu kampung, kangen keluarga.

Penyakit ini sudah 40 tahun lebih melanda mereka. Saya bukan dokter tetapi sumber data Dinas Kesehatan di Jerman mencatat, banyak Gastarbeiter menderita penyakit heimweh, ya home sick itu. Tetapi para Gastarbeiter (bukan Indonesia tapi Turki, Yunani, Itali, Spanyol dsb.), itu relatif mudah mengatasi penyakit ini: ambil saja cuti beberapa minggu setiap tahun (tidak seperti nasib TKW kita). Namun pulang bagi kaum eksil Indonesia di Eropa bukan urusan gampang, kecuali mereka yang beruang dan belum telanjur uzur, meski bukan lagi warganegara Indonesia.

Bagaimanapun pulang adalah naluri alami yang melekat pada diri manusia, bahkan bagi si tunawisma. Keterikatan pada sesuatu yang bisa disebut tempat-tinggal, tak peduli apakah itu berupa tanahair, kampung halaman, sebuah gedung mewah, rumah sederhana, gubuk reot atau sepetak tanah di kolong jembatan yang bukan miliknya, merupakan condisio sine quanon. Kian lama seseorang berada di paran, kian terasa kerinduan tak tertahankan dan akhirnya memuncak pada hasrat segera pulang, ibarat seekor burung: ke mana ia terbang akhirnya pulang ke sarang.

Wawasan berikut membatasi diri pada persoalan para penulis eksil Indonesia berkenaan aktivitas kreatif mereka dalam kondisi tragedi pascaperistiwa G30S-1965. Sebagai minoritas kecil dari komunitas eksil yang tersebar di beberapa negara di dunia, mereka pun terimpit dalam kesamaan nasib: selama puluhan tahun terhalang pulang. Tentu ada sejumlah masalah intern maupun ekstern, subjektif dan objektif, mengapa hal ini bisa terjadi.

Namun sebab paling utama adalah dicabutnya kewarganegaraan mereka berdasarkan tuduhan rezim penguasa bahwa mereka terindikasi terlibat peristiwa G30S-1965. Tindakan itu dari tahun ke tahun mereka gugat karena dasar tuduhan itu hingga kini tidak pernah terbukti secara hukum dan karenanya mereka anggap sebagai perampasan hak sipil mereka, pelanggaran HAM secara kejam.

Beberapa tahun terakhir ini kasus tersebut mulai mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Namun 2 kali berturut-turut menteri yang ditugasi mengantisipasi masalah ini (pertama Yusril Mahendra di bawah Presiden Abdurrahman Wahid, kedua Awalludin di bawah Presiden Susilo Bambang Yudoyono) telah gagal memenuhi misi mereka. Kasus ini nampaknya masih akan memakan waktu lama sebelum tercapai penyelesaian. Bahkan tak tertutup kemungkinan upaya itu menghadapi jalan buntu karena kasusnya sama alot dengan TAP MPR No. 25 Tahun 1966 yang dituntut agar dicabut.

Tragedi tersebut sudah terlalu lama berlangsung hingga generasi ketiga: 42 tahun. Mereka tidak lagi ikut langsung mengalami proses perkembangan sosial-budaya tanahairnya selama puluhan tahun. Secara kultural mereka tertinggal jauh di belakang kereta peradaban yang melaju menurut haluan dan kendali sistem kekuasaan.

Maka terbentanglah jarak semakin panjang antara si anak hilang dan Ibunda tercinta: tanahair dan bangsa. Seseorang mengguratkan pena dalam sebuah puisi sarat emosi:

si anak hilang
segeralah pulang
bunda dirundung malang

Ketika seluruh tanahair dan bangsa terus-menerus terjerumus dalam bencana multidimensi, suara hati-nurani para penulis eksil terdengar lantang dan tak jarang sangat emosional. Bagaimanapun mereka tak bisa tinggal diam selama masih bisa berbicara.

Maka berbicaralah mereka lewat karya sastranya. Dan tiba-tiba suara itu sampai di telinga para pengamat sastra eksil sebagai sumpah-serapah bergelimang keluh-kesah dan penderitaan masa silam. Tetapi pola karya-karya mereka nampak tersekap dalam perangkap mitos angkatan 1950-an atau 1960-an: jaman sebelum mereka meninggalkan tanahairnya untuk berbagai keperluan di luarnegeri. Mitos ini sangat kentara pada pilihan tema dan gaya bahasa yang mereka terapkan dalam kreasi sastranya.

Saya teringat tulisan Dr. Asvi Warman Adam dalam Epilog untuk buku kumpulan cerpen Martin Aleida ?Leontin Dewangga?, menyangkut karangan-karangan ?penulis kiri? termasuk yang eksil kecuali karya-karya Pramudya Ananta Toer.

Dari naskah ?penulis T? yang pernah dibacanya beliau mendapat kesan, yang diceritakan adalah ?kisah suasana tahun 1950-an dengan pilihan kata yang terasa ganjil bagi pembaca yang berdiam di Indonesia?. Namun kesan demikian segera kehilangan makna jika orang mengabaikan sebab dan latar belakang sejarah yang parah dan lama. Sangat lama.

Seorang pengarang yang terasing dari masyarakat Ibu selama puluhan tahun, sendirinya terasing dan ketinggalan pula dalam segala hal yang menyangkut perkembangan bahasa, sastra dan budaya tanahairnya. Ketinggalan ini kentara dalam hal gaya bahasa, pilihan tema, tehnik mengarang, bahkan penguasaan kosakata yang berkembang pesat berkat pembauran antara kata-kata bahasa asing, nasional dan lokal (daerah), yang dikemas begitu bebas dan sangat invasif menyusup ke dalam tubuh bahasa Indonesia.

Sampai porsi tertentu resapan ini memang memperkaya dan nampaknya juga mendorong proses modernisasi bahasa Indonesia. Setiap kalimat dalam ?bahasa baru? ini dicoba dikemas dengan menghemat kata-kata yang tidak dirasa perlu, atau sebaliknya diboroskan demi meraih efek lirik-literal-intelektual sebuah karya ilmiah semisal esai, analisis sastra dan semacamnya. Apa yang terasa janggal bagi citarasa penulis eksil, bagi khalayak sastra di Indonesia masa kini adalah lumrah dan justru perlu. Kiranya dalam wawasan ini tidak diperlukan contoh-contoh.

Cukup ditarik kesimpulan, selama puluhan tahun ini struktur kalimat-kalimat bahasa Indonesia sudah mengalami proses perubahan berangsur-angsur menuju pola baru yang semakin baku. Proses kejenuhan ini terasa menggusur karakter dan struktur lama bahasa Indonesia sendiri seperti banyak terdapat pada teks-teks intelek bertema sains dan kerohanian (agama, filsafat, sosiologi, politik, esai sastra dsb.).

Para penulis eksil yang telanjur awam seolah dihadapkan pada teks-teks multilingual yang memerlukan banyak sekali catatan kaki. Mereka terus-menerus coba mengejar dan menyesuaikan diri pada pertumbuhan linguistik ini. Tak ada pilihan lain selama mereka tak ingin terus-terusan ketinggalan kereta. Namun ?mengejar? pada wacana ini hanya berarti belajar dan berlatih melalui pengalaman praktis dalam aktivitas kreatif.

Membaca literatur baru berbahasa Indonesia dan menemukan corak estetika baru dari khazanah ini, merupakan bagian penting dalam upaya belajar kembali, tetapi bukan tanpa risiko: terjerumus menjadi sastra(wan) sablon.

Beberapa pengarang prosa dan puisi seperti Utuy Tatang Sontani, Rumambi, Agam Wispi, Sobron Aidit (mereka sudah almarhum), JJ Kusni, Hersri Setiawan, Asahan Alham Aidit, A. Kohar Ibrahim, Ibarruri Putri Alam (anak DN Aidit) dan lain-lain, sempat menggeliat sebagai pengarang eksil yang terpencil dari realitas kehidupan rakyatnya. Dengan segenap tenaga dan daya kreatifnya mereka coba menampilkan realitas kehidupan eksil sekaligus memberi arti perlawanan moral-kultural terhadap represi sistem kekuasaan.

Gerakan reformasi di tanahair menjelang akhir abad silam selangkah demi selangkah telah membuka kebebasan bersuara dan juga kesempatan relatif luas bagi undergroud literary, termasuk para penulis eksil, untuk tampil kembali dengan agak leluasa di tanahairnya.

Awal periode ini media penerbitan yang terbiasa melakukan selfcencorship karena ancaman pemberangusan puluhan tahun lamanya di bawah telapak kaki kekuasaan, tetap saja bersikap wait and see, ogah-ogahan meninggalkan prasangka lama terhadap pulangnya si anak hilang.

Sastra koran nyaris tak punya peran dalam pemulihan kebebasan mereka di bidang sastra. Larangan resmi terhadap ?literatur kiri? semisal Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan No. 1381/1965 (30 November 1965), sampai hari ini tidak pernah dicabut. Tidak dicabut berarti masih berlaku, padahal sudah tidak diambil pusing oleh siapapun.

Surutnya minat para pengamat sastra eksil (Alex Supartono, Lisabona Rachman, Nur Zain Hae, Bambang Agung dll.) sejak awal abad ini membuat saya sangsi, jangan-jangan sastra eksil Indonesia memang sudah tidak ada atau dianggap tak ada lagi. Nalarnya sederhana: kalau buku-buku dan karya-karya para penulis eksil sudah dengan leluasa berkeliaran di Indonesia (padahal dilarang), maka underground literary maupun sastra eksil memang tak ada lagi, tak diperlukan lagi, semuanya secara formal tetap ilegal tetapi menganggap diri legal, untuk tampil kembali di tanahair, ikut menghuni khazanah sastra Indonesia tanpa hirau kemungkinan pembakaran buku-buku dan pembunuhan sastrawan seperti pengalaman Jerman di jaman Nazi.

Betapa penting peran bahasa seiring perkembangan baru di era reformasi dalam kendala globalisasi. Semua cabang disiplin keilmuan (matematika, fisika, kimia, politik, tehnik, sosial, filsafat, bahkan teologi dsb.) yang bergulat di ranah teori dan logika, pada dasarnya mengejawantah melalui bahasa.

Franz Magnis Suseno, guru besar Filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, bahkan coba menggapai Tuhan melalui sarana bahasa tanpa pretensi membuktikan adanya Tuhan. (?Menalar Tuhan? ? Penerbit Kanisius 2006). Hanya dengan bahasa, manusia mampu mencipta teori ilmu pengetahuan menjadi karya ilmiah akademik yang sistematis dan berguna bagi perkembangan peradaban umat manusia. Hanya dengan bahasa yang tersusun dengan santun manusia mampu berkomunikasi dengan sesamanya atas dasar etika dan estetika, bebas menyatakan pendapat yang berbeda tanpa paksaan dan ancaman.

Hakekat kesatuan hidup manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya justru perbedaannya: unity in diversity, tanpa kebencian karena perbedaan ras, etnik, politik, ideologi, agama maupun status sosial. Perkembangan dunia sastra dan ilmu pengetahuan pada gilirannya pun menuntut taraf kecanggihan tertentu dalam penguasaan bahasa. Tak henti-hentinya. Tak habis-habisnya.

Koeln, Agustus 2007
*) Penulis adalah cerpenis, tinggal di Jerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *