Sastra Setelah “Pendidikan Ulang”

Yos Rizal S
http://www.ruangbaca.com/

Karya-karya terjemahan dari penulis generasi ?pendidikan ulang? Mao hingga penulis mutakhir Cina kini gampang ditemukan di toko buku. Siapa saja mereka?

Sepotong biola itu berubah menjadi sebuah ancaman. Seorang kepala desa di kaki gunung Burung Hong dari Langit di kota Yong Jing, Cina, membolakbalik biola seperti tengah mencari bubuk heroin yang mungkin disembunyikan di alat musik itu. Ia juga mencurigai biola yang dibawa dua orang anak muda di depannya sebagai senjata.

Tapi seorang penduduk desa berseru dari balik kerumunan orang-orang yang mengerubungi Pak Kepala Desa. ?Itu mainan tolol,? ucapnya. ?Bukan, ? Pak Kepala Desa membetulkan, ?mainan borjuis.? Luo, salah seorang dari anak muda tertuduh itu, menjelaskan bahwa ?benda aneh? yang diributkan seluruh desa itu adalah sebuah alat musik.

Luo lalu menunjuk tokoh Aku untuk memainkannya. ?Apa judul lagumu?? tanya Pak Kepala Desa. ?Mozart,? tokoh Aku bergumam. ?Mozart apa?? ?Mozart Memikirkan Ketua Mao,? Luo menyela. Kepala Desa itu pun manggutmanggut, seolah baru saja mendengar mukjizat. Orang paling berkuasa di gunung itu pun berucap, ?Mozart memang selalu memikirkan Mao.?

Dengan kocak Dai Sijie menyuguhkan cerita Pak Kepala Desa yang sok pintar tapi sesungguhnya bodoh itu dalam Balzac dan Si Penjahit Cilik dari Cina yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Februari lalu. Dai menghamparkan pelbagai ketololan orangorang desa yang gigih mendukung Revolusi Kebudayaan (1966-1976) Mao Zedong, tapi amat berkuasa.

Luo dan Aku?Luo anak dokter gigi, Aku anak dokter umum? adalah anak muda yang dikirim ke Burung Hong dari Langit untuk menjalani ?pendidikan ulang? ala Mao. Inilah program pembersihan kalangan intelektual di Cina antara 1971-1974. Orang-orang pintar dihukum kerja paksa, sementara anak-anak mereka dididik untuk belajar pada petani.

Dengan berbekal biola, Luo dan Aku mengikuti program pendidikan itu. Setiap hari mereka harus mengangkuti beremberember kotoran manusia dan hewan ke sawah atau bekerja di pertambangan batu bara yang sewaktu- waktu bisa rubuh. Hiburan mereka satu-satunya adalah biola?dan persahabatan dengan gadis cantik anak penjahit desa.

Namun, celakanya ?para guru? mereka di gunung tak tahu bahwa biola adalah alat musik. Tak cuma biola yang tak boleh dimainkan di depan umum?kecuali jika untuk memuji Mao, bukubuku juga tak diboleh dibaca? kecuali buku karangan Mao. Buku- buku, terutama karya pengarang Barat, adalah barang terlarang dan mesti dimusnahkan.

Maka ketika keduanya menemukan buku karangan Balzac (Honore de Balzac, 1799-1850), novelis Prancis, dan setumpuk sastra Barat yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Cina, mereka seperti menemukan surga yang hilang. Luo dan Aku membagi cerita dari buku Balzac kepada si Penjahit Cilik, sembari kucing- kucingan dengan penduduk desa yang setiap saat bisa melaporkan mereka pada Kepala Desa.

Kisah getir sekaligus jenaka itu ditulis Dai dari tanah pelariannya, Prancis, pada 2000. Novel pertamanya ini dengan cepat menduduki peringkat teratas buku- buku terlaris di Prancis dan meraih lima penghargaan internasional. Hak penerbitan novel itu telah dijual ke-19 negara. Dai yang juga seorang sutradara kemudian mengangkatnya ke dalam film Balzac and the Little Chinese Seamstress (Xiao cai feng) pada 2002.

Dai yang mengungsi ke Prancis sejak 1984 itu telah melahirkan tiga film lain: Chine, ma douleur (1989), Le Mangeur de Lune (1993) dan The Eleventh Child (1998). Lewat Luo dan Aku, novelis kelahiran Cina pada 1954 itu seperti menuturkan kisahnya sendiri. Ia adalah anak seorang dokter yang juga pernah menjalani ?pendidikan ulang? dari 1971 sampai 1974.

Ia masih berumur 22 tahun ketika Mao meninggal. Selain Dai, Gao Xingjian juga sastrawan produk ?pendidikan ulang?. Karyanya berjudul Gunung Jiwa yang diterbitkan Jalasutra pada 2003 meraih hadiah Nobel Sastra pada 2000. Ia eksil di Prancis sejak 1988 dan menjadi warga negara Prancis.

Gunung Jiwa menceritakan perjalanan Gao mencari kebebasan dan kedamaian batin hingga ke Gunung Jiwa (Lingyan). Dalam pengembaraan itu, penulis kelahiran Ganzhou, propinsi Jiangxi, Cina pada 1940 itu mengadon lukisan alam hutan-hutan di sepanjang Sungai Yangtse dan cerita warisan leluhur dengan cerita kesengsaraan yang dihadapi penduduk akibat Revolusi Kebudayaan.

Novel itu lahir setelah pemerintah Cina melarang pementasan naskah-naskah dramanya. Stasiun Bus (1983), naskah dramanya yang absurd?terpengaruh karyakarya drama Beckett dan Brecht? dilarang dipentaskan dengan alasan ?mengotori jiwa? penontonnya. Begitu pula karyanya yang lain, Pantai (1986).

Gao lahir dari keluarga kaya. Ayahnya bekerja pada bank sedangkan ibunya adalah seorang pemain sandiwara amatir. Sejak kecil, Gao sudah biasa membaca karya drama dan sastra. Pada umur 22, ia lulus ujian bahasa Prancis pada Lembaga Bahasa Asing di Beijing. Tapi ketika Revolusi Kebudayaan datang, Gao terpaksa membakar seluruh koleksi bukunya.

Ia kemudian dikirim ke pedesaan untuk ?dididik kembali?. ?Di negeriku sendiri, aku tak bisa mempercayai siapa pun, bahkan juga keluargaku,? ucap Gao. Kabarnya, Gao terpaksa memusnahkan buku-bukunya setelah istrinya sendiri melapor kepada penguasa. Di luar Dai dan Gao, sebenarnya pengarang Red Shorgum (1987), Mo Yan, juga datang dari generasi ?pendidikan ulang?.

Mo Yan lahir di Shandong pada 1955. Minatnya pada dunia sastra tumbuh setelah penulis dari kota datang ke kampung Mo Yan untuk menjalani ?pendidikan ulang? menjadi petani. Ia belajar dari para penulis pendatang itu. Sayang karya-karya Mo Yan yang sangat populer di Cina belum diterjemahkan di sini (Baca: Mo Yan dan ?Posmodernisme Kampung?).

Adeline Yen Mah adalah pengarang lain yang sezaman dengan tiga sastrawan di atas. Tapi Mah tak pernah merasakan pahitnya program penyeragaman rekaan Mao. Pengarang perempuan yang lahir di Tianjin, Cina, pada 1937, ini belajar ke Inggris setelah memenangkan kompetisi menulis pada usia 14 tahun. Ia melanjutkan studi di bidang kedokteran di California, AS.

Mah berdarah Cina dari ibunya dan Prancis dari ayahnya. Ketika ibunya wafat, ayahnya yang menikah lagi. Di bawah ibu tirinya ia merasakan diperlakukan tak adil, dikekang, dan diintimidasi. Karena itu karyanya tak heran mengungkapkan kegusaran pada masalah-masalah domestik. Ia juga mengungkapkan kegelisahan dunia anak-anak di lingkungan keluarga tak kondusif.

Novel pertamanya, Falling Leaves, ditulis pada 1997 dan diterbitkan oleh Yayasan Obor tahun lalu. Karyanya ini laku lebih dari sejuta eksemplar. Setelah Falling Leaves, ia menulis Chinese Cinderella. Deretan berikutnya adalah Amy Tan, pengarang kelahiran Oakland, California, 1952, dari pasangan John Tan dan Daisy.

Ayahnya insinyur dan pembaptis menteri yang hijrah ke Cina sewaktu huru-hara perang sipil di Cina. Karakter temperamental ayahnya membuat rumah tangga keluarga Tan dipenuhi kekerasan. John dan Daisy pun bercerai. Amy dikenal sebagai pengarang yang lihai menampilkan perbenturan karakter masyarakat pendatang dari Cina dengan tanah air barunya, Amerika.

Perempuan Cina di Amerika, misalnya, harus pandai-pandai memainkan ?wajah ganda?-nya untuk bisa bertahan hidup. Ia juga sangat detail menggambarkan suasana Chinatown yang bagi masyarakat Amerika susah ditembus. Novel terkenalnya, The Joy Luck Club, yang terbit pada 1989 menempati peringkat pertama bestseller New York Time selama delapan bulan.

Pundi-pundinya pun dalam waktu singkat bertambah US$ 1,23 juta dari novelnya itu. Novel ini kemudian diterjemahkan ke dalam 17 bahasa. Di Indonesia, novel-novel Amy Tan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Karya terbaru Amy yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Lawan Dari Maut (The Opposite Of Fate).

Novel ini bertutur tentang Amy yang harus melepaskan diri dari ekspektasi-ekspektasi dan kutukan- kutukan masa lalunya. Ia menciptakan takdirnya sendiri. Setelah Amy, muncul Lisa See, penulis Cina-Amerika dari generasi yang lebih muda. Lahir di Paris dan besar di Los Angeles, Amerika, Lisa menghabiskan sebagian besar waktunya di Chinatown.

Buku pertamanya, On Gold Mountain: The One Hundred Year Odyssey of My Chinese-American Family yang memuat sejarah lengkap keluarga Cina-Amerikanya meraih best-seller pada 1995. Ia telah menulis lima buku.

Seri pertama detektif Liu Hulan karya Lisa, Liu Hulan: Jaring-jaring Bunga diterbitkan Qanita Januari lalu. Buku ini diterjemahkan dari Flower Net yang terbit pertama kali pada 1997. Novel ini mendapat penghargaan Edgar Awards. Selain serial Liu Hulan, mantan koresponden Publisher?s Weekly itu juga menulis tentang kisah klasik pengikatan kaki gadis-gadis Cina dalam Bunga Salju (Qanita, 2006).

Sebagian besar karya-karya sastra Cina yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tersebut adalah sastra yang lahir dari tanah perantauan. Kenyamanan dan kebebasan menulis tampaknya tak ditemukan pengarang-pengarang itu di tanah airnya sendiri. ?Di Amerika ini, aku menemukan kebebasanku: menulis,? kata Amy Tan.

Menurut Iwan Fridolin, dosen Sastra Cina di Fakultas Budaya Universitas Indonesia, penerjamahan karyakarya sastra dari Cina ke dalam bahasa Indonesia sudah berlangsung lama. Iwan menandai penerjemahan karya-karya dari Cina sudah ditemukan sejak 1930-an. ?Tapi mulai ramai setelah penerbit dari Medan bermunculan pada 1950-an,? kata Iwan.

Iwan menyebut, majalah Pantja Warna yang terbit akhir 1940-an, juga Star Weekly, kerap memuat cerpen terjemahan dari Cina. ?Karya-karya Lu Xun adalah salah satu yang sering diterjemahkan, selain cerita-cerita silat,? ujar Iwan yang pernah menerjemahkan kumpulan cerpen kontemporer Cina Kisah Lelaki Tua dan Seekor Anjing yang diterbitkan Yayasan Obor awal 1990-an.

Lu Xun, nama pena dari Zhou Shuren, adalah sastrawan kelahiran Provinsi Zhejiang pada 1881. Di Indonesia, buku terjemahan karya Lu Xun pernah diterbitkan oleh Yayasan Obor pada pertengahan 1980-an. Lu Xun adalah pengarang yang dikagumi Mao. ?Di lapangan kebudayaan, ia adalah pahlawan nasional paling berani,? puji Mao, pemimpin tertinggi Komunis Cina pada 1940.

Meski memuja Lu Xun yang anti-penindasan, Mao ironisnya menindas para pengarang dan kaum intelektual lainnya. Ia mengirim orang-orang pandai itu ke desa-desa, di gunung-gunung, untuk ?dididik ulang?. Buku-buku, bahkan sepotong biola, pun diperlakukan bak musuh berbahaya bagi revolusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*