Senjakala Kritik Sastra Indonesia

Gunoto Saparie
infoanda.com

Karya sastra merupakan dunia kemungkinan, artinya ketika pembaca berhadapan dengan karya sastra, maka ia berhadapan dengan kemungkinan penafsiran. Setiap pembaca berhak dan seringkali berbeda hasil penafsiran terhadap makna karya sastra. Pembaca dengan horison harapan yang berbeda akan mengakibatkan perbedaan penafsiran terhadap sebuah karya sastra tertentu.

Hal itu berkaitan dengan masalah sifat, fungsi dan hakikat karya sastra. Sifat-sifat khas sastra ditunjukkan oleh aspek referensialnya (acuan), fiksionalitas, ciptaan dan sifat imajinatif. Sedangkan fungsi sastra tergantung dari sudut pandang serta ditentukan pula oleh latar ideologinya. Hakikat keberadaan karya sastra selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan inovasi.

Ketiga unsur itulah yang menyebabkan masalah yang luas dan kompleks dalam dunia sastra. Hal ini juga telah memungkinkan beragamnya teori dan pendekatan terhadap karya sastra, beragamnya aliran dalam sastra dan memungkinkan beragamnya konsep estetik karya sastra.

Kritik sastra memiliki korelasi yang erat dengan perkembangan kesusasteraan. Menurut Andre Hardjana, kritik sastra merupakan sumbangan yang dapat diberikan oleh para peneliti sastra bagi perkembangan dan pembinaan sastra. Hal senada juga diungkapkan oleh Subagio Sastrowardojo, bahwa untuk bisa menentukan bagaimana sesungguhnya perkembangan kesusasteraan Indonesia, dibutuhkan suatu kritik.

Pendekatan dalam kritik sastra cukup beragam. Pendekatan-pendekatan tersebut bertolak dari empat orientasi teori kritik. Pertama, orientasi kepada semesta yang melahirkan teori mimesis. Kedua, teori kritik yang berorientasi kepada pembaca yang disebut teori pragmatik. Penekanannya bisa pada pembaca sebagai pemberi makna dan pembaca sebagai penerima efek karya sastra. Resepsi sastra merupakan pendekatan yang berorientasi kepada pembaca. Ketiga, teori kritik yang berorientasi pada elemen pengarang dan disebut sebagai teori ekspresif. Keempat, adalah teori yang berorientasi kepada karya yang dikenal dengan teori objektif.

Harus diakui, kritik sastra belakangan ini memang makin terasa langka dalam dunia sastra Indonesia. Kemunculan kritikus yang berwibawa pasca-HB Jassin dan Soebagio Sastrowardojo, atau Wiratmo Soekito, memang menjadi dilema tersendiri dalam dunia kritik sastra Indonesia. Yang muncul dan menjadi booming adalah justeru para selebriti sastra (penyair, cerpenis, dan novelis) daripada kritikus.

Kalangan akademis tampaknya juga seolah tak lagi dianggap peduli pada sastra (dengan kritikannya). Dunia kampus yang diharapkan melahirkan ahli sastra, salah satunya menjadi kritikus, sedang mandul. Satu dua kritik yang lahir hanyalah bentuk sederhana dalam bentuk semacam resensi. Ada juga tradisi kritik semacam pesanan penerbit bagi pengantar untuk buku-buku kumpulan cerpen. Itu pun dibuat oleh para sastrawan (umumnya berpikiran generalis), bukannya kritikus khusus (yang berpikiran dan punya tradisi seorang spesialis).

Tidak berlebihan kalau dikatakan, bahwa sastra Indonesia sedang tanpa huruf “K”. Kritik yang benar-benar kritik. Baik menyanjung atau mencela, hingga memberi pledoi atau memaparkan suatau nilai-nilai tertentu dalam sebuah karya. Yang terjadi memang hanya komentar singkat, yang biasanya dimuat di halaman belakang buku-buku novel, kumpulan puisi dan cerpen. Yang terjadi juga adalah beberapa ulasan dari para sastrawan sendiri, terutama yang berdebat tentang estetika sastra (cerpen) koran. Perdebatan itu menjadi semacam incest saja karena kritikus sastranya sendiri, yang secara spesialis menguak karya dan fenomena kesusasteraan, seperti tak terdengar.

Beberapa pendekatan kritik seperti struktural generalis, feminisme, resepsi, atau pendekatan-pendekatan akademis lain, makin tidak berbunyi. Kritik sastra berlangsung seadanya. Sesuatu yang ditampilkan tanpa emosi penuh, tidak sebagaimana kalau para sastrawan membuat karya-karya kreatifnya yang tampak mengerahkan semua kekuatan.

Dunia sastra Indonesia saat juga sangat sedikit menarik minat disiplin lain (sosisolog hingga psikolog, misalnya) untuk menulis karya kritik berdasarkan sudut pandang profesinya. Ini mungkin dimaklumi karena akademisi sastranya sendiri pun seperti tidak tertarik, dan hanya menjadi mesin pemutar sejarah kritik sastra saja. Begitu pun kalangan akademisi sastra yang menjadi sastrawan, seperti enggan merangkap sebagai kritikus.

Persoalan kritik memang bukan persoalan para sastrawan (terutama nonakademis), namun persoalan institusi sastra (dan bahasa tentunya). Karya sastra dan sastrawan akan terus lahir meski tanpa kelahiran kritikus sastra. Kritik dan kritikus boleh terpinggirkan, namun sastrawan dan karyanya akan terus memasuki gelanggang sastra. Dengan demikian yang tampak parah memang iklim kritik (terutama) dari kalangan akademisi. Padahal sastra Indonesia hari-hari ini boleh dibilang mengalami booming. Puisi, cerpen koran, dan novel yang dipengaruhi sayembara novel versi DKJ dan penerbitan mandiri, makin berkualitas dan menuntut tulisan kritik yang mampu membedah berbagai kecenderungan karya-karya tersebut.

Karya-karya sastra yang muncul belakangan ini, juga tak hanya dimeriahkan karya-karya sastrawan lokal/naisonal, namun juga internasional lewat beberapa penerbitan terjemahan di Yogya dan Jakarta. Dengan mudahnya publik sastra kita dapat memenuhi hasrat membaca karya asing yang kian berjubel. Antologi Sastra Rusia, Afganistan, India, Amerika, Afrika, hingga karya-karya individu semacam Gabriella Garcia Marquez, Iqbal, Rabindranath Tagore, Franz Kafka, Duong Thu Huong, Gorky, dan berbagai kompilasi lain seperti versi nobel dan kecenderungan tematik (cinta, feminisme, dan lain-lain).

Karya-karya tersebut makin menumpuk dan bertahan tanpa kritik sastra. Begitu juga dengan maraknya kembali cetakan karya Pramoedya Ananta Toer, baik yang lama maupun yang baru, hanya termanggu tanpa kritik. Adakah kalangan akademisi sastra hanya berniat dan berminat menjadi penonton saja? Lalu untuk apa gedung dan menara gading yang dibuat itu? Para pendekar sastra yang telah lama digojlok dalam dunia akademi sastra, sudah saatnya mengasah kembali daya kritik sastranya.

Kritik sastra sebagai bentuk pemahaman terhadap sebuah karya sastra memang membutuhkan pendekatan yang sedikit berbeda dari penulisan karya sastra itu sendiri. Pendekatannya tidak semata-mata kreatif tapi juga ada pendekatan keilmuan atau teoritis. Sebagaimana ditengarai oleh para peminat dan pengamat sastra kita saat ini permasalahan utama dalam kritik sastra adalah kompetensi dari pelaku kritik itu sendiri yang implikasinya berlanjut kepada bagaimana pendekatan atas kritik tersebut, bobot kualitas atau mutu sebuah kritik dan akhirnya opini yang muncul sebagai konsekuensi atas sebuah kritik.

Sejauh ini terdapat kesenjangan antara pelaku kritik dan penerima kritik seolah ada tarik ulur dari segi kompetensi yang didasari oleh besarnya ego masing-masing yang sangat subyektif. Akibatnya, budaya kritik tidak berkembang sebagaimana yang diharapkan di mana semua bentuk kritik membangun dapat diterima dengan jiwa besar.

Para pelaku kritik seringkali hanya memberikan penilaian yang dangkal tanpa didasari oleh sebuah kepekaan estetis yang cukup: kritik muncul sebagai sebuah sikap arogansi semata-mata. Pada akhirnya unsur kompetensi ini pulalah yang menjadi unsur utama mandulnya tulisan kritik sastra yang berbobot.

Bagaimanapun juga kritik sastra sangat dibutuhkan kehadirannya. Karena hanya lewat kritiklah bobot sebuah karya teruji, dan dengan kritik pulalah seorang penyair yang serius dapat berkembang mencapai puncak estetisnya dalam berkarya. Keberhasilan Chairl Anwar mencapai bobot puitisnya tidak terlepas dari peran HB Jassin dan kritik-kritiknya yang sangat menyaran.

Sudah saatnya bagi media sastra modern yang unlimited ini memberikan alternatif dengan menyediakan rubrik khusus untuk kritik sastra. Kritik apapun bentuknya, baik ilmiah formal, maupun kritik kreatif spontan yang tidak formal akan menajamkan perasaan estetis penulis secara langsung. Sekaligus keberadaan rubrik ini diharapkan dapat menjadi jawaban terhadap kecurigaan pihak luar atas kompetensi para editor, di mana para editor dapat mempertanggungjawabkan jelas tidaknya kriteria serta bobot penilaian estetis mereka secara sungguh-sungguh.

*) Penyair dan eseis.

CategoriesUncategorized

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *