Sutardji Calzoum Bachri: Protes Sosial Tak Dapat Perhatian

Sutardji Calzoum Bachri, Susianna (Wawancara)
http://www.suarakarya-online.com/

Dalam blantika puisi di Indonesia, nama Sutardji Calzoum Bachri patut diperhitungkan sebagai penyair profesional yang konsisten sejak remaja hingga sekarang. Pria kelahiran Rengat, Riau 24 Juni 1941, ini mulai mencuat sekitar tahun 70-an tatkala tampil membaca sajak tunggal dengan sangat sensasional sambil minum bir dan membawa kapak.

Ayah seorang putri (Mila) dari perkawinan dengan Mariam Linda ini antara lain pernah mengikuti International Poetry Reading di Rotterdam (1974) dan “IOWA Writing Program” dari IOWA University Amerika Serikat (Oktober 1974 – April 1975).

Kumpulan sajaknya, antara lain “0” (1973), “AMUK” (1977) dan “Kapak” (1981). Beberapa sajaknya diterjemahkan dalam bahasa Inggeris dan bahasa Belanda. Ia pernah menjadi redaktur senior majalah sastra Horison dan pengasuh rubrik sastra di Kompas.

Beberapa penghargaan sastra telah diterimanya antara lain South East Asia Writing Award (Sea Award) di Bangkok, Thailand (1979), dan Anugerah Sastra “Chairil Anwar” (l997-l998) dari Dewan Kesenian Jakarta.

Bagaimana apresiasi masyarakat terhadap puisi dan bagaimana perkembangan kepenyairan di Tanah Air, Sutardji Calzoum Bachri bertutur kepada Suara Karya, beberapa waktu lalu:

Kini Anda jarang tampil baca puisi di depan publik. Kenapa?

Karena tak ada undangan. Lagi pula saya tarifnya agak mahal.

Berapa tarif yang Anda minta ?

Wah, tak usah disebutlah. Kini tak ada lagi acara pembacaan puisi tunggal. Umumnya beramai-ramai, seperti pembacaan puisi malam amal keprihatinan Aceh di berbagai daerah, beberapa waktu lalu.

Setelah reformasi, Taman Ismail Marzuki (TIM) jarang menyelenggarakan baca puisi. Kenapa itu?

Pengasuh acara kesenian di TIM itu sekarang anak-anak muda. Mereka jarang menampilkan penyair yang sudah punya nama seperti Rendra, Sapardi. Bukan karena dana, tetapi menajemennya kurang bijaksana.

Mereka menampilkan anak-anak muda yang di bawah levelnya. Berbeda ketika Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dipegang oleh Wahyu Sihombing, Ramadhan KH, Arifin C Noer, dan Goenawan Mohamad. Mereka tidak takut tersaingi karena sudah punya nama.

Kenapa di zaman reformasi ini tidak menulis atau membaca puisi protes?

Kini banyak puisi sosial seperti bencana alam di Aceh dan Nias. Tapi puisi protes sosial tidak mendapat perhatian. Dulu puisi protes sosial itu terkenal karena dilarang.

Sekarang dunia puisi makin mundur?

Puisi sekarang masih berjalan di tempat. Maju tidak mundur tidak. Tidak tahu kenapa. Banyak penyair baru muncul di berbagai daerah, tetapi kualitasnya kurang. Puisi mulai ramai, tetapi eksplorasi isi cendrung berkurang karena tidak ada penemuan baru.

Terjadi semacam pendangkalan mutu. Karena itu apresiasi sastra sekarang agak kacau.

Apresiasi masyarakat terhadap puisi?

Banyak orang menaruh minat pada puisi. Sekarang pun banyak orang menulis puisi. Semua ekspresi diucapkan dengan puisi. Setelah bencana tsunami di Aceh dan Nias, misalnya, yang bukan pernyair pun menulis puisi, menyatakan kegundahannya, kesedihannya lewat puisi. Puisi sudah memasyarakat.

Karena itu ada antologi puisi tsunami. Di situ banyak orang menulis puisi. Kita harus melihat dari sisi empatinya terhadap penderitaan masyarakat.

Puisi yang baik?

Harus punya kedalaman, punya hikmah, punya kebijaksanaan, punya kearifan dalam kata-kata. Dalam kenyataan, tak semua puisi punya itu. Untuk menjadi penyair profesional harus punya itu semua.

Berapa penyair yang bermutu?

Hingga sekarang belum muncul lagi penyair-penyair profesional, penyair yang betul-betul meraih pencapaian tertentu. Yang ada tidak begitu banyak. Ya, masih nama-nama lama seperti Rendra, Sapardi. Mestinya mereka itu tampil lagi untuk retrospeksi karya-karya mereka. Dari karya masa lampaunya, karyanya yang pertama sampai yang terakhir.

Kini mungkin banyak buku puisi terbit, tapi tidak berarti isinya hebat. Sama halnya banyak pameran lukisan, tapi belum tentu lukisannya bagus.

Saran Anda pada anak-anak muda?

Lebih terfokus, lebih serius, lebih menghayati hidup dan banyak membaca. Dan yang lebih penting dedikasi, yaitu hidup untuk puisi. Dan ini memang sulit karena bagaimana mencari nafkah kalau hanya mengandalkan puisi. Lain halnya pelukis yang profesional dan sudah terkenal. Dia bisa kaya raya. Berbeda dengan penyair seperti aku ini; tidak bisa kaya karena menulis puisi.

Bagaimana upaya meningkatkan jumlah penyair bermutu?

Pengelola atau penguasa sastra, dalam hal ini Dewan Kesenian Jakarta, harus lebih bertanggung jawab. Dia harus lebih menampilkan penyair-penyair bermutu, penyair-penyair lama yang mempunyai kesadaran sejarah. Orang-orang ini besok lusa akan mati, jadi biar masyarakat mengetahui. Kita jangan kehilangan sejarah; tidak tahu apa yang mereka capai.

Mumpung mereka masih hidup tampilkan mereka, dengan karya-karyanya. Boleh tunggal atau bersama sebagai apresiasi sastra.

Jadi, kuncinya ada pada Dewan Kesenian Jakarta?

Ya, itu tadi, karena pengelola seni kurang inisiatif. Selain itu mungkin ada rasa takut menampilkan orang-orang yang di atas levelnya.

Mestinya tidak boleh bosan menampilkan penyair senior. Yang penting sejarah. Jangan mengganggap Dewan Kesenian itu milik seseorang. Dewan Kesenian itu milik masyarakat.

Bagaimana karya-karya puisi yang dipublikasikan di media massa saat ini?

Ada yang lumayan, ada yang tidak. Biasalah itu.

Sudah berapa tahun Anda menulis puisi?

Empat puluh tahun dari usia remaja, sejak SMP dan SMA, tetapi menulis untuk diri sendiri. Setelah kuliah di Bandung baru tulisannya dipublikasi di media cetak. Waktu itu usia 25 tahun. Boleh dikatakan terlambat.

Tapi belum merasa puas. Aku ingin jadi penyair seumur hidup. Seperti halnya mencintai seseorang, aku tidak memikirkan akibatnya; mau jadi miskin atau apa, tidak peduli.

Di media mana puisi Anda dipublikasikan?

Antara lain di koran – koran lokal di Bandung. Saya pernah menulis cerpen di harian Kompas, majalah Horison dan sebagainya.

Apa yang Anda peroleh dari profesi sebagai penyair ?

Ada kepuasan batin. Suatu kebahagiaan, bisa hidup sesuai dengan keinginanku. Walaupun kurang materi tapi bahagia. Banyak orang yang hidup tidak sesuai dengan kemauannya, sehingga merasa tertekan.

Berapa karya puisi Anda?

Tak terhitung. Aku tidak tiap hari menulis, tergantung suasana hati. Kadang-kadang bisa satu puisi cepat, atau berhari-hari. Bahkan bisa berbulan-bulan karena perlu perenungan dan permainan kata. Pernah lama tidak mencipta.

Kata itu ibarat sebuah biji. Ditanam di halaman dan kemudian tumbuh benih. Lambat laun berkembang menjadi pohon.

Menulis puisi perlu perenungan, ada kesadaran, ada pemilihan kata-kata. Menulis puisi mungkin sulit. Tapi kalau memang bakat dan panggilan hidup, itu tidak sulit.

Inspirasi menulis sajak dari mana?

Dari pengalaman hidup. Maka, seniman itu harus banyak pengalaman di samping membaca berbagai jenis buku. Kita juga harus peka terhadap protes masyarakat, demonstrasi mahasiswa, dan rasa ketidak-adilan.

Bagaimana soal honor?

Aku menulis sajak bukan memikirkan honor. Itu belakangan. Tapi, kalau sajak bagus kita tekan harga tinggi. Kalau kita yakin sajak itu buruk, kan malu sendiri. Makanya tulis dulu baru dijual.

Anda pernah mengklaim diri sebagai “presiden penyair”. Kenapa?

Dulu, biasa saja mengucapkan kata-kata itu. Saya mengklaim diri sebagai ‘presiden penyair’ Indonesia. Amir Hamzah disebut sebagai ‘Raja Pujangga Baru’, Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, aku hanya mengucapkan sekali dengan nada bercanda dan hanya mengklaim-klaim saja. Itu ditahun 70-an.

Falsafah hidup Anda?

Aku mencoba hidup jujur terhadap diri sendiri. Jangan serakah. Dan mencoba melihat sesuatu sebagai hikmah atau karunia dari Allah

Ada kesan, Anda termasuk seniman nyentrik?

Itu dulu. Kan hidup ini berproses. Dulu minum bir, sekarang nggak lagi. Di dunia seniman tak ada istilah nyentrik. Biasa-biasa saja. Kalau rambut aku panjang, itu hanya malas cukur.

Adakah penyair yang menyamai penyair legendaris Chairil Anwar?

Berbeda-beda seleranya. Chairil Anwar itu induvidualis. Penyair muda sekarang lain lagi. Jadi susah untuk mengatakannya. Pencapaian penyair pun berbeda. Pencapaian Rendra dengan Sitor Situmorang atau Goenawan Mohamad dan sebagainya berbeda-beda.

Tetapi yang dilakukan Chairil Anwar mitosnya besar, karena hidupnya dicurahkan untuk puisi. Tetapi jangan lupa Chairil itu matinya muda (27 tahun-red). Ketika pada puncak-puncaknya berkarya, ia meninggal, dengan demikian namanya harum terus.

Dia bisa menjadi teladan bagi penyair-penyair lain untuk menemukan diri mereka masing-masing. Ada beberapa sajak Chairil Anwar yang aktual sampai sekarang, walaupun ia sudah meninggal lebih dari 56 tahun lalu (28 April 1949, red.).

Sajak Chairil yang paling terkesan?

Di antaranya “Derai-derai Cemara”. Sampai sekarang banyak penyair karena diinspirasi sajak Chairil Anwar. Hingga sekarang sajak Chairil Anwar masih dibaca orang dan masih bertahan. Bahkan ada kata-kata sajaknya dijadikan motto: sekali berarti sudah itu mati. Sajak Chairil Anwar sangat ekspresif, lebih modern, bisa menyuarakan visi dan persepsi orang modern.

Nama Chairil Anwar itu mencuat dipermukaan karena jasa kritikus sastra HB Jassin. Begitu?

Antara HB Jassin dan Chairil tidak bisa dipisahkan. Memang, awal mula yang menyosialisasikan Chairil Anwar adalah HB Jassin, karena karya Chairil memang bagus. Karya Chairil itu ibarat mutiara dalam lumpur dan HB Jassin yang mengambil mutiara itu.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *