Yang Pernah Terlupakan*

Kavellania Nona Pamela
http://www.facebook.com/people/Kavellania-Nona-Pamela/1050689486

?Kenapa kamu tega melakukan ini semua, Ram??

Tya menitikan air matanya perlahan. Kemarahan, kekecewaan dan kesedihan yang mendalam terpancar jelas dari wajah gadis berjilbab itu. Namun Rama sudah tidak peduli lagi. Baginya sangat beruntung jika Tya akhirnya mengetahui perselingkuhannya dengan Katrin. Ia sudah cukup jenuh menjalin hubungan cinta dengan Tya. Cintanya pada Tya lenyap seketika, manakala Katrin suka merayunya.

“Salahku apa, Ram???” Hening.

“Apa yang kurang dariku selama jadi kekasihmu? Perhatian? Kasih sayang? Apa Ram????

“Perhatian? Kasih sayang? Kamu tak kurang dengan itu…Hanya saja, aku butuh lebih dari sekedar itu”

?Maksud kamu??

?Aku butuh biaya untuk kuliah aku, Ty! Dan kamu tahu, aku pun juga butuh seks. Katrin mampu memberikan semua itu, sementara kamu?.??

Rama puas akhirnya bisa menumpahkan semua napsu terpendamnya selama ini. Sudah cukup ia terkekang dengan segala aturan norma yang membelenggu selama ia bersama Tya. Rama sudah mulai merasakan betapa nikmatnya dunia ini tanpa aturan apapun sejak ia memutuskan untuk mendua bersama Katrin.

?Kamu selalu saja menolak ketika aku ingin mencumbu bibirmu, mencium keningmu, kamu selalu menolak bukan? Sadar tidak, kalau cowok itu sangat butuh yang namanya seks!? Lanjut Rama tanpa merasa dosa sedikit pun.

?Materi dan seks, itu yang kamu inginkan dari Katrin? Dimana rasa cinta kamu pada Katrin, Ram??

?Apa? Cinta? Memiliki apa yang kita mau kurasa tak perlu dengan cinta.? Rama menampakan senyum sinisnya.

?Cukup Rama!? Tya menghentikan tangisnya, ?kamu boleh selingkuh sama siapa pun asal jangan sama Katrin. Dia sahabatku sejak SMA.?

?Hey aku sama sekali tidak peduli dengan persahabatan kalian, bukankah dari awal memang Katrin sudah merayuku??

PLAK? satu tamparan kasar mendarat pada pipi kiri Rama. Perih terasa tapi tak apa yang penting Rama ingin Tya segera pergi dari kehidupannya.

?Semoga suatu saat kamu sadar atas apa yang sudah kamu lakukan selama ini padaku.? Tya berlalu pergi sementara Rama tersenyum puas memandang kepergian Tya.

Sejak itu Rama sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Tya, sepertinya ia memang berhasil melenyapkan Tya dari kehidupannya. Sebenarnya gadis itu terlalu sayang untuk Rama sakiti. Menyesal, tapi bagaimana lagi napsu dunia memang sudah menutup rapat-rapat rasa cintanya terhadap Tya . Ia pun tidak peduli bagaimana akhir dari persahabatan Tya dan Katrin yang telah berhasil ia porak porandakan. Baginya yang terpenting ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan yakni materi dan seks. Dua kenikmatan yang menjelma menjadi surga dunia itu telah membutakan hati nurani seorang Rama.
* * *

Malam sudah semakin larut, jam dinding yang terpampang dalam sebuah ruangan di kantor menunjukan pukul delapan malam. Pegawai yang lembur pada malam itu bisa dihitung dengan jari. Rama menghempaskan tubuhnya dalam sandaran kursi. Rasa lelah dan kantuknya sudah mulai menyerang namun ia bertekad akan tetap bertahan dengan lemburnya sebelum pekerjaan selesai. Malam ini ia harus menyelesaikan materi presentasi untuk bahan meeting besok.

Dari lantai sembilan Rama membuang pandangannya. Di balik kaca jendela itu ia bisa melihat dengan jelas kemacetan kota Jakarta yang entah kapan akhirnya. Suatu hiburan tersendiri baginya menatap beberapa mobil berbaris dan motor yang berebut nyalip. Sayup-sayup terdengar lagu Iwan Fals dengan judul Yang Terlupakan dengan format mp3 dari laptop Rama. Alunan lagu itu terdengar dengan syahdunya, perlahan mengingatkan Rama pada sosok perempuan yang pernah ia campakan begitu saja.

Rasa bersalah kembali mengalir dalam tubuhnya, seperti telah menyatu dalam aliran darah. Rama rindu terhadap perempuan itu yang entah dimana sekarang. Rindu pada wajah lembutnya, pada pengertiannya, pada senyumnya yang selalu membuat Rama sejuk bagaikan embun yang menetes pada dedaunan kala pagi menjelang. Sungguh ia ingin bersujud di kaki Tya untuk memohon maaf atas semua kesalahan yang pernah ia lakukan pada perempuan itu dimasa lalu.

Hati kecil berbisik untuk kembali padanya
Seribu kata menggoda, seribu sesal di depan mata
Seperti menjelma?
Waktu aku tertawa kala memberimu dosa

Cincin bermata berlian bertulisan nama Katrin, telah melingkar manis pada salah satu jemari Rama. Pertanda hubungannya dengan Katrin telah terikat dalam pertunangan, sama sekali tidak menyurutkan niat Rama untuk kembali pada Tya mana kala ia sudah menemukan Tya nanti. Namun apakah Tya akan menerimanya kembali, setelah cinta mereka dimasa lalu telah berhasil Rama porak-porandakan sendiri. Setelah ia tertawa puas akan kehancuran persahabatan Tya dan Katrin. Ia tidak peduli, baginya hanya dengan kembali pada Tya ia bisa menebus semua rasa bersalahnya.

Dering pertanda panggilan masuk telah membuat handphone di meja bergetar. Membuyarkan lamunan Rama akan Tya dan segenap rasa bersalahnya yang entah sampai kapan akan ia pendam. Terlihat tulisan Katrin-Love terpampang pada layar handphone keluaran terbaru. Buru-buru Rama mengangkatnya.

?Kenapa belum pulang. sayang? Lembur lagi?? Tanya suara dari seberang sana.

Pertanyaan itu tak langsung dijawab oleh Rama, terlebih dahulu ia beranjak dari kursi, melangkah menuju ke arah kaca jendela yang sedari tadi diliriknya dari tempat ia duduk.

?Iya.? Jawab Rama singkat.

?Padahal aku sudah masak beef teriyaki kesukaan kamu. Kapan kamu pulang??

?Entahlah, yang pasti selesai pekerjaan, aku langsung pulang. Kamu enggak usah nunggu aku, mungkin aku pulang agak malam, sayang.?

Terdengar suara helaan napas dari seberang sana, ?Akhir-akhir ini kamu sepertinya tidak punya waktu lagi untuk aku. Kamu selalu lembur, lembur, dan lembur. Seolah pekerjaan lebih penting daripada aku.?

?Bukan begitu, sayang. Semua pekerjaan yang aku lakukan juga demi kamu, demi keluarga kamu, dan tentu saja demi masa depan kita. Bukankah saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan kelurgamu.?

Sayang sekali bujukan Rama itu hanya disambut pemutusan sepihak dari seberang sana. Ia tahu Katrin marah tapi ia tidak peduli. Ia malah kembali asyik menenggelamkan diri pada pekerjaannya. Masalah dengan Katrin mungkin akan segera ia bereskan setelah ia pulang nanti.
* * *

Kedua mata Rama terbelalak menatap salah satu sosok peserta meeting. Membuyarkan semua konsentrasinya terhadap presentasi yang sedang ia jalankan. Untung ia masih bisa mengendalikan diri agar kembali fokus. Hingga usai meeting pun ia masih tidak percaya pada sosok itu. Sosok dengan tampilan berbeda selayaknya wanita karir namun ia yakin sosok itu adalah seseorang yang pernah hadir dalam masa lalunya, seseorang yang pernah ia hancurkan hatinya, dan seseorang yang sampai saat ini membuat ia sadar akan cintanya yang masih bersemayam dengan tenang jauh dalam lubuk hatinya bersama sepenuh perasaan bersalah.

Sosok itu perlahan menghampiri Rama yang masih duduk termangu di ruang meeting. Pkirannya sedang kacau.

?Maaf, apa saya mengganggu Anda? Saya hanya ingin membicarakan tentang kontrak kerjasama antara perusahaan kita.?

Hampir tidak percaya atas apa yang barusan didengarnya tadi dari sosok itu. Ternyata tak lama lagi Rama akan memiliki hubungan kerja dengan sosok itu. Entah itu suatu keuntungan atau apa, ia tidak tahu. Sosok itu benar-benar berubah, menjelma menjadi orang asing yang baru ia kenal tetapi ia tahu bahwasannya sosok itu adalah seorang Tya.

?Eh? ehmm? tentu saja tidak. Saya juga butuh diskusi lebih banyak lagi tentang kontrak kerja sama itu.?

?Oke.?

Perbincangan hanya seputar masalah pekerjaan terutama kontrak kerja sama. Seolah Rama baru saja bertemu dengan Tya saat ini. Ingin rasanya ia segera minta maaf atas kesalahannya dimasa lalu tetapi ia segan pada sosok Tya sekarang, apalagi situasinya kurang tepat. Diskusi itu terhenti mana kala dering handphone dari saku Rama berbunyi. Katrin-Love.
* * *

Setiabudi Resident pada malam hari di salah satu kamar apartemen yang terletak pada lantai lima. Katrin sibuk membolak-balikan berkas kontrak kerjasama. Sementara Rama sibuk dengan laptopnya sembari menanti tanggapan tunangannya atas berkas itu.

?Aku sama sekali tidak setuju jika perusahaan keluargaku harus bekerja sama dengan perusahaan tempat cewek sok alim itu bekerja.? Muka putih Katrin memerah, menahan amarah.

Mendadak Rama menghentikan kesibukannya dengan laptop, memandang tajam ke arah Katrin. ?Kenapa? Itu atas rekomendasi dari ayah kamu, Kat.?

?Karena aku tidak mau seorang Tya itu hadir lagi dalam kehidupan kita. Aku akan segera meminta Ayah untuk membatalkan kontrak kerjasama itu.?

Katrin langsung mengambil telepon wriless, bersiap untuk menekan tombol namun segera Rama mencegahnya.

?Pembatalan kontrak tidak bisa begitu saja dilakukan, Kat!? Rama merebut telepon itu dari genggaman Katrin.

?Kontrak kerja sama dengan mereka sudah ditanda tangani kedua belah pihak.? Tegas Rama.

?Tapi aku sama sekali tidak suka dengan kehadiran Tya, Ram.?

?Jangan korbankan perusahaan Ayahmu ini demi kepentingan pribadi. Aku janji kehadiran Tya tidak akan pernah mempengaruhi hubungan kita.?

Rama memeluk Katrin dengan erat. Pelukan penuh kepalsuan akan rasa cinta. Harus Rama akui, sampai saat ini pun ia tidak pernah mencintai Katrin. Lagi-lagi ia bertahan hingga sekarang hanya karena nafsu, nafsu, dan nafsu. Tetapi, ketika bertemu Tya tadi ia seperti ingin melepaskan semuanya. Semua yang ia miliki sejak bersama Katrin. Mulai dari title, materi. karir, dan jabatan. Ia ingin melepas semua itu sebagai penebusan rasa bersalah atas Tya.
* * *

Aku akan pulang telat hari ini. Ada dinner bersama rekan kerja.

Begitulah pesan singkat yang Rama kirim untuk Katrin. Di sebelahnya sudah ada seorang gadis cantik berjilbab dengan style khas wanita karir. Sembari menunggu pesanan makan malam, gadis itu masih saja tenggelam dalam laptop-nya. Sepertinya Tya memang tipikal pekerja keras. Beda sekali dengan Katrin, seorang gadis manja akibat dari kekayaan orang tuanya.

Malam ini sengaja Rama mengajak Tya dinner dengan alasan masalah pekerjaan. Padahal alasan sesungguhnya bukan itu. Ia ingin bersama Tya dalam kondisi yang berbeda. Bukan dalam kondisi dimana pembicaraan bisnis adalah yang utama.

?Oiya katanya anda mau membicarakan soal pekerjaan. Apa ya?? Tanya Tya datar. Ia masih tetap sibuk mengetik sesuatu dalam laptop-nya.

?Sebenarnya bukan masalah pekerjaan.?

?Lalu?? Jemari Tya terhenti dan menatap Rama.

?Aku hanya ingin kita dinner seperti layaknya seorang teman bukan rekan kerja. Bukankah kita sudah kenal sebelumnya?? Rama bertanya dengan hati-hati. Diluar dugaan Tya tersenyum ramah padanya.

?Oh.. oke oke.? Tya sibuk membereskan laptop dan memasukan laptop tersebut ke dalam sebuah tas. Lalu, ?aku setuju kalau dinner kali ini bukan atas dasar dinner bisnis.?

Rama tersenyum puas. Sepertinya Tya sudah melupakan kisah kelabu yang pernah ia alami bersama Rama. Semoga.

?Bagaimana kabar Katrin? Aku dengar kalian sudah bertunangan??

?Iya kami sudah bertunangan tapi belum tahu pasti kapan nikahnya.?

?Oooh? semoga kalian cepat menikah.?

Rama hanya tersenyum pahit. Tak terbayangkan ia akan menikah dengan wanita yang tidak ia cintai. Namun malam ini Rama hanya ingin menikmati saat-saat bersama Tya. Menikmati tawa renyahnya, tutur kata lembutnmya, dan matanya yang bulat seperti bola. Rama benar-benar merindukannya. Apalagi Tya malam ini terlihat lebih cantik di mata Rama.
* * *

?Apa? Pertunangan kita batal! Kenapa?? Tanya Katrin dengan wajah menahan amarah.

?Simpel saja, karena aku tidak pernah mencintaimu.?

?Hey jangan bilang kamu sudah jatuh cinta lagi pada gadis sok alim itu!?

?Cukup Katrin, jangan pernah mengkambinghitamkan Tya atas batalnya pertunangan kita ini.?

Sungguh kalau benar karena ingin kembali bersama Tya. Apakah Rama harus jujur pada Katrin selayaknya dulu ia jujur pada Tya ketika akan meninggalkannya demi bersama seorang Katrin. Entahlah. Kali ini Rama tidak akan jujur mengenai alasan yang sebenarnya pada Katrin. Ia tidak akan pernah rela jika Katrin terus menghina seorang Tya.

?Kamu tahu kan? Segalanya telah aku berikan ke kamu. Tak hanya materi, tapi kehormatan pun telah aku kasih ke kamu.?

?Enggak ada yang kurang, tapi aku harus melepaskan diri dari kamu. Aku enggak bisa terus bersama kamu sementara aku tidak pernah mencintai kamu sedikit pun. Kamu tenang saja mulai besok aku akan mengundurkan diri dari perusahaan keluarga kamu dan aku tidak akan pernah tinggal di apartemen mewah ini lagi.?

Belum sempat Katrin menanggapinya, tiba-tiba bel berbunyi tanda ada tamu yang datang. Segera saja Rama membukakan pintu. Sebal, saat-saat seperti ini masih saja ada yang sempat berkunjung.

?Hai?maaf mengganggu.?

?Tya? Dan?.? Rama terkejut lebih-lebih lagi melihat sosok lelaki yang datang bersama Tya. Siapakah dia?

?Yasa, calon suami saya.?

Yasa memperkenalkan diri. Rama shock dengan kalimat terakhir yang meluncur pada bibir Tya. Oh Ternyata?.

?Eh ada Tya, silahkan masuk.? Katrin sudah ada di sebelah Rama entah dari kapan.

?Tidak usah repot-repot kok. Kami enggak lama cuma mau nyerahin undangan pernikahan. Datang ya.. Neh.? Tya menyerahkan sebuah undangan berwarna biru laut dengan beberapa motif hiasan bunga bougenvil.

Sepeninggal Tya dan Yasa, keadaan hening cukup lama sampai akhirnya Katrin buka suara.

?Bagaimana? Masih mau membatalkan pertunangan kita setelah mengetahui pernikahan gadis yang kamu cintai itu akan berlangsung seminggu lagi.? Katrin tersenyum penuh kemenangan.

Rama masih tetap dalam diamnya.

?Tidak usah pura-pura, Ram. Aku tahu kamu masih mencintai seorang Tya. Tetapi sekarang aku tidak perlu takut lagi, karena tanpa kamu mencintaiku pun aku masih bisa memilikimu dengan seluruh materi yang aku punya. Bukankah kemewahan yang kamu mau dariku??

Kali ini Rama benar-benar merasa hina sebagai seorang lelaki dihadapan Katrin. Namun masih ada satu cara lagi agar harga dirinya tidak benar-benar jatuh. Tidak akan ia biarkan seorang wanita pun yang bisa menjatuhkan harga dirinya termasuk Katrin.

?Pertunangan kita tetap batal!? Tegas Rama sembari berlalu dari hadapan Katrin.

Meninggalkan semua kemewahan yang dulu pernah ia impikan atas dasar nafsu belaka. Setelah ini ia bertekad akan memulai hidupnya dari awal, demi sebuah pertobatan dan penebusan kesalahan terhadap seorang Tya. Meskipun Tya tidak akan pernah tahu sedalam apa rasa bersalahnya.

Depok, Oktober 2008
*) Cerpen ini sudah pernah di posting di kemudian.com sebagai persembahan untuk Takiyo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *