Beno pun Kembali ke Jalan yang Benar

Pudyo Saptono
http://www.suarakarya-online.com/

Jagad perpuisian di Kota Semarang kembali menggeliat seiring kembalinya si anak “hilang”-penyair Beno Siang Pamungkas-pada jalan yang benar, yang pernah mewangikan namanya di dunia sastra modern.

Setelah sengaja “menghilang” dan “menggelandang” di jalanan selama sepuluh tahun sebagai seorang juru warta pada sebuah stasiun televisi swasta nasional, penyair Semarang kelahiran Desa Kuncen, Kecamatan Padagangan, Kabupaten Bojonegoro, Jatim, 30 Maret 1968 ini akhirnya merasa sangat berdosa dan takut tercerabut dari akar kesenimanannya.

Sebagai wujud pertanggungjawabannya di pentas budaya, pekan lalu Beno sukses meluncurkan sebuah buku antologi puisi bertajuk Ensiklopedi Kesedihan, yang memuat 44 buah puisi hasil karyanya. Uniknya, pada peluncuran buku yang menandai kebangkitannya di pentas budaya itu, Beno berhasil pula menyinergikan puisi dengan kehidupan malam dan dunia gemerlap (dugem). Jadilah malam itu, para pengunjung Lipstick Cafe & Lounge di Jalan Hasanudin, Semarang-tempat peluncuran buku-yang biasanya dimanja dengan dentuman musik cadas, berubah menjadi penikmat puisi yang santun.

Sebagai salah satu motor Revitalisasi Sastra Pedalaman (bersama Sosiawan Leak Kusprihyanto Namma dan sejumlah teman sastrawan lain), dalam kumpulan puisinya Beno Siang Pamungkas menggambarkan negeri ini sebagai laboratorium kesedihan. Yang banyak bertutur soal nasib anak cucu, masa depan bangsa, tentang tindak kekerasan yang dihalalkan, pemerkosaan hak dan pemaksaan kehendak, pengemplangan uang rakyat, hingga bencana alam silih berganti membingkai kehidupan negeri ini.

Tanpa bermaksud “menjual” kesedihan dalam arti sesungguhnya. Beno sangat berharap kesedihan yang dia tawarkan dalam antologi puisinya justru bisa membawa titik balik kehidupan yang lebih manusiawi, lebih dirahmati, serta jauh dari azab duniawi.

Semua itu tecermin jelas dalam puisi bertajuk “Kota Kabut”, “Sajak Batuk Angin Kemarau”, “Rumah Kita”, “Surat dari Ujung Watu”, “Sajak dari Jalan Tol”, dan lain-lainnya. Tapi di luar karya-karyanya yang menghentakkan hati nurani, ada juga beberapa puisi Beno yang menggambarkan kegundahgulanaan dia dalam mengarungi bahtera cinta. Salah satunya tercermin pada penggalan puisi berjudul “Bali Bug” yang berbunyi begini: tanah jawa pudar dan menua/di punggungmu/di pucuk ferry/di selat sampit yang menjorok/dengan hati gemetar/kupinang kau pengantinku.

Peluncuran antologi penyair Beno Siang Pamungkas malam itu diapresiasi para seniman sastra baik dari Kota Semarang, Solo, Kendal, dan beberapa daerah lainnya. Seperti Eko Tunas, Tumur Sinar Suprabana, serta Wijang Warek. Selain itu, juga tampak mantan Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) Prof Ir Eko Budihardjo MSc, Ketua PWI Jateng Sasongko Tedjo, dan Ketua Taman Budaya Surakarta Murtidjono Skar.

Di mata Eko Budihardjo, buku kumpulan puisi yang diluncurkan Beno Siang Pamungkas, dan akan dibacakan keliling ke 10 kota di Indonesia, merupakan buku yang baik. “Setiap buku yang diterbitkan, yakinlah bahwa buku itu baik. Kalau ada penyair mengatakan buku antologinya Beno ini tidak baik, maka dia harus mampu menerbitkan buku yang jauh lebih baik,” ujar Eko yang juga mantan Rektor Undip Semarang tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *