BERTEMU SHINTA FEBRIANY

Budhi Setyawan
budhisetyawan.wordpress.com

Kalau tidak salah pada tahun 2007 (tanggal dan bulannya lupa) saya jalan ke sebuah toko buku kecil di daerah Sumurbatu, Jakarta Pusat. Secara tak sengaja saya menemukan sebuah buku puisi berjudul AKU BUKAN MASA DEPAN karya Shinta Febriany, yang diterbitkan oleh Bentang Budaya. Penyair ini masih begitu muda, namun tulisan-tulisannya telah menarik kekaguman saya. Memang ada semacam pengantar dari Afrizal Malna di buku itu, namun bukan dari situ saya memulai membaca. Kebiasaan saya membaca buku dari belakang seperti menemukan sesuatu yang mengalir, meski berkelok dan berliku. Saya yang selama ini menyukai puisi-puisi jenis pendek bermetafora dan memperhatikan unsur bunyi, merasa mendapatkan sesuatu yang memberikan tantangan, yang harus dicoba untuk dibaca dan dimasuki. Lalu ada keinginan untuk bisa berkomunikasi dengan penyairnya, apalagi bila bisa bertemu, pasti saya bisa banyak bertanya mengenai puisi-puisinya.

Beberapa bulan yang lalu saya berhasil berkomunikasi meski hanya lewat pesan pendek. Dan tanpa basa-basi saya minta untuk tampil di acara Reboan, 29 Oktober 2008, sebuah acara pentas sastra-seni budaya yang rutin digelar oleh Paguyuban Sastra Rabu Malam (Pasar Malam) di Warung Apresiasi Bulungan, Jakarta Selatan. Karena saya sedang ada tugas luar kota di Yogyakarta, saya baru bisa ke Jakarta Minggu 26 Oktober. Dia memberi kabar bahwa Senin sore mesti pulang ke Makasar, padahal hari Rabu telah dijadwalkan tampil di Reboan. Akhirnya disepakati untuk bertemu hari Senin siang, 27 Oktober di TIM Cikini. Dan dia meminta maaf karena tak bisa mengisi di Reboan bulan Oktober.

Saya tiba duluan di TIM dan baru berjalan ke arah toko buku Jose Rizal ketika pesan singkat darinya terbit, mengatakan telah sampai di depan gerbang TIM. Waktu menunjukkan jam 12 siang lebih. Kesan pertama yang saya tangkap saat bersua, ternyata dia begitu santun, dan mungkin rada formal. Ini malah terbalik, saya yang pakai baju batik, yang seharusnya berada dalam lingkup sikap formal, eh malah banyak humor, tertawa-tawa. Sebenarnya saya agak kikuk juga jadinya. Namun ini sebenarnya untuk mencairkan kebekuan yang singgah sesaat. Bagi saya, saya tak merasa canggung sedikitpun. Waktu bertemu penyair sebelumnya seperti Warih, Pranita, Wayan, Jokpin, atau Ahmad Tohari, dll, saya selalu memposisikan sebagai pihak yang terbuka, wacana yang siap untuk dibaca. Dan memang saya posisikan sebagai pembelajar dalam bersastra. Termasuk juga ketika berhadapan dengan Shinta ini. Lalu kami masuk ke warung di dalam komplek TIM, dan memesan menu yang sama yaitu sop buntut. Dan ternyata sop buntut siang itu kurang garam, amat terasa jauh dari laut dengan garamnya. Tapi tak apalah untuk mengganjal perut yang lumayan lapar. Setelah berbasa-basi sebentar, maka saya tanyakan ke Makasar naik pesawat jam berapa? Dia bilang jam setengah 5 sore (16.30 WIB). Maka saya hitung kira-kira, berarti check in jam 15.30, ke bandara perlu waktu 1 jam, berarti berangkat jam 14.30. Nah berarti waktu ngobrol dengannya ya tak bisa lama, mungkin hanya 1,5 jam.

Dia bercerita bahwa sejak kecil sudah hobi membaca, bahkan waktu SD juga telah membaca banyak karya sastra. Juga puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, Rendra, dll. Dan membaca menjadi sebuah menu wajib yang sedemikian intensif. Dan itu nampak hasilnya pada puisi-puisinya. Banyak puisinya yang berbentuk panjang. Dia bilang sebenarnya menulis puisi malah kurang, karena saat ini aktif menekuni dunia teater dan kegiatan seni lainya. Meskipun dalam beberapa puisinya, saya sebagai orang yang awam dengan teori sastra dan kadang begitu sulit menemukan apa inti utuh dari puisi itu, namun letupan atau kejutan dari rangkai kalimat yang terlontar banyak memberikan kejutan. Dan hal itu membuat saya jadi makin sering membacanya. Saya analogikan dengan mendengarkan musik progresif rock, yang banyak memasukkan unsur progresi kord dan ketukan drum yang tak lazim biramanya. Seperti lagu berjudul Musisi dari grup rock Godbless. Lagu yang bagus dan lumayan rumit itu benar-benar tak membuat bosan didengarkan. Selain irama bass yang patah-patah, kemudian pada interlude dimana suara lead guitar dan keyboard bersahutan, seolah berkejaran, namun juga karena ketukan drum-nya yang patah-patah dan berganti-ganti pattern membuat saya sampai sekarang belum bisa memainkannya. (he3? jadi malu).

Memang tak terlalu banyak ceritanya yang diseberangkan ke telinga saya, karena waktu yang amat terbatas, namun minimal saya mendapatkan seberkas semangat, bahwa dia yang berada di Makasar, jauh dari Jakarta, memiliki keseriusan dalam berkarya. Memang keterbatasan acap kali menerbitkan spirit untuk kreatif. Terima kasih Shinta, terima kasih para penyair, dan terima kasih para insan yang teguh dalam kesabaran berkarya meski dalam irama kesunyian. Berikut saya tuliskan puisi pendek karya Shinta Febriany dan saya.

opera kanak-kanak

aku selalu menyangka kalau cinta kita layaknya
dongeng masa kanak-kanak, menderas sejenak lantas
mengeras di setiap detak waktu

(Shinta Febriany, AKU BUKAN MASA DEPAN, Bentang Budaya, 2003)

WARNA WAS WAS

masih nusuk sebuah jarum jahit dengan warna kecemasan,
di kalender lima tahun yang lalu, terkulai di atas meja dapur.
masih sanggupkah menjahit kebangsaan yang robek nganga?
lalu aku jadi ingat roman kulit petani yang amat lebih tua dari
usia sebenarnya. mimpi apa yang jadi penghias kepalanya?

(Budhi Setyawan, SEMBURAT SENYAP, belum diterbitkan)
(ditulis di Jakarta, 5 Nopember 2008)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *