Sapto Raharjo dan “Kewirausahaan Alternatif”

Satmoko Budi Santoso *

SENIMAN Sapto Raharjo yang merupakan salah satu ikon budaya Yogya telah meninggal dunia pada hari Jumat 27 Februari 2009 lalu. Tentu saja, hal tersebut merupakan fakta otentik yang tak dapat diganggu-gugat. Setelah sekitar dua minggu dirawat di rumah sakit akibat “penyakit dalam” yang dideritanya, akhirnya Sapto Raharjo pun berpulang kepada Tuhan. Banyak hal yang ia tinggalkan sebagai hikmah dan sepantasnya mendapatkan kelayakan apresiasi.

Bagi saya, Sapto Raharjo adalah seniman yang memang total bergelut dengan bidang yang diyakininya sekaligus memunyai perspektif menarik dalam mendudukkan kesenian. Di tangan Sapto, idealisme kesenimanan yang dikukuhinya sanggup bersinergi dengan sepak terjang “kewirausahaan alternatif” yang juga diyakininya. Totalitasnya dalam merintis bertahun-tahun agar eksistensi gamelan mampu sebagai “duta bangsa” dalam pergaulan kreatif-estetik berskala internasional adalah salah satu bukti upaya “kewirausahaan alternatif” yang menarik. Risiko logis karena upaya Sapto itu pun boleh jadi oleh sekelompok seniman tertentu bakalan dicap “hanya manut funding”, tidak punya karakter khas, dan respons minir lainnya.

Saya kira, siapa pun boleh-boleh saja memunyai komentar tertentu terhadap sepak terjang Sapto semasa berolah kreatif. Hanya saja, satu hal positif yang bisa diadopsi adalah pada sikap profesionalitasnya dalam membangun jaringan kesenian, tidak hanya di tingkat lokal yakni Indonesia, bahkan dunia. Dengan sendirinya, diplomasi kritis atas akulturasi kebudayaan berbagai negara memang selalu dikondisikan oleh Sapto, setidaknya melalui pencapaian kualitatif even tahunan seperti Yogyakarta Gamelan Festival.

Sekilas menengok ke belakang, kita ingat, pada awal Sapto merintis even Yogyakarta Gamelan Festival adalah pada pertengahan era 1990-an, di saat kegairahan kehidupan berkesenian di Yogyakarta “belum begitu sadar pentingnya berjejaring dengan dunia luar negeri”. Kebanyakan acara-acara kesenian yang berlangsung pada waktu itu adalah berskala lokal, dalam pengertian tingkat Yogya saja. Kalau pun ada acara-acara yang berskala nasional paling hanya satu-dua, itu pun untuk jenis kesenian tertentu yang terkesan “kelas atas”. Rupanya, Sapto menerobos kemungkinan stagnasi rasionalisasi dan diplomasi karya seni yang terjadi saat itu. Perspektif dan paradigma kreatif Sapto pun keluar dari mainstream keberadaan karya seni yang menguat pada masa itu. Pastilah, jalan untuk merintis apa yang diyakini Sapto dalam mendiplomasikan karya seni pada publik yang cenderung “tak mikroskopik” amatlah berat. Apalagi, pada saat itu, arus kultur jejaring berkesenian yang tumbuh masih cenderung “manual”, belumlah seperti sekarang yang relatif “sudah sadar perangkat digital”: penggunaan internet adalah pintu termudah dalam mengakses dunia.

Atas paparan tersebut bolehlah dibayangkan kerepotan-kerepotan teknis dan kultural atas rintisan diplomasi kebudayaan antarnegara yang dibangun Sapto, yang mau tidak mau atau sedikit-banyak diam-diam juga menginspirasi sejumlah seniman atau kelompok kesenian lain sehingga berada di jalur “kewirausahaan alternatif” sebagaimana yang diimani Sapto. Katakanlah, setelah pertengahan era 1990-an, peristiwa kesenian berjenis “non-kelas atas” di Yogya terus diwarnai even-even yang satu-dua mulai berskala internasional. Hal itu terjadi sampai kini. Dengan kata lain, “jiwa entrepreneur” dalam konteks pengembangan karya seni kiranya pada era sekarang memang perlu menjadi perhatian khusus. Bagaimana seni dan budaya Indonesia yang adiluhung dapat berdiplomasi dengan seni dan budaya luar negeri yang kompleks jika kreatornya justru menolak arus jiwa zaman yang semestinya diarungi?

Tentu saja, hal yang relevan sebagai upaya pengembangan kesenian (terutama tradisi) yang mengarus pada jiwa zaman tertentu sepantasnya diikuti sesuai proporsionalitas yang memang menjadi tuntutan. Boleh jadi, pada akhirnya, kodrat karya seni memang harus berkompromi dengan varian manajerial sebagai bentuk “kewirausahaan alternatif” yang logis, karena pada kultur Barat pun sebagian besar seniman menunjukkan jati diri dengan mau membuka diri berdiplomasi dengan negara-negara lain atau dengan kata lain membangun sikap kondusif terhadap upaya internasionalisasi karya seni. Baik seni tradisi maupun seni kontemporer.

Ya, jalan mulia dalam mengolaborasikan dan mendiplomasikan karya seni Indonesia dan dunia telah ditempuh Sapto, tentu menjadi kewajiban bagi kita untuk menindaklanjuti. Kini berbagai kemudahan teknis relatif sudah tersedia, apakah perspektif dan paradigma berkesenian kita tetap “manual” dan “konservatif” terus? Memang, itu persoalan pilihan, dan sepanjang hidupnya Sapto Raharjo telah membentangkan resep kreatif yang sebenarnyalah bisa “ditiru” oleh siapa pun. Kini dan di masa depan?
***

*) Pemerhati seni. Direktur Lembaga Pemberdayaan dan Kreativitas “Amarta” Bantul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *