Sastra dan Spiritualitas (1)

Yudi Latif
http://www.kompas.com/

Heaven and earth will pass away, but my words will never pass away (Mark 13: 31)
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam
(Al-Qur?an 96: 3-4)

Al-Qur?an menyebutkan bahwa hal pertama yang diajarkan Tuhan kepada manusia adalah kata/nama (QS 2:31) dan kalam (QS 96: 4). Senada dengan itu, kita temukan ungkapan dalam Bible seperti ini, ?Pada mulanya adalah Kata, dan Kata adalah Tuhan. Juga dikatakan bahwa ?Kata adalah Cahaya, dan ketika cayaha itu fajar, seluruh penciptaan mewujud?.

Prase pertama mengandung arti bahwa apapun yang ada, sejauh yang dapat diekspresikan, hanya dapat diekspresikan dengan kata. Sedangkan prase kedua menjelaskan aspek lain dari misteri ini, bahwa untuk memungkinkan jiwa keluar dari kegelapan ilusi menuju cahaya, yang pertama-tama diperlukan adalah kata. Hal ini berarti bahwa Spirit awal terselubung dalam misteri kata dan bahwa dalam misteri katalah misteri spirit harus ditemukan. Seperti dilukiskan secara indah dalam Do?a Saraswati, Dewi Inspirasi Hindu:
O nourishing river
Mother of all that is written
Inspire fluent, truthful words.
May I discover the sacred river of wisdom within.

Maka dalam sejarah ketuhanan-keagamaan di seluruh muka bumi, Tuhan yang disembah selalu merupakan ?Tuhan-Kata? (the Word-God).

Selanjutnya, Tuhan-Kata ini, dalam tradisi agama-agama, dipercaya cahaya-Nya serba hadir di ?langit luar? (semesta) dan ?langit dalam? (jiwa), pada yang manifes dan yang terselubung (QS 24:35). Oleh karenanya, selalu ada pertautan antara kebatinan mikrokosmos dengan kebatinan makrokosmos. Dalam bahasa Abraham Maslow, tidak ada oposisi, kesenjangan dan perbedaan antara ego dan kosmos: bahwa bahasa jiwa merupakan vibrasi dari semesta. Dan suatu upaya aktualisasi diri dalam puncaknya yang tertinggi dan terdalam adalah usaha meleburkan diri dengan kosmos bagi penemuan kebenaran, keindahan, dan keadilan tertinggi (Maslow, 1970, 1971).

Kehendak menyatu dengan kosmos ini membuat manusia pada dasarnya religius. Oleh karena itu, kehidupan spiritual, menurut Maslow, merupakan unsur kemanusian yang paling esensial. Kehidupan spiritual merupakan komponen dasar dari kehidupan biologis kita. Kehadirannya seperti instink, yang dapat didengar melalui ?suara impuls? yang muncul dari dalam hati.

Konsekuensinya, Maslow menolak ide yang membatasi pengalaman spiritual hanya satu hari dalam seminggu, di mana pengalaman perjumpaan dengan yang suci dimaknai sebagai suatu keajaiban. Ia berpendapat bahwa yang suci itu hadir pada hal-hal yang biasa (ordinary), pada orang-orang biasa, di halaman belakang rumah kita. Lebih lanjut ia katakan, ketika agama-agama yang terorganisasikan (organized religion) memisahkan antara yang suci (the sacred) dari yang profan, maka yang suci itu bukan lagi milik setiap orang, tetapi menjadi properti kalangan terbatas elit keagamaan.

Sastra-Lisan dan Spiritualitas
Bahwa ada pertautan yang yang saling mengandaikan antara bahasa ?langit di dalam? dan ?langit di luar? mendapat perhatian yang lebih serius dari Carl Gustav Jung. Pada suatu kesempatan, ia mengajukan pertanyaan retoris: ?Mengapa manusia primitif perlu berpajang kata untuk melukiskan dan menginterpretasikan peristiwa-peristiwa dalam alam kehidupan, seperti timbul-tenggelamnya matahari, bulan dan musim?? Ia percaya bahwa peristiwa-peristiwa alam itu dituangkan ke dalam kisah dan mitos bukan sekadar cara untuk menjelaskannya secara fisik. Akan tetapi, ?dunia luar? itu digunakan untuk memberi pengertian terhadap ?dunia dalam?. Jung menyatakan bahwa kekayaan simbol-simbol dari manusia primitif itu?seni, agama, mitologi?untuk ribuan tahun lamanya membantu manusia memahami misteri kehidupan.

Dalam Psychology and Religion (1938), Jung menegaskan bahwa agama bukan hanya merupakan fenomena historis-sosiologis, tetapi juga memiliki signifikansi psikologis. Seperti halnya Rudolf Otto, ia mendefinisikan agama sebagai pengalaman supernatural (numinous) yang mencengkram dan mengontrol subjek manusia. Pengalaman keagamaan merupakan penyerahan diri terhadap sebab dan kuasa abadi yang bersifat superior terhadap manusia. Dengan demikian, manusia bukanlah kreator melainkan ?korban? dari pengalaman ini.

Dalam konteks ini, ia berpandangan bahwa agama sebaiknya dipahami dengan menghubungkannya dengan apa yang disebutnya sebagai ?collective unconsciusness? (ketidaksadaran kolektif), realitas psikik yang dialami bersama oleh semua manusia. Collective unconscious ini diekspresikan melalui ?archetypes?, yakni bentuk-bentuk pemikiran universal, atau imaji mental yang mempengaruhi perasaan dan tindakan orang. Dalam ungkapan Jung sendiri dikatakan:

Collective unconsciusness mengandung seluruh warisan spiritual dari evolusi umat manusia, yang dilahirkan secara baru dalam struktur otak setiap individu. Kesadaran pikiran (conscious mind) adalah fenomena sesaat yang mengerjakan seluruh proses adaptasi dan orientasi sementara. Adapun ketidaksadaran (unconscious) adalah sumber dari daya-daya naluriah (instinctual) dari jiwa dan dari bentuk atau ketegori yang mengaturnya, bernama archetypes. Seluruh idea yang paling berpengaruh dalam sejarah bisa dikembalikan pada archetypes. Hal ini terutama menyangkut ide keagamaan, tetapi juga tak terkecuali menyangkut konsep sentral sains, filsafat dan etik. Hal ini tiada lain, karena fungsi dari kesadaran bukan hanya untuk mengakui dan mengasimilasikan dunia luar melalui pintu indera, tetapi juga untuk menerjemahkan ke dalam realitas eksternal dunia dalam kita. (Jung 1971: 45-6).

Dengan kata lain, Jung melihat bahwa jiwa ketaksadaran (unconscious psyche) mengekspresikan dirinya dalam pola-pola archetypes yang mewujud dalam berbagai fenomena seperti mimpi, mitos, visi ekstatik, simbol keagamaan, keyakinan budaya dan ritus orang-orang pra-aksara (preliterate), yang secara esensial dipandangnya sebagai keberlangsungan dari budaya purba. Dalam pandangannya, ?dunia dalam? dari mitos dan archetypes ini tidaklah bersifat inferior terhadap pikiran sadar dan rasional. Karena ego sesungguhnya merupakan perpaduan dari ?dunia dalam? dan ?luar?, antara unsur-unsur subjektif dan objektif. Dan menjadi individu (individuation) tak lain adalah kemampuan seseorang untuk mengintegrasikan hal-hal yang berlawanan dalam dirinya: antara impuls ketaksadaran dan kesadaran.

Menghubungkan konsepnya dengan pemikiran L?vy-Bruhl, ia menegaskan bahwa kekuatan uncouncious mind itu tampak pada masyarakat pra-aksara (preliterate). Pemikiran orang-orang pra-aksara bersifat pra-logis. Implikasinya, pemikiran pra-aksara melibatkan ?partisipasi mistikal? dari peristiwa dan ide, suatu modus pemikiran kosmologis yang menghubungkan segala entitas, yang oleh pemikiran rasional akan dipisahkan.

Dalam elaborasinya tentang uncounscious mind yang terkandung dalam berbagai archetypes, Jung tiba pada aneka bentuk simbol dan mitos yang memadukan kisah dan spiritualitas. Di antara yang paling penting dari bentuk-bentuk archetypes dalam sastra-lisan yang berdimensi spiritualitas ini adalah ?orang tua bijaksana, ibu bumi (earth mother), anima dan animus (aspek feminin dan maskulin dari laki-laki dan perempuan); salib, mandala, quaternity (elemen keberempatan), pahlawan, anak Tuhan, kedirian (self), tuhan, dan persona (Jung 1964: 67).

Sejalan dengan pemikiran Jung, Mircea Eliade menegaskan bahwa seluruh studi tentang agama pada dasarnya merupakan studi tentang simbolisme. Untuk memahami mitos, shamanisme, atau ritus inisiasi adalah usaha menguraikan ?struktur simbolik? keagamaan, yang mewujud dalam pola-pola archetypes. Lebih lanjut Eliade menyatakan bahwa seluruh ritus dan simbol keagamaan terkait dengan mitos-mitos kosmogenik tentang penciptaan dan tentang penstrukturan kosmos kehidupan dari realitas primordial atau kekacauan (Eliade, 1958, 1968).

Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam masyarakat pra-aksara, sastra dan spiritualitas adalah bagian yang tak bisa dipisahkan sebagai unsur esensial dari realitas eksistensial. Imageri dan mitologi keagamaan yang menakjubkan mampu mengekspresikan keabadian archetypes secara sempurna, yang memberi kekayaan spiritualitas pada kehidupan. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *