Untukmu, Ras

Dian Purnama
http://www.balipost.com/

‘BIARKAN dia terus bersamaku,’ aku mengiba padamu. Tapi kau tetap diam. Kau terlalu angkuh untuk menjawab apa yang kuungkapkan. ‘Dengarkan aku, Ras! Dengar! Mengapa kau diam? Jangan pura-pura bodoh di depanku!’ demikian juga hardikku di tengah gelapnya malam.

Dan kau masih saja diam, Ras. Perempuan macam apa kau sebenarnya? Setankah kau ini, Ras? Tidakkah kau punya telinga untuk mendengar setiap ucap kata dan sumpah serapah yang kuhujam padamu? Atau jangan-jangan kau tak punya mulut? Kau hanya duduk bergelung di pojok ruangan sementara aku menghardikmu dengan segenap tenaga yang masih tersisa setelah perdebatan kecil kita tadi.

Ke mana perginya keberanian yang kau tunjukkan padaku senja tadi? Saat langit berkabut awan perak berparas kemerahan. Merah, seperti amarahku saat ini, Ras. Kau perempuan. Sama seperti aku. Tak bisakah kau menempatkan dirimu di posisiku, Ras?

Betapa sakit perasaanmu ketika seorang lelaki yang kau percaya dan berkait janji padamu di hadapan saksi dewata dan segenap isi jagat raya, pergi meninggalkanmu demi perempuan lain. Perempuan seperti kamu, Ras!

Masih kuat dalam ingatku saat bunyi gamelan berdentang dan alun genta mengantar hari bahagia kami. Kau datang juga saat itu. Berbalut kebaya kuning menyelipkan amplop di lubang celengan. Bertandang dengan senyum lalu mengangsurkan bungkusan indah berisi kain kamen dan kebaya. Ucapmu manis sekali saat itu, Ras! Tak kusangka busuknya bangkai perselingkuhan telah berakar di balik kata-katamu saat itu.

‘Semoga kalian bahagia dan selalu bersama sampai tua.’ Kau tersenyum kala itu. Menyodorkan tanganmu padaku juga pada Aryasa. Dan ia memperkenalkanmu sebagai seorang kawan dari masa lalunya di universitas.

Di suatu malam hening, anakku merengek lapar. Sementara telah seminggu payudara ini tak meneteskan air susu. Aku lelah sekali saat itu, Ras. Pikiranku terkuras hanya untuk mencemaskan ke mana suamiku pergi selama ini. Di mana ia tidur di malam-malam hujan bulan Desember tahun lalu itu. Mengapa ia tak kembali pulang ke gubuk kecil di mana istri dan anak perempuannya menunggu senyuman hangatnya? Hingga belakangan aku tahu rumahmulah yang selama ini dia tuju. Di atas tempat tidurmulah ia bergelung hangat.

Malam itu aku berjalan kaki menuju rumahmu di pusat kota. Hanya bermodal nekat. Kau begitu terkejut melihat aku muncul di gerbang rumahmu yang coklat berkilau ditempa lampu jalanan. Tentu saja kau terkejut, melihat wanita yang selama ini hanya menjadi dongeng pengantar tidurmu di sisi suamiku, yang wajahnya hanya kau kenali lewat foto, kini justru berdiri dibasuh peluh dan airmata di hadapanmu.

‘Aku hanya ingin suamiku pulang,’ ujarku setengah berbisik saat itu.

Kau ternganga. Terdiam. Tak berucap sepatah kata pun. Kau cantik sekali waktu itu. Seorang wanita karier dengan tubuh sempurna dan mata bening bercahaya di balik kacamata tipis tanpa bingkai. Rambutmu yang hitam bergelombang membingkai sempurna lekuk wajahmu pada latar cahaya temaram lampu teras. Penampilanmu sungguh mencerminkan kecerdasan. Untuk sesaat aku terkagum. Lalu terdiam. Merasa betapa kecilnya aku di hadapanmu. Hingga nyaliku pun ciut, bahkan hanya untuk sekadar meminta Ar untuk pulang dan menjenguk putrinya. Kemudian tetes airmata dengan santun meluncur perlahan menyisakan jejak basah di pipi.

Kau membiarkanku berdiri mematung di gerbang itu. Sementara kakimu yang indah itu tak hendak beranjak menghampiriku. Kemudian suamiku muncul dari dalam rumahmu. Mengenakan jaket cokelat dan kemeja biru yang ia kenakan saat pergi ke kantornya kemarin siang. Hariku terasa koyak melihat kebersamaan kalian. Sosoknya yang tegap dan jangkung serta rahang kokoh yang mengesankan ketegasannya membuatku berpikir tak ada pasangan yang lebih serasi lagi selain kalian berdua. Dan saat itu rasanya aku ingin mati saja.

‘Siapa aku dibandingkan denganmu, Ras?’ hatiku bertanya, menggelitik kecemburuanku. Aku tak lebih hanya seorang ibu rumah tangga yang setiap hari hanya mengurus anak dan berkutat dengan arang tungku di dapur.

Dan di sanalah pertengkaran itu terjadi, Ras. Di teras rumahmu pada suatu malam menjelang akhir bulan Desember. Aku memakimu karena merebut suamiku dari sisiku. Sementara kau berucap pelan mengakui kesalahanmu.

‘Kau tak tahu bagaimana perasaanku ketika melihat kalian bersanding di hadapan dewata, Sri,” ucapmu kemudian. Kau sedang membuat suatu pembenaran. Bahkan untuk sesuatu yang jelas-jelas salah, bukankah selalu ada sisi pembenar yang dicari-cari?

‘Aku dan Ar sudah lama menjalin hubungan. Jauh sebelum kau datang, Sri.’ Setelah berhenti pada kalimat ini kau terdiam dan mendesah pelan. Airmata pun ikut luruh perlahan dari pelupukmu. Kau bilang kau menyadari betapa sesungguhnya kau begitu sangat mencintai suamiku ketika kau menyadari akan kehilangan dia dalam sebuah ikatan pernikahan yang akan dia jalani denganku.

‘Aku menangis seminggu penuh setelah itu, Sri,’ ucapmu memohon pengertianku.

‘Tapi apakah ini cukup menjadi permakluman sebuah perselingkuhan? Adakah pembenaran akan sebuah pengkhianatan?’ desisku marah padamu. Aku pun terdiam.

‘Aku takkan lagi bertemu dengannya, jika itu bisa memperbaiki segalanya,’ janjimu malam itu.

Angin yang tadinya seperti berhenti berhembus tiba-tiba datang menggoyangkan anak-anak rambutku yang basah oleh keringat. Begitulah kita mengakhiri malam itu, Ras, jika kau masih ingat. Malam itu Aryasa pulang. Tidur di ranjang yang sama di sisiku. Tapi tak berucap sepatah kata pun hingga fajar kembali tiba dan meyakinkanku semua akan baik-baik saja lalu hidup akan kembali pada apa yang semestinya terjadi.

Sekarang aku di sini, Ras. Di rumahmu. Tak hanya berdiri di teras lagi seperti malam itu. Aku ada di dalam rumahmu, tepat di depan hidungmu. Tapi kau diam saja. Kau duduk di pojokan tanpa peduli tatap amarahku senja ini. Matamu menatapku hening dan kosong setelah pertengkaran yang melelahkan tadi.

Kau ingat bagaimana aku datang senja tadi? Aku datang dengan amarah di kepala yang sudah memuncak, Ras. Kau mengingkari janjimu. Aku masih memergoki surat-suratmu terselip di antara kantung jaket cokelat suamiku. Aku sakit hati setiap kali melihat dan membacanya. Membayangkan segala hal yang mungkin kau alami bersamanya. Aku membencimu. Sangat membencimu. Surat-surat itu begitu mesra. Dengan bumbu kata-kata sayang dan cinta di sekujur tubuhnya. Saat itu nadiku berdenyut cepat. Memuncratkan darah hingga ke puncak ubun-ubun.

Malam kemarin, suami tidak pulang. Seperti malam sebelumnya. Tapi sebagaimana satya seorang istri, kuhidangkan nasi beserta lauknya di atas meja yang akan selalu pada posisinya hingga angin malam membekukannya. Aku menunggu, Ras! Hingga jarum jam berdiri tegak di angka dua belas tengah malam. Dan dia tidak pulang bahkan sekadar untuk menemaniku makan. Tapi aku tetap makan tengah malam itu. Hanya demi bisa hidup untuk anakku, Ras. Meski nasi itu terasa keras bagai sekam yang menggores tenggorokanku.

‘Jawab aku, Ras! Bagaimana kau bisa diam tenang mendengarkan aku berceloteh marah sejak tadi?’ Aku menggoyang tubuhmu di atas kursi hijau itu. Kau masih diam. Kau diam. Lalu tubuhmu lunglai dan terhempas ke lantai. Aku meraba benda dingin dan basah yang sejak tadi kugenggam. Kuhujamkan pada lubang di dadamu. Sekali. Dua kali. Hingga habis pedih ini menguap dari relung hatiku bersama teriakan putus asa dan himpitan dendam. Untuk dua tahun malam kesendirianku. Untuk anakku yang sekarat karena tak lagi mampu kuberikan makanan bergizi tanpa nafkah suamiku. Aku baru berhenti ketika warna gaunku yang putih berubah merah. Sepekat darahmu yang mengalir di tanganku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *