Aung San Suu Kyi Simbol Pejuang Demokrasi

Nunik Triana
http://jurnalnasional.com/

Pada 3 Mei 2009 seorang warga negara Amerika Serikat John Yettaw berenang menyeberangi danau untuk mengunjungi rumah Aung San Suu Kyi. Ia pun tinggal selama dua hari di rumah pejuang prodemokrasi Myanmar itu tanpa izin yang berwenang. Hingga kini belum jelas motivasi pria tersebut mengapa melakukan hal itu. Suu Kyi pun tak pernah mengundangnya. Namun yang jelas pemerintah militer Myanmar menuduh Suu Kyi melanggar persyaratan tahanan rumah, yang berkemungkinan menambah lagi tahun-tahun pemenjaraan di rumahnya sendiri.

Dunia terhenyak. Masyarakat internasional pun kembali meningkatkan tekanan agar pemerintah setempat membatalkan pengadilan terhadap Suu Kyi. Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton menyebut dakwaan terhadap penerima Nobel Perdamaian itu sebagai hal yang menggusarkan. Sementara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-moon mengutarakan kekhawatiran mendalam dan mengatakan akan mengunjungi Myanmar dalam waktu dekat.

Spekulasi pun bermunculan. Pemimpin warga Myanmar di pengasingan, Nyo Ohn Myint mengungkapkan, junta militer menggunakan kasus itu hanya untuk memperpanjang masa tahanan Suu Kyi yang sebenarnya akan selesai akhir bulan Mei. Sejauh ini, Suu Kyi yang berusia 63 tahun, dalam 19 tahun terakhir, telah menjalani 13 tahun masa tahanan. Dan Jika dalam persidangan ia terbukti bersalah, dirinya terancam hukuman lima tahun penjara yang berarti memupuskan harapannya untuk mengikuti pemilihan umum yang akan digelar tahun depan.

Kehidupan Suu Kyi sepertinya memang tak pernah jauh dari penderitaan dan perjuangan. Terlahir pada 19 Juni 1945 di Rangoon, Myanmar ia adalah anak perempuan dari pahlawan Myanmar Jenderal Aung San. Saat usianya baru menginjak dua tahun, kala pemerintahan transisi periode Juli 1947 berkuasa, sang ayah dibunuh. Peristiwa ini terjadi hanya 6 bulan sebelum hari kemerdekaan. Suu Kyi dan dua saudaranya Aung San Lin dan Aung San Oo kemudian tinggal di Rangoon bersama sang ibu Daw Khin Kyi.

Masa suram belum berakhir. Saat usianya menginjak delapan tahun, kakaknya Aung San Lin ditemukan tenggelam di kolam renang. Dan tak lama setelah itu, saudara laki-laki tertuanya, memutuskan migrasi ke San Diego, California, dan menjadi warga negara Amerika.

Sedangkan Suu Kyi pada 1960, usai menyelasaikan sekolah Khatolik di Myanmar, mengikuti sang ibu yang menjadi duta besar ke India. Empat tahun hidup di negara tersebut ia berhasil menyelesaikan pendidikan Ilmu Politik di Lady Shri Ram College, New Delhi pada 1964. Belum puas sampai di sini. Ia pun pergi melanjutkan studinya ke St Hugh, Universitas Oxford di Inggris, untuk belajar filosofi, politik, serta ekonomi. Dan pada 1985 gelar doktor pun ia peroleh dari Universitas London dengan kekhususan ilmu budaya Oriental dan Afrika. Saat menimba Ilmu di Oxford ia bertemu dengan akademisi asal Inggris, Michael Aris yang mendalami kebudayaan Tibet. Mereka menikah pada 1972 dan dikaruniai dua orang anak Alexander Aris pada 1973 dan Kim empat tahun setelah itu.

Meski hidup bertahun-tahun di luar negeri, Myanmar tak pernah pergi dari pikiran Suu Kyi. Ia pun kembali ke Rangoon pada 1988 dengan maksud merawat ibunya yang sakit keras. Namun kondisi Myanmar saat itu sedang dalam keadaan gawat. Ratusan pelajar, pekerja, dan biksu turun ke jalan meminta reformasi demokrasi.

“Saya tidak bisa diam. Sebagai anak ayah, saya memiliki pandangan yang berbeda terhadap kondisi yang terjadi,” katanya saat berbicara di Rangoon pada 26 Agustus 1988.

Keberaniannya inilah yang kemudian membuat Suu Kyi didaulat menjadi pemimpin revolusi melawan pemerintahan diktator Jenderal Ne Win, sekaligus pemimpin Partai Nasional Liga untuk Demokrasi atau NLD.

Dan terinspirasi olah kampanye tanpa kekerasan yang dilakukan penjuang hak asasi manusia Amerika Martin Luther King dan India Mahatma Gandhi ia pun mengorganisasi pertemuan dengan publik dan melakukan perjalanan keliling negeri, guna menggemakan reformasi demokrasi dan pemilu bebas. Tetapi demonstrasi pada 18 September 1988 yang dilakukan secara brutal dan kemudian ditekan oleh tentara tak dapat dielakkan. Suu Kyi pun dituduh bersalah dan dijatuhi hukuman penjara rumah di Rangoon selama enam tahun hingga akhirnya dibebaskan pada Juli 1995.

Pemilu pemerintah militer yang dinamakan pemilu nasional akhirnya digelar pada Mei 1990. Dalam polling, Suu Kyi dari NLD saat itu dipastikan menang. Namun hal itu hanya khayalan melihat fakta ia berada dalam tahanan rumah dan karenanya terdiskualifikasi untuk mencalonkan diri. Alhasil, pemerintah militer pun tetap memegang kendali. Mei 2002, ia dibebaskan tanpa syarat. Tetapi setahun kemudian kembali masuk tahanan rumah setelah terjadi bentrokan antara pendukungnya dan pemerintah.

Musim panas 2007, Myanmar kembali bergolak. Kali ini tentang harga bahan bakar yang merangkak tinggi. Aksi pun kembali terjadi dan digerakkan oleh biksu, hingga kemudian lagi-lagi diakhiri dengan jalur kekerasan oleh pemerintah. Untuk meredakan ketegangan, Suu Kyi pun akhirnya diperbolehkan keluar rumah untuk bertemu pada biksu tersebut pada bulan September, yang sekaligus menandai pemunculan pertamanya di muka publik sejak 2003.

Mei 2009, sebenarnya adalah periode akhir masa penahanannya. NLD pun meminta pemerintah untuk membebaskannya, dengan mengatakan Suu Kyi menderita tekanan darah rendah dan dehidrasi. Namun sayang, permintaan ini ditolak.

Hari-hari sebagai Tahanan Rumah
Menjalani 13 tahun, dari 19 tahun masa tahanan, dengan terkungkung di rumah sendiri, apalah yang dapat dilakukan? Kebosanan tentu saja hadir. Tetapi Suu Kyi tak putus asa. Meditasi, mengembangkan kemampuannya dalam bahasa Prancis dan Inggris, serta membaca buku-buku filosofi, politik, serta ekonomi adalah aktivitas keseharian yang ia jalani. Dan jika lelah, memainkan lagu karya Bach di piano sudah cukup mampu menghibur dirinya.

Namun, diakui tahun-tahun awal sebagai tahanan rumah, Suu Kyi yang ditemani oleh dua orang pembantu dan sesekali mendapat kunjungan dokter ini memang lebih sering berada dalam kesendirian. Dan saking pemerintah militer Myanmar ingin mengisolasi Suu Kyi dari mata publik, ia bahkan tidak diperbolehkan untuk bertemu kedua putra dan suaminya.

Tetapi ketika sang suami berada dalam keadaan koma, dan akhirnya tutup usia karena kanker pada 1999, pemerintah militer menawarkan untuk melakukan perjalanan ke Inggris untuk bertemu dengannya. Namun Suu Kyi menolak karena takut dirinya tak akan lagi diperbolehkan masuk ke negaranya.

Beberapa tahun belakangan, kondisi mulai melonggar. Ia pun diperbolehkan bertemu dengan pendukung NLD, dan mendapat kunjungan beberapa diplomat PBB seperti Razali Ismail.

Bagi Suu Kyi, terpenjara dalam rumah sendiri karena memperjuangkan demokrasi bagi rakyat Myanmar tak akan pernah disesali. Bahkan ia mengatakan masa penahanannya ini membuat dirinya lebih bisa membuat keputusan dalam sisa hidup guna merepresentasikan kehidupan bagi masyarakat Myanmar.

Perjuangan, kesabaran, serta kecintaan pada Myanmar memang telah teruji. Perdana Menteri Inggris Gordon Brown dalam bukunya Courage: Eight Portraits memuji Suu Kyi. “Keberanian Suu Kyi adalah keberanian untuk mengorbankan kebahagiaan dan kehidupan nyamannya. Tetapi melalui perjuangannya, ia dapat memenangkan kebahagiaan seluruh negeri. Ini adalah sebuah bentuk nyata ketidakegoisan. Mengorbankan kebebasan, mengeringkan air mata, serta terus semangat berjuang untuk rakyat Myanmar,” kata Brown. n Nunik Triana/ BBC/ AFP/ New York Times)

Biodata:
Nama: Aung San Suu Kyi
Tempat tanggal lahir: Rangoon, Myanmar, 19 Juni 1945
Domisili: Rangoon
Suami: Michael Aris
Anak:
Alexander Aris
Kim
Dikenal sebagai:
– Pemimpin Liga Nasional untuk Demokrasi
Penghargaan:
Thorolf Rafto Memorial Prize (1990)
Sakharov Prize (1991)
Nobel Peace Prize (1991)
Simon Bolivar International Prize (1992)
Jawaharlal Nehru Award (1993)
Prize For Freedom of the Liberal International (1995)
Freedom of Dublin City, Republic of Ireland (1999)
Presidential Medal of Freedom (2000)
Olof Palme Prize
Honorary Companion of the Order of Australia, Perhargaan tertinggi masyarakat Australia.
UNESCO Madanjeet Singh Prize untuk perjuangan dengan toleransi dan tanpa kekerasan (2002)
Gelar doktor dalam bidang hukum (honoris causa) dari Memorial University of Newfoundland (2004)
Freedom from Fear award (2006)
Honorary Canadian citizenship (2007)
Honorary President of the LSESU
Doktor Bidang Sastra (honoris causa) dari Colgate University (2008)
Congressional Gold Medal (2008)
Premi Internacional Catalunya (2008)
Freedom Of Glasgow (2009)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *