BAHASA KAUSALITAS YANG RAHMATAN LIL ALAMIN

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/2011/05/language-of-causality-that-rahmatan-lil-alamin/

Bagian I

Prolog:

Sebelum membahas pokok persoalan, marilah berserah kepada Sang Penyebab segala sebab. Bagaimana dikatakan kegentingan, karena seringkali mengartikan akibat sebagai sebab, atau sebaliknya mengerti sebab padahal itu akibat. Tentu ini menghawatirkan kesehatan iman di alam fikiran. Jika yang terpaparkan nantinya tidak bertepatan dengan ketentuan ayat-ayat-Nya, tinggalkan. Andai ada senyawa tiupan-Nya yang tersirat pun tersurat, bukan dari penulis semata.

Saya berharap saudara memiliki jarak pengamanan agar yang tersampaikan bukan belenggu. Telah banyak para tokoh mengupas kausalitas, tapi perlu menilik ulang untuk mendapati pencarian bersesuaian pribadi. Tidakkah yang baru berangkat biasanya menemukan keganjilan. Harapan saya sanggup memberi kesan terdalam, menempati kedudukan sebab-akibat, atas kesamaan irama tarian Ilahiyah, amin.

Kegagalan teori Darwin terdapat pada pemilihan contoh, yang mana proses perjalanan idenya ditimpakan ke sosok makhluk hidup. Jika evolusinya memaknai kehadiran insan, mungkin hasilnya seperti ini. Secara ringkas saya mengguna teorinya kala menetapkan pijakan. Bahwa proses perubahan hidup manusia, pengalaman naik-turunnya hayati, sebagai penciptaan sebab dari kehendak Sang Penyebab. Lalu saya benturkan ke pandangan Nietzsche, yang menghilangkan tanggung jawab, karena meninggikan subyektivitas lewat melenyapkan fungsi ketuhanan.

Sebelum jauh, saya kemukakan keterangan apa itu: Sang Penyebab segala sebab (1), penyebab yang menyebabkan (2), penyebab mendekati pengakibatan (3), dan pengakibatan menuju pengakibatan akhir atau akibat (4). Dari sini jelas antara saya dan pandangan umum, maupun penggagas Nietzsche. Bedanya, saya menawarkan empat poin, sedangkan kaca mata umum memiliki dua, sebab-akibat. Sebenarnya saya menggunakan karakter tersebut, tetapi mencolok berbeda saat terbeberkan sebagaimana di bawah ini.

(1) Sang Penyebab segala sebab

Kita tidak memungkiri alam semesta yang tersaksikan, diciptakan oleh Penyebab segala sebab. Ketinggian drajad pencipta-Nya dalam keseluruhan permasalahan. Dzat-Nya bukan berasal penciptaan mistis, apalagi abiogenesis. Dia bukan dari ketinggian uap yang naik-turun dan menjelma bebintik makluk hidup, lantas membesar membiak, tidak.

Tidak pula dari unsur-unsur bumi, Dia menciptakan kejadian dan mengambil unsurnya untuk kehidupan insan penghuni dunia. Dia bukan beranak dan tidak diperanakkan, apakah buaian makluk hidup atau batu, tidak. Dia menggerakkan setiap kesadaran dan kelalaian, terlena atas hamparan fatamurgana ujian-Nya. Dia penyebab segala kebaikan, pencipta percoban bagi makluknya dalam keseimbangan karya.

Dia penyeimbang yang bukan dari keadaan diciptakan-Nya, atau Dia penyelesai masalah dari kasus-kasus yang diciptakan-Nya. Dia Maha Mengetahui atas apa yang sedang dilakukan setiap makluknya, sebagai Penguasa sebelum dan sesudahnya kehidupan.

Dia bukan matahari menyinari kehidupan, bukan rembulan yang meneduhkan malam. Dia pencipta planet-planet juga gemintang, menguasai seluruh galaksi yang kita ketahui pun yang tidak tampak. Dia maha berkehendak mempercayakan wakil-wakil-Nya sebagai pengatur kehidupan di muka bumi, dalam kuasa gravitasi dan di luarnya.

Dia penggagas yang tiada siapa pun membandingi kebijakan-Nya yang melampaui material dan bathiniah. Penguasa mikro kosmos dan makro kosmos, serta di luar batasan-batasannya. Dia ketinggian hukum di atas hukum kesementaraan manusia, semua hukum yang diciptakan makhluknya, tunduk atas hukum-Nya.

Dia penguasa absolut sekaligus sulit dijangkau, selain kalbu keimanan: ?Sesungguhnya langit-langit dan bumi tidak berdaya menjangkau-Ku, namun Aku telah di jangkau oleh kalbu seorang mu?min.? (Hadits Qudsi, Riwayat Ahmad dari Wahab bin Munabbih).

Sebab dengan kesegaran akal pun manusia terbentur ozon kesuntukan. Tapi hati siapa tertancap cinta terdalam, maka segala kelupaan menemui penggantinya lebih berkebugaran ingatan, di atas penumpukan memori kalbu berpenambahan rindu dan rindu.

(2) penyebab yang menyebabkan

Jika mengambil bagian pertama, Sang Penyebab segala sebab, Tuhan Allah yang menciptakan sebab. Dan seluruh ciptaan-Nya bermakna sebab. Karenanya, kelahiran makhluk kemunculan tanaman, harumnya bebunga, wujud bebuahan, perputarnya bumi mengelilingi surya disamping memusar di porosnya. Ialah kejadian sebab dan bukan otomatis bermakna akibat sedari Pencipta Awal.

Selintas paparan di atas tampak kabur, namun di sinilah makna Rahmatan lil alamin. Insan memiliki wewenang di muka bumi atas izin-Nya. Manusia berdaya kemampuan merenungkan kejadian pengalaman, yang menghadirkan hikmah-hikmah penelitiannya atas rahmat-Nya.

Setiap manusia beriman ialah pemimpin. Ini kajian ayat-ayat Tuhan yang tersirat di alam jagad raya menuju yang tersurat, meski kemampuannya dibatasi kasih sayang-Nya. Lewat keseimbangan psikologi, demi menggapai keilmuan tinggi, hasilnya tidak akan memuaskan, kalau bukan atas ridho-Nya.

Kenapa saya mengatakan insan ialah ?penyebab yang menyebabkan?? karena yang membuat penyebab. Hal itu bukan menyamakan sifat manusia kepada sifat ketuhanan. Namun kembali pada persolaan awal, pemberian wewenang menjaga kelangsungan hayat demi selaras serasi timbangan -Nya, yang sudah disampaikan berupa ayat-ayat tersurat pun yang tersirat.

Kenapa proses itu penciptaan sebab, karena kelangsungan kehidupan ini bersinambungan. Memaknai sejarah menarik kesimpulan tanda, bukan pembentukan identifikasi akibat, tetapi pengalaman hidup demi lebih baik. Jadi, pandangan umum berkata akibat, saya hanya namai akibat sementara, atau studi kasus belum mapan.

Terbukti hukum ciptaan manusia seringkali tak terpakai jaman di depannya. Itu terjadi karena aturan dibuatnya sejenis jaminan kasus yang disetujui sebagai pijakan demi penelitian. Ini baik kiranya bukan patokan. Akan parah jika dibakukan, sampai generasi selanjutnya tidak membantah, lantaran hawatir tidak dipercaya, sebab aturan sebelumnya sudah disepakati khalayak.

Jika hukum tersebut memaknai ayat tersirat atas kehendak-Nya, hasilnya sebenar adanya menjamin kebaikan, bukan mengurung ide generasi mendatang. Maka setiap aturan yang sudah disetujui, seyogyanya fleksibel agar adanya relativitas di segenap bidang mata kajian.

Kenapa ditekankan insan itu penyebab yang menyebabkan. Ini demi aliran kebijakan yang membuka terciptanya aturan baik-berkeindahan, penuh angin damai keselarasan.

Aturan dibuat manusia seringkali melukai jiwa kemanusiaan. Kalau aturan makin dibakukan tanpa adanya kemungkinan, maka pertumpahan darah semakin takkan terelak. Walau intrik peperangan pun manusiawi. Di sini memetakan asal peperangan, yang dapat terjadi karena salah faham, dalam memaknai akibat dan penyebab.

Saya yakin insan lahir dalam keadaan fitroh tanpa dosa turunan. Jadi yang mengakibatkan perang itu penerapan hukum yang melukai naluri. Atau terciptanya perang dari sifat kebinatangan; hasut, dengki, dendam, cemburu buta &ll, yang melekati sosok manusia yang menyulut kehitaman panggung sandiwara dunia.

Maka manusia (sebab) yang menyebabkan atau mencipta (proses evolusi nilai kemanusiaan) itu sumber kebaikan. Dengan menanamkan sejarah sebahan kajian, bukan mengambili kesimpulannya demi hukum kekekalan berlangsung. Yang kudunya menerima tiupan angin kekinian, harapan ombak keberjamanan kemanusiaan sekarang.

Seperti pelangi yang berangkat dari keadaan sekitar, mengkondisikan keberjamanan, pancuran air mencipta warna. Bukan pelangi mendatang, tapi kesadaran evolusi nilai kemanusiaan, wewarna cahaya kebersatuan mesra. Dan Timur-Barat hanya kutub pelangi yang menghampiri sungai-sungai peradaban, selepas hujan deras penyadaran universal.

(3) penyebab yang mendekati pengakibatan

Penyebab bagian ini kecakapan insan atas kekuasaan-Nya, guna mencipta penyebaban mengatur siklus kebutuhannya. Menyebabkan proses evolusi nilai penyebab dirinya. Atau proses kerja insan, menuju kelayakan penerimaan baik.

Status ini mendekati pengakibatan. Pengakibatan sendiri proses dimana penyebab mengambil hakikat prosesi, kerja yang dilakukan atas sebelumnya atau finising berasal hayati, evaluasi akhir gerakan jaman. Pada terapan sejarah, proses mendekati pengakibatan bermakna revisi akhir sebelum hari menentukan. Masa tepatnya aturan sesungguhnya, hukum seirama kasih-sayang menyapu kening wakil-wakil-Nya.

Machiavelli mencium kesadaran keberjamanan di buku ke II The Discourses: ?Manusia selalu mengagungkan masa lalu, mencari kesalahan masa kini tanpa alasan, dan mendadak saat penuwaan, menyanjung segala yang pernah mereka alami ketika mudanya.?

Dan saya memulai ini dengan percaya, yang dianggap orang sejarah, hanyalah ?dongeng? semata, batu-batu monumen dilebihkan sejarawan. Inilah penampakan pribadi kekinian, dan pelajaran berulang mencipta banyak sekali pengalaman.

Kemenjadian itu cermin selalu pembuka nalar kesadaran nyawa, keberadaan tidak menyangsikan esok pasti. Esok ialah sesuatu, tapi sudah ada dari kini menyungguhi hayati, menjanjikan tanpa banyak dekte atas sejarah masa silam.

Fukuyama menyadari kekinian dalam pendahuluan The End Of History and The Last Man. Mungkin buku itu finising karya Hegel, The Philosophy of History. Fukuyama bilang: ?Hasrat untuk diakui yang dibarengi perasaan marah, malu dan bangga, merupakan bagian dari kepribadian manusia yang bersifat kritis terhadap kehidupan politik.?

Perasaan marah saya maknai penyelidikan lebih, kesuntukan menggali kehakikian, kemarahan akan kesangsian manusia kini, perbesar situasi kemarin serta lalai kondisi sekarang. Andai benar tetaplah suatu kelenaan, seperti mengartikan akibat dalam kehidupan itu dekaden.

Kebanggaan itu bangkitnya kehalusan budhi, terperangkap nuansa memukau, segala unsur tampak kemilau di sekitar perjalanan sejarah, menjadi bahan bangunan tidak runtuh. Dan kebanggaan, bukan sekadar cita rumusan mekanik, tetapi jiwa halus merambah kemanusiaan penuh damai, kesadaran universal mengisi hayat berkeseimbangan.

Rasa malu memacu syaraf kendor menjelma daya manfaat, petualangan komunikasi antar sesama bukan saling tindih. Namun bertaut memberi pelengkap dengan menanggalkan keculasan, mutu identitas damai diutamakan. Saya harap pembaca terjelaskan, penyebab mendekati pengakibatan. Yakni penilaian gerak jaman yang membuka kemungkinan berakhirnya atribut, melalui memperdalam nilai-nilai tradisi yang selaras kasih-sayang-Nya.

(4) pengakibatan menuju pengakibatan akhir

Inilah hasil bagian satu, dua dan tiga yang mengharapkan makna rahmatan lil alamin. Dalam kajian budaya semacam impian masyarakat madhani, menyadari posisi terkemuka, bahwa pergerakan seyogyanya atas peletakan batu pijakan. Agar tak terjadi salah penentuan, akibat sebagai sebab atau sebab dikelirukan akibat.

Kenapa saya katakan kajian ini membahayakan kesehatan nalar keimanan. Karena jika terjadi kesalahan penempatan dalam menentukan kausalitas, dapat tergelincir ke lembah kebingungan. Dan hasil kausalitas yang keliru, menyesatkan banyak orang. Olehnya perlulah kehati-hatian pada argumen memukau, apologi menggiurkan imaji.

Kudunya perteguh kekuatan bathin berpandangan cermat. Bagian ini ialah akibat yang ditimpakan Tuhan atas proses kemanusiaan, pahala akhir lewat hitungan. Pengakibatan menuju pengakibatan akhir, totalitas evolusi yang mengedepankan jumlah nilai dari prosesi ikhtiar.

Bagian ini perimbangan temuan manusia atas tiupan seruling-Nya. Sejenis kata ?atau? untuk melembutkan makna kata ?dan.? Atau kata ?atau? adalah anak turun kelembutan kata ?dan.? Mungkin jenis inilah kesamaan gerak pengakibatan menuju pengakibatan akhir.

Kerepotan memaknai akibat yang tepat, jika tidak melewati tilikan murni semacam kata ?dan? serta ?atau? yang kerap tertempuh demi penghampiran lebih. Penajaman kehendak lembut sulit ditempuh, jika hanya mengandalkan efektifitas satuan kata ?dan? juga ?atau? yang dapat menyembunyikan kemungkinan di sekitar persoalan.

Sebagai renungan saya ambil surat an-Najm, ayat 39 sampai 42:

Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasannya usahannya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan paling sempurna, dan bahwasannya kepada Tuhanmulah kesudahan segala susuatu.?

Epilog:

Nietzsche dengan terbuka mengatakan diawal kalimahnya, Empat Kekeliruan Besar dalam buku Senjakala Berhala dan Anti-Krist, kekeliruan sebab sebagai akibat; ?tidak ada kekeliruan yang paling berbahaya ketimbang menyangka akibat sebagai sebab, saya sebut ini bentuk instrinsik kejahatan akal.?

Dengan mengambil contoh bukunya Cornaro: ?diet itu penyebab dari hidupnya yang panjang, sedangkan syarat kehidupan panjang, metabolisme yang sangat lambat, jumlah makanan sedikit itu sebab.?

Di sinilah awal persinggungan saya. Nietzsche juga Cornaro sama-sama terburu menentukan sebab dan akibat. Saya katakan tergesa, karena Cornaro masih berujar; ?jumlah makan yang sedikit sebagai sebab, dalam terjadinya penyebab atau diet, demi kehidupan panjang.?

Makna ini selintas mendekati pandangan saya bagian kedua, penyebab yang menyebabkan atau proses kehidupan insani. Namun dengan sorot lampu lebih cemerlang, kita mendapati bayang kejelasan yang dia harapkan.

Dengan menekankan ?kehidupan panjang? seolah jumlah makan sedikit akan melangsungkan kesehatan dengan diet (penyebab). Atau lelaku tirakat bagi penyebab kesehatan. Perbedaan jelas ketika selanjutnya Nietzsche melontarkan contoh: ?Rumusan paling umum, yang mendasari setiap agama dan moralitas adalah lakukan ini dan ini, jangan lakukan ini dan ini, dan kamu akan bahagia?

Nietzsche begitu jauh menghakimi moralitas agama, tentu saya maklumi, sebab tak melihat paparan manusia sebagai sebab yang menyebabkan (rahmatan lil alamin), yang tidak memberatkan dirinya dengan diet berlebih. Hingga apa yang diharapkan tirakat sebagai akhir impian dan harapannya, sementara hasrat pelangsingan tubuh sebagai kesehatan ruhani.

Impian-harapan seolah menjanjikan akibat menyenangkan. Sedangkan bagi saya, impian pun harapan di atas, kurang tepat sebelum melewati hukum-hukum yang diyakini sampai kedudukannya berserah. Yang saya maksudkan hasil, tidak menyakiti sisi-sisi kodrati, malah mewakil yang dipercayai.

Marilah mendengar kutipan Derrida di bukunya Specter of Max dari Fukuyama: Baik Hegel maupun Max yakin bahwa evolusi masyarakat-masyarakat manusia bukannya tanpa akhir, tapi akan berakhir ketika umat manusia telah mencapai suatu bentuk masyarakat memuaskan kerinduan-kerinduannya yang paling dalam dan paling mendasar. Kedua pemikir itu dengan demikian mengajukan suatu ?akhir sejarah.? bagi Hegel ialah negara liberal, sementara bagi Max, itu masyarakat komunis.

Saya katakan berkapasitas sebagai memiliki kursi di lantai berbeda, namun dalam satu nafas gravitasi kemanusiaan. Bahwa yang Fukuyama katakan, seirama yang dirindukan Cornaro, Nietzsche di lain tempat. Setelah saya melewati pendekatan kata ?impian? atau ?harapan? di atas pada bahasa Fukuyama, akhir dari evolusi manusia, ketika mencapai bentuk masyarakat memuaskan kerinduan-kerinduan paling dalam dan mendasar.

Penekanan kata pasrah atau berserah, bukan wujud sedari impian ataupun kerinduan terdalam kemanusiaan. Namun memasuki aura Ilahi, keselarasan alam dan penghuninya, bersatunya wacana akan kesadaran peradaban. Dengan menanggalkan pengertian kajian sejarah, bukan proses pengakibatan. Tetapi temuan baru atau kelahiran suatu generasi lebih tinggi, bagi penyebab yang menyebabkan.

Dan pada tahap penyebab yang mengakibatkan, bukan bermakna kefakuman setelah kerinduan terdalam, dan mendasar tercapai. Sebab dengan menggunakan empat tahap evolusi di atas, akan hadir khasana rahmatan lil alamin. Atau saudara sedang membandingkan, antara kepasrahan dengan yang paling mendasar. Kalau saya mendedah maknanya ?paling mendasar? itu kebutuhan mengenai kebahagiaan material. Sedang ?kepasrahan? melingkupi material dan spiritualitas.

[2005 ? 2009, Lamongan, Jawa]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *