SCIENCE FICTION SUPERNOVA

Maman S. Mahayana *

Dua tanggapan atas Supernova yang dimuat Kompas (C. Sri Sutyoko Hermawan, Kompas, 11/3/2001 dan Tommy F. Awuy, Kompas, 18/3/2001) memperlihatkan kecerdasan kedua penulisnya dalam menganalisis novel karya Dee (Dewi Lestari) itu. Sebagai sebuah kritik umum, kedua tulisan itu berhasil menyajikan sebuah apresiasi. Ia dapat merangsang pembaca untuk menyimak sendiri novel itu. Bahkan, Hermawan, berhasil pula menguak sejumlah kontradiksi yang disajikan Supernova. Dengan begitu, ia sekaligus memberi dua kemungkinan penafsiran, yaitu sebagai kelemahan novel itu atau kompleksitas problem tematisnya. Apapun hasil penafsirannya, bukan lagi menjadi soal. Sebab, masalah itu memang sangat bergantung pada wawasan pembacanya sendiri.

Dalam kaitan itu, “Kritik atas Kritik” yang disampaikan Awuy, juga menegaskan adanya dua –atau lebih– kemungkinan terjadinya penafsiran itu. Adanya keberagaman penafsiran, dengan sendirinya telah menempatkan novel bersangkutan sekalian juga dengan kekayaan maknanya. Di sinilah fungsi penafsiran teks dalam kaitannya dengan konteks menjadi sangat penting. Teks tidak an sich bermakna teks tersurat, melainkan juga makna tersirat sesuai konteksnya.

Demikian juga, tulisan Awuy yang mencoba menempatkan novel itu sebagai tantangan kritik sastra kita, dapat dimaknai ke dalam dua kerangka berpikir. Pertama, Supernova sebagai science fiction. Dalam hal tersebut, sungguh tak dapat dinafikan label science fiction yang dilekatkan kepadanya. Sejumlah deskripsi ilmiah (science) berhasil lebur menjadi sebuah fiksi, dan bukan teks ilmiah. Dengan begitu, yang muncul ke permukaan bukanlah sebuah teks yang beku dan memusingkan, melainkan keindahan estetik yang menjadi syarat mutlak estetika teks fiksi. Dan ia merangsang kita untuk melakukan penelusuran lebih mendalam mengenai deskripsi science itu.

Jika dianalogikan science sebagai politik, maka seperti dinyatakan Stendhal, novelis Perancis, ia laksana letusan pistol di tengah pagelaran konser: ia dapat terdengar keras dan kampungan, tetapi mau tidak mau, kita pasti memperhatikannya. Dalam hal ini, memasukkan science, politik, filsafat atau ilmu pengetahuan lain ke dalam novel, dapat menghasilkan dua kemungkinan. Ia akan berantakan lantaran ada misi tertentu yang dipaksakan atau akan melahirkan nilai estetik yang cerdas, jika ia menjadi bagian integral dalam struktur novel itu. Supernova, terlepas dari sejumlah kontradiksi sebagaimana yang ditunjukkan Hermawan, berhasil menjadikan letusan pistol itu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari komposisi konser.

Kedua, Supernova sebagai objek kajian kritik sastra. Dalam hal ini, pertanyaan Awuy, “Apakah seorang kritikus sastra tanpa memahami teori fisika akan dengan mudah menganalisis karya seperti Supernova secara memuaskan?” Yang perlu dicermati di dalam lingkup kritik sastra sesungguhnya bukanlah terletak pada apakah analisisnya memuaskan atau tidak, melainkan jatuh pada argumen yang memadai. Setiap kritik sastra mestinya berakhir dengan tidak memuaskan! Dengan demikian, ia membuka peluang terjadinya perdebatan. Dan itu justru dimungkinkan lantaran interpretasi ikut memainkan peranannya. Tanpa itu, penggalian terhadap kekayaan teks akan mandek. Penafsiran terhadap sebuah teks akan berakhir pada persoalan puas atau tidak puas.

Seorang kritikus sastra tak mutlak menguasai semua ilmu, termasuk di dalamnya memahami teori fisika. Usaha pemahaman terhadap Supernova, juga tidak secara serta- merta, mewajibkan kritikus belajar ilmu itu. Yang penting dilakukan adalah mencermati, bagaimana deskripsi ilmiah itu, integral, lebur, dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam struktur karya bersangkutan. Jadi pencermatannya jatuh pada masalah estetika dan bukan pada kebenaran science sebagai science. Jika kritikus dituntut harus memahami semua ilmu, maka betapa celakanya seorang kritikus yang hanya berkutat pada ilmu-ilmu humaniora, dan tidak memahami fisika, kedokteran atau ilmu eksakta secara keseluruhan.

Di awal tulisannya, Awuy menyatakan: “Kritik sastra di Indonesia muncul secara beragam, mengikuti perkembangan arus paradigma kritik sastra dunia…” Justru dengan kenyataan itu, analisis terhadap Supernova, juga (terpaksa) menggunakan paradigma itu. Dan di dalam kritik sastra, dikenal adanya kritik perspektif, yaitu jenis kritik sastra yang inklusif. Ia selalu membuka diri atas lahirnya berbagai karya eksperimental, avant-garde, atau yang nyeleneh sekalipun. Supernova sebagai karya yang masuk dalam kotak science fiction, tentu saja penilaian terhadapnya mesti menggunakan perangkat kotak itu. Dengan sendirinya, munculnya karya-karya eksperimental selalu akan diikuti dengan analisis kritis dengan menggunakan perangkat yang pas sesuai dengan kotak yang dimasukinya.
***

Dalam sejarah novel Indonesia, mesti diakui Supernova merupakan novel pertama yang memanfaatkan science untuk kepentingan fiksi. Dialog Ruben-Dhimas, misalnya, yang sarat bernuansa science, sekaligus juga memperkuat ketokohan keduanya. Begitu juga pemaparan sejumlah teori, baik yang diberi keterangan dalam catatan kaki, maupun yang diintegrasikan dalam deskripsi dan dialog antartokoh, memastikan luasnya wawasan Dee dalam bidang itu. Setidak-tidaknya, ia sangat tidak miskin bacaan.

Usaha pemanfaatan science atau deskripsi ilmiah dalam khazanah kesusastraan Indonesia, sesungguhnya pernah dilakukan Achdiat Karta Mihardja dalam Debu Cinta Bertebaran (Singapura, 1973) meski pemanfaatannya cenderung jatuh pada dialog-dialog berkepanjangan tentang filsafat dan estetika. Sungguhpun demikian, ia masih lebih baik dibandingkan Grotta Azzura (1970–1971) Sutan Takdir Alisjahbana yang eksplisit merupakan filsafat pengarangnya sendiri. Djoko Quartantyo, dalam cerpennya “Absurd” (Kompas, 27 Mei 1990) juga sudah memperlihatkan gejala ke arah pemanfaatan itu. Munculnya Supernova, dipastikan akan meramaikan jenis novel model science fiction.

Dalam sejarah novel dunia, karya sejenis itu yang dapat dimasukkan dalam kotak science fiction, tentu saja bukanlah hal yang baru. Istilah science fiction mula diperkenalkan oleh Hugo Gernsback tahun 1926 untuk menyebut cerita-cerita yang menakjubkan (amazing stories). Baru pada tahun 1950, selepas Robert Scholes, Alvin Toffler, Scott Sander, dan C.S. Lewis, secara gencar ikut membicarakan karya-karya sejenis itu, istilah science fiction lalu digunakan sebagai label untuk novel yang sarat mengandung uraian ilmiah. Novel-novel yang terbit abad ke-17 pun menjadi sasaran contoh kasus. Muncullah nama-nama Edgar Allan Poe, Jules Verne, Robert Louis Stevenson, Clive Cartmill, dan teristimewa Herbert George Wells.

Belakangan, karya-karya H.G. Wells (1866-1946), seperti The War of the Worlds (1898) yang mengisahkan kedatangan makhluk Mars atau The World Set Free (1913) yang menceritakan keganasan senjata atom, telah menempatkannya sebagai perintis science fiction. Dua novel awalnya, The Time Machine (1895) dan The Island of Doctor Moreau (1896), bahkan dianggap sebagai pelopor novel sejenis itu. Lebih daripada itu, karya-karya Wells juga dipandang sebagai jawaban terhadap pandangan dunia ilmiah (scientific world-view), meski ada juga yang menyebutnya sebagai literature of ideas.

Di Amerika, karya Clive Cartmill, Deadline, yang menggambarkan keganasan ledakan bom atom serta akibat-akibat yang ditimbulkannya, dipandang sebagai bukti adanya kebocoran dalam sistem intelejen militer Amerika. Akibatnya, Badan Intelejen Militer Amerika, terpaksa mengkaji ulang sistem keamanannya.

Jauh sebelum itu, di dunia Islam, Ibn Thufail (1106–1185) lewat karyanya, Hayy Ibn Yaqzhan (terjemahan Helmi Hidayat, Pelita, 29/10/1990 sampai 30/11/1990), berhasil mengintegrasikan deskripsi anatomi, astronomi, dan filsafat Islam sebagai naluri, intuisi, dan akal murni tokoh Hayy. Tidak sedikit pemikir yang menempatkan karya itu dalam kerangka pemikiran filosofis Ibn Thufail. Tetapi, banyak pula yang mengaguminya sebagai karya sastra yang bernilai tinggi. Penerjemahan Hayy Ibn Yaqzhan ke dalam banyak bahasa dan pengaruhnya yang luas merupakan bukti pentingnya karya itu. Dipercayai pula, Daniel Defoe (1661-1731) dalam karyanya, Robinson Crusoe (1719), Jonathan Swift (1667–1745) dalam Gullivers Travels, dan Rudyard Kipling (1856–1936) dalam Jungle Books (1894), langsung atau tidak, terpengaruh karya Ibn Thufail.
***

Bagaimanapun juga, di dalam paradigma kritik sastra Barat, Supernova sebagai karya sejenis science fiction, tidaklah sama sekali baru. Dalam pengajaran kritik sastra, pembahasan mengenai itu, juga sudah sejak lama dijadikan sebagai salah satu materinya. Hanya saja, ketika kita hendak menerapkan itu, tak ada novel Indonesia yang representatif yang dapat dijadikan contoh kasus. Oleh karena itu, kehadiran Supernova di tengah kita, tidak hanya ikut menyemarakkan keberagaman khazanah novel Indonesia, tetapi juga sangat mungkin bakal makin menggairahkan kehidupan kritik sastra Indonesia, baik di lingkungan akademis, maupun di masyarakat sastra Indonesia secara keseluruhan. Niscaya, kajian mengenai itu, sungguh akan tambah mengasyikan.
***

_________________
*) Maman S. Mahayana, lahir di Cirebon, Jawa Barat, 18 Agustus 1957. Dia salah satu penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (2005). Menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS UI) tahun 1986, dan sejak itu mengajar di almamaternya yang kini menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Tahun 1997 selesai Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Pernah tinggal lama di Seoul, dan menjadi pengajar di Department of Malay-Indonesian Studies, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan. Selain mengajar, banyak melakukan penelitian. Beberapa hasil penelitiannya antara lain, “Inventarisasi Ungkapan-Ungkapan Bahasa Indonesia” (LPUI, 1993), “Pencatatan dan Inventarisasi Naskah-Naskah Cirebon” (Anggota Tim Peneliti, LPUI, 1994), dan “Majalah Wanita Awal Abad XX (1908-1928)” (LPUI, 2000).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *