Jangan Kau Tanya, di Mana Ayah Kita

Rihad Wiranto
http://jurnalnasional.com/

Puluhan, bahkan mungkin lebih dari seratus penonton di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Selasa Malam, 16/6, nampak hanyut, terbawa arus, melintas waktu kembali ke Tahun 1998, saat puluhan aktivis hilang diculik sekelompok “oknum” militer. Sebagian selamat dan kembali ke keluarganya, sebagian lagi hilang ditelan bumi, tak jelas, apakah masih hidup ataukah sudah kembali ke pangkuan Illahi.

Fitri Nganti Wani atau Wani, nama akrabnya, mahasiswi Fakultas Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menjadi lakon utama malam itu. Dengan diiringi petikan gitar oleh adik satu-satunya, Fajar Merah, Wani membawakan sebait puisi ciptaannya yang tertuang dalam buku kumpulan puisinya Selepas Bapakku Hilang yang diluncurkan malam itu.

Wani bukanlah penyair terkenal, bukan pula anak seorang pembesar. Namun ia putri dari Widji Widodo atau lebih dikenal Widji Thukul seorang penyair yang juga korban penculikan aktivis tahun 1998 lalu yang hilang tak tentu rimbanya sampai kini. Wani, Fajar, dan ibunya Si Pon, hanya bisa berjuang untuk tetap tegar, tanpa tahu jelas, di mana ayah dan suami mereka atau jasadnya berada.

“Adikku sayang, Menangislah sejadimu, Luapkan segala emosimu, Tapi jangan kau tanya, Di mana ayah kita, Karena kakak tak tahu, Di mana ia berada”. Itulah sebait puisi dari Puisi Rindu Adik Pada Ayah yang dibawakan Wani.

Bait lainnya, ….. Namun jangan kau Tanya, Mengapa kita tidak punya ayah. Karena ibu pernah berkata Ayah kita bukan hanya ayah kita, Ia kini milik banyak orang, Karena ia putuskan menjadi pejuang.

Lewat buku kumpulan puisinya yang terdiri dari 66 puisi tersebut, Wani ingin memberitahukan semua orang, bahwa keperihannya di tinggal bapaknya bukan hanya miliknya, milik adiknya atau milik ibunya. Bukan pula hanya milik anak, istri dan ibu sesama korban penculikan. Keperihan itu milik semua orang yang peduli akan nasib bangsa, terutama yang peduli akan para tunas bangsa yang diculik untuk suatu alasan yang tak logis, bahkan tak beradab.

Malam itu, dipanggung. Wani tidak seorang diri. Penyanyi kawakan Iwan Fals, Oppie Andaresta, penyair Sitok Srengenge, dan seniman tutur asal Aceh PM Toh, turut menghanyutkan penonton. Juga tampilan performing art dan seni instalasi dari mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) turut memperkuat kesan, betapa tragisnya kejadian tahun 1998 lalu.

“Saya menulis puisi kapan saja, sejak kelas 6 SD, bila merasakan sesuatu”, katanya usai pertunjukan. Menurutnya, saat ditinggal Bapaknya, dirinya masih kelas 2 SD. Diakui Wani, sejak kecil ia suka menulis puisi, walaupun hanya untuk dirinya sendiri. “Puisi yang paling saya suka dari bapak, salah satunya adalah Puisi yang berjudul Hanya Ada Satu kata : Lawan,” katanya polos. Yanuar Jatnika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *