Puisi-Puisi Kika Syafii

http://berbagipuisi.blogspot.com/
Kamu dan Aku

Malam ini melarikan diri
hanya kamu dan aku
mencari kedamaian
jauh melewati samudera

Kekasih, betapa kamu hidup
dalam nafasku…

Depok, 2009

Dialog

Dalam rintik hujan aku bertanya
kamu takut?
“tidak!” katanya
“kenapa menangis?” tanyaku
“aku sedih melihatmu kekeringan” sambungnya
“apakah kamu jatuh cinta padaku?” tanyaku
“tidak ada waktu menjawab itu…”
kamu menghindar
“aku jatuh cinta padamu….” bisikku lirih

Pada malam, pagi, siang dan sore
dingin, panas, mendung serta hujan
aku jatuh cinta
Ya…
betapa banyak cinta merenda hari

Depok, 2007

Gumam

Setiaku pada tulang putih
menumpuk, memasung perih
cintaku pada merah darah
menggigit, meresap nanah

Indonesia
kapan engkau MERDEKA!

Tak lagi Air

Sembari aku tangkup tangan
aku sebut namamu
mungkin kemarin adalah terakhir
disertai kaku kita bertemu

Semoga kamu selalu baik
sampai saat kita bertemu
saat itulah kita tak lagi air
namun juga udara, tanah dan api

Bandara Soekarno Hatta
2009.

Iris

Dulu..
setengah bergumam kamu bilang takut
takut bila hati hanya menjadi mainan
setengah waktu berlalu..
bibir, dada dan tubuhmu mengajakku
turut ke dalam keriangan tarianmu
keringatmu menjadi bagian
nafasmu adalah suguhan
aku pun terhisap
hanya untuk mengerti kamu

Kini…
setengah mengiris setengah memotong
pada awalnya kamu tusuk aku
kemudian pelan dan sangat pelan..
kamu putar haluan pisau itu
seperti mengiris
dan aku memang teriris
otak, hati dan lidahku terputus
hanya tangan menuliskan..

“akulah mainan itu”

Namaku Namamu

Pagi tadi aku temukan coretan lamamu
disitu ada kau tulis nama
gurat tebal membekas di balik kertas
namaku..

Sesaat,
katakata bijak yang terbiasa menyerta
seperti berjalan meninggalkan mulut
satu persatu,
hingga lidah kena paku..
hanya otak yang masih sanggup berkuasa
menertawakan mulut hingga telinga tergelak
meski ingin membentak
karena mata sudah mulai muncul riak
yang hampir mengalir menuju punggung hidung

Sembari kembang kempis menahan sesak
jantung menata ulang hati agar tetap di tempat
tidak pergi menjauh
dan tetap menyisir hitam rambut
persis seperti saat aku jatuh cinta
agar cermin pun selalu berbaik hati
menelungkup wajahku hingga hangat,
sangat hangat..

*

Sore ini aku temui warna kesukaanmu
melayangkan senyum ceria dan menyapa
rumahmu disana rumahku disini
namamu..

Depok, 2009

Aalia

Secarik semangat terus ku tarik demi masamu,
Secarik nafas terus aku kejar menjagamu,
tiada waktu berhenti,
tiada pula mati…

Kamu sungguh menggairahkan,
Kamu sungguh melupakan,
Maaf, bila aku sedikit meninggalkanmu,
karena itu untuk kembali kepadamu..

Waktu itu kamu berjanji akan menjaga,
meniscayakan percaya menghilangkan murka,
aku mengerti,
meski tidak pasti..

Esok lusa aku akan berjalan menuju fajar elok nun jauh disana,
semua hanya untuk kembali kepadamu,
tautan kegilaan hati, hanya kepadamu,
dan kepadamu..

Akan aku ambil serpihan-serpihan kelopak bunga,
ku rangkai dan ku bingkai untuk persembahanmu,
Sebelum semua mengetahui, sudah tersemat dilehermu,
hingga kecantikanmu tiada pernah terurai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *