ALUSI; Asap, Waktu, dan Kupu-Kupu

Imamuddin SA

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Ungkapan Chairil Anwar itu terasa lantang disuarakan kembali dalam dewasa ini. Kata-kata itu seolah menjiwai setiap pribadi anak bangsa. Sungguh betapa dahsyat aura perjuangan yang tecermin di dalamnya.

Dan hal itu melingkupi segala sektor kehidupan yang ada di bangsa ini. Tengok saja dari sektor ekonomi; anak bangsa kita saling berlomba memperjuangkan nasibnya demi suatu pekerjaan dan kesejahteraan hidup yang mapan. Sektor sosial kemasyarakatan lagi gencar-gencarnya menggalang kerukunan antarkelompok masyarakat. Dari sektor pendidikan, generasi muda kita tengah berjuang untuk meraih masa depannya. Mencoba berusaha mendiami lembaga pendidikan yang sesuai dengan cita-citanya. Dan masih banyak lagi perjuangan-perjuangan yang digencarkan anak bangsa kita demi terciptanya suatu keharmonisan hidup yang sejahtera.

Ada lagi jika dihubungkan dengan aksi teror bom belakangan ini. Pasalnya, pelaku aksi bom bunuh diri kali ini adalah seorang remaja yang berusia belasan tahun. Jangankan peluru, bom saja tengah diterjangnya. Alih-alih ia pasti berdalih berjuang demi menegakkan kebenaran. Tentunya kebenaran yang berdasar pada sudut pandang pribadi dan kelompoknya. Dari kacamatanya, mereka yang melakukan aksi itu pasti melihat banyaknya ketimpangan-ketimpangan sosial atau praktik-praktik tertentu yang dirasa kurang cocok dengan kepribadian dan ideologi meraka. Dan entah, kebenaran mana dan bagaimana yang dalam realitas fisikal ini dapat dikatakan kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang muncul hanya bersifat relatif. Yang benar dan menang hanyalah yang mayoritas. Sebab segelintir kebenaran yang hadir di tengah-tengah kesungsangan akan menjadikannya berada dalam posisi yang salah dan terlihat konyol. Dan hanya butuh keajaiban saja, kebenaran itu dapat diakui realitas yang ada. Itu tampak dari tayangan film yang ada di negara kita. Kebanyakan akhir-akhir ini tayangan televisi menayangkan film-film yang berbau magic (keajaiban). Hampir seluruh film populer jebolan Indonesia berbau seperti itu. Ini sebenarnya citra kita dan bangsa kita sendiri yang menjadi pembeda dengan bangsa lain, khususnya bangsa Barat. Lihat saja, setiap film yang diproduksi bangsa Barat, mayoritas yang ditonjolkan adalah heroik logistik. Jadi, dapat diasumsikan bahwa kehidupan mereka membutuhkan pejuang kebenaran yang sesuai dengan kebenaran logika. Selama tindakan yang dilakukan itu dapat diterima akal dan berdalih kuat, maka dengan sendirinya masyarakat akan mengakui bahwa itu benar. Dan ini tidak harus menunggu keajaiban datang layaknya realitas di negara kita.

Sebenarnya semua usaha yang mereka lakukan di atas itu tidak lain hanyalah agar hidupnya bermanfaat dan berkenang bagi orang lain. Bahkan akan melampaui usianya. Namanya tetap hidup walaupun jasad telah tiada. Tujuan itulah yang menjadi tonggak eksistensialisme perjuangan mereka. ?Mereka ingin hidup seribu tahun lagi?.

Tidak kalah menariknya dengan aksi teror bom beberapa saat yang lalu. Tepatnya pada bulan Juni 2009 kemarin, dunia kesusastraan juga terjangkit serangan bom. Tapi amunisinya bukan mesiu atau yang lain, melainkan karya. Pelakunya adalah Pringadi AS. Pemuda kelahiran Palembang 18 Agustus 1988. Pringadi membombastis dunia kesusastraan dengan meluncurkan antoligi puisi tunggalnya yang berjudul Alusi, yang diterbitkan oleh PUstaka puJAngga 2009. Semangat perjuangan untuk memberi kenangan manis pada kehidupan sesemangat hari kelahiranya, di mana tanggal tersebut adalah masih berbau momen sejarah semangat perjuangan kemerdekaan negara kita. Ia ingin menjadi Chairil muda yang bisa hidup seribu tahun lagi dengan kehadiran karyanya. Semangat perjuangan yang bersifat positif seperti Pringadi inilah yang kiranya patut ditanamkan jauh lebih dalam pada jiwa-jiwa anak bangsa kita. Bukan doktrin-doktrin perjuangan negatiflah yang semestinya ditanamkan. Dan inilah jalur perjuangan hidup yang tampaknya tengah ditempuh oleh Pringadi untuk mengubah tatanan baru kepribadian manusia serta bangsa. Esensial makna sajak yang digurat Pringadi diharapkan mampu menjadi mercusuar bagi seseorang dalam setiap langkahnya.

Ini tampaknya pilihan yang tepat bagi Pringadi untuk berjuang dan menorehkan kenangan manis hidupnya. Dalam ilmu sastra ada istilah majas atau bahasa kiasan. Fungsinya cukup variatif. Dan yang paling menonjol adalah memberikan suasana yang indah bagi jiwa seseorang, meski menggigit hati. Istilahnya memukul dengan perasaan, sehingga orang yang terpukul tidak merasakan sakit, namun justru mampu membuat perubahan yang berarti dalam hidup dan kehidupannya.

Dari sisi judul antologi yang digurat, tujuan Pringadi sudah terlihat jelas. Alusi secara leksikal bermakna sindiran halus. Dengan ini ia ingin berusaha membuat perubahan dalam pribadi seseorang secara halus tanpa menyakiti perasaannya. Setiap orang yang membaca karya ini diharapkan akan tergugah hatinya dan berkenan membuat perubahan dalam hidup dan kehidupannya tanpa sakit hati, meski sedang tersindir oleh kata-kata dan maknanya. Itulah tujuan Pringadi.

Esensial makna sajak yang dibangun Pringadi cukup baik. Ia membangun jiwa manusia ke arah yang lebih positif, baik dari sisi eksistensialisme, religius, sosial, maupun politik. Hanya saja secara struktural, bangun sajak yang diguratnya terasa lemah. Mungkin ini faktor dari usia kepenyairannya. Ia baru mengawali karir kepenyairannya tahun 2007, sebelumnya ia adalah cerpenis. Ada beberapa hal yang patut dijadikan sebagai pusat perhatian dalam sajak-sajak Pringadi. Hal itu di anta