Berita dari Kampung

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Kebiasaanku tiap pagi sebelum berangkat ke kampus ialah memeriksa kotak surat di lobi Mary Morris Resedence, siapa tahu ada sepucuk dua surat dari kampung halaman. Tapi pagi itu aku belum beruntung. Bagaimana keadaan istri dan dua orang anakku yang kutitipkan di rumah orang tuaku di Malang?

Sebelum aku berangkat, Wawan dan Andi menjadi pasien Dr. Wardhana spesialis anak-anak dan divonis sakit paru-paru sehingga harus mengkonsumsi obat yang mahal. Kencing mereka berwarna kuning kental, dan kami berdua mendatangi tempat praktek dokter paru-paru, dirongent dan dinyatakan sehat. Darimana istriku mendapat uang membeli obat? Memang sahabatku SK Martha memuat cerpen terjemahanku sekali dan mengirim honornya kepada istriku, tetapi aku tak menulis apa-apa ke majalah dimana dia bekerja selama aku berada di Inggris.

Aku berjalan kaki ke kampus bersama puluhan mungkin ratusan mahasiswa Leeds University yang lain yang tinggal di wilayah Headingly. Ongkos bus yang sepuluh pence sekali jalan dapat kuhemat sebab ongkos transpor diganti oleh The British Council. Untuk menghemat biaya aku sering membeli karcis bulanan yang dapat membawaku kemana saja ke pelosok Leeds Metropolitan dengan murah. Selama perjalanan aku dapat berkenalan dengan teman-teman baru, orang Inggris asli, bukan mahasiswa asing sebagaimana teman-temanku di Overseas Education Unit, yang semuanya mahasiswa asing, walau ada yang dari Norwegia, Italia, Argentina, dan juga yang dari Costa Rica. Menarik mendengar kisah sepotong-potong dari mahasiswa under graduate yang masih sangat muda. Mereka rata-rata punya cita-cita menjadi ilmuwan handal. Di saat nonton drama di teater kampus aku juga bertemu dengan Elke Wasserman. Mahasiswa Jerman yang suka nonton pertandingan bola. Dia sangat bangga dengan kesebelasan nasionalnya.

Disibukkan oleh kuliah, diskusi, makan siang dan membaca di perpustakaan, kerinduanku pada kedua anakku dapat ditekan. Rindu pada keduanya memang berat. Pernah aku bermimpi bertemu Wawan berada di sebuah jembatan sendirian, padahal dia masih berusia lima tahun. Saat aku terbangun aku menangis memikirkan nasib anakku sesungguhnya. Ketika pulang ke kampus Singaraja dan kuceritakan hal itu pada Pak Ngurah yang memang terkenal jagoan dia berkomentar:

“Ya disana istri kan bisa cari,” dengan senyum yang menusuk hati. Aku tidak membalas komentar itu kecuali tersenyum, dan pasti ditafsirkan aku punya banyak selingkuhan disini. Satu hal yang tak kuceritakan padanya, saat di Leeds aku kenal dengan Una Macleasn, Susan Hoivik dan Caroline Macleod, dan ketika kuberitahu aku punya anak dan istri, mereka sangat menghormatiku.

Tergesa aku pulang ke asrama jam lima sore bersama puluhan mahasiswa lain yang menuju kawasan Headingly. Selain hendak menyiapkan makan malam juga ingin sampai ke kotak surat dan memeriksa jangan-jangan ada surat untukku yang dimasukkan ke dalam pigeon hole dengan penanda huruf B, namaku, Toh aku juga memeriksa lubang dengan huruf S, siapa tahu ada salah sortir.Aku menyabet sampul surat yang ditujukan padaku dan mengucap alhamdullillah. Surat dari ibuku. Aku hapal tulisan tangannya yang indah, maklumlah dia seorang guru Sekolah Dasar, Dengan langkah lebar aku menuju kamarku di lantai dua, masuk, melemparkan tasku dan langsung merobek sampul surat itu, ternyata ada sepucuk surat lain di dalamnya, dan surat ibu sekedar berisi berita pengantar mengabarkan tentang datangnya surat itu.

Surat dari Jerman! Tak kuduga pula, dari Kuslan yang kujumpai terakhir entah kapan. Dia menetap di Yogya setelah turun gunung dari Pacitan. Di Pacitan dia menjadi guru Sekolah Rakyat bersama Susilo Murti walau tidak pada astu sekolah. Kalau tidak salah nama desanya Arjosari. Di Yogya semangat melukisnya membara apalagi bertem,u kembali dengan sahabat-sahanbat lamanya di Asri, sebuah akademi senirupa bergensi saat itu.lan sebagaimana juga Susilo, bekerja sebagai guru Sekolah Rakyat di Arjosari, Pacitan. Baik Susilo maupun Kuslan adalah pengagum Bung Karno dan bersimpati pada PNI.

Tahun 1959 aku ingat bepergian ke Yogyakarta mengantar sepeda untuk kakakku yang memulai kuliahnya di Akademi Pimpinan Perusahaan. Sepeda dinaikkan bagasi kereta api, sekereta denganku, dan saat sampai di Yogya, sepeda kuambil dan langsung kunaiki ke Gampingan, tempat banyak mahasiswa ASRI bermukim. Aku berhasil menemukan pondokan Kuslan, sebuah rumah berdinding bedek bambu, berukuran sekitar dua kali tiga meter. Kuingat tempat tidurnya dari bambu juga yang berkeriyut saat aku membaringkan tubuhku. Terpaksa kami tidur berhimpitan dengan serangan nyamuk dan deram mesin listrik dari seberang jalan, yang lama kelamaan tak lagi mengusik pendengaranku. Untuk mandi kami turun ke tepi sungai, mandi dari belik, sumber-sumber air di tepi sungai bersama penduduk Gampingan yang lain, dan untuk buang air besar aku jongkok di tepi kali, benar-benar disambut air besar.

Kuingat saat itu Kuslan yang aktif melukis walau dia juga mengarang, masih setia pada PNI dan Bung Karno. Tetapi, melihat keadaan yang memburuk, dia berubah.

“PNI itu borjuis. Aku sudah tak cocok lagi. Aku harus berjuang membela rakyat kecil.” Aku ingat juga beberapa tahun kemudian saat aku menempuh kuliah di Jakarta, temanku Gunawan Susatyo juga berkomentar serupa tentang mahasiswa yang tergabung di dalam GMNI. Mereka oportunis, katanya. Aku tak mengiyakan atau membantahnya. Sudah sering kudengar komentar seperti itu dari para lelaki yang mengaku seniman di kotaku di Malang, dan kebanyakan berkata dengan sengit tentang film Amerika bahkan film India yang dikatakan sebagai konsumsi kaum borjuis.

“Untuk makan saja aku tak punya uang, apalagi nonton film!” sahut kenalanku saat aku katakan ada film bagus bernilai seni. Aku seperti biasa juga tak berkutik. Tak sampai hati aku menyinggung perasaan teman yang mengaku tak bisa beli beras.

Susilo sahabat Kuslan, juga keluar dari pekerjaannya sebagai guru tetapi bergabung dengan Sanggar Bambu. Susilo rajin menulis cerita anak-anak di Majalah Si Kuncung, dan benar-benar mengetik ceritanya di kantor majalah itu setelah ditinggalkan para pegawainya di sore hari. Hanya Mas B. Soetiman yang tinggal disitu dan sering dengan senang hati menanak nasi untuk kami. Beberapa mesin tulis kantor yang kosong kami pakai untuk menulis cerita, bukan saja cerita anak-anak tetapi juga cerita pendek untuk koran mingguan Berita Minggu yang memberi banyak honor. Malam harinya kami tidur di lantai kantor berselimutkan koran untuk menahan serangan ribuan nyamuk. Di Sanggar Bambu Susilo diberi tugas menjadi redaktur majalah anak-anak Titian yang hanya sempat terbit satu kali. Tetapi begitulah perjuangan di tengah hari-hari kelaparan. Kalau Sanggar Bambu pimpinan Soenarto Pr itu dapat proyek, maka anggautanya makan, kalau tidak, terpaksa bon makan di warung dekat sanggar di Jalan Muria.

Di Yogya Kuslan bergabung dengan Amrus, Djoko Pekik, Misbach Tamrin dan kawan-kawannya menderikan Sanggar Bumi Tarung. Untuk makan sehari-hari, para pelukis muda yang tak pernah mengalami boom penjualan lukisan seperti yang terjadi puluhan tahun kemudian, hanya mengandalkan belas kasihan pemilik warung tempat mereka sering ngebon. Kuslan bilang mereka sangat berhutang budi pada Bu Djojo yang dengan sabar dan maklum memberi mereka kesempatan untuk bon makan. Sering daftar bon ditanggapi dengan sedih dan gembira dan dianggap sebagai selembar kertas berisi sebuah puisi yang indah. Mereka tak hanya berkarya tetapi berjuang keras untuk hidup..

“Apa kabar? Aku tak tahu kamu tinggal dimana tetapi yakin surat ini akan sampai ke tanganmu, sebab aku percaya Bapak dan Ibu masih tinggal di Jl Lebaksari.” Tulisnya. Kuslan memang pernah menginap di rumahku saat aku masih duduk di bangku SMPN III dan menerbitkan majalah Bukit Manis bersama Sanyoto Dw. Kuslan lalu bercerita tentang dirinya yang masih tetap membujang sebab katanya, nonik-nonik tak ada yang mau dengannya.

“Dari Tiongkok aku pindah ke Moskow, lalu diusir dari sana dan pindah ke Jerman. Begitulah orang buangan.” Ketika surat itu kujawab dari Leeds, dia sangat gembira, dan menanyakan tentang nasib teman-temannya para pelukis yang masih tinggal di Yogya..

“Bagaimana Nasjah Djamin? Apa dia sehat-sehat saja? Aku ingin ngobrol asyik bersamanya tetapi kapan dan dimana, ya? Aku masih ingat guyonannya.”

Aku terharu mendengar pertanyaannya itu. Kalau aku sebagai mahasiswa saja selalu rindu pulang ke tanah air kembali kepada keluargaku, aku dapat merasakan kesedihan yang menusuk bathinnya lantaran tak bisa pulang kampung, bertemu sanak keluarga, ngobrol santai dengan teman-teman seniman di Yogya. Tahun itu baru tahun 1975, baru sepuluh tahun G30S meletus, dan kebencian kepada orag-orang komunis masih sangat dalam. Aku ingat seorang perwira Angkatan Laut yang disiksa karena ketahuan pernah menjadi simpatisan CGMI.

Kami mengenalnya sebagai perwira yang sangat ramah di Singaraja, pelatih olah raga bola volley,tetapi berita itu benar-benar mengejutkan. Kalau Kuslan pulang kampung, pasti hanya namanya saja yang terdengar sampai ke rumah. Dan dia pasti tahu mengenai hal itu. Dan kerinduan pada kampung dan para sahabat hanya dia lontarkan lewat surat-surat pada teman lama. Tetapi, sejak surat ke Leeds, aku tak lagi berani menulis surat untuknya dari Singaraja. Bahkan alamatnya pun kuhancurkan, sebab aku seorang pegawai negeri!***

* Singaraja 29-30 Agustus 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *