Hamsad Rangkuti, Kereta Api dan Pohon Jati

Dimas
http://www.poskota.co.id/

Hamsad Rangkuti kembali bikin ulah unik. Dia menikahkan putranya dengan mengundang menteri kehutanan RI.
Sebagai penghormatan atas hadirnya Menhut, yang secara pribadi merupakan temannya, dia memberikan mas kawin 500 batang pohon jati unggulan kepada mantunya, yang langsung ditanam.

Mas kawin berupa 500 bibit pohon jati unggulan ini diberikan dalam ijab kabul Girindra Rangkuti dan Sitti Samrotul Fuadah yang disaksikan Menteri Kehutanan, MS Ka?ban, di Kampung Cimayang III RT 12 RW 05, Desa Cimayang, Pamijahan, Leuwiliang, Bogor, Minggu (5/7).

Dalam ijab tersebut, diserahkan sejumlah seserahan termasuk cara simbolik mempelai pria menyerahkan satu pot bibit pohon jati tersebut.

Usai prosesi kedua mempelai itu, seperti dilaporkan detik.com, beserta orang tua, kerabat dan MS Ka?ban, mereka menanam bibit pohon jati di sebuah hutan yang berjarak sekitar 500 meter dari tempat acara.

Menurut MS Ka?ban, bila 500 bibit jati ini tumbuh dan kemudian mencapai 10 tahun, diperkirakan hargannya akan mencapai Rp 1,5 miliar. ?Pohon jati tersebut kalau berumur 8 tahun diameternya bisa mencapai 60 centimeter. Jadi, pohon tersebut bisa jadi tabungan kedua mempelai,? ujarnya.

?Ide pemberian bibit pohon sebagai mahar sangat unik dan positif. Karena bisa jadi wahana untuk membudayakan penanaman pohon oleh masyarakat. Dan, itu sesuai dengan program Dephut selama ini, yakni one man one tree. Jadi, mahar bibit ini mengandung banyak dimensi, terutama untuk melindungi bumi dari pemanasan global,? tandasnya.

KERETA API
Ini gebrakan Hamsad yang ke dua. Saat mantu anaknya yang pertama, beberapa waktu lalu, dia menyewa Kereta Api Listrik Bogor – Jakarta, yang biasa dinaikinya, sebagai tempat akad nikah dan resepsi pernikahan putrinya.

Hamsad Rangkuti, 66, dikenal sebagai maestro cerpen Indonesia. Sudah 47 tahun dia berkarya di dunia sastra tanah air. Kehebatannya diakui internasional, dengan peraih penghargaan SEA World Award dari Raja Thailand (2008), Anugerah Sastra Khatulistiwa 2003.

Di jajaran penulis cerpen, sastrawan kelahiran Tikuning, Medan Sumatera Utara ini masuk jajaran papan atas dan disegani, bersama-sama AA Navis, Gerson Poyk, Danarto, Seno Gumira Adjidarma, Radhar panca Dahana, Jujur Prananto, dll.

Sejumlah cerpennya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Sampah Bulan Desember yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Sukri Membawa Pisau Belati yang diterjemahkan kedalam bahasa Jerman.

Novel anak-anak yang ditulisnya, Kereta Pagi Jam 5 menduduki peringkat pertama kategori buku bacaan fiksi SD berdasarkan penilaian Departemen P dan K (1994) .

Dua cerpen dari pemenang Cerita Anak Terbaik 75 Tahun Balai Pustaka tahun 2001, Umur Panjang Untuk Tuan Joyokoroyo dan Senyum Seorang Jenderal pada 17 Agustus dimuat dalam Beyond the Horizon, Short Stories from Contemporary Indonesia yang diterbitkan oleh Monash Asia Institute, Australia. Kumpulan cerpennya, Bibir dalam Pispot meraih Sastra Khatuliswita 2003.

Tiga kumpulan cerpennya Lukisan Perkawinan dan Cemara (1982) serta Sampah Bulan Desember di tahun 2000, masing-masing diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, Grafiti Pers, dan Kompas. Salahsatu cerpennya difilmkan oleh mahasiswa IKJ, dimana dia ikut main.

Sebagaimana cerita-cerita yang ditulisnya dalam cerpen, yang realis, unik dan kocak, dengan mengeksploitasi kehidupan rakyat kecil, demikianlah dalam kehidupan sehari-hari. Dia merupakan sosok seniman Medan yang santun.

Kepada penulis, dia pernah bercerita ketika kulit kepalanya melepuh lantaran tersiram air panas. Dia mengisahkan, menjelang pulang malam, dan isterinya memanaskan air untuknya buat mandi.

?Saat itu Abang lagi mikirin bagian akhir dari cerpen yang lagi abang tulis. Eh, lupa mencampur air panas di ember dengan di kulah. Langsung siram saja ke kepala, ? katanya. Bayangkan rasanya!

Ramah, bersuara lembut dan rendah hati, Bang Hamsad akrab dengan kemiskinan dan penderitaan. Di Sumatra Utara, dia dibesarkan sebagai pedagang buah yang hidup di pasar.

Dalam seminar proses kreatif, dimana dia jadi pembicaranya, Bang Hamsad pernah mengungkapkan menulis cerpen baginya seperti berbohong. Apa yang ditulis sering merupakan khayalannya, mimpinya dan kebohongannya. Hamsad lalu menunjuk proses penciptaaan salahsatu contoh cerpen yang menghebohkan : Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu.

Tak lulus SMA, tapi pernah menjadi Pemimpin Redaksi majalah Horizon yang disegani penulis se-Tanah Air, Bang Hamsad memiliki keinginan yang sederhana di hari tuanya. Saat memperoleh uang tunai sebesar Rp70 juta sebagai peraih Anugerah Sastra Khatulistiwa 2003, dia ingin membeli angkot untuk anak-anaknya yang sudah dewasa tapi masih menganggur.

Ayah empat anak tersebut menyadari bahwa saat ini mencari pekerjaan tidaklah mudah. Oleh karena itu ia memilih membeli kendaraan angkot sebagai modal kerja anak-anaknya untuk bisa lebih mandiri.

Keinginan ayah 4 anak, kelahiran 7 Mei 1943 ini tak muluk-muluk. Dia mengolah keadaannya dengan kreatif. Dan dia berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*