Inlanderisasi dalam Sastra Indonesia (2 -Habis)*

Hudan Hidayat**
http://www.infoanda.com/

Dalam Pujangga Baru, Takdir bukanlah varian tunggal. Ada orang seperti Armijn Pane yang berpandangan, meski memeluk Barat, telah mempunyai semangat untuk melirik ke alam, untuk menjadikan alam sebagai dasar, sebagai sumber penciptaan. ‘Pujangga bergantung kepada keadaan alam. Alam itu, rahasia kepada kita, alam ialah lautan selubung, yang terbuka sedikit-sedikit, tetapi akan memperlihatkan lapisan selubung lain.’

Dibanding Takdir, Armijn lebih peragu, dalam memeluk Barat. ‘Zaman sekarang adalah zaman kebimbangan, yang tiada tertentu dalam segala-galanya. Semua orang adalah seperti bergantung di awang-awang, naik tidak dapat, turun tidak dapat, sedang tanah pijakan belum ada juga.’

Armijn hampir menemukan sumber penciptaannya. Sayang, ia terbawa pada semangat zaman: memeluk Barat. Suara Armijn, yang ingin kembali ke alam itu, adalah suara yang seolah datang dari sebuah gugus pikir, di mana kembali ke alam adalah bagian menyempal, denyar dari pikirannya, tapi bukan inti atau pokok pikirannya. Karena itu, saat dia menulis Belenggu, terlihat sekali bentuk dan spirit yang diambil, adalah spirit ragu: tradisi tidak gampang dilupakan, tapi Barat terus melambai.

Itu adalah contoh dari sejarah pemikiran sastra dan budaya kita yang kalah. Kekalahan yang juga mendera kaum ‘realisme sosialis’, yang menyandarkan ide pada ‘realisme sosialis ala Soviet’. Juga ‘kaum manifes’ yang berputar pada nilai kemanusiaan universal. Kedua seteru yang belum mampu keluar dari belenggu ide ‘dunia’.

Kekalahan yang menggaung hingga hari ini, bahkan makin menghebat. Dengan sekian puluh tahun ‘pencerahan’, kita tak juga beranjak, dan berpaling, dari ‘dunia’. Kita masih menghamba pada ‘dunia’. Kita tak berani dan tak mau menilai karya kita sendiri. Kita hidup dalam sekat kita sendiri. Dialog mati. Yang sudah di depan tak hendak menoleh ke belakang.

Sastra Indonesia juga kehilangan juru bicaranya. Rumah-tangganya centang-prenang. Hubungannya sangat fungsional. Tradisi intelektual, yang bersedia lelah membongkar halaman demi halaman sastra Indonesia, menghilang, berganti dengan sikap bisu, bergerak bila ‘pemodal’ tiba. Dan dalam sekat itu, kita mengintip karya ‘dunia’. Terpukau dan terbenam dalam karya ‘dunia’.

Bila ‘dunia’ dulu adalah Barat dan Eropa, maka kini ‘dunia’ itu sudah meluas pada Amerika Latin dan lain-lain. Itulah yang dipuja orang. Tak ada upaya sedikit pun untuk menandingi ‘dunia’ itu. Bahkan mensejajarinya pun tidak. Semua takluk. Bila Nirwan Dewanto dengan agak ‘malu-malu’ merujuk ‘pujaannya’, saat diskusi buku cerpen Eka Kurniawan di TUK, maka Nirwan Arsuka, saat berdiskusi tentang kapitalisasi sastra dunia, dengan lantang mengutip Oktavio Paz, ‘Sastra modern lahir dari kritik terhadap zaman, kritik terhadap kebenaran tunggal.’ (Kompas, 6 Mei 2006)

Salahkah pemikiran Paz? Tidak. Salahkah pemikiran Nirwan yang mengutip Paz? Tidak. Sebab adalah haknya untuk mengutip, dan familiar, pada siapa pun, seperti hak semua orang untuk menilai. Tapi apakah benar, bahwa hanya untuk mengatakan, dan menunjukkan, bahwa sastra modern adalah lahir dari kritik terhadap zaman, kritik terhadap kebenaran tunggal, harus mengutip Paz? Bukankah pemikiran seperti ini, sudah dikerjakan oleh novel-novel Pujangga Baru, yang mengkritik tradisi yang menghegemoni?

Semestinya, pemikiran diarahkan pada lingkungan negeri sendiri, untuk, mungkin, meluas pada lingkungan lain. Dengan mengarah pada lingkungan sendiri, akan kita temukan fakta seperti Paz menemukan fakta, bahwa sastra modern memang adalah kritik terhadap zaman, kritik terhadap kebenaran tunggal. Tetapi untuk sekedar mengatakan itu, mengapakah seorang Nirwan harus mengutip Paz? Apakah Nirwan tidak membaca sastra Indonesia? Atau membaca, tapi merasa kalah dan rendah diri bila tidak mengutip ‘raksasa dunia’? Inilah bukti ketaklukan: kita tak berani, dan tak berupaya, berpikir sendiri.

Dalam esainya, Menuju Redefenisi Sastra Dunia (Republika, 9 April 2006), Asep Samboja — penyair dan dosen sastra UI (sebuah universitas tua dan sangat berwibawa) — baru berani menyimpulkan, setelah bertanya-tanya dengan Harry Aveling, apakah sastra dunia itu. ”Dari situ kita dapat menyimpulkan,” katanya, ”bahwa karya sastra apa pun yang lahir ke dunia merupakan sastra dunia.”

Esai itu makin menunjukkan bukti: kaum akademisi pun, tak hendak, tak mampu, dan tak berani, berpikir sendiri. Selalu pemikiran disandarkan pada pemikiran orang lain. Ajaib: sungguhkah, kita tidak bisa berpikir sendiri? Bukankah bahannya adalah manusia juga. Bukankah ‘dunia’ itu juga menimba bahan dari manusia dan semesta?

Adalah Ignas Kleden, yang keseriusannya berpikir tak perlu diragukan lagi, saat membahas cerpen-cerpen Sutardji Calzoum Bachri dalam bukunya, Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, mengutip Ricoeur untuk makna teks dan makna referensi. Saya yakin, tanpa Ricoeur pun, semua pembaca akan sepakat, bahwa di dalam tiap karya sastra ada makna teks, makna yang diakibatkan oleh permainan bahasa dan unsur di dalam teks, dan makna referensi, makna yang dirujuk, atau merujuk, kepada dunia di luar teks.

Sebuah korespondesi seperti itu adalah suatu hal yang niscaya bila kita melihat, dan mempelajari sebuah soal. Tidak perlu karya sastra. Maksud saya, bila kita, katakanlah, sedang menginvestigasi seorang anak nakal yang mencuri uang teman sekelasnya, maka otomatis kita akan bertanya-tanya tentang kepibadian dalam si anak — atau makna teks menurut bahasa Ricoeur yang dikutip Kleden. Selanjutnya kita akan mengarahkan penyelidikan pada ‘mengapa si anak mencuri uang?’ Apakah temannya menyuruh, lalu uang itu akan dipakai untuk berfoya-foya, atau karena tak mampu menahan lapar?

Itulah makna referensial. Dan itu, sebenarnya, adalah pemikiran logis. Pemikiran logis seperti itu, untuk orang sekaliber Ignas, sungguhkah harus bersandar kepada Ricoeur? Apakah Ignas tidak bisa mencari, dan menemukan konsep sendiri, untuk sampai, seperti Ricoeur, pada pendapat makna-teks dan makna referensial dalam sebuah karya sastra?

Kutip-mengutip, demikian merajalela di negeri ini. Seakan tanpa kutipan, sandaran ilmiahnya kurang. Padahal kutipan, seperti sering dipertontonkan banyak komunitas, tanda ketakmampuan berpikir sendiri, tanda inlanderisasi. Takluk pada ‘dunia’. Untuk melepaskan diri dari belenggu itu, saatnya kita mencari sumber orientasi sendiri? Kemana?

Bila orang Yunani Kuno bertanya-tanya pada alam raya dan semesta, sebagai sumber penciptaan, kita pun harus menerobos ‘alam raya dan semesta’ orang Yunani itu. Masuk ke dalam beyond sumbernya: sebuah Kitab Besar, yang tersimpan di Lauhulmahfudz. Kitab Sang Inspirator Agung, yang merangkum, dan menukil, nasib dan takdir dunia. Kitab yang membuat seorang Khidir membunuh anak kecil. Ke sinilah arah penciptaan. Sebab Kitab Besar itu akan selalu mendedahkan dirinya, meretakkan dirinya dalam laku manusia: nujumnya menjadi ‘beyond in absentia’.

Beyond in absentia itulah sebuah inspiring bagi penciptaan. Karena, ia mengandung segenap situasi, di mana nilai dan peristiwa, menggantung antara langit dan bumi. Dalam lubang yang menganga itu, seorang pengarang memetik ilhamnya: tangannya mengulur, memungut artefak, menjangkau orisinalitas: dialektik, dari apa yang harus dan apa yang mungkin.

Begitulah sumber penciptaan. Bukan orang lain. Bukan ‘dunia’. Dengan demikian, kita akan rasakan sedapnya rasa merdeka, dan rasa berpikir. Bukan kemerdekaan pseudo. Bukan pula pemikiran pseudo. Tapi kemerdekaan dan pemikiran sejati, yang tegak menemukan dirinya di tengah bangsa-bangsa. Di tengah-tengah dunia. Seperti ditunjukkan sebuah sajak Ahmadun Yosi Herfanda: aku rumputan/kekasih tuhan/di kota-kota disingkirkan/alam memeliharaku subur di hutan.

*) Republika
**) Cerpenis dan pengamat sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*