Ada yang Salah dengan Sistem Pembelajaran Sastra Indonesia

Rukardi
http://www.suaramerdeka.com/

Dalam pandangan Putu Wijaya, era 1945 merupakan masa ideal bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Saat itu, lahir sekaligus eksponen penyair dan kritikus sastra yang kuat. Sinergi keduanya menciptakan iklim sastra yang dinamis dan progresif.

Dalam hal ini, Chairil Anwar dan HB Jassin menjadi ikon paling tipikal. Chairil mendobrak kecenderungan sastra Pujangga Baru yang penuh dengan bunga-bunga kata. Sajak-sajaknya plastis dan mengusung aforisma. Dia hadirkan realita dalam kata demi kata. Tak hanya itu, karya-karya Chairil juga memberi saham bagi kemajuan bahasa Indonesia.

Sementara, HB Jassin hadir dengan kritik-kritiknya yang cerdas dan bernas. Tokoh berjuluk Paus Sastra Indonesia itu menjadi semacam batu asah yang menajamkan mata pisau estetis Chairil dan sastrawan seangkatannya.

“Selepas angkatan 1945, sastra Indonesia kehilangan kritikus yang teliti dan mumpuni seperti HB Jassin. Kondisi itu tak memenuhi prasyarat bagi lahirnya iklim sastra yang ideal,” kata Putu Wijaya, dalam diskusi “Membuka Tabir Dunia dengan Sastra: Telaah Jejak Para Ispirator” yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) di Auditorium Undip Pleburan, Minggu (27/4).

Diskusi dalam rangka peringatan Chairil Anwar 2008 itu juga menghadirkan sastrawan Ahmad Tohari, penulis kumpulan cepen Marketplace: Aca, serta dosen Fakultas Sastra Undip Redyanto Noor M Hum.

Seperti dibutakan
Sejatinya, lanjut Putu, banyak sastrawan sekelas Chairil Anwar yang lahir sesudahnya, taruh misal Sutardji Calzoum Bachri atawa WS Rendra. Namun, ketiadaan kritikus andal membuat eksistensi mereka tak terlampau luar biasa. Masyarakat seperti dibutakan dengan kehadiran para pendobrak itu. Karya-karya mereka yang bagus menjadi tak terjelaskan.

“Sastra Indonesia dikatakan sehat jika prasyarat pendukungnya terpenuhi, antara lain adanya sastrawan, karya, kritikus, penerbit, apresian, dan proses pembelajaran.”

Di sisi lain, metode pembelajaran yang ada saat ini turut memberi andil. Secara ekstrem, Putu menyebut ada yang salah dengan sistem pembelajaran sastra kita. Di sekolah-sekolah, pelajaran bahasa beroleh porsi lebih dibanding sastra. Pengajarnya pun kebanyakan berlatar pendidikan linguistik. Butuh metode baru untuk mengubah keadaan.

Senada, Ahmad Tohari menyebut sastra Indonesia saat ini sebagai korban pragmatisme dan materialisme. Sastra semestinya memberikan ruang pada hal-hal yang bersifat batiniah. Namun, ruang itu kini telah hilang ditelan berhala pasar. “Ya, pasar lebih berperan,” ungkap penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply