Buah Api

Syahreza Faisal
http://www.lampungpost.com/

MALAM itu, entah angin apa yang membuat dingin menjalar kengerian lagi. Rumahku terasa begitu sepi. Sebelum akhirnya aku lihat ibu keluar dari kamar. Rupanya bapak baru pulang, ia menggedor pintu begitu keras. Tubuh bapak begitu melangkahkan kakinya masuk meruapkan bau keringat. Disusul alkohol membubung ke segala penjuru ruang. Juga masuk ke kamarku. Aku lihat mengintip dari sebilah pintu, kubuka sedikit perlahan. Mata bapak merah. Wajahnya legam kusam. Perut buncit dan kedua tangan kasar, mendorong tubuh ibu. Hingga mundur beberapa langkah. Ibu masih mengenakan mukena pada saat itu, beres ngaos. Tapi ibu malah diam. Pasrah. Bapak menggelengkan kepalanya, pusing karena mabuk berat. Kalah judi dan pasti, ditipu teman-temannya.

“Sejak mengawinimu, bawaannya sial melulu. Ngelantur.”

“Pak sadar, nyebut!”

“Aaah, aku tahu sekarang. Kau perempuan pembawa sial,” Jarinya menunjuk batang hidung ibu.

“Astagfirullah, lebih baik bapak ambil wudu dan cepat-cepat salat.”

“Diam. Kau perempuan sialan!”

Suara ibu begitu lembut. Berbalas suara bapak yang kasar. Seakan kesabaran ibu di hadapan bapak begitu tak berarti. Karena memang bapak begitu, jangankan selagi mabuk, hari-hari biasa saja dia kasar.

“Aku ingin makan. Makan dengan apa?”

“Sudah dua hari ini kita tak belanja ke pasar. Alif tadi ngeluh, belum makan.”

“Aku tak menanyakan hal itu.”

“Pak kita tak punya uang, bapak seharusnya tak biarkan semua keadaan ini makin memburuk. Bapak hanya bisa pulang malam sambil mabuk, kalah judi, bawa utang, dan marah-marah. Bapak seharusnya….”

“Diam! Lebih baik kau siapkan sesuatu yang bisa aku makan. Ini malah tambah aku pusing saja, setan!” Ibu ingin nangis. Tapi tak percuma.

“Jangan keras-keras, Alif sedang tidur. Tadi dia cerita bahwa di sekolahnya banyak tunggakkan, diledek teman. Sekarang biarkan dia tenang!”

“Ah banyak bacot, biar anak setan itu aku pukul, sudah untung disekolahkan, masih ngeluh.”

“Sudah, Pak! Dia sudah tidur.”

“Aliiiif-Aliiiif?” Suara kasar berteriak-teriak.

Cepat-cepat aku tutup pintu. Aku kunci. Kumatikan lampu. Aku baringkan tubuhku. Dalam ketakutan aku paksa pejamkan mataku. Aku dengar suara langkah bapak menuju kamarku. Aku dengar tangan kuatnya menggedor pintu kamarku. Dan aku semakin takut. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku ingin sembunyi dalam gelap. Mencuri ketenangan dalam pekat.
***

“Alif, Alif bangun sudah subuh!” Aku bangun, lihat sana-sini tak ingat apa-apa.

“Lif, cepat bangun kamu harus pergi sekolah lagi!”

“Ya Ibu aku sudah bangun,” teriak aku dalam kamarku.

Mata ini masih ngantuk. Tapi ibu tak mungkin membiarkan aku terus tidur. Ibu selalu mengajarkan aku–sebagai anaknya satu-satunya–untuk bangun subuh. Subuh katanya waktu yang disukai para malaikat untuk berdoa. Makanya kampungku selalu ramai, karena kebanyakan pergi ke pasar.

“Bu mana bapak?” Sambil ku panggul sarung dan ku ambil peci di atas lemari.

“Bapakmu tidur, kecapean semalam, nanti bapak nyusul. Sana pergi ke mesjid!”

Aku mengangguk. Pura-pura percaya. Pura-pura tak tahu apa-apa semalam. Aku lihat di pipi kanan ibu bekas tamparan tangan atau semacam hajaran. Tepat di sana, di lembut pipi ibu. Aku bergegas ke masjid dengan rasa marah pada bapak.

Sepulang dari masjid, aku langsung kamar mandi. Membawa baju sekolahku. Karena sudah mandi aku bisa langsung pergi. Tak ada sarapan. Apa yang bisa dimakan. Tak ada. Hanya minum air putih cukup. Aku berangkat, sebelumnya aku cium tangan ibu. Ibu membelai rambutku, menatap mataku. Kemudian diam-diam menetes air matanya. Dan aku tak sanggup memandangnya.

“Lif, nanti bilangin ke gurumu, Ibu akan melunasi tunggakkanmu!” Aku tertunduk.

Aku lewat kamar bapak, dia sedang tertidur. Lelap. Seperti lembu yang malas menggarap sawah saja.
***

Di sekolah teman-teman ketawa-ketawa. Sebelum masuk kelas mengobrol ngawur. Semuanya tanpa memikirkan pelajaran. Aku diam melihat teman-teman. Sekolahan yang asal-asalan. Pada seenak otaknya. Pada pacaran. Pada saling menceritakan kebahagiannya masing-masing.

Aku kira ketika aku masuk kelas semua pikiran tentang di rumah akan hilang. Tak ada perubahan, sama saja. Malah aku semakin bosan. Tambah tak keruan. Guru di depan menerangkan. Lesu tak ada semangat. Teman ada yang ngobrol. Memperhatikan. Kemudian mengobrol lagi. Aku ingat ibu. Sedang apa ibu? Aku takut ada sesuatu. Ibu bisa saja sedang nangis-nangis, tapi aku harap ibu tak sedang bersedih. Aku ingin cepat pulang. Aku ingin ada di dekatnya sekarang, ya sekarang juga.

Istirahat mecahin lamunanku. Anak-anak lari keluar menghambur seperti lebah yang bebas dari sarang hendak mencari madu. Aku tak bisa seperti mereka. Aku tetap merasa ingin pulang. Ingin nengok keadaan ibu. Satu-satunya yang kuinginkan adalah pulang.

“Lihat anak penjudi itu, melamun. Bapaknya semalam kalah judi marah-marah di rumahku.”

Di sudut kelas suara itu melambung dan melayang masuk ke telingaku dan bersarang tepat di hatiku paling dalam. Aku hela nafas.

“Ya. Bapak dia juga ngutang beli minuman di warung kampungku.” Mereka mau menambah pikiranku jadi ruwet. Menambah pening, menambah ingin aku mati saja.

“Seharusnya, kalau tak punya uang jangan sok. Jadi gelandangan aja!”

“Haaa..haa…” Mereka tertawa. Terus tertawa.
***

“Sebenarnya bagaimana kejadian itu? Ayo ceritakan pada Bapak!” Guru itu duduk di tengah-tengah kami. Di antara aku dan mereka–teman-temanku yang menertawakan kekurangan hidupku–keheningan menyelusup.

Aku lagi-lagi tunduk. Aku tak mau lihat wajah anak-anak itu. Wajah mereka lumuran darah dan memar. Melegam membiru. Aku diam saja. Tak mau aku ceritakan bagaimana mereka kubuat jadi diam.

“Alif jawab pertanyaan Bapak!” Meja di depanku digebraknya, seraya berdiri. Memecah kebisuan.

“Alif perbuatanmu ini sungguh kurang ajar. Bapak tak pernah mengajari kekerasan.” Telunjuknya mengarah tepat di batang hidungku.

“Kamu sekarang jadi anak goblok!”

“Anak tolol!” Aku masih diam.

“Anak bodoh, anak tidak tahu aturan, anak tidak tahu diuntung, sudah sekolah beasiswa, cari perkara lagi.”

“Pak, sebaiknya bapak jangan berkata seperti itu!” Aku ingin sekali membentaknya. Tapi aku ingat nasihat–menghormati guru–dari mama kiai di pengajianku. Meski sebenarnya aku muak dengan pak guru ini. Mentang-mentang aku anak miskin. Dan mereka semua itu anak pejabat, pengusaha, dan manager.

“Pak, benar saya ini anak yang terlalu goblok, terlalu tolol, dan terlalu kurang ajar. Alangkah tidak baiknya bila aku menambah kekurangajaranku pada Bapak.” Kini pak guru terbungkam. Bapak itu diam. Teman-teman tambah diam.

Aku dipulangkan membawa surat peringatan dan panggilan. Karena aku tak cukup kuat menahan perasaan ingin pulang aku tak memikirkannya. Sungguh aku ingin sampai di rumahku sekarang juga.
***

Magrib, suara azan dan senja menutup, menuju malam dengan indahnya. Pengajian malam yang selalu aku ikuti ini adalah rutinan. Mama kiai setiap minggu khusus menyempatkan diri mengajar. Wajahnya itu menentramkan. Sehingga aku tak pernah waswas, atau gelisah. Anak-anak kecil yang baru mandi itu, membaca Qur’an berbarengan, suaranya lugu menggaung. Wajahnya polos, dibubuhi bedak oleh orang tuanya, berlebihan tapi lucu. Didandani seadanya. Yang lelaki memakai peci dan sarung. Yang perempuan memakai kerudung. Meskipun umumnya desaku orang-orangnya tak melanjutkan pendidikan formal, mereka merasa haus akan ajaran agama, terutama untuk anak-anaknya.

“Kalaupun kita selalu merasa bahwa kitalah yang paling sengsara. Atau paling menderita. Kita harus bisa dan percaya, bahwa itu adalah ujian dari Gusti.” Mama kiai menasihati kami. Berkali-kali. Beliau selalu tahu bila ada murid-muridnya yang sedang dalam masalah. Beliau selalu bisa merasakannya, lalu bisa memberi nasihat yang mencerahkan.

“Kita bisa lihat, tetangga-tetangga kita. Digusur. Kebanjiran. Atau bahkan tanah longsor. Tak punya rumah. Tapi kita di sini masih lengkap, punya segalanya. Di luaran sana; saling menginjak. Saling gasak. Lihat, kakak dan adik saling bunuh. Keluarga dengan keluarga. Bahkan rakyat dengan rakyat. Buktinya siapa yang sering kita lihat berkelahi di mana-mana? Orang digusur rumahnya, yang di televisi kita saksikan. Itu rakyat dengan rakyat saling hajar. Astagfirullah, zaman sekarang.” Mama kiai mengelus dada. Aku tahu dari mata beliau, beliau sedang menenangkan dan mencoba meraih hatiku yang gelisah.

“Meskipun orang tua kita sudah tidak mengajari kita lagi kebenaran, kebaikan dan ilmu agama, bukan berarti kita boleh tak menghormati dan tak menghargainya.” Mama kiai mengakhiri ceramahnya. Menutup dengan kata-kata yang sepertinya mengarah padaku, atau mungkin itu hanya perasaan.

Badai gelisah mulai bergemuruh lagi. Tak terasa pengajian sampai di penghujungnya. Setelah salat witir penutup, saya pulang, pamit, dan salam dengan mencium mama kiai.
***

Sampai di rumah, pintu terbuka setengah. Sebelum kakiku masuk. Pandanganku tersedot melihat tubuh ibu yang tersungkur. Di depannya bapak tegak. Berdiri dan mengepal golok. Tubuhnya seperti badak. Dan matanya mirip elang. Aku takut. Sungguh aku merasa menjadi seorang penakut.

“Ayo sinikan uang itu!”

“Pak ini uang untuk membayar tunggakkan sekolah Alif.” Ibu, sambil mencoba menahan uang yang setengah direbut bapak.

“Kamu bisa pinjam lagi lain waktu.”

“Ini untuk terakhir kalinya Titin mau pinjami kita uang.”

“Kalau gitu, sini aku lipat gandakan!”

“Pak sudah jangan main…!” Kepalan tangan kiri, mendarat lagi di wajah ibu membungkam mulut.

“Ah, setan kau.” Aku melihat tangan kiri bapak yang kuat menghantam kening ibu lagi. Padahal kening itu sering ibu gunakan sujud untuk meminta kebahagian keluarga. Mendoakan anaknya ini. Mendoakan suaminya itu.

“Ini sudah kesiangan, nanti aku ketinggalan permainannya, sinikan!” Lagi-lagi tangan kuat Bapak menyarang di wajah ibu.

Aku dengar suara pukulan. Aku dengar rintihan. Terisak-isak kesakitan.

“Aaah, dasar perempuan setan, setan!” Kaki Bapak menendang-nendang tubuh ibu. Ibu makin menggigil nyeri. Dan rasa sakitnya dengan cepat terlihat menjalar.

Aku tak pernah mau melihatnya. Perasaan takutku seketika berubah jadi sedikit keberanian. Yang kemudian menggunuk. Darah hangat mulai sedikit-sedikit mengalir mamacu keras jantungku. Aku pun menghambur ke hadapan bapak yang sedang mengamuk.

“Hei panggil ibuku dengan lembut! Kau dengar?” Bapak sedikit heran kemudian malah sempat tertawa.

“Aku tak menyuruhmu tertawa. Sekali lagi kau panggil ibuku dengan kasar, aku akan…”

“Akan apa anak manis? Nih!” Bapak melemparkan goloknya kehadapanku.

“Ayo keluarkan keberanianmu! Balas! Ayo cepat balas!”

“Jangan Lif, tetap dia itu bapakmu!” Aku merasa inilah pembuktian, tentang bagaimana aku bisa menaklukkan hawa, amarah, dan bisa bersabar.

Ibu menatapku. Kedua matanya tiba-tiba kulihat bercahaya. Indah seperti sayap-sayap malaikat di surga. Aku juga ingat nasihat tadi di pengajian.

Lalu dalam lengahku. Aku merasakan sesuatu menghantamku keras-keras. Sempat membuatku kehilangan kendali dan ambruk. Bapak kulihat sudah siap di hadapanku tangannya sudah berhasil menghajar kepalaku.

Aku merasakan pukulan mendarat lagi di wajahku, di daguku, di leherku di kepalaku lagi, dan lagi. Disusul tendangan kerasnya di punggungku, di kedua tangan. Juga kakiku, berulang-ulang. Serta aku lihat cahaya golok bapak yang mengayun menuju tubuhku. Menembusku kulit kepalaku.

“Bapak jangan! Jangan!” Suara ibu coba menahan bapak. Aku masih setengah sadar. Darah mengalir hangat terasa di mana-mana. Bapak tak menghiraukan ibu. Dia menyempatkan menghajar ibu, hingga tersungkur jauh. Aku melihat sesuatu menghampiruku. Menyambutku, seakan mengajak pulang ke surga-Nya yang indah nan abadi.

Terakhir aku lihat sepasang mata bapak. Mata yang kalah. Sangat menyala. Seperti pepohonan yang akan tumbuh nanti di neraka. Dan Bapak bertanggung jawab memakan buah apinya. Menuai badai yang sedang ia tanam.

Cianjur — 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *