La Runduma dalam Kentalnya Warna Lokal

Maman S. Mahayana
http://www.infoanda.com/

Dalam kentalnya warna lokal, cerpen La Runduma karya Wa Ode Wulan Ratna berhasil memenangkan juara pertama Sayembara Menulis Cerpen Creative Writing Institute (CWI) 2005. Cerpen yang mengangkat tradisi unik etnis Buton, khususnya tentang peristiwa upacara posuo ritual dalam tradisi pingitan adat keraton Buton itu sekaligus mewakili dominannya warna lokal pada hampir semua cerpen peserta sayembara tahunan ini, terutama yang terpilih sebagai cerpen terbaik. Cerpen Orang-orang Pos 327 karya Muhammad Nasir Age, yang menempati juara kedua, juga mengangkat persoalan lokalitas konflik Aceh sebagai tema sekaligus latar cerita. Begitu juga cerpen Abu Nipah karya Herman R yang meraih juara ketiga.

Seperti peristiwa kebetulan bahwa Kongres Cerpen Indonesia (KCI) IV di Pekanbaru (26-30 November 2005) bertema ‘kembali ke estetika lokal’. Para peserta sayembara cerpen CWI kali ini juga banyak yang mengambil persoalan lokal sebagai tema atau latar (setting) cerita. Tampaknya, gairah untuk kembali ke warna lokal, ke problem lokalitas, dan ke kekayaan budaya etnis, mulai semarak kembali dan mengental di kalangan para penulis cerpen kita belakangan ini.

Namun, tentu bukan hanya karena kentalnya warna lokal cerpen La Runduma terpilih sebagai juara pertama. Dewan juri babak final yang terdiri dari (disusun secara alfabetis) Ahmadun Yosi Herfanda, Eddy A Effendi, Hamsad Rangkuti, Hudan Hidayat, Maman S Mahayana, Mariana Amiruddin, dan Sutardji Calzoum Bachri, sepakat menilai cerpen tersebut sebagai yang terbaik — tentu setelah melewati perdebatan yang cukup alot. Keunggulan itu juga bukan hanya lantaran usaha pengarangnya yang coba melakukan eksplorasi tematiknya, tetapi juga kekuatan gaya bertutur dan penguasaan bahasanya yang nyaris lincah, mengalir, dan kaya metafora.

La Runduma mengisahkan seorang gadis dari lingkungan keraton Buton yang harus mengikuti ritual posuo bersama tujuh gadis lain sebagai proses transformasi dari gadis remaja ke dewasa. Mereka ditempatkan di dalam ‘ruang pingitan’ yang disebut suo, yang pengap dan lembab. Selain diantar menjadi gadis dewasa, keperawanan mereka juga diuji secara simbolik melalui ritual menabuh gendang. Disediakan satu gendang untuk tiap peserta posuo. Jika gendangnya pecah saat ditabuh, itu berarti orang yang bersangkutan sudah tidak perawan lagi. Namun, yang terjadi, meskipun masih perawan, gendang Johra tokoh utama cerpen La Runduma pecah juga. Dari sinilah adat yang kaku dikoreksi, didialogkan dengan perkembangan zaman, dibenturkan dengan semangat kebebasan, dan cinta yang tidak bisa lagi diatur untuk kepentingan adat semata.

Tarik-menarik tradisi dan modernitas yang seperti itu sesungguhnya terjadi di banyak komunitas etnik kita yang tersebar di wilayah Nusantara ini. La Runduma adalah satu kasus yang terjadi di lingkungan keraton Buton. Dalam konteks kultur etnik keindonesiaan, ia seperti merepresentasikan berbagai kasus lain yang terjadi di lingkungan komunitas etnik lainnya. La Runduma menjadi sesuatu yang khas, sekaligus juga universal jika ditarik lebih luas memasuki wilayah kultur etnik lainnya. Sebuah potret sosial yang sangat mungkin dapat digunakan sebagai cermin ketika kita menghadapi kasus sejenis dari masyarakat etnis lain.

Cerpen Orang-Orang Pos 327 dan Abu Nipah yang sama-sama mengangkat ‘posisi rawan warga sipil’ di tengah konflik disintegrasi Aceh juga unik dan menarik, dengan gaya bertutur dan penguasaan bahasa yang sangat memadai, lincah dan lancar. Keduanya berhasil membangun ketegangan (suspense) sejak awal cerita dan terus dibina secara perlahan dan wajar. Orang-Orang Pos 327 terasa lebih mengalir dalam bertutur dan berhasil menciptakan rangkaian peristiwanya lengkap dengan penghadiran latar susana. Penguasaan bahasanya yang sangat memadai memungkinkan pengarang lebih leluasa menarik pembaca melalui metafora yang dihadirkannya dan penciptaan asosiasi tentang suasana peristiwa yang bersangkutan.

Keunikan dan daya tarik juga terasa pada cerpen-cerpen yang menempati posisi juara harapan, yakni Pulang karya Galang Lutfiyanto, Bersampan ke Seberang karya Satmoko Budi Santoso, dan Perempuan itu Terlahir dari Doa karya Kukuh Yudha Kananta. Ketiganya kental warna lokal, dengan ekplorasi tematik dan gaya bertutur masing-masing yang cukup memikat.

Selain memilih tiga juara dan tiga juara harapan, Dewan Juri juga merekomendasi 24 cerpen yang dipandang sangat patut dihimpun dalam buku kumpulan cerpen yang menjadi produk penting untuk mendokumentasikan karya para juara dan nomine sayembara tahunan yang juga diikuti peserta dari luar negeri ini. Buku kumpulan cerpen itu, seperti diyakini Ketua Panitia Penyelenggara, yang juga Asisten Deputi Pengembangan Wawasan dan Kreativitas Pemuda Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, Drs Wafid Muharam MM, dapat menjadi barometer ‘pencapaian estetik’ para cerpenis muda Indonesia. Keyakinan Wafid cukup berdasar, karena tiap tahun sayembara ini diikuti rata-rata lebih dari 400 cerpenis muda dari hampir seluruh penjuru Tanah Air. Apalagi, dua sayembara cerpen CWI sebelumnya telah ikut melahirkan cerpenis-cerpenis muda nasional, seperti Azhari, Yetti AK, Dianing Widya Yudhistira, Aris Kurniawan, dan Akidah Gauzillah.

Cerpen-cerpen yang tahun ini masuk nomine dan akan ikut dibukukan adalah Kereta Waktu karya M Husni Abid, Nastiti karya Haryati, Coklat di Negeri Pasir karya Prakoso Bhairawa Putera S, Kidung Hujan Sang Peri karya Dina Pratiwi Sampoerna A, Lima Puluh Ribu Rupiah yang Jatuh ke Ember Merah karya Abdullah Khusairi, Tubuh karya Dian Hartati, Dugan Ragi Manis karya M Ramadhan Batu Bara, Sebutir Peluru dalam Buku karya Olyrinson, Anomali karya Ambhita Dhyaningrum, Ajari Aku Mencinta karya Elda Yulita, Bocah Bersayap Biru karya Muhammad Nasir Age, Luka karya Ahmad Muchlis AR, Kama yang Lapar di Tepi Banyu karya Tyas Hardi, Aku Cantik karya Lubis Grafura, Melukis Tubuhmu karya Alex R Nainggolan, Perempuan Dilarang Menangis karya Lubis Grafura, Lebaran Ini Saya Ingin Pulang, Mak karya M Husnul Abid, Perempuan Api karya Andriansyah, Senshu Maru 1 karya Endah Sulistyowati, Seribu Masjid yang Kudirikan karya Denny Prabowo, Ni Luh karya Eka Prama Yanti, Lilin yang Tak Pernah Padam karya Lubis Grafura, Gerbong karya Rifan Nazhip SS, dan Tukang Jahit karya Aris Kurniawan.

Sayembara tahun ini, menurut Wafid, sebenarnya diikuti oleh lebih dari 800 cerpen karya lebih dari 500 cerpenis muda (berusia di bawah 40 tahun) yang berasal dari seluruh Tanah Air. Sayangnya, sedikitnya 140 naskah datang terlambat, melewati batas akhir penerimaan naskah, dan baru sampai ke Panitia setelah proses penjurian Babak Penyisihan berakhir, sehingga tidak dapat disertakan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, sayembara ini menerapkan proses penjurian dua tahap. Tiap tahap penjurian melibatkan tujuh orang juri. Tahun ini yang menjadi juri babak penyisihan adalah Putu Fajar Arcana, Agus Noor, Irwan Kelana, Mujib Rosidi, Kurniawan, Chapchay Hermani, dan Damhuri Muhammad. Tahapan penjurian dan banyaknya jumlah juri dimaksudkan agar penilaian dan pemilihan para juara dapat lebih objektif.

Sayembara tahun ini terasa unik, karena panitia penyelenggaranya bernaung di bawah Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga — sebelumnya di bawah Depdiknas — yang kesan umumnya hanya mengurus olahraga. Namun, seperti dikatakan Deputi Bidang Pemberdayaan Olahraga Drs H Sakhyan Asmara MSP, pemberdayaan pemuda melalui peningkatan kreativitas memang menjadi salah satu bidang kerja kementerian ini. Dan, sayembara menulis cerpen merupakan kegiatan yang efektif untuk itu. Karena itu, H Sakhyan berkomitmen untuk tetap mengadakan sayembara tersebut tiap tahun, bahkan berencana akan meningkatkannya menjadi sayembara menulis cerpen internasional dalam bahasa Melayu-Indonesia.( )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *