Menelisik Jejak Kesusastraan Indonesia

Judul : Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca sebelum Dikuburkan
Penulis : An. Ismanto dkk.
Penerbit: I : Boekoe, Yogyakarta
Cetakan : 1, 2009
Tebal : 1001 hlm
Peresensi : Halimatus Sa’diyah*
http://www.lampungpost.com/

TIDAK mudah menelisik jejak kesusastraan Indonesia, dari era pra-kemerdekaan, kolonial, hingga sekarang era sastra kontemporer. Inilah yang dirasakan oleh An. Ismanto dkk. dalam upaya pengumpulan berbagai buku sastra yang patut disajikan untuk khalayak.

Tingkat kesulitan itu datang ketika mencari buku sastra lama yang tidak lagi ditemukan di pasaran. Buku itu antara lain, novel Student Hidjo karya Marco Kartodikromo (1919) atau Azab dan Sengsara karya Merari Siregar (1920).

Buku Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca sebelum Dikuburkan ini mencoba untuk mengingatkan kita, dengan merangkum jejak sastra lama hingga sastra masa kini. Penyajiannya dengan memilah dan memilih buku sastra yang dianggap “penting” untuk disajikan pada sidang pembaca yang peduli terhadap sastra. Namun, tidak semua buku sastra berkualitas disajikan dalam buku ini, melihat dari keterbatasan halaman yang disediakan. Hanya, buku yang disajikan dianggap sudah mewakili dari buku-buku sastra berkualitas tersebut.

Buku sastra yang dianggap penting tersebut dengan menggunakan beberapa ukuran. Pertama, tentu saja, buku itu adalah buku karya sastra Indonesia dalam pengertian yang luas, yang artinya akan mencakup buku-buku sajak, novel, esai, catatan perjalanan, biografi, cerita pendek, lakon/drama, fiksi, cerita silat, komik, dan sebagainya.

Dengan atribut “Indonesia” dimaksudkan bahwa buku ini pada mulanya ditulis dalam bahasa Indonesia, Melayu tinggi dan/atau Melayu rendah/pasar/Melayu Lingua Franca.

Kedua, ia harus “menggoncang” kesusastraan Indonesia. “Goncangan” itu harus timbul sebagai akibat dari daya besar yang dimilikinya sebagai karya sastra. Di sini diasumsikan bahwa sebuah karya memiliki strukturnya sendiri yang komplet dan self-sufficent, sehingga ia dapat berdiri sendirian ketika menjumpai pembaca dan sendirian pula mempertahankan diri di hadapan pisau bedah kritikus dan pakar sastra yang kredibel. Selain itu ia juga harus mampu memancing pembicaraan atau perdebatan yang luas di kalangan kesusastraan dan boleh jadi juga di kalangan masyarakat yang lebih luas.

Ketiga, buku itu tidak akan disisihkan bila memberikan pengaruh besar terhadap situasi kemasyarakatan secara umum, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini masih dipandang dengan dua tolok ukur.

Tolok ukur pertama, buku itu masuk dalam sejarah sastra “resmi”, artinya masuk ke dalam kurikulum pengajaran bahasa dan sastra Indonesia yang diajarkan di sekolah.

Dengan tolok ukur ini, maka sebagian besar dari karya-karya yang tercantum dalam buku-buku pelajaran bahasa Indonesia akan masuk ke dalam daftar. Alasannya, dengan masuk ke dalam kurikulum, maka semua orang yang pernah bersekolah dan mendapatkan pelajaran bahasa Indonesia tentu kenal dengan buku-buku itu atau paling tidak pernah mengetahui nama pengarangnya. Karena pastilah seorang pelajar di Indonesia oleh gurunya diperintah untuk “menghafal” judul-judul itu dan pengarangnya sekalian (ini adalah praktek yang umum di ruang-ruang kelas). Perkenalan inilah yang membangun pengertian awal khalayak tentang kesusastraan.

Tolok ukur kedua, buku itu punya pengaruh yang nyata terhadap atau dalam kehidupan masyarakat walaupun tidak “diakui” oleh kurikulum resmi. Misalnya sangat diminati masyarakat sehingga laris dalam perjualan atau membuka perspektif “yang lain” dalam memandang isi ceritanya. Golongan ini dihuni oleh cerita silat, komik wayang, dan novel-novel yang sering dicap sebagai roman picisan atau novel pop, termasuk chiklit atau teenlit.

Melihat dari ukuran pemilihan kategori buku yang bisa masuk, maka buku ini dianggap layak menjadi buku berkualitas tinggi untuk menjadi tambahan kepustakaan sastra kita. Mengingat mayoritas buku sastra dalam buku ini merupakan buku-buku langka yang tidak bisa kita temukan di toko buku bekas sekalipun. Sebut saja Siti Nurbaya karya Marah Rusli, yang sering dirujuk orang ketika berbicara tentang adat dan kawin paksa.

Diakui oleh An. Ismanto, dalam pemilihan buku menjadi masalah tersendiri dalam buku 1001 halaman ini. Secara otomatis sejumlah buku akan timbul seketika dalam pikiran dan subjektivitas akan turut campur. Subjektivitas itu dibangun oleh empat orang, yaitu An. Ismanto sendiri, Anton Kurnia, Muhidin M. Dahlan, dan Taufik Rahzen. Maka inilah yang dianggap menjadi titik kelemahannya.

Namun lepas dari kelemahan tersebut, buku ini menggambarkan perjalanan kesusastraan kita, dari sastra lama hingga sastra kontemporer. Bila kita cermat dalam membaca seluruh isi buku ini, akan ditemukan perbedaan kentara dari masa ke masa. Maka diharapkan dengan terbitnya buku ini mengingatkan kita pada sastra lama yang terlupakan, baik dikarenakan akibat kontroversi maupun karena memang sengaja dilupakan.

*) Mahasiswi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *