Sastra Banyumas dalam Kekosongan Budaya

Rusmiyati
http://www.kr.co.id

SETELAH mencermati tulisan Sigit Emwe ?Langkah Sastra Banyumas?, beberapa waktu lalu di rubrik ini, saya menjadi kembali merenung panjang. Pasalnya, wacana tersebut hanya mengusung tentang iklim kesusastraan dalam dunia akademik. Berdasarkan pengamatan dari sebanyak pelatihan kepenulisan sastra jarang menghasilkan sastrawan yang andal. Bahkan, boleh dibilang tidak ada. Seseorang menjadi sastrawan karena ketelatenan dalam mengasah dan menggali bakatnya.

Saya tidak melihat adanya orientasi yang jelas mengenai puncak dari langkah-langkah mengharmonisasikan kesusastraan Banyumas sebagai bagian dari Banyumas. Arah dan tujuannya sebagai dorongan untuk berkesusastraan secara dinamis masih kabur. Tidak ada barometer sebagai titik kesuksesan dalam pembudayaan berkesusastraan di kalangan akademik.

Sigit Emwe mengatakan, ?Banyumas dan kesusastraan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan?. Akan tetapi, ada hal lain yang pantas untuk dicermati bahwa sastra merupakan salah satu unsur budaya. Dalam hal ini, ada perbedaan antara budaya berkesusastraan dan sastra sebagai unsur budaya.

Budaya kesusastraan tampak pada orang yang gemar bersastra, sedangkan sastra sebagai bagian dari budaya, sastra menjangkau nilai-nilai yang telah menjadi budaya.

Agaknya perlu ditinjau lebih dalam lagi mengapa kesusastraan Banyumas hanya mencakup lintas regional, dan tidak mampu berkembang jauh? Kesusastraan Banyumas tak sepopuler kesenian, misalnya Tek-tek Banyumas yang bisa pantas ke Ceko dan Malaysia.

Sastra yang Berangkat dari Budaya
Kalau kita amati di lingkup kesusastraan Banyumas, praktis hanya Ahmad Tohari yang mampu melakukan pewacanaan budaya Banyumas di dalam karya sastra sehingga dia dapat menorehkan jati dirinya dalam sastra Indonesia. Novel Ronggeng Dukuh Paruk-nya yang sangat fenomenal telah menjadi satu identitas baru orang asing untuk mengenali tatanan Banyumas.

Dalam novel tersebut, ada eksteorisasi teks yang mampu menjadi mediasi pemahaman dengan kehidupan di Banyumas. Secara tidak langsung, pembaca merasa berdialog dengan tersuguhi pengetahuan tentang budaya.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa dari sekian banyak sastrawan Banyumas hanya Ahmad Tohari yang dapat mengeksistensikan budaya tersebut dengan baik di dalam karyanya?

Padahal, ?Sastra yang menarik adalah unsur budayanya?, kata Pamela Allen dalam wawancara dengan Triyanto Tiwikromo. Dalam hal ini, karya sastra dipandang dan dipahami berdasarkan konteksnya. Pembaca dapat menemukan fenomena baru setelah membaca teks sastra tersebut. Karena itu, setelah membaca teks sastra kadang-kadang kita seperti mengalami pencerahan yang luar biasa. Penyebabnya adalah terbukanya alam berpikir kita oleh fenomena yang terjadi di dalam teks.

Pada hakikatnya, ?Sastra ditulis tidak berdasarkan kekosongan budaya,? kata A Teeuw. Sastra ditulis berdasarkan konstelasi kehidupan, sehingga mampu memunculkan ilustrasi imajiner. Konstelasi tersebut berupa aspek yang universal dan yang mampu melengkapi elemen teks.

Pengaruh Modernisme
Berdasarkan pengamatan selama ini, masyarakat –termasuk Banyumas– sudah cukup jauh terjerat arus modernisme. Budaya yang tumbuh adalah budaya euforia dan konsumeralisme. Kita mengetahui akhir-akhir ini orang lebih menyukai elektronik dan kurang menyukai tulisan, apalagi tulisan yang kental bahasanya.

Banyak budaya Banyumas, yang sebenarnya menjadi identitas justru terabaikan, bahkan budaya tersebut ada yang mulai lenyap. Budaya luhur yang seharusnya dijaga eksistensinya menjadi tergeserkan posisinya oleh trend-mode dari Barat. Orang Banyumas cenderung malu untuk mengakui budayanya sendiri.

Akibat tidak adanya sisi budaya masyarakat Banyumas, maka tidak heran bila kesusastraan di Banyumas menjadi kurang menarik untuk dicermati dan diteliti secara konteksnya. Tidak heran pula, jika karya sastra yang ditulis sastrawan Banyumas seolah reduksi dari sastra yang pernah dituliskan oleh sastrawan pata umumnya. Saya tidak melihat adanya inovasi, baik secara estetik maupun etika. Karenanya, pada karya sastra mereka tidak tampak pula ideologi yang kompleks.

Kita lihat saja pada kumpulan puisi Jejak Sajak karya Dharmadi, Binatang Suci Teluk Penyu karya Badrudin Emce dan Alangkah Tolol Patung Ini karya Faizal Komandobat yang diterbitkan seolah tak bersentuhan dengan budaya Banyumas. Bahkan ironinya, di Banyumas belum muncul lagi penulis cerpen atau novel setelah Ahmad Tohari.

Melalui tulisan ini, saya berharap ?Langkah Sastra Banyumas? yang dihembuskan oleh Sigit Emwe tidak hanya menjadi pencerahan sastra di bidang akademik, tetapi pencerahan sastra yang mampu mengeksplorasi budaya yang ada di Banyumas. Sastra tidak hanya milik kaum akademik. Sastra juga milik semua orang yang hidup.

Marilah introspeksi bersama untuk menjadikan karya sastra sarat pengetahuan dengan budaya. Oleh karenanya, ?Sastra Banyumas? benar-benar menyuarakan dinamika budaya dan kehidupan masyarakat Banyumas. Adapun langkah mencerahkan iklim kesusastraan di kalangan akademik menurut saya hanyalah sebagai langkah awal, yaitu langkah penumbuhan proses kreatif, bukan penemuan jati diri menjadi seorang sastrawan yang ulung.

*) Peneliti Sastra Banyumas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *