BERCINTA DENGAN ALAM, BERCINTA DENGAN TUHAN?

Maman S Mahayana

Puisi (: sastra), bagi Malaysia adalah spirit kebudayaan. Ia dapat dimaknai sebagai alat perjuangan kebudayaan; maruah kemelayuan. Pada dasawarsa 1950-an, misalnya, sastra memancarkan semangat nasionalisme. Kemerdekaan Indonesia telah memberi inspirasi untuk melakukan hal yang sama. Maka, gerakan kebudayaan itu kemudian menjadi gerakan kebangsaan. Mengingat tumbuhnya nasionalisme di Malaysia itu sejak awal dimainkan para sastrawan dan guru -seperti juga yang terjadi di Indonesia- tidak mengherankan jika peran mereka menjadi sangat penting ketika itu. Dan sastra menjadi alat perjuangan yang efektif dalam mengobarkan semangat nasionalisme.

Memang, ketika itu ada tarik-menarik antara sastrawan yang hendak menempatkan sastra sebagai alat perjuangan (sastra untuk masyarakat) dan sastra sebagai seni yang merayakan kebebasan sastrawan (seni untuk seni). Kelompok Asas -50 kemudian berjaya menyuarakan konsepsi sastra untuk masyarakat. Kelompok inilah yang kemudian memainkan peranan penting dalam ikut merumuskan undang-undang dasar negara itu- termasuk di dalamnya pemakaian huruf Rumi (Latin) dengan Islam sebagai teras kebudayaan Melayu. Semangat kelompok ini pula yang hingga kini memberi jejak yang kuat dalam peta kesusastraan Malaysia.

Puisi Malaysia juga dapat ditempatkan sebagai jalan panjang yang boleh jadi akan membawa kita sampai ke sumbernya: kekayaan tradisi. Puisi-puisi awal Malaysia jelas sekali membentangkan garis demarkasi antara puisi tradisional dengan syair dan pantun yang masih terpelihara dan ekspresi yang belum beranjak pada romantisisme individual. Jejak itu seperti tidak dapat dilepaskan begitu saja sampai memasuki dasawarsa 1970-an. Dan selepas itu, sejumlah penyair, tidak sekadar menempatkan puisi sebagai romantisisme individual yang pola persajakannya dapat ditelusuri sampai ke sumbernya, tetapi juga coba memotret alam, sekaligus coba pula menyelusupkan pemikiran tentang kebudayaan, kehidupan sosial, dan filsafat. Latiff Mohidin, Wahab Ali, Muhammad Haji Salleh, dan Kemala -sekadar menyebut beberapa- adalah para penyair yang dengan semangat itu coba memberi ‘ruh’ baru dalam puisi Malaysia.
***

Kini, Kemala tampil dengan antologi puisinya, Syurga ke Sembilan. Adakah ia masih konsisten dengan semangat awal tentang puisi yang tidak melupakan tradisi, tetapi juga ekspresi gagasan dalam memandang kehidupan sosial-budaya, dan sikap keberagamaannya, atau ada orientasi lain sejalan dengan jiwanya yang makin matang? Secara tematik, aspek religiusitas dalam Syurga ke Sembilan, terasa sangat kental dan menukik dalam, sehingga kita dengan mudah dapat berjumpa dengan segala tasbih yang dikumandangkan benda-benda dan makhluk yang bertebaran di jagat raya ini. Bahkan, ia juga dapat bermain dengan sejarah dan peristiwa masa lalu yang coba dimaknainya dalam konteks kekinian. Maka, alam sebagai representasi Tuhan, ditempatkan sebagai sarana pengagungan dan kecintaan pada Sang Khalik. Di sini, Kemala, tidak lagi berbicara tentang dirinya an sich, melainkan dirinya sebagai makhluk manusia dalam memandang Tuhan dan mengajak-Nya berdialog. Dengan begitu, Kemala sesungguhnya juga sedang menyapa pembacanya dalam dialognya dengan Tuhan dan coba menyentuh pengalaman spiritualnya, sekalian berbagi inspirasi tentang itu.

Dari 16 puisi yang terhimpun dalam antologi ini, sebelas di antara bermain dalam dunia spiritualitas yang dikatakan VI Braginsky: “Puisi-puisi Kemala berhubungan erat dengan tradisi tasawuf Melayu. Hubungan ini sangat terasa dalam sistem imej dan lambang sajaknya. Terutama sekali jika penyair mencerminkan pengalaman rohaninya dalam lambang-lambang laut yang sangat digemari oleh para sufi Melayu umumnya dan Hamzah Fansuri khususnya. Dalam puisi Kemala, pencari makna sering tampil sebagai pelaut, dan ?perhentian? di jalan tarekat sebagai pelabuhan; Kenyataan Tertinggi sebagai pulau; jiwa sebagai teluk; hakikat, ‘diri’ dan kasih sebagai laut.”

Tentu saja kita boleh setuju, boleh juga tidak pada pernyataan itu. Tetapi di banyak pustaka, simbolisme sebagaimana yang dikatakan Braginsky, rasanya sudah menjadi pengetahuan umum. Dengan demikian, kita boleh pula mengungkap puisi-puisi Kemala lewat pendekatan itu. Lihat saja puisi-puisinya, seperti -sekadar menyebut beberapa- ‘Mim 40,’ ‘Laut,’ ‘Ghazal Syawal Nurul Fatehah untuk Aisyah Insyirah,’ ‘Tamu Dini Hari,’ ‘Teja Taj Mahal,’atau ‘Surga ke Sembilan.’ Pengagungan dan rasa syukur si aku lirik, seperti terpesona pada apa yang disebut dalam bahasa teologis sebagai mysterium tremendum et fascinans; rahasia yang menakjubkan ‘menakutkan-mempesona’ dan menariknya sekaligus pada kesadaran transendensi. Keterpukauan yang menghanyutkan, dan si aku lirik mengucap dalam ‘Mim 40’ itu sebagai berikut:

Syukurlah, Kau memilihku untuk kelangsungan
Ini. Syukurlah Kau memilihku
Untuk menjadi manusia kata, penyair
Yang memahami bahasa bulan, air, matahari, salju
Ombak, cakerawala, gunung, ilalang, camar
Syukurlah, Kau memimpinku berenangan di laut
Payah dan Kau izinkan aku memakai
Baju Cinta-Mu,

Rasa takjub itu kemudian berpendar menjadi kesadaran dan decak kagum akan ciptaan-Nya. Maka, alam ‘bulan-air-matahari-salju-ombak-cakerawala-gunung-ilalang-camar’ atau apa pun yang bertebaran di jagat raya ini tidak lain adalah representasi Tuhan. Representasi Tuhan bukan dalam pengertian panteistik. Juga berbeda dengan pengertian panta rhei. Dengan begitu, si aku lirik merasa bahwa segala makhluk dan benda-benda itu bertasbih untuk-Nya; atau manakala si aku lirik memandang apa pun, serta-merta yang muncul adalah tasbih-dzikir, meskipun juga tidak dapat mewakili keseluruhan gejolak jiwanya. Tidak dapat lain: itulah baju cinta-Mu ? Jadi, tidak berlebihan jika ia hendak mengulangi kembali ketakjubannya:

Syukurlah aku masih tetap
Dapat merasa halus dan kasarnya
Debur ombak
Mersik[1] dan langsingnya lagu tekukur
Syukurlah
Syukurlah ya Ilahi, Kau memilihku.

Meskipun demikian, dalam sejumlah puisi itu, saya menangkap adanya jarak dalam diri aku lirik dengan Sang Khalik dalam hubungan vertikal: aku-Tuhan, lantaran manusia tidak dapat menghindar dari dimensi ruang dan waktu dengan Dzat yang entah di mana dan tak terbatas. Itulah kesadaran si aku lirik tentang hakikat dunia yang tak tampak (Noumen) yang dalam pengertian Immanuel Kant disebut Ding an sich. Kesadaran akan adanya dimensi ruang dan waktu itulah yang menjelaskan posisi hubungan vertikal itu -aku-Tuhan-berada dalam keterbatasan dan ketakterbatasan. Maka, di sana kita tidak menemukan hasrat untuk menyatu dan lebur dalam diri Tuhan sebagai manunggal ing kawula Gusti atau Ana al Haq ‘Al Hallaj. Periksa saja, misalnya, puisinya yang berjudul ‘Ghazal Syawal Nurul Fatehah untuk Aisyah Insyirah.’

Awaslah terhadap kemilau kaca, itu hanya kilauan palsu
Yang kita tunggu hanya sesorot Nur-Nya menghidup kalbu

Abad baru melambai, kau kuntuman mawar biru
Menyeri[2] Taman Mim dengan untaian Syawal dariku

Lihatlah, bait awal dan bait akhir puisi itu yang dikutip di atas. “kemilau kaca dan sesorot Nur-Nya” adalah hubungan ciptaan manusia yang mudah pecah dan ciptaan Tuhan yang entah, tetapi tokh menyentuh dan menghidupi kalbu. Maka ketika ia memasuki alaf baru, panjang usia dan semangat baru, ia menyambutnya dalam tasbih syukur, sebagai nikmat yang memancar dari dalam Taman Mim.

Simbol-simbol sufistik yang menciptakan suasana batin yang dimabuk cinta Ilahiah menyebar dalam hampir keseluruhan puisi dalam antologi ini. Bahkan, ketika dia memasuki lorong waktu para leluhur, sebagaimana dapat kita jumpai dalam puisi-puisi ‘Dialog Makrifat,’ Di Seri Begawan Bertemulah Pangeran Sarmayuda dengan Pendeta Za’ba, ‘Sejambak Bunga Karang Tsunami,’ dan ‘Tamu Dinihari,’ suasana batin yang dimabuk cinta Ilahiah itu tetap memancar di sana-sini. Perhatikan beberapa larik puisinya yang bertajuk, ‘Dialog Makrifat’.

Kami sudah di alam ghaib, kami sudah di awan memutih
Kecubung merdeka dan sakit hati bergulung
Menatah tauhid menitir tasbih

Kuteliti cerita Maharajalela, gucur darah di Kampung Gajah
Senyummu ranum, syahid waktu peluru menembus dada
Dan aku sebak[3] menanti detik-detik akhirku di pagi pergantungan.
Kami sudah di alam ghaib, kami sudah di awan memutih
Cucu-cicit kami anak Melayu, entah mengenang atau sudah membakar
Sejarahnya, menjadi debu-debu yang tak berharga lagi.

Para arwah leluhur yang kini hinggap di alam keabadian itu, dalam pandangan si aku lirik adalah para syuhada; syahid di jalan Tuhan ketika tragedi terjadi di kampung Gajah: Senyummu ranum, syahid waktu peluru menembus dada. Dan mereka ‘para syuhada itu’ memandang anak-cucunya kini telah melupakan sejarah. Jadi, langkah menuju Taman Keabadian boleh melalui jalan apa saja. Dan para syuhada itu telah melayang diiringi tasbih ketika peluru memutuskannya dari dunia fana.

Semodel dengan Javid Namah, Mohammad Iqbal, Kemala menampilkan para penyair sufi dari Syeikh Jalal al-Din Rumi, Syeikh Abdul Qadir Jaelani hingga Hamzah Fansuri dalam diskusi tentang Cinta Hakiki. Tentu saja, dalam -diskusi- itu tak terhindarkan simbol-simbol sufistik menjadi bagian penting. Simbol-simbol itu juga muncul dalam puisi ?Di Seri Begawan Bertemulah Pangeran Sarmayuda dengan Pendeta Za’ba. Dua tokoh sejarah, Pangeran Sarmayuda dan Pendeta Za’ba, Bapak Bahasa Melayu dan pejuang kemerdekaan itu, kembali mengingatkan anak-cucunya: Melayu kini:

Kita bukan titik-buntu Pangeran, kita bukan manik-manik berderai,
kita adalah
warna menggugah zaman, benteng dan kandil maruah dan sahsiah!?[4]

Tampak di sini, Kemala coba mengungkap sisi lain dari masa lalu, masa kini, dan masa depan sebagai jalan panjang yang berangkaian. Maka, dalam konteks hubungan manusia?Tuhan, kesadaran transendensi itu, tidak sekadar jatuh pada benda dan makhluk hidup, tetapi juga pada peristiwa masa lalu dan masa kini. Dan segalanya berdepan dengan masa yang akan datang sebagai problem sosial?bangsa, dan alam keabadian sebagai tujuan akhir manusia individu ketika ia berhasil menerjemahkan dan memaknai tanda-tanda.
***

Antologi puisi Syurga ke Sembilan yang berisi enam belas puisi dengan jumlah halaman yang tak bengkak itu, sungguh menawarkan banyak hal, inspiring, dan membawa kita ke alam yang begitu luas, menukik dan mencabar; memaksa kita membongkar sejumlah buku tentang sejarah, tasawuf, dan filsafat. Antologi ini sungguh mengenyangkan, lantaran di sana begitu banyak persoalan yang coba diangkatnya dan itu memerlukan cantelan pada pengetahuan lain. Kemala menggoda kita untuk tidak berhenti pada teks an sich sebagai makna tekstual, melainkan coba memaknai teks itu dalam kaitannya dengan berbagai konteks disiplin lain. Dengan demikian, di sebalik rasa kenyang itu, antologi ini sekaligus menguras enerji kita hingga kita merasa dahaga dan lapar untuk terus-menerus menukik pada kedalaman makna teks itu, mencari cantelannya, dan memahami konteksnya.

Kematangan, itulah kesimpulan yang segera dapat kita tangkap dalam antologi puisinya itu. Maka, kita akan melihat, selain ada kecermatan dalam pilihan kata (diksi) yang begitu terpelihara, juga ada permainan persajakan dalam larik, coba menawarkan semacam transformasi model pantun, pola enjabemen, metafora, atau usaha melakukan permainan makna simbolik. Pesan-pesan simbolik itu pula yang memaksa kita mesti mencantelkan teks dengan konteksnya, dengan peristiwa masa lalu, atau dengan ikon sejarah.

Ketika saya coba memahami percintaan manusia dengan alam, percintaan manusia dengan Tuhan dalam puisi-puisi Kemala ini, ah, rasanya saya jadi mualaf!

Msm/mklh/puisikemala/29-01-2009

Pengantar Diskusi Antologi Puisi Syurga ke Sembilan (Kuala Lumpur: Insandi Sdn Bhd, 2009) karya Ahmad Kamal Abdullah (Kemala), diselenggarakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis, 29 Januari 2009, Pukul 14.00?17.00.

[1] Mersik: nyaring melengking.
[2] Menyeri: berseri, bukan menyeri merasa sakit (nyeri).
[3] Sebak: mata berkaca-kaca, terharu karena duka atau bahagia.
[4] Maruah: harga diri; Sahsiah: kepribadian

http://mahayana-mahadewa.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *