Jagat ?Umup? dari Puisi-puisi yang Ber?gedombrang?

Fahrudin Nasrulloh *

Gerombolan kadal merayap
Kecemplung di seteko kopi
Kebal-kebul dihembus asap
Oi oi oi, dipelantingkan puisi

Kumpulan puisi ini diterakan dengan judul Secangkir Kopi Pahit di Negri Kadal dari karya dua penyair: Saiful Bakri dan Sosiawan Leak. Kesan pertama saat membaca judul itu, saya ingin mengarung di pusaran kopi yang berlumpur-lumpur dengan racikan lumayan pahit (kadang asyik juga dengan kepahitan tanpa gula yang bersebut: ?satanic coffe?) yang bisa memoncrotkan lidah saya agar daya hidup yang seringkali digentarkan hidup itu sendiri bisa dikuatkan karenanya. Lamat-lamat saya jadi teringat film Coffee and Cigaret yang digarap Stanley Kubrick. Ada sekitar sembilan fragmen, dengan tokoh-tokoh perokok dan penggemar kopi yang ampuh yang digelut persoalan masing-masing, dengan tema yang sangat-sangat sepele. Sebuah mistik keseharian, ibarat sehampar puisi kehidupan yang kini bergelayutan sendiri dalam rekaman ingatan saya.

Peristiwa-peristiwa yang panjang dan bercecabang, sekali waktu si Bakri ini melunasinya bersama saya, Abdul Malik, Jabbar Abdullah dan kawan-kawan lain untuk ngopi kabudayan semisal di warkop Mbah Mo, atau Yu Mijang di belakang Samsat Moker (baca: Mojokerto), atau warkop Kang Nawi, atau di Mbak Yani langganannya Pak Edy Karya, atau di warkop Mas Yayak di barat gubuk Dewan Kesenian Moker. Kita selalu ngobrol banyak hal dan ngakak tentang keglethekan kehidupan seniman yang kerap sumpek mikir berkarya dan kembara diri yang terus mengalir sebab entah, tak henti-henti.

Lalu, adakah warkop yang jos bargojos juga di ?Negri Kadal?? Waaah, saya kepingin pol mencobanya, jika memang ada. Atau anggap saja memang ada. Atau sementara, bacalah dengan sumringah puisi berumbul ?Negri Kadal?nya Sosiawan Leak. Atau, malah, Mas Leak, juga telah membikin warkop dengan cita rasa dari peresan kadal-kadal dari berbagai penjuru benua? Ada kadal Jawa yang mulus menggairah, ada kadal gurun Afrika yang kulitnya blentong-blentong dan lancip-lancip, ada kadal India yang bisa berjoget ala lagu ?tumpasen Ae?, atau kadal ganasnya politikus busuk yang suka mengadali wong cilik, de el-el. Dan di depan warkopnya Leak, jika suatu saat hidupnya terdesak entah oleh apa lalu berhenti nulis puisi, ia boleh saja memasang plakat di warkopnya tersebut dengan tulisan: ?Warkop Negri Kadal Top Markotop?. Pasti, tidak hanya kaum penyair yang kere yang berkeruyukan dan berkongkow-kongkow di sana.

Lepas dari lanturan wel geduwel beh itu, dua penyair di kumpulan puisi ini menyajikan sajak-sajak yang tampaknya seperti memeram sepercik perlawanan. Semacam sajak-sajak protes. Protes atas keterpurukan diri dan atas sebab di luar diri. Perlawanan pada penguasa, sistem yang korup, prilaku elit penguasa yang gak patheken, kepincangan sosial, ambruknya etika, pahitnya romansa cinta, ketertindasan kaum buruh, industrialisme yang mengoyak-moyak, kapitalisme dan hegemoni cukong-cukong yang memecundangi rakyat, de el-el. Kita bisa menyimak aneka nuansa tersebut pada enam puisi Saiful Bakri: ?Kopi Pahit?, ?Bangunan Itu?, ?Inilah?..?, ?Susi?, ?Patah Hatiku?, ?Kami Datang?, ?Hmmm??.?.

Dalam ?Kopi Pahit?, terasa ada yang umup atau mendidih bergolak-golak di sana. Dunia yang mengumup di kepala. Di aliran darah. Tak keluar lewat lubang mana pun. Air didihnya terus munclak-munclak. Menciprat-ciprat. Di benak terdalam si penyairnya yang, beberapa tahun lampau merasakan berat-perihnya menjadi buruh, meski kini jadi guru. Buruh dan guru, telah mengendap kuat, beban terpikul dari kerasnya hidup, mengintrusi dunia kesehariannya yang coba terus dimaknai dan diperjuangkannya lewat puisi-puisinya. Mari longok penggalan bait ?Kopi Pahit? ini:

Lampu jalanan telah melahirkan bayang bayang
Di pojok rumah sakit bersandar warung kopi
Milik Kang Nawi yang bermodal uang PHK
Seperti hari hari biasanya
Warung Kang Nawi menjadi forum yang terbuka
Meski kadang ada beberapa mata elang
Yang memandang dengan curiga

Setali tiga kutang (atau uang juga boleh), Leak pun menghadirkan tiga sajaknya: ?Dunia Bogambola?, ?Negri Kadal? dan ?Aku Tulis Puisi?. Simak saja penggalan ?Negri Kadal? ini:

negri kami negri kadal
negri yang tidak pernah sepi dari juluran lidah
menjelma dasi, panji-panji hingga janji-janji
yang selalu terpelanting bacinnya ludah.

Yang umup dan melarut, dari sajak tersebut, adalah rasa ?didih? yang moncer dengan pekikan yang coba digelontorkan agar siapa saja kuasa mendengar. Seperti kilat, asal jangan coba dijilat. Nanti ada yang terpelanting bacinnya ludah. Puisi ini saya ibaratkan bak musik dari orkestra dunia dapur yang bergedombrangan: suara-suara dari barang-barang pecah-belah di dalam rumah puisinya, sebagai bentuk protes atas segala yang dianggap si penyair bahwa problematik ke-Indonesia-an terkini benar-benar mengalami keamburadulan dan kebobrokan yang gawat sekaligus mencekam.

Puisi-puisi kedua penyair ini tidak mengajak pembaca untuk berkerut kening. Sajak-sajak yang biasa-biasa saja. Sekali baca langsung paham. Biasa-biasa dalam artian ada kebebasan untuk menyuarakan apa pun isi hati dengan daya naratif-faktual, konkrit, dan berbicara atas nama peristiwa yang kemudian dielaborasikannya. Puisi-puisi yang bak corong mikropon pengumuman yang menghadirkan pesan singkat yang gamblang dan mudah ditangkap. Bukan puisi-puisi ?angin bisu? yang bersunyi-sunyi di kamar pengapnya sendiri atau dari bejibun gagasan filsafati atau yang beranjak dari tradisi pemikiran puitik yang berat-berat. Sajak-sajak mereka seperti ?iklan? tentang apa yang musti kita sadari dari yang sebagian besar berisi problema kebangsaan negeri ini. Semacam Risalah Etik-Moral, yang sesungguhnya juga dapat pula kita jumpai di koran-koran maupun media berita lainnya. Dari realitas yang terempiriklah, yang berseliweran dalam keseharian diri mereka atau pada siapa saja: kedua penyair ini memadatkan inspirasinya atas pengalaman-pengalaman itu dalam bentuk puisi.

Sebuah pertanyaan mungkin muncul, apakah sajak-sajak mereka berhenti sampai di situ? Apakah pula semisal sajak-sajak Rendra atau Wiji Tukul yang bergaya protes mampu mengubah dunia (tatanan kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada kepentingan jelata)? Dari sinilah kita akan selalu mentok, dan lagi, sekali lagi kembali dan kembali bahwa puisi bukanlah buldoser atau sepasukan tank yang bisa merangsek yang riil yang menggedor dinding ?kepongahan?, atau putingbeliung yang mengobrak-abrik pohon-pohon dan rerumah, atau banjirbandang yang menyasak apa saja. Namun puisi hanyalah sepercik ?wedaran? tak suci (yang juga bukan KUHP atau undang-undang yang diterbitkan DPR-MPR), yang disampaikan si penyair sebagai medium kritik ataupun refleksi. Ada harapan di kejauhan sana. Impian yang kerapkali tak kunjung datang. Bahwa yang terketuk kritikan lewat puisi, siapa tahu akan terbuka hati. Yang tergugah karena sepotong puisi, siapa tahu tergerak untuk melangkah memperbaiki diri. Selebihnya, puisi dapat saja dianggap omong kosong dari si pelamun yang kokean cincong.

Meski begitu, amal kultural penyair semoga saja oleh Tuhan disediakan kotaknya sendiri di padang akhirat nanti. Itu pun jika betul-betul ada. Agar orang-orang seperti Bakri dan Leak ini akan terus bahagia sejahtera, bisa ngrokok dan ngopi di warkop ?kadal? mana saja, membacakan lagi dan lagi puisi-puisi dalam Secangkir Kopi Pahit di Negri Kadal ini kepada siapapun. Dan yang lebih penting, mereka mampu terus melahirkan puisi-puisinya, agar perlawanan atas ketidakadilan tak henti disuarakan seperti cuplikan puisi Leak ?Aku Tulis Puisi? ini:

aku tulis puisi
sebelum segala terpejam
kepayahan

Atau setanggal ikhtiar untuk bisa bersiteguh meski pada akhirnya semua yang kita yakini akan luruh meremah menjadi kesia-siaan belaka, digegas waktu, walau impian-impian perlahan meredup, semangat hidup tambah meleleh, tapi coba tetap bertegak diri, sebagaimana yang terlukis pada sajak Bakri ?Patah Hatiku? ini?:

Airmata tumpah
Puisi hanya mencatat sejarah
Pada siapa lagi aku percaya

_______________
*) Fahrudin Nasrulloh, buruh kata-kata dari Komunitas Lembah Pring Jombang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*