Kepala Batu

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

KETIKA melihat bulan terang, keinginannya memuncak. Tak bisa ditawar lagi. Selama ini setelah menjadi seorang suami dan bapak yang baik, tak pernah lagi ia melakukan pekerjaan yang paling menyenangkan baginya. Tentu, karena pekerjaan ini mendatangkan kepuasan batin tersendiri buat orang-orang seperti Nurdin.

Tiba-tiba saja angan-angan Nurdin melayang pada masa-masa mudanya.

Biasanya setelah selesai musim menanam padi, mereka, Nurdin dan enam sampai tujuh orang temannya, berangkat ke laut. Menyusuri tebing batu yang curam dan tajam. Mengalahkan ombak yang buas. Mengalahkan gigil dinginnya malam. Membawa lampu petromaks dan peralatan untuk ngejodang, juga makanan secukupnya.

Setelah sampai di tempat ngejodang, beberapa orang menyelam memasang jaring jodang yang berbentuk lingkaran sebesar tampi di lubang-lubang batu. Beberapa orang yang lain mengikatkan simpul tali di kakinya. Si penyelam akan memberi sebuah kode jika telah selesai memasang jaring, kemudian temannya yang berada di darat menarik mereka ke tepi.

Kemudian mereka tidur di atas bebatuan berselimutkan sarung menunggu datangnya pagi. Dan keesokannya akan mereka dapati jaring-jaring yang dipenuhi udang dan lobster. Mereka kemudian menjualnya ke pengusaha udang dan lobster untuk makanan di restoran kota besar, bahkan kabarnya dijual sampai ke luar negeri.

Begitu seterusnya selama beberapa hari mereka ngejodang, pulang dengan membawa banyak uang. Tak tanggung-tanggung, bahkan ada yang bisa membeli tanah dan memperbaiki rumah. Karena itu banyak yang ingin ikut ngejodang, namun pekerjaan ini memerlukan keahlian dan bakat tersendiri. Tak semua orang mampu melakukannya. Tak sedikit mereka kemudian melepas angan-angan untuk ikut ngejodang.

Mereka yang tak memiliki keahlian tersebut akhirnya memilih melaut saja yang hasilnya sering tak tentu, karena ikan-ikan di laut selalu berkurang akibat karang-karang rusak karena bom laut dan pukat.

Nurdin dan kawan-kawannya bisa membeli genset, parabola, tivi berwarna dan radio baru dari hasil ngejodang. Kadang untuk melepas lelah dan kepenatan bekerja, mereka bermain kartu atau gaple sampai larut, bahkan sampai subuh di warung Isah sembari makan kacang dan sekadar mencicipi segelas dua gelas Vigour. Ada pula yang kemudian pulang dengan gaya sempoyongan.

Di saat mereka kehabisan uang, istri mengomel dan anak menangis ingin dibelikan peralatan sekolah dan baju, mereka segera berangkat ngejodang. Kemudian pulang dengan membawa banyak uang.

Kini hal itu telah menjadi mitos tersendiri bagi setiap orang, karena tak jarang mereka yang ngejodang hanya namanya saja yang pulang. Satu per satu dari mereka tumbang di hadapan alam. Laut makin ganas melahap korban. Memang terlalu besar risiko melakukan pekerjaan ini, apalagi bila hanya seorang diri.

Dia ingat yang terakhir kali adalah adiknya sendiri. Saat itu, dini hari, Nurdin yang sedang mencari angin di pantai melihat cahaya petromaks menyusup di antara barisan pohon kelapa. Kerumunan orang menggotong tubuh tak bernyawa.

“Kami menemukan tubuh Bari terdampar di pinggir pantai. Semalam ada yang melihatnya pergi ngejodang sendiri!” teriak salah seorang.

Nurdin melihat tubuh adiknya yang telah kaku dan dipenuhi cakaran batu.

Lamunannya buyar seketika saat terdengar suara belanga terjatuh di lantai papan. Dia terkejut lalu bangkit ke dapur. Disepaknya kucing belang yang sedang melahap seekor tikus yang baru saja didapatnya dengan susah payah. Hatinya kesal juga gundah. Apa yang mesti ia lakukan?

Diambilnya peralatan jodang yang masih tergantung di dinding dapur. Semua masih utuh dan bagus. Jaring-jaring yang masih rapat, meski lingkaran besi selebar tampi itu sudah mulai berkarat.

Diambilnya lampu badai dan tambang. Topi hitam yang dulu selalu ia gunakan. Dikenakannya sepatu Toyako, kemudian disambarnya sarung lalu diselempangkan di leher.

Aku harus berangkat malam ini juga, begitu tekadnya. Dia bergegas ke kamar, ingin berpamitan dengan istri tercinta dan menyuruhnya mengunci pintu dari dalam. Tapi segera diurungkan niatnya. Tak tega ia mengganggu tidur pulas istrinya. Lagi pula tak mungkin ia diizinkan bila istrinya tahu.

Ditatapnya saja wajah pulas istrinya, seperti wajah peri di pantai Umbar, dan anak lelakinya yang bersarang di ketiak ibunya. Lalu ia keluar, menutup pintu perlahan, menuruni anak tangga rumah panggungnya.

Dihidupkannya lampu badai meski sinar bulan malam ini akan cukup menghantarkan perjalanannya. Suara lagu Sai Lagi dari sebuah radio yang mulai ringsek di warung Isah terseok-seok dibawa angin malam, mengiringi aroma embun dan tanah basah. Nurdin terus berjalan ke arah pantai. Wangi getah nipah meruap menyergap hidungnya. Dia senang bau nipah, juga makan buahnya yang masih muda.

Air muara yang sedang pasang meluap menutupi jalan, setinggi mata kaki, berkecipak oleh langkahnya yang tergesa. Setelah melewati sebuah jembatan, tibalah ia di pantai. Perahu-perahu cadik milik nelayan masih berjejer rapi di bawah pohon-pohon kelapa. Ada beberapa yang sudah dibawa oleh pemiliknya melaut.

Akhirnya Nurdin berangkat ngejodang seorang diri meski ini terlalu berbahaya. Namun, ia terlalu keras kepala. Dan memang begitulah watak Nurdin, tak heran orang-orang menambahkan kepala batu di belakang namanya.

Julukan Nurdin kepala batu melekat sampai sekarang dan nanti.

Ombak terlalu garang mengempas-empas dinding batu. Nurdin menghisap dalam-dalam sisa rokok terakhirnya, kemudian melempar puntungnya ke arah laut. Dia duduk sebentar sembari merapatkan sarung menahan dingin yang menggigilkan tulang sumsum.

Setelah dirasanya cukup baik untuk menyelam, Nurdin mengikatkan ujung simpul tali di kaki kirinya dan ujung satunya diikatkan di bongkahan batu. Nurdin turun ke laut dengan hati-hati dan menyelam ke dasar. Dipasangnya jaring-jaring jodang itu ke lubang-lubang batu tempat sarang lobster dan udang. Kemudian Nurdin menarik tali tambang di kakinya, menepi. Air laut terasa lebih hangat daripada udara malam.

Nurdin naik ke darat. Dia bersiul-siul sembari membayangkan hasil yang banyak esoknya. Hatinya bersorak, selain ada kepuasan batin, juga karena ia akan mendapat banyak uang. Dia sudah mengangan-angankan akan membeli apa setelah ini. Khayalannya terbang jauh. Ketika salah satu kakinya menginjak bebatuan yang licin berlumut, seketika tubuhnya melayang dan terpelanting, secepat kilat. Nurdin berteriak dan terjerembab. Lalu… serpihan cahaya, gelap pekat, cahaya, lorong- lorong yang panjang, asing, tempat yang asing,… terperosok ia di antara denyut waktu.

***

Saat subuh tengadah, Maryah, istri Nurdin baru saja terbangun. Tak ditemukannya Nurdin di tempat tidur, hanya anaknya yang masih pulas. Pintu juga tidak dikunci. Mungkin saja suamiku sudah berangkat kerja ke sawah, pikirnya menenangkan diri.

Maryah ke dapur menyalakan tungku. Asap mengepul sebentar, membuatnya terbatuk-batuk. Api menyala dan dihangatkannya sayur semalam. Kemudian memasak air dan membuat sambal terasi. Dibangunkannya anak lelakinya untuk mengantar sarapan bapaknya. Maryah mengambil cucian dan berangkat ke kali.

“Mak, Bapak tak ada di sawah,” Teriak anaknya dari kejauhan.

“Ke mana. Kau sudah mencarinya?”

“Sudah, tak seorang pun yang kutanya melihat bapak di sawah.”

Maryah cepat-cepat membereskan cucian dan pulang dengan tergesa. Tiba-tiba perasaannya tidak enak. Dia takut jika terjadi sesuatu seperti terjadi pada iparnya, si Bari tempo hari. Dia langsung ke dapur dan tidak didapatinya peralatan ngejodang yang biasa tergantung di dinding dapur.

Maryah makin resah. Tiba-tiba dia terduduk lemah. Sudah bolak-balik ia ke rumah tetangga, menanyakan keberadaan suaminya pada setiap orang yang lewat. Tak seorang pun yang tahu ke mana dan di mana Nurdin berada. Maryah minta tolong pada tetangga untuk mencari Nurdin ke tempat biasa ngejodang. Ada bisik-bisik dan cibiran dari mulut perempuan tetangga: beginilah akibat jika ada orang yang keras kepala, seperti tak tahu saja risikonya.

Sampai malam orang-orang baru pulang. Bukan Nurdin yang mereka temukan, tapi kabar buruk bahwa Nurdin sudah tak ada. Namun mayatnya tak ditemukan. Hanya lampu badai dan beberapa peralatan ngejodang yang mereka temukan.

Maryah dan anaknya hanya bisa pasrah setelah berbulan-bulan Nurdin belum juga bisa ditemukan. Berbagai isu menyebar, tubuh Nurdin ditelan ombak dan tak akan pernah dikembalikan. Ada pula yang mengatakan Nurdin ke pulau seberang karena ingin hidup kaya dan punya istri yang lebih cantik. Ada pula desas-desus Nurdin bertapa di goa keramat untuk memperoleh ilmu hitam. Namun tak satu pun isu tersebut dapat dibenarkan. Maryah hanya percaya suaminya mati ngejodang. Namun dari hatinya masih yakin bahwa Nurdin masih hidup dan akan kembali suatu saat, perasaan itu yang selalu dijaganya.

Setelah sepuluh tahun berlalu, tak ada yang berubah dari perasaan itu. Meski kampung kecilnya sudah banyak berubah: jalan sudah mulai diaspal, listrik PLN sudah masuk, tower telepon sudah berdiri.

Di dalam rumah panggung yang tak pernah berubah suasananya, Maryah menjahit baju di dekat jendela. Jika dilihatnya tetangga pulang melaut, disangkanya Nurdin yang datang. Jika terdengar dari luar suara telapak kaki dan ketukan pintu, cepat-cepat ia membuka pintu berharap suaminya yang pulang. Perasaannya agak terobati jika anak lelakinya yang telah bekerja di pertambangan batu galena menghiburnya. Anak itulah yang selalu menenangkan hati ibunya.

Hh, Maryah meghela napas panjang sembari tetap menatap daun-daun mangga yang masih bergoyang. Tertiup angin laut.

***

Dini hari yang mati. Baru saja akan menyambut pagi. Tiba-tiba Nurdin seolah baru bangun dari tidur nyenyaknya semalaman. Kemudian cepat-cepat dia memeriksa jaring jodangnya, namun betapa ia kecewa tak ditemukannya seekor pun udang yang tersangkut di jaring. Bahkan benang-benang jaring yang kokoh itu tampak jebol, hanya menyisakan lingkaran besi yang kian berkarat. Tak mungkin udang makan jaring, gerutunya tak percaya.

Kekecewaannya bertambah pula saat tak ditemukannya juga sarung dan lampu badai yang dibawanya semalam. Terpaksa ia harus pulang tanpa hasil apa-apa, dengan tubuh menggigil kedinginan. Barang-barangnya yang hilang dan jaringnya yang jebol tak terlalu ia pikirkan. Sekarang ia ingin segera pulang, mandi, sarapan, lalu tidur dengan selimut tebal. Dia ingin segera tiba di rumah, mungkin saja istrinya sudah bangun dan tak mendapatinya di tempat tidur. Nurdin sudah tidak sabar ingin cepat sampai ke rumah. Maka ia mempercepat langkah.

Nurdin sempat berpapasan dengan orang-orang yang dulunya tampak muda kini seketika tampak lebih tua. Mereka berjalan ke arah laut. Nurdin heran dan tak percaya. Dia menegur namun mereka tak menjawab. Bahkan mereka malah melempar tatapan aneh seolah melihat makhluk tak dikenal. Kemudian mereka cepat-cepat pergi setelah bergumam.

Begitu pula saat ia berpapasan dengan tetangga-tetangganya yang lain. Dia melihat kejanggalan yang sama. Mereka cepat-cepat pergi setelah bergumam: “Nurdin?” dengan nada tak percaya.

Ah, barangkali Nurdin memang tak pernah mau peduli dengan hal-hal aneh dan janggal. Dia ingin cepat sampai ke rumah, tubuhnya terasa lelah.

Kotaagung, 2008–2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *