Nikmatnya “Cinta dalam Sepotong Roti”

Bertandang ke Rumah Buku dan Cafe Buku

Indra Juli
hariansumutpos.com

Gerakan gemar membaca yang pernah gencar diserukan pemerintah. Sayangnya, masyarakat pecinta buku masih sulit mendapatkan buku berkualitas dengan harga murah. Tetapi di Rumah Buku dan Cafe Buku, penikmat buku bisa mendapatkannya plus pelayanan kafe.

Empat sekawan, Eka Tarigan, Resi, Rani, dan Duma yang memimiliki kesenangan sama yaitu membaca buku. Berangkat dari kesmaan kesenangan itu, mereka sepakat membantu masyarakat di sekitar untuk merasakn kesenangan yang sama dengan membangun Rumah Buku. Bermodalkan koleksi pribadi yang disumbangkan menjadi cikal bakal lahirnya Rumah Buku di seputar Jalan Let Jend Djamin Ginting Medan ini.

“Ide ini dari empat orang alumni Pers Mahasiswa Suara Universitas Sumatera Utara (USU) dengan idealisme sesama penyuka buku. Mencoba berbagi kepada masyarakat bagaimana asyiknya membaca buku,” jelas seorang pengelola Rumah Buku, Wilma.

Seperti yang disampaikan Wilma, awalnya Rumah Buku hadir di Kompleks Pamen di Jalan Let Jen Djamin Ginting Medann pada 1 April 2007 silam. “Saat itu masih sangat sederhana dengan tempat hanya berukuran 3?4 meter. Jadi kalau ada tiga orang saja sudah sesak,” kenangnya.

Seiring dengan besarnya sambutan masyarakat begitu juga dengan penambahan koleksi yang ada, Rumah Buku pun membutuhkan lokasi yang lebih luas untuk memajangkan perbendaharaan bukunya. Jadilah pada 5 Oktober silam, Rumah Buku menempati rumah barunya di Jalan Let Jend Djamin Ginting No 514 Medan.

Sekilas bila dilihat dari jalan, bangunan bercat oranye itu nyaris tak terlihat. Siapa sangka, di dalam ruang yang sederhana itu tampak delapan rak yang dijejali buku. Tidak seperti taman bacaan kebanyakan yang hanya menawarkan buku populer berupa komik, di Rumah Buku ini dapat ditemui buku pendidikan. Begitupun buku ilmu sosial politik dan budaya, juga tulisan tokoh sastra dari berbagai belahan dunia.

Seperti Novel Anna Kaerina karya sastrawan Rusia Leo Tolstoy, Sastrawan Jepang Lian Hern, juga karya sastrawan Indonesia. Salah satunya Tetralogi Pramoedya Ananta Toer dan Umar Khayam yang sudah langka. “Koleksi Rumah Buku ada sosial politik dan budaya, sastra, novel, komik, motivasi pengembangan diri, renungan, dan majalah. Jumlahnya sih gak tahu pasti ya, kisaran 10.000 eksamplar gitu ya. Sebahagian besar buku dari sumbangan masyarakat dan teman-teman mahasiswa,” ucap mahasiswa Bahasa Jepang Fakultas Sastra USU ini.

Di ruangan, terhampar dua karpet dengan meja panjang di atasnya sebagai tempat untuk menikmati koleksi Rumah Buku ini secara lesehan. Bisa juga sembari menikmati lembutnya kursi rotan di bahagian depan. Alunan musik dari speaker mini memastikan kenyamanan untuk memahami isi bacaan. Untuk kemudian mengabadikan moment tersebut di sudut ruang dimana terdapat lukisan pohon ceri yang tengah bersemi.

Keberadaan Rumah Buku ini pun kian dilengkapi dengan Cafe Buku yang diresmikan Sabtu (24/10) lalu. Menurut seorang pemilik, Ruth kehadiran Cafe Buku untuk mendukung Rumah Buku tersebut. “Saya dengan tiga orang lainnya Ricard, Eci, dan Eka ingin mendukung Rumah Buku ini sehingga lebih memberikan kenyamanan kepada pengunjung,” jelas Ruth.

Antara Rumah Buku dan Cafe Buku, lanjutnya memiliki hubungan seperti nama menu yang berasal dari judul koleksi buku yang ada. “Misalnya The Beads Club ini berisi nasi goreng begitu juga Cinta Dalam Sepotong Roti untuk pesanan roti bakar dan sejenisnya. Ada Larutan Senja, Shite Lies, Love in Sunkis, Cintapucino, dan Price of Tea. Selain itu ada juga menu unggulan yaitu spaghetti, poncoke, coffe, dan juice,” tambah cewek berlensa ini. Otomatis nama Rumah Buku mendapat tambahan Cafe Buku yang kemudian disingkat dengan Ruku Kabu.

Dengan keberadaan yang mendapat sambutan dari masyarakat luas, Ruku Kabu memang masih sangat sederhana. Peminjaman buku pun dapat dilakukan dengan sistem membership. “Memership kita mulai anak SMP ke atas. Untuk anak SD yang ingin baca gratis,” bebernya. Untuk menjadi member lanjut Wilma terlebih dahulu harus mendaftar dengan menunjukkan kartu tanda pengenal untuk kemudian dimasukkan ke data-base. Member nantinya akan dikenakan biaya administrasi sebesar Rp3.000 untuk pembuatan kartu anggota dan deposit sebesar Rp20.000 selama yang bersangkutan menjadi anggota.

Untuk peminjaman buku, dikenakan tarif beragam tergantung pada jenis buku yang diinginkan. “Untuk komik kita kenakan Rp1.000 selama dua hari dan untuk novel bisa dipinjam sampai lima hari meskipun ada yang sistem sewanya per hari. Karena tidak semua orang bisa cepat memahami isi sebuah novel,” paparnya.

Dari kesederhanaan tersebut, semangat yang diusung patut diapresiasi. Dengan bersemangat, para pengelola memastikan buku tetap rapi dan layak untuk dibaca tampa memandang perbedaan. Jadi tunggu apa lagi, jangan ngaku suka buku kalau belum singgah di Ruku Kabu. Dan jangan lupa, daripada buku kamu tak berguna dimakan rayap, titipkan saja ke Ruku Kabu dan buku kamu akan menemukan rumahnya.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *